Cerita Dewasa

Yang Penting Rasanya Bung Part 2

Setelah selesai kencing, CD-nya tidak dipakai tetapi dijepit di ketiaknya? (wah kalau gitu aku harus menghentikan kebiasaanku mencium ketiak, kalau ternyata sering dibuat njepit CD!!)

“Mas, aku kan malu kencing koq di lihatin,” katanya.
“Yah sudah selesai, baru complain!” jawabku.
“Habis kebelet, Mas nggak kencing,” ucapnya.
“Iya deh sekalian diberisihin,” jawabku, sambil melepas CP+CD dan kugantungkan di tembok,

Setelah itu aku pun kencing, dia ngelihatin punyaku, yah karena lagi kencing yah lagi mengecil (padahal sudah lihat vaginanya), setelah selesai kencing, dia menyiram dengan air shower sambil mengatur ke dua kran agar mendapatkan air hangat, setelah itu diberi sabun rudal dan sekitarnya tampak rudalku mengalami perubahan volume akibat sentuhannya, busa telah menutupi rudal beserta bulu lebatnya, kemudian diambil shower untuk menyirami rudalku dan..

“Aduh..” teriakku pelan.
“Maaf Mas..” jawabnya sambil segera mengarahkan pancuran air shower ke tembok dan memutar kran air panas.
“Mbak kalau niatnya membersihkan kuman jangan merontokkan buluku dong, emang punyaku seperti ayam potong, mau dibubutin bulunya!” tegurku.
“Iya deh, air showenya kan panas sendiri,” jawabnya.
“Tapi dicoba dulu dong di tangan jangan langsung tembak ke perangkat lunakku,” jawabku nggak mau kalah.
“Iya deh, yuk ke kamar,” rayunya.
Nah bingung deh lupa bawa kimono, masak pakai celana lagi, yah sudah aku pakai handuk plus baju, dan celana dia yang bawa, sementara CD-nya tetap di ketiak?

Baca Juga: Anak Kuliah

Setelah Masuk kamar, aku segera melepas baju dan tidur, koq dia belum datang, padahal dia kan di belakangku tadi, nggak lama dia datang dan melepas kaosnya, tampak payudara tanpa bra sekitar 34 tanpa bra (betulkan my preview), kemudian melepas roknya, oh iya lupa kan belum ada kesepakatan, sebelum lebih jauh lebih baik kita membuat LOI dulu sambil “bobo” berdua.

“Kalau seperti di sebelah berapa tarifnya?” tanyaku.
“Biasanya $150 ada juga yang ngasih $200,” keluar deh harga penawaran tanpa discount dan ppn+pbm+pph.
“Kalau pakai mulut berapa?”
“$100” jawabnya singkat.
“Kalau pakai cream,” tanyaku lagi.
“$50, Mas wartawan yah, nanya mulu kapan mulainya,” jawabnya.
“Nggak gitu dari pada nanti kamu protes, kalau gitu $150 itu dua kali dong, kan karetnya ada dua,” ledekku.
“Enak aja, yah enggak lah, kalau nambah yah jadi $200,” jawabnya.
“Kalau gitu aku tambahnya aja deh, kan Cuma $50 selisihnya,” ledekku lagi.
“Dasar, maunya yang murah,” jawabnya.
“Ya kan pembeli cari yang enak dan murah, itu lumrah Mbak..” jawabku.
“Emangya saya apaan,” jawabnya ketus, wah bisa emosi nih dia, harus segera dinetralisir.

“Sorry, saya bercanda, ya sudah saya ambil yang $150 nggak main tapi nambah..”
“Koq begitu,” jawabnya, sambil bibirnya agak monyong, aku tersenyum.
“Kenapa ketawa,” tanyanya.
“Nggak kamu seperti Leysus,” jawabku.
“Sial” setelah LOI disepakati mulailah aku tidur miring, dan terdengar lagu India yang lagi populer, wah jarang lho PPT pakai lagu India, jangan-jangan special order dari pengunjung.

“Mbak tahu nggak judul lagu ini?” tanyaku.
“Kuch kuch hota hai” jawabnya.
“Salah, yang benar kucek kucek kutange (k3)” jawabku sambil ngucek payudaranya, sekilas kebayang wajah penyanyinya 1D dan 1hraff, kalau ngebayangin 1D kan bibirnya ada kumis tipisnya tuh, tapi nggak menjamin kalau showroom-nya berkumis lantas bengkelnya lebat, kemungkinannya yang besar adalah bayangin bentuk/diameter mulut/bibirnya nah kira-kira, tahu kan yang aku maksud.
“Mas ini humoris, kalem, bisanyanya suka main ‘keras’ yah?”
“Nggak juga, jangan lihat penampilan, dong”

Setelah bosan k3,
“Mas hisap dong, aku cepat terangsang kalau dihisap,” perintahnya untuk menghisap payudaranya.
“Nggak ah,” jawabku.
“Kenapa, jelek yah?” tanyanya, wah gimana cara jawabnya agar dia nggak tersinggung.
“Nggak aku masih kecilnya udah bosen, selama tiga tahun, pagi-siang sore-malam, jadi yang lain aja,” jawabku asal, buat yang sering hisap “susu”, mungkin kecilnya minum susu formula, makanya ingin cari tahu gimana sih rasanya hisap susu ASI.

Kemudian aku turun, kulihat bulu bawahnya seperti dicukur, disisakan bagian atas garis penalty dan panjang serta kasar, bentuknya seperti rambut atasnya david tua atau don king.
“Kenapa, koq dicukur?” tanyaku.
“Habis lebat banget, kadang kalau lagi main suka ikut masuk, khan jadi agak sakit”jawabnya, tampak agak hitam di sekitar bagian luar, sepertinya tinggi freq ML-nya, dari bentuk lipsnya tampak kalau hari ini belum kemasukan rudal (artinya benar dia tidak bohong dong) aku mencoba menguakkan kedua pahanya untuk melihat bentuk vaginanya lebih dalam, ternyata benar dia sudah pernah melahirkan, ada bekas jahitan halus antara vagina dan anus, dan tampak di dalam lubangnya banyak benjolan daging kecil-kecil, kucoba memasukkan jariku, ternyata masih kering, berarti dia belum ON.

“Eh eh” erangnya.
“Jangan akting, aku senang yang alami..” tegurku, dia diam, dan mulai me-massage buah dadanya sendiri (sepertinya dia tipe DIAN; DIapain Aja eNak), sambil lidahnya melet keluar masuk, aku coba me-Massage clitnya, dia mulai goyang perlahan, dan makin lama makin cepat, tetapi “wet-sensor”-ku mengatakan masih “low”, aku coba meraba pantat bagian belakang, terasa ada permukaan yang tidak rata (semacam kerak; pantes tadi kencingnya nggak berani memunggungiku, takut tampak kekurangannya), makin lama “wet-sensor” mulai ke posisi “med” tapi vag-temp koq over-heat, wah nggak bener nih mesin, apa radiatornya bocor?, apa oli nggak naik?, wah sebaiknya kuhentikan (kalau nggak yakin atau nggak sreg, mendingan jangan terusin), sebab antara suhu dan lendir nggak sesuai jangan-jangan ada stoned-angelina, wah aku mau scan, nggak bawa MC Afee, terpaksa ctrl+alt+del.

“Mbak aku udah nggak tahan nih, di oral aja, mau nggak,” terpaksa pakai jalan pintas, padahal voltage rudalku belum siap luncur, tapi dari pada ‘contaminated” ‘mendingan dari pada’.
Dia mencoba menghisap, waow, hisapannya sampai kempot, kuangkat rambutnya agar aku dapat melihat kerjanya, matanya memandang ke atas (ke arahku) sambil terus menghisap dan lidahnya bermain di dalam mulutnya, karena bantal kutekuk menjadi dua agar kepalaku lebih tinggi, sehingga tanganku mulai melakukan kuch kuch hota hai lagi.

“Mas kalau mau keluar bilang yah!” katanya, maksudnya jangan sampai dikeluarin di mulut.
“Emang kenapa sih. Khan banyak proteinnya kata Dokter,” kataku.
“Iya tapi kalau sampai ketelan, nanti Mas nggak bisa ngelupain aku lho..” katanya, bisa aja dia menghindar, pantes banyak suami selingkuh (bahasa halusnya nyeleweng, penghalusan orba) soalnya si istri nggak mau nelan sperma.

“Ya sudah kalau mau keluar nanti kuberi tahu,” jawabku.
Lama-kelamaan dia capek juga, gimana nggak capek, nungging, ngisap sampai kempot, terus kepala naik turun, dan yang terpenting, dia tahan nafas (asal jangan lupa nggak nafas aja).
“Konsentrasi dong Mas,” keluhnya, wah aku jadi ingat taman lawang aja, terpaksa aku konsentrasi, kasihan juga dia, keningnya sudah mulai berkeringat.

Dan tak lama terdengar suara paha beradu di sebelah kamar disertai desahan, yang membuatku terheran-heran adalah kecepatannya, “pak-pak-pak”, tempo-nya tidak sampai satu detik, hebat juga nih laki-laki, dan lenguhan si wanita yang akan mencapai O, kalau nggak salah tadi sudah keluar, berarti ini ronde keduanya, tapi dengan kecepatan seperti itu, cukup tangguh juga latexnya. Cukup lama juga irama “pak-pak-pak”, membuatku lebih terangsang, dan..
“Pak, dilepas aja karetnya,” pinta si WP (akhirnya aku tahu kalau dia si Mbak Mxx, karena lenguhannya yang khas, telingaku sensitif juga yah bisa mengetahui WP hanya dengan lenguhannya, harusnya aku kerja di kapal selam, biar bisa mengetahui jenis kapal lainnya).

Nggak berapa lama, terdengar suara lenguhan hilang dan suara ‘pak’ juga hilang, dan aku pun tersadar kalau aku juga mau keluar.
“Mbak aku mau keluar,” ujarku, dia segera melepaskan dari mulutnya dan mengocoknya.
“Udah Mbak biar aku saja, Mbak tidur terlentang aja,” jawabku, dia mengikuti apa yang aku suruh, aku buka lebar-lebar pahanya, dan tampak vaginanya membentuk huruf “O” dan merah seperti lampu lalu-lintas.

“Mas Masukin dong, aku pingin banget nih,” katanya
Aku seolah-olah ingin memasukkan rudalku, sambil terus kustimulasi, pas sudah dekat ke lubangnya (belum masuk), kutembakkan cairanku tepat masuk ke dalam vaginanya, karena dia melakukan gerakan kejut di dalam vaginanya nggak lama keluarlah cairanku.

Saat dia akan bangun, “Mbak jangan bangun dulu!!” kataku, biar leleran cairanku menetes habis. Nggak lama dia membersihkan dengan sprei dan segera memakai rok dan kaos terus ke kamar mandi, aku pun segera mengenakan kimono dan mengikutinya dari belakang, setelah membersihkan kita kembali ke kamar.

“Katanya mau nambah,” tanya si Mbak, melihat aku menggunakan baju dan memakai CD+CP, aku segera memakainya karena nggak kuat dinginnya.
“Lho siapa takut, kataku..” jawabku, sambil membuka reitslenting celanaku, dan mengeluarkan rudal kecilku, sementara dia duduk di kasur dengan rok mininya tanpa CD, karena duduk sehingga roknya ketarik maka tampaklah rambutnya David Tua/Don King, pemandangan yang cukup indah nampaknya, terdengar lagi suara erangan dari kamar lain, wah terangsang lagi aku, dia segera menghisap rudalku semakin kuat mungkin 3 psi, akhirnya tumbang juga, dia yang hisap tetangga yang mengerang (coba banyangin sensasinya), sebelum keluar segera kudorong dia untuk terlentang di kasur dan kubuka dengan cepat ke dua pahanya dan kusiram cairanu ke dalam vaginanya yang sudah membentuk huruf “O” besar.

“Yah, si Mas, udah dibersihin, dikotorin lagi,” protesnya.
“Ya sudah, tinggal cuci lagi” rayuku.
“Sebentar ya Mas, aku kamar mandi lagi,” ijinnya.

Kumasukkan rudalku yang mengkerut, tanpa kucuci (jorok yah, kan ada ludahnya WP, dan sedikit cairanku), kulihat di meja kecil ada rokok jarum super (pantes ngisapnya pinter/master sucker, kalau master anal, yah Mbak Sxx, khan tiap orang punya spesialisasi; kalau wanita-perokok belum tentu WP (wanita-penghisap), tapi rata-rata semua WP adalah perokok yang mahir). Gila biasanya WP rokok putih, segera kumasukkan $150 ke dalam rokoknya, dan..

“Lho, koq nggak dicuci dulu?” tanyanya.
“Udah buat kenang-kenangan, koq kamu rokoknya gituan sih, biasanya wanitakan rokok putih,” kataku.
“Mau tahu, kenapa?” tanyanya.
“He eh!” sahutku.
“Yang Penting Rasanya Bung” ledeknya, dengan senyum manisnya.
Oh pantes, dia latihan dari rokok yang berat (aku langsung geleng-geleng), bukannya apa-apa, aku bukan perokok tapi kalau suruh ngisap clit/lidah sih nggak perlu jadi perokok!

“Mbak makasih yah,” segera aku keluar kamar.
“Mas, tips-nya belum,” rayunya sambil meletakkan telapak tangan di bagian belakang kepalaku.
“Tuh didalam rokokmu,” jawabku sambil menghindari ciuman (kamu boleh sama WP gini, tapi kalau sama pasangan jangan sekalai-kali, bisa kacau, apapun alasannya).

Aku segera ke resepsionis dan ketemu sama Mbak Mxx (dia memberikan senyum dan tanya: kapan sama saya?) yang tadi “kerja” di kamar sebelahku dengan tamunya, gila, mau tahu ujud tamunya yang mengeluarkan bunyi “pak” berkali-kali, pakai kaca mata plus tebal, dengan rambut putih semua agak sedikit botak (AGUS = Agak GUndul Sedikit tapi juga Anak Gajah Umur Setahun alias besar bukan gendut, tolong dibedakan), kalau mau iseng sih aku mau nanya jamu-nya apa Mbah?, Kita sama-sama bayar dan keluar tanpa bicara, aku ke old beatles, dia ke old tiger (pas deh sama orangnya) tapi aku salut.

Post Terkait