cerita dewasa

Teraphy Sexsual

Kumpulan cerita dewasa,Wanita itu selalu datang dengan kaos kasual dan celana jins ketatnya. Ibu itu walau sudah berusia sekitar 37 tahun masih terlihat sexy. Bodynya yang tidak lagi langsing tetap tidak dapat menyembunyikan jejak kecantikannya di masa remaja. Bahkan dengan body yang semakin berisi tersebut, justru semakin menonjolkan lekuk tubuh yang montok dan menggemaskan. Pak Narto , lelaki berusia 60an tahun itu selalu menyembunyikan kekaguman seksualnya di hadapan ibu setengah muda itu. Posisi dia sebagai seorang yang dipercaya sebagai ahli terapi dituntut untuk menjaga keprofesionalannya di hadapan pasienpasiennya. Apalagi bu Yuli ini adalah salah seorang pasien yang direkomendasikan oleh ponakannya, sesama ahli terapi yang dulu belajar ilmu dari dirinya. Ibu yang cantik itu adalah kawan istri dari ponakannya itu. Dengan hubunganhubungan itu, Pak Narto jelas tidak mungkin mempunyai kesempatan untuk melakukan tindakan tercela terhadap pasiennya tersebut. Jejak rekam Pak Narto sebagai seorang ahli terapi spiritual termasuk berjalan mulus. Tidak pernah sepanjang kariernya, dia melakukan tindakan tidak terpuji. Walaupun sebenarnya, Pak Narto pun tidak mengingkari bahwa beberapa kali dia tergoda oleh beberapa pasien wanitanya. Pak Narto sendiri bukan pria yang berkelakuan baik di sepanjang hidupnya. Di masa muda, dia pun terkenal jago dalam menaklukan perempuan. Namun karena usianya yang tidak lagi muda, dan kehidupannya yang sempurna bersama istri dan anakanaknya, lelaki tua itu kini lebih cenderung menjadi family man. Walau demikian, setelah dia mulai dikenal sebagai ahli terapi spiritual, dia banyak memiliki pasien dari berbagai kalangan, termasuk ibuibu muda yang mendapat masalah keluarga. Dengan pasienpasien semacam itulah, Pak Narto kerap tergoda untuk melakukan tindakan terpuji. Namun sejauh ini dia berhasil menghindari godaangodaan tersebut. Apalagi istrinya adalah seorang yang setia dan sangat mempercayainya. Hampir tidak pernah sang istri mencampuri kegiatannya dalam melakukan terapi. Walau terapi yang dilakukannya menggunakan bentukbentuk pijatan dan Narto urat, tetapi bagi wanita setia itu hanyalah bagian dari resiko pekerjaan yang harus dilakukan suaminya. Demikian pula Pak Narto pun tidak pernah kedapatan melakukan penyimpangan dari proses terapinya. Tapi entah kenapa, di usia profesinya sebagai ahli terapi setelah hampir sepuluh tahun, tibatiba Pak Narto merasakan hal yang berbeda pada pasien yang bernama Bu Yuli ini. Seperti yang diceritakan di awal, body Bu Yuli memang tidak seistimewa para artist sinetron, tetapi untuk ibu seusia dia, tubuh Bu Yuli termasuk istimewa. Tidak lagi langsing tetapi justru bagi pria berpengalaman seperti Pak Narto , tubuh itu ideal sebagai sebuah simbol sensualitas yang sebenarnya. Pak Narto bahkan merasakan ada potensi sensual yang besar dari wanita terhormat itu. Walau Bu Yuli selalu berpakaian biasa, dengan kaos kasualnya, tetapi kaos yang tidak begitu ketat itu tetap tidak dapat menyembunyikan bungkahan besar kedua dadanya. Bungkahan yang walau tidak lagi kencang membusung dan mulai sedikit menggantung, tetapi justru mengundang decak kagum para pria karena montoknya. Payudara yang wajar untuk ibu ibu dengan dua anaknya yang sudah beranjak remaja.

Satu hal lain yang menonjol dari ibu itu adalah bungkahan pantatnya yang membulat dan kencang. Semua pria yang berpengalaman pasti tahu akan potensi seksual dari ibu seperti Bu Yuli ini. Pantat itulah yang selalu membuat Pak Narto menelan ludah. Bu Yuli memang cenderung menggunakan pakaian yang tidak terlalu ketat untuk menyembunyikan dadanya, tetapi untuk bagian bawah, Bu Yuli menyukai celana yang ketat yang menampilkan lekukan pantat dan pahanya yang menggiurkan. Paha yang langsing itu sangat serasi dengan pantatnya yang menggumpal ketat. Point lain yang menggoda Pak Narto adalah kulit mulus putih Bu Yuli yang terawat. Mungkin juga karena biasanya pasiennya adalah wanitawanita di sekitar kampungnya yang biasanya tidak semulus dan seputih Bu Yuli , maka setiap kali menyentuh kulit ibu itu, Pak Narto tidak dapat menahan gejolak birahinya. Memang Bu Yuli adalah istri seorang pegawai pemerintahan berpangkat lumayan. Sehingga dia selalu dapat merawat tubuhnya dengan luluran dan makanan yang sehat. Pak Narto masih ingat ketika pertama kali berjumpa dengan wanita itu. Mulanya Bu Yuli terlihat ragu untuk menjalani terapi. Dia pergi ke Pak Narto atas rekomendasi suami temannya, yaitu keponakan Pak Narto tadi. Keluhan utama dari ibu itu adalah masalah perutnya dan masalah kegelisahan hatinya terhadap suaminya. Pak Narto tahu bahwa masalah sakit perut wanita itu bisa jadi akibat dari stress pikirannya karena kecurigaannya selalu pada suaminya. Tetapi sepanjang terapi, Bu Yuli tidak bisa terus terang mengenai masalah dengan suaminya, walau dia menyinggung tentang ketidaknyamanannya pada aktivitas suaminya. Secara ringkas, Pak Narto tahu bahwa Bu Yuli curiga pada kesetiaan suaminya. Bagi Pak Narto , informasi itu sudah cukup untuk mengurai persoalan Bu Yuli . Metode yang dipakainya adalah relaksasi pada pasien baik secara mental maupun secara fisik. Secara mental, Pak Narto akan membimbing pasienpasiennya dengan bacaan doa dan secara fisik, dia akan menerapinya dengan pijatan dan minuman herbal ramuannya sendiri. Dengan sabar Pak Narto mencoba untuk membuat Bu Yuli nyaman dan mempercayainya, karena point penting dari terapi spiritualnya adalah kepercayaan pasiennya pada dirinya. Pelanpelan Bu Yuli semakin mempercayai pria tua itu dan menjadi pasien favorit Pak Narto . Pak Narto bahkan terangterangan memperlakukan Bu Yuli sebagai pasien istimewanya, karena khusus untuk wanita itu, Pak Narto selalu menyempatkan diri menyediakan waktunya. gairahsex.com Biasanya Pak Narto tidak terlalu ngoyo untuk menggarap pasiennya, karena pekerjaannya sebagai ahli terapi hanyalah pekerjaan sambilan karena diberkati bakat istimewa saja.gairahsex.com Dia sendiri masih sering bekerja sebagai seorang makelar barang antik yang sudah mulai jarang dilakukannya. Karena Pak Narto sudah cukup berumur dan kelima anaknya pun sudah semuanya bekerja dan mandiri. Pak Narto ingat, pertama kali Bu Yuli datang ke rumahnya dengan berbaju biru lengan panjang yang agak longgar. Baju itu berbahan halus dan lembut sehingga lekukan kainnya menempel lembut pada badan wanita itu. Pak Narto ingat sekali, walau pakaian itu adalah pakaian yang wajar dan sopan, namun tepat di bagian dada, kain yang lembut itu membentuk lekukan yang indah. Kedua tonjolannya nampak membusung dan di bagian tengahnya, kain itu meliuk ke bawah mengikuti belahan dada montoknya. Pemandangan itulah yang selalu diingatnya. Apalagi sepertinya, wanita itu menggunakan bh yang bagus sehingga dadanya yang besar terlihat membusung menyedot perhatiannya. Kala itu Bu Yuli diantar oleh ponakannya yang pernah menerapinya sebentar, hanya pada pijatanpijatan di leher dan lengan. Ponakannya menyerahkan Bu Yuli sebagai pasien Pak Narto karena melihat permasalahannya cukup berat untuk dikerjakannya sendiri. Satu hal yang kurang dari Bu Yuli adalah sikap tubuhnya yang cenderung agak membungkuk. Pak Narto tahu sikap itu adalah karena ketidak pedean Bu Yuli pada dadanya yang besar. Sikap itu wajar dan umum pada beberapa wanita dengan dada besar, mungkin karena malu atau tidak percaya diri. Itulah yang justru akan diubah oleh Pak Narto .

Waktu itu dengan pelan dan pandangan sedikit tidak percaya, Bu Yuli menceritakan masalah sakit perutnya yang sering kambuh dan emosinya yang tidak stabil, terutama saatsaat sebelum dan semasa menstruasi. Bagi Pak Narto , masalah itu adalah problem yang sering dihadapinya terutama pada ibuibu dengan hubungan yang tidak terlalu baik dengan suaminya. Bu Yuli masih tidak membuka diri pada semua persoalannya, walau Pak Narto sendiri sudah dapat mendiagnosanya melalui kemampuannya membaca perasaan orang.

Iya bu, saya mengerti. Terapinya nanti ada dua jenis bu. Pertama terapi fisik, yang akan membantu ibu untuk rileks, dan yang kedua adalah terapi spiritual papar Pak Narto pada Bu Yuli waktu itu.

Bu Yuli nampak masih bimbang terutama pada terapi spiritual. Jelas hal tersebut karena latar belakang dan lingkungan wanita itu, karena berasal dari kalangan terdidik yang cenderung lebih percaya pada bentukbentuk pengobatan medis.

Yang spiritual itu gimana, Om? Bu Yuli memanggilnya om karena mengikuti ponakannya yang mengantarnya.

Nanti biar Yatno (ponakan Pak Narto ) ikut menjelaskan. Intinya terapinya akan melalui bentuk bentuk spiritual, seperti doa, minum air yang sudah saya kasih jampijampi, dan yang penting ibu yakin dengan proses yang dijalani jelas Pak Narto .

Bu Yuli masih nampak gelisah.

Yang penting lainnya, adalah sikap pasrah bu. Pasrah itu akan membantu mengendalikan emosi ibu.

Penjelasan itu nampak masuk akal bagi Bu Yuli . Dalam nalar terdidiknya, sugesti dan sikap percaya akan membantu menyelesaikan masalah psikologis. Apalagi dulu dia juga pernah kuliah psikologi sebelum menikah dengan suaminya. Bu Yuli lalu memutuskan untuk mencoba dulu terapinya. Pak Narto menyembunyikan perasaan girangnya, karena wanita cantik itu bersedia menjalani terapi. Untung dia tidak memperlihatkannya dengan jelas, karena waktu itu Bu Yuli masih diantar oleh ponakannya dan dia tidak mau kelihatan begitu bernafsu pada wanita itu. Pada saat terapi itulah awal dari godaan Pak Narto yang sesungguhnya. Seperti biasa, dia menyilahkan pasiennya untuk berbaring di dipan ruang terapinya. Bu Yuli pun menurutinya. Bukan main pemandangan yang dilihat Pak Narto . Wanita itu berbaring di depannya dengan lurus, dan tepat di dadanya, gundukan itu semakin terlihat jelas. Gundukan yang menonjol jelas karena ukurannya, dan tidak mampu tertutupi oleh kain bajunya yang lembut dan tipis. Tanpa sengaja Pak Narto menelan air liurnya. Pada awalnya dia memijat lembut kedua tangan Bu Yuli . Pak Narto kembali tercekat, merasakan lembutnya kulit putih itu. Belum pernah dia merasakan sensasi kulit yang sangat lembut dari sekian banyak pasiennya selama ini.

Oh dasar aku ini ahli terapi kampung, biasanya punya pasien mbok mbok bakul pasar, pikirnya.

Bu Yuli hanya diam saja. Sesekali dia menjawab pertanyaan Pak Narto di seputar keluhan kesehatannya.

Hmm, memang bu, biasanya masalah emosi akan berpengaruh ke masalah lambung, jelas Pak Narto .

Bu Yuli mengangguk mengiyakan. Iya pak, setiap emosi saya naik, perut saya pasti bermasalah.

Pak Narto yang duduk di samping dipan sambil mengurut tangan Bu Yuli kembali menjelaskan halhal masalah pengendalian emosi,

yang penting ibu rileks dulu, terapi fisik ini untuk membantu ibu rileks. Makanya ibu kalau bisa jangan terlalu tegang. Santai saja bu, gak usah takut sama saya.

Lho siapa yang takut Om?

Ya siapa tahu ibu gak percaya sama saya. Padahal untuk dapat menerima energi saya, kita harus saling percaya bu jelas Pak Narto .

Saya percaya kok Om. Yatno juga sudah cerita tentang Om. Cuma mungkin masih perlu adaptasi dengan terapi ini.

Baguslah bu, gimana pijatan saya, terlalu keras?

Gak Om. Enak kok, jawab Bu Yuli nampak mulai lebih santai.

Pak Narto lalu berpindah ke tangan yang lain. Dia mengurut wanita itu dari telapak tangan hingga ke lengannya. Semua inci dari kulit wanita itu begitu lembutnya. Tak hentihenti Pak Narto memuji dalam hati kepandaian wanita itu dalam merawat diri. Setelah beberapa saat, Pak Narto mulai mengurut bagian kaki. Sayangnya Bu Yuli mengenakan celana jins ketat sehingga Pak Narto tidak dapat mengurutnya dengan keras.

Bu, maaf, besok lagi kalau ke sini bawa celana pendek atau celana agak lemas kainnya. Kalau diurut dengan celana jins yang keras justru tidak baik untuk kesehatan, jelasnya.

Iya Om, tadi soalnya belum bersiap untuk terapi.

Di bagian ini, Pak Narto tidak lama melakukan pijatan. Tetapi dia sempat mengagumi bagian lain yang indah dari wanita itu. Gundukan pantat montoknya sangat mengundang hasrat lelaki itu. Kala itu Bu Yuli terbaring telungkup, sehingga Pak Narto leluasa mengagumi bungkahan pantat itu. Sensasi itu luar biasa bagi Pak Narto , karena selama puluhan tahun dia sudah tidak merasakan perasaan seperti ini. Selama ini dia paling hanya sedikit tergoda, dan pikirannya pun tidak pernah semesum ini.gairahhsex.com Dalam hati dia menyalahkan pikiran nakalnya karena dia adalah orang tua yang dihormati di kampung karena kemampuan spiritualnya. Baru kali inilah dirinya seperti remaja kembali yang dengan malumalu menyentuh dan mengagumi cewek idamannya. Selanjutnya Pak Narto menyilahkan Bu Yuli untuk duduk bersila. Dia lalu ikut naik ke dipan dan duduk di belakang wanita itu.

Sekarang saya hendak menyalurkan energi ke punggung Ibu, katanya. Bu Yuli hanya mengangguk.

Tolong ibu jangan membungkuk. Usahakan rileks dan konsentrasi pada getaran yang saya transfer.

Bu Yuli menurut. Dibusungkannya dadanya, sesuatu yang jarang dilakukannya. Di belakangnya, lelaki tua itu menempelkan kedua telapak tangannya ke punggungnya. Tangan itu terasa hangat. Perlahan tapi pasti, Bu Yuli merasakan seuatu serupa getaran melewati punggungnya. Hangat dan menenangkan. Tetapi Pak Narto merasakan sesuatu yang lain. Di tengah konsentrasinya menyalurkan energi, Pak Narto dapat melihat gundukan dada wanita itu semakin menonjol karena posisinya yang membusung. Apalagi tepat di mukanya, leher bagian belakang wanita itu nampak sangat halus dan harum. Matimatian Pak Narto berusaha menepis perasaan mesumnya mengingat posisinya sebagai ahli terapi.

Gimana Bu? Apakah terasa nyaman?

Hm, iya Om. Kok bisa Om? tanya Bu Yuli heran.

Ini namanya terapi energi. Sekarang kosongkan pikiran, saya hendak menyalurkannya sampai selesai

Terapi seperti itu menyita energi dalam Pak Narto . Beberapa saat kemudian, dia sudah kelelahan dan menyudahi terapinya. Bu Yuli nampak senang dan mengalami sedikit kemajuan.

Sudah bu. Kalau mau, kita lanjutkan minggu depan, Bu, kata Pak Narto setelah merapalkan doanya.

Makasih sekali, Om. Sore itu terapi berjalan lancar dan setelah ponakannya dan Bu Yuli pergi Pak Narto menghela nafas dan memikirkan kembali apa yang baru saja terjadi. Baginya peristiwa siang itu membuatnya kembali seperti remaja. Wanita itu membuatnya mabuk kepayang seperti remaja kembali. Bahkan malamnya, dia tidak dapat berhenti memikirkan lembutnya kulit wanita itu. Wajah cantiknya, dan tubuh montoknya.

Pagi esoknya, Pak Narto mendapati kembali apa yang sudah lama tidak dirasakannya, yaitu ereksi pagi hari yang amat sangat. Ketika dia bangun, istrinya sudah beranjak ke pasar, sementara dirinya terbaring dengan perasaan aneh. Sudah lama dia tidak merasakan ketegangan yang sangat seperti pagi itu. Dibiarkannya sebentar batangnya sambil duduk di kasur, menunggu sampai batang itu mereda, namun sekian lama, tidak juga birahinya mereda. Dia lalu menuju kamar mandi. Di kamar mandipun, setelah diguyur dengan air dingin, penisnya tetap tegang luar biasa. Pak Narto merasa heran, darimana perasaan itu muncul kembali. Hanya karena seorang pasien yang menarik hatinya, dia kembali seperti remaja yang dilanda puber. Setelah beberapa saat penisnya tidak ada perubahan, Pak Narto memutuskan membiarkan batang itu tegang. Dipakainya kembali kolornya walau terasa aneh karena mengganjal di selangkangannya. Sengaja dia tidak mengenakan cd, karena berharap ketegangannya dapat turun sendiri. Dia lalu menuju ke meja makan. Di situ sudah tersedia kopi panas seperti biasa, dan beberapa cemilan jajan pasar kesukaannya. Biasanya istrinya atau menantunya yang menyediakan segala jamuan itu. Tibatiba dia ingat menantunya, seorang wanita muda berusia 26 tahun yang tinggal bersama dia dan istrinya. Menantunya itu seorang wanita yang setia pada keluarga dan merelakan tinggal bersama mereka karena istri Pak Narto tidak rela ditinggal oleh semua anaknya. Anak bungsunya sendiri, yaitu suami menantu mereka itu, setiap hari pergi ke kantornya, sedang sang menantu tinggal di rumah mengurusi urusan rumah tangga. Tami , nama menantunya itu ternyata sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Pak Narto tibatiba berpikiran aneh. Di tengah posisi penisnya yang masih tegang, tibatiba dia ingin melihat bagaimana menantunya sekarang. Seperti apa pakaiannya. Dalam ingatannya selama ini, menantunya itu memiliki tubuh yang seksi walaupun sudah beranak satu. Selama ini, Pak Narto tidak pernah berpikir mengenai sang menantu itu sebagai objek seksual. Saat ini Tami juga sedang mengandung anaknya yang kedua, setelah berjarak 5 tahun dengan anak yang pertama. Anak mereka yang pertama sudah sekolah di tk tidak jauh dari rumah Pak Narto . Setelah menghirup kopi dan menyantap beberapa jajanan, Pak Narto menyeret tubuhnya ke belakang. Benar saja, di sana, Tami sang menantu sedang menjemur pakaian. Seperti yang selama ini biasa dilihatnya, Tami mengenakan daster lengan pendek dengan bawahan hingga ke lututnya. Tidak seperti biasanya, di tengah birahinya di pagi hari, Pak Narto tibatiba berubah melihat perempuan muda yang sudah biasa dilihatnya itu. Pemandangan yang biasa itu sekarang menjadi pemandangan yang menggoda di matanya.gairahsex.com Di halaman belakang, Tami mengenakan daster lengan pendek, di mana payudaranya menonjol besar, pantat menggelembung dan perut yang mulai membusung karena kehamilan di atas 7 bulan. Di teras belakang diamdiam Pak Narto mengagumi tubuh menantunya, walau tidak sesingset body Yuli . Jelas tubuh wanita itu semakin membengkak karena kehamilannya, termasuk bagian pantat dan dadanya, namun sex appealnya tetap ada dan hampir pasti tubuh Tami akan kembali ke bentuk semula yang indah itu setelah melahirkan nanti. Ia memang pandai merawat tubuh dan rutin berolah raga sehingga dulu seusai melahirkan yang pertama pun bentuk tubuhnya pulih dengan relatif cepat. Sial bagi Pak Narto , penisnya semakin menegang tanpa kompromi. Ujung penisnya berdenyutdenyut. Tanpa sadar dia meraba kolornya dan mengurut penisnya dari luar celananya. Tami masih tidak sadar diawasi oleh tatapan binal mertuanya, karena posisinya sedang membelakangi Pak Narto . Sial bagi Pak Narto , karena terlalu sibuk memandangi menantunya, tanpa sadar kakinya menabrak kaleng bekas biskuit yang sering dijadikan mainan anaknya. Klontang! Bunyi yang keras itu mengagetkan kedua insan itu. Pak Narto gugup dan memegang selangkangannya takut menantunya melihatnya.

Tami menoleh kaget, dan bertanya kawatir, ada apa, Pak?

Eh, gak papa Mi, katanya dan secara spontan dia membalikkan badan hendak masuk kembali ke rumah. Sialnya dia tidak melihat batang kain pel yang disandarkan di dekat pintu. Kakinya terantuk batang itu dan karena gugup dia terjembab ke belakang. Aduh!

Awas Pak!, teriak Tami ambil lari mengejar mertuanya.

Tami sangat kawatir melihat mertuanya jatuh terkapar. Segera dihampirinya dan dipegangnya punggung mertuanya itu.

Pak Narto meringis kesakitan. Gimana Pak? Sakit sekali?, tanya Tami panik.

Gak papa, Mi. Cuma kaget saja.. kata Pak Narto menenangkan. Hanya pantatnya yang sedikit sakit. Sini Pak, saya bantu berdiri, hati hatii kata Tami sambil menopang punggung lelaki itu.

Pak Narto berdiri dengan dibantu Tami . Gak papa kok, Mi, katanya.

Sini, saya bantuin masuk ke dalam, Pak.

Waktu berdiri itulah Pak Narto kembali didera malu yang sangat. Dari balik kolornya tonjolan batang itu nampak sangat jelas dan tepat di depan menantunya yang montok. Jelas Tami melihat tonjolan itu. Tami pun jelas kaget. Mertuanya yang sangat dihormatinya itu entah kenapa sedang didera birahi. Tapi Tami purapura tidak memperhatikan tonjolan itu. Dia dengan telaten menopang punggung Pak Narto dan membimbingnya masuk ke rumah. Sambil berjalan tertatih Pak Narto menyembunyikan mukanya dari pandangan Tami . Jelas menantunya melihat ereksinya. Tapi berdekatan dengan perempuan montok itu, Pak Narto kembali tidak dapat menahan birahinya. Pak Narto dapat merasakan tekanan payudara Tami di punggungnya. Payudara itu sepertinya tidak mengenakan bh, mungkin karena faktor kehamilan dan bengkaknya kelenjar susunya. Penisnya saat ini malah semakin tegang, walau pantatnya agak ngilu karena jatuh tadi. Tanpa sengaja tangannya meraih pinggang Tami sekalgus sebagai penopang tubuhnya yang limbung. Tami membiarkan tangan itu karena kondisi mertuanya yang baru saja terjatuh. Perjalanan dari teras belakang ke sofa di ruang tengah seperti perjalanan yang tiada akhir bagi Pak Narto . Sampai di sofa ruang tengah, Tami membantu mertuanya duduk.

Pak, kakinya diluruskan dulu. Yang sakit mana Pak? tanyanya dengan berusaha tenang.

Ya pantatnya ini, Mi. Tapi gak begitu kok. Tolong ambilkan saja minyak urut di kamar depan Mi.

Tami berlari ke kamar mertuanya. Kesempatan itu digunakan oleh Pak Narto untuk membetulkan letak penisnya. Batang yang tegang itu susah untuk disembunyikan dibalik kolor tanpa cd nya. Di tengah sibuknya menyembunyikan ketegangannya, Tami kembali dengan membawa minyak urut. Pak Narto segera memindahkan tangannya, walau sekilas Tami sempat melihat aktivitas itu.

Sini, Pak. Mana yang sakit? tanyanya sambil bersimpuh di depan Pak Narto .

Udah Mi, biar Pak sendiri.

Gak usah, Pak, sini, biar Mimi. kata Tami memaksa.

Pak Narto menurut dan dia menunjuk bagian belakang pantatnya. Tami menarik pantat itu sehingga Pak Narto sekarang duduk miring di sofa dengan bagian kanan pantatnya ke atas. Dengan tenang Tami melorotkan kolor mertuanya sedikit. Pak Narto tercekat. Jelas dia kawatir penisnya terlihat dari belakang. Dengan tenang Tami membubuhkan minyak ke pantatnya bagian atas, dan menggosokgosoknya. Tangan wanita itu seperti mengandung listrik bagi Pak Narto yang sedang dilanda birahi. Nafasnya terengah, tapi dia membiarkan wanita itu mengurut pantatnya. Posisi itu tidak membuat Tami leluasa mengurut pantat mertuanya.

Pak, bisa tengkurap gak?

Hmm, wah, gak usah Mi, kata Pak Narto gelagepan. Tami pun tahu masalahnya.

Gini aja Pak, nungging aja, biar saya urut dari belakang

Pak Narto menurut. Tami menurunkan kembali kolornya hingga semua pantat mertuanya terekspos keluar. Karena ditarik dengan keras, penis Pak Narto ikut terurai keluar dari kolornya. Pak Narto sudah tidak dapat lagi menahan sensasi yang dirasakannya. Dibiarkannya penis itu keluar dan menggantung kaku di selangkangannya. Sementara menantunya mengurut pantatnya dari belakang. Tami mengurut mertuanya dari pinggang hingga pantat bagian bawah. Dalam posisinya itu, dia dapat melihat testis mertuanya yang menggantung. Tetapi dia belum bisa melihat penis lelaki itu. Entah kenapa, dia penasaran untuk melihat seperti apa penis mertuanya itu. Dengan seolaholah tidak sengaja, sambil memijit Tami melongokkan kepalanya sedikit ke samping melihat ke bagian depan selangkangan mertuanya.

Gimana, Pak? Masih sakit? tanyanya sambil mengurut.

Udah mendingan, Mi, dalam pikiran Pak Narto justru tangan wanita itu yang menjadi masalahnya. Tangan yang seperti menyetrumnya dan mengalirkan sensasi luar biasa. Penisnya semakin menegang.Cerpen Sex

Tami bergetar hebat ketika sekilas dia dapat melihat batang penis mertuanya yang menggantung di selangkangannya. Penis itu panjang dan berurat, beda dengan milik suaminya yang agak pendek dan bulet mulus. Penis mertuanya nampak keras dan beruraturat mengerikan. Itulah pertama kali Tami melihat penis lain selain milik suaminya. Debaran jantung Tami semakin mengeras. Penis itu begitu besar dan panjang di matanya. Berbentuk kasar dan kuat. Seperti belalai yang sedang kaku mengantung di depan selangkangan mertuanya. Tangan Tami menjadi gemetar. Tanpa sadar cairan kewanitaannya mengucur dari liang rahimnya. Pak Narto sangat tahu, bahwa perempuan hamil pada usiausia akhir cenderung untuk selalu horny. Dia berpikir, mungkinkah Tami menantunya itu juga horny melihat penisnya? Penasaran dengan reaksinya menantunya, Pak Narto nekat membalikkan tubuhnya. Pikir Tami , mungkin mertuanya capek dalam posisi nungging begitu, maka dia membiarkan Pak Narto merubah posisinya.

Alangkah kagetnya Tami , ketika mertuanya itu dengan tenang duduk dengan tetap membiarkan kolornya terbuka. Sebatang penis kaku dan panjang menjulur dari selangkangannya dan mencuat ke atas menyentuh perut lelaki tua itu. Tami membelalak diam, bingung untuk bersikap. Di depannya mertuanya sendiri duduk dengan penis mencuat ke atas sambil menatapnya.

Ppppakk katanya akhirnya.

Kenapa, Mi? tanya Pak Narto .

Mmm. Tami semakin bingung.

Sementara sedari tadi lubang kewanitaannya sudah membasah. Memang sejak kehamilannya semakin menua, Tami semakin sering horny. Hampir setiap malam dia menagih suaminya untuk disenggamai, namun karena suaminya sibuk, dia hanya bisa memberi setidaknya seminggu tiga kali. Kali ini di depannya sebatang penis tersedia, sayangnya penis itu milik mertua yang dihormatinya.

Bapak kenapa itunya? tanya Tami tanpa sadar.

Gak tahu kenapa ini, Mi. Sejak melihatmu dari tadi tibatiba kok jadi seperti ini, kata Pak Narto gemetar sambil membiarkan penisnya melonjaklonjak dari selangkangannya.

Selagi Tami merasa kikuk berhadapan dengan mertuanya, tibatiba terdengar suara motor menderu di halaman rumah. Cepat cepat Pak Narto menaikkan celana kolornya, sedang Tami langsung berdiri dan bergegas ke belakang. Ibu mertuanya perlahan mendekat masuk ke rumah, sedang Tami sudah berada di dapur meneruskan pekerjaannya. Dari belakang didengarnya kedua mertuanya bercakap tentang cedera pinggang bapak mertuanya. Tami belum mampu meredakan debar jantungnya, dan masih grogi untuk bergabung dengan kedua orang tua itu. Sementara itu celana dalam perempuan itu sudah sangat basah.gairahsex.com Tami bergegas ke kamar mandi untuk melepas cdnya. Sebentar lagi dia harus menjemput anaknya dari sekolah. Nampaknya kamar mandi menjadi ruang yang tepat untuk menghindari perjumpaan dengan kedua mertuanya. Sialnya Tami lupa membawa cd ganti. Berhubung buruburu untuk menjemput anaknya, maka Tami meninggalkan kamar mandi tanpa mengenakan cd dan segera keluar lewat pintu belakang menuju sekolah anaknya yang tidak jauh dari rumah itu. Setelah menantunya pergi menjemput anaknya, Pak Narto menggunakan kamar mandi. Semenjak kaget dengan kehadiran istrinya, penisnya sudah bersikap normal dan berada dalam ukuran sewajarnya. Tetapi di kamar mandi tibatiba Pak Narto melihat onggokan pakaian kotor bekas dipakai menantunya dalam ember. Penisnya yang belum sempat terpuaskan langsung kembali mencuat ke atas. Dengan gemetar, Pak Narto mengambil cd menantunya itu. Nampak jelas di bekas bagian selangkangan cd itu basah kuyup bekas cairan kewanitaan Tami . Pak Narto menciumi cd itu dengan penuh birahi. Gairahnya harus dituntaskan. Maka dengan cepat, dia membungkus penisnya dengan cd wanita itu. Dikocoknya batang kerasnya dengan cd itu. Beberapa saat kemudian tumpahlah cairan kenikmatannya memenuhi cd mungil itu. Pak Narto mengerang lalu meredakan deru nafasnya menikmati orgasmenya bersama cd menantunya. Setelah nafasnya reda, cepat cepat Pak Narto menaruh kembali cd itu ke dalam ember dan membasuh badannya. Perasaan bersalah tibatiba mendera dirinya karena menjadikan birahi pada menantunya sendiri.

Siangnya, di kamar mandi Tami terpana mendapati cdnya penuh cairan kental. Jantungnya berdebar keras membayangkan apa yang dilakukan oleh Bapak mertuanya. Jelas lelaki itu menjadikan dirinya sebagai objek fantasi seksual, sesuatu yang tidak pernah diduga sebelumnya. Bagi Tami , selama ini mertuanya itu lelaki terhormat yang sudah dianggap seperti bapak kandungnya sendiri. Sejauh yang dia ingat, lelaki itu tidak pernah melihatnya dengan nakal. Baginya, lelaki itu sudah tua dan tidak mungkin berpikir yang bukan bukan padanya. Itulah yang membuat selama ini Tami tidak terlalu memikirkan pakaian yang dikenakannya selama berada di rumah. Dia terbiasa memakai pakaian asal nyaman, seperti daster tipis pendek, atau bahkan celana ketat dari bahan kaos semacam legging pendek. Untuk bagian atas, sudah agak beberapa lama Tami melepas bh nya karena kehamilannya yang membuat susunya membengkak dan tidak nyaman mengenakan bh. Semua bh nya menjadi sempit dan dia hanya mempunyai satu buah bh menyusui yang besar. Sejak kejadian itu Tami berusaha menghindari bapak mertuanya itu. Demikian juga Pak Narto , dia pun canggung untuk berduaan dengan Tami . Perasaan bersalah karena menjadikan menantunya sebagai objek seksual membuatnya salah tingkah berhadapan dengan wanita itu. Mereka menjadi jarang bertatap muka, apalagi Tami yang selalu berusaha menghindari tatapan mata lelaki tua itu. Walau canggung dan agak kesal dirinya dijadikan objek seksual oleh mertua yang dianggapnya seperti ayah sendiri itu, Tami pada akhirnya selalu bertanyatanya ada apa dengan tubuhnya. Kenapa tibatiba mertuanya bernafsu pada dirinya. Tami menjadi sering menatap tubuhnya dalam cermin. Di muka cermin, dia mendapati tubuhnya biasa saja. Palingpaling hanya tambah berisi karena kehamilannya. Memang payudara semakin membengkak, tapi itu khan hal yang biasa bagi ibu hamil. Peristiwa itu membuatnya lamalama mengagumi tubuhnya sendiri. Dia mendapati pantatnya yang sekal dan montok menggelembung. Pinggangnya yang masih membentuk lekuk walau perutnya mulai membusung. Pertanyaanpertanyaan itu tidak bisa terjawab oleh Tami . Hanya saja, dia merasa lega, setelah kejadian itu, dia tidak pernah mengalami lagi kejadian sejenis. Walau kadangkadang dengan sengaja dia meninggalkan cd nya sebelum bapak mertuanya itu mandi. Tapi selama seminggu itu, dirinya tidak pernah mendapati kembali bercak sperma mertuanya di pakaian dalamnya itu. Tami lalu berpikir bahwa mungkin saat itu kebetulan saja mertuanya sedang birahi dan kebetulan hanya ada cdnya yang dapat digunakan untuk membantu menuntaskan hasratnya. Diamdiam Tami merasa lega dengan kesimpulannya sendiri itu. Pak Narto memang merasa menyesal atas tindakannya pada menantunya sendiri. Dia merasa malu bukan main, justru setelah hasratnya tertuntaskan lewat cd milik Tami . Setelah itu pikiran Pak Narto cukup kacau. Dia bingung dengan apa yang telah dilakukannya sendiri.

Beberapa hari kemudian, Yatno , keponakan sekaligus muridnya itu datang bersama istrinya. Pak Narto memang sangat dekat dengan keponakannya itu, walau keduanya pernah punya masalah. Pak Narto tidak terlalu suka dengan watak ponakannya itu. Walaupun berbakat dalam meneruskan ilmu terapinya, namun Yatno cenderung tidak bisa dipercaya terutama pada nafsunya terhadap perempuan. Pak Narto pernah memarahi Yatno karena berselingkuh dengan salah satu pasiennya. Untung saja istri Yatno tidak sampai tahu persitiwa itu, tetapi sejak itu Pak Narto selalu berhatihati mengontrol ponakannya itu. Untung dia tidak menggarap Bu Yuli , pikir Pak Narto , mungkin juga Yatno tidak enak karena Bu Yuli itu teman dekat istrinya sendiri. Seperti biasa mereka bercakapcakap di ruang tamu. Walau kurang senang dengan wataknya, tetapi Pak Narto selalu membutuhkan ponakannya itu, karena pengetahuan dan pengalamannya yang luas. Yatno memang seorang pekerja yang rajin, pemborong bangunan yang mempunyai banyak relasi. Selalu saja Yatno mempunyai bahan pembicaraan dan kemungkinankemungkinan pekerjaan baru. Banyak pasien Pak Narto berasal dari relasi Yatno . Mereka lalu membicarakan tentang Bu Yuli , walau cuma sekilas. Istri Yatno lah yang menanyakan perihal Bu Yuli .

Om, gimana terapinya jeng Yuli ?

Pak Narto berusaha bersikap biasa, walau dirinya berdebar karena mempunyai pikiran yang nakal terhadap Bu Yuli .

Ya kondisinya masih harus pelanpelan mengurainya. Aku tertarik untuk mengerjakan masalah Bu Yuli ini dengan serius. Hanya saja sepertinya dia harus dilatih untuk yakin dengan terapi ini.

Gimana maksudnya, Om?, tanya istri Yatno lagi.

Gini, kemarin khan dia diantar oleh Yatno . Coba terapi besok usahakan dia datang sendiri. Itu penting untuk meneguhkan niatnya dalam melakukan terapi ini. Masalahnya menurutku cukup berat, Nin, jawab Pak Narto pada istri Yatno . Nama istri Yatno itu adalah Anin. Umurnya sedikit dibawah Bu Susi.

Oh gitu Om. Oke deh, nanti saya sampaikan sama dia, jawab Anin.

Sore itu Yuli sedang bersantai dengan suaminya di ruang tengah, ketika Anin mengirim sms ke hpnya.

jeng, besok jadi terapi ke Om Pak Narto ? beliau menganjurkan untuk jeng datang sendiri karena niatnya penting

Yuli baru menyadari janjinya dengan lelaki tua itu. Segera dijawabnya sms Anin: ok bu. makasih banget.

Lalu dia berkata pada suaminya, Mas, besok aku terapi di tempat omnya Anin.

Suaminya hanya melihat sebentar lalu kembali menonton tivi, sambil bertanya, terapi apa Sus?

Lambungku. Aku ke sana sendiri kok, siang

O ya sudah,soalnya aku juga besok ada rapat sampai sore hari

Hanya dengan memikirkan kedatangan Yuli nanti sore membuat hati Pak Narto berbungabunga. Hari itu Tami menantunya melihatnya begitu riang. Sejak pagi lelaki tua itu sudah mandi dan bersiulsiul riang. Bahkan seharian Pak Narto mertuanya itu bermain dengan cucunya dengan gembira. Tami juga diamdiam memperhatikan mertuanya itu berdandan agak berlebihan siang itu. Dia melihat mertuanya itu bercermin cukup lama, sambil bersenandung. Sorenya, Pak Narto bagai mendapat durian runtuh. Yuli yang dirindukannya datang sendiri dengan mengenakan kaos kasual biasa dan celana ketat untuk senam. Kedatangan wanita itu merubah semua suasana hati Pak Narto . Dengan antusias lelaki itu menyilakan Yuli ke ruang terapinya, dan menggarapnya secara serius. Kali ini dia dapat memijat kaki Yuli lebih lama dan nyaman karena tidak mengenakan celana jins. Bahkan Pak Narto sedikit agak terlalu lama mengerjakan bagian pantat. Percakapan mereka mulai lebih cair. Dengan kesabaran dan pengalamannya, Pak Narto mampu membuat Yuli lebih terbuka dan rileks dengan percakapan mereka. Nampaknya Yuli mulai lebih mempercayai lelaki itu. Yuli merasakan dampak yang positif dari terapi yang dijalaninya seminggu lalu. Selama satu jam kemudian, terapi selesai dan Pak Narto memberikan dua botol air yang sudah diberi doa pada Yuli . Satu botol untuk diminum, dan sebotol yang lain untuk dibuang ke halaman belakang rumah Yuli . Yuli menerima air bermantra itu dengan yakin. Keyakinannya didasari oleh reaksi tubuhnya yang semakin nyaman setelah menjalani dua kali terapi. Bahkan mereka akhirnya bertukar nomer hp untuk komunikasi lebih lanjut.

Tami akhirnya tahu apa penyebab berubahnya sikap mertuanya. Setelah kunjungan pasien wanita kota yang cantik itu, mertuanya kembali blingsatan dan matanya selalu mengikuti ke mana tubuh Tami melangkah. Tami tiba tiba sadar, bahwa sang mertua sepertinya birahi pada pasiennya itu dan membutuhkan pelampiasan pada tubuhnya, tubuh menantunya sendiri. Keyakinannya itu semakin kuat setelah didapatinya kembali cdnya berlumuran sperma di sore hari tepat setelah kedatangan pasien istimewanya itu. Fakta itu membuatnya kesal, karena ternyata dirinya hanyalah pelampiasan dari gairah lelaki itu pada perempuan lain. Kekesalan yang dipendamnya karena hanya dirinyalah yang mengerti kejadian itu. Tami semakin kesal pada mertuanya, ketika akhirnya sang mertua merubah jadwal pertemuan dengan ibu cantik itu. Yuli diminta untuk datang lebih sering ke rumah Pak Narto karena terapinya membutuhkan perlakuan khusus, yang menurut Pak Narto sendiri karena masalahnya yang unik dan berat. Tami kesal, karena dia menyadari hasrat lain dari keputusan mertuanya itu. Sejak saat itu, Yuli diterapi oleh Pak Narto setiap minggu dua kali. Yuli sendiri menerima keputusan itu, karena dia juga merasa semakin percaya dengan kapasitas Pak Narto . Tami selalu mencoba mencuricuri pandangan ketika mertuanya sedang menggarap Yuli . Sejauh ini dia melihat apa yang dilakukan mertuanya masih wajar seperti biasanya dia melakukan terapi. Hanya saja, Tami merasa perhatian mertuanya itu pada Yuli sangat berlebihan. Tami semakin sering melihat mertuanya berkirim sms ke seseorang, yang dia curigai bu Yuli itu. Suatu saat Tami menemukan hp mertuanya tergeletak di meja. Tami cepat cepat melihatlihat catatan SMS dari hp Pak Narto . Di situ terlihat begitu banyak kiriman sms pada wanita kota itu. Bahkan beberapa kalimat mencerminkan kemesraan lebih pada wanita itu walau tidak nampak menonjol. Misalnya Pak Narto menyelipkan katakata pinter, cantik, bahkan sayang pada smsnya. Walaupun demikian, pembicaraan mereka masih sebatas proses terapi seperti nasehat Pak Narto pada apa yang perlu dilakukan dan apa yang tidak perlu dilakukan. Yang menarik perhatiannya adalah sms Pak Narto yang menganjurkan Yuli untuk menegakkan punggungnya, untuk menambah percaya dirinya. Tami tahu arah pembicaraan mertuanya itu. Dia tahu bahwa Yuli , wanita kota itu mempunyai dada yang montok dan sintal serta mengkal dan kencang padat. Dengan menegakkan punggung, maka dadanya akan semakin mencuat ke atas dan membentuk pemandangan yang membuat liur laki laki banjir.

Tiba tiba Tami sering menjadi sasaran salah sentuh mertuanya. Pada saat Pak Narto meminta cucunya untuk digendong, dia akan dengan tanpa sengaja menggesek payudara Tami . Pada saat Tami mencuci piring di wastafel, tibatiba Pak Narto seolah mencaricari benda di bufet atas sambil menyenggolkan selangkangannya di pantat Tami . Pada saat mereka bertemu di koridor rumah, Pak Narto akan tanpa sengaja menyenggol lengan dan bahkan dada Tami . Mulanya Tami membiarkan saja tingkah mertuanya. Lamalama karena kesal dia memutuskan untuk menggoda mertuanya itu. Herannya meskipun kesal, Tami justru merasakan birahi ketika bersentuhan dengan mertuanya. Mungkin karena dampak dari kehamilannya dan mudah basahnya lubang kewanitaannya. Pada akhirnya Tami justru ingin memanfaatkan birahi mertuanya pada Bu Yuli untuk menuntaskan hasratnya sendiri pada penis mertuanya itu yang panjang dan keras. Tami semakin penasaran dengan tingkah laku mertuanya itu. Dia bertanyatanya seberapa berani laki laki tua itu menggarap pasiennya. Beberapa kali dengan purapura sibuk di dapur, Tami diamdiam berbalik menunggu di balik jendela ruang terapi mertuanya. Beberapa pertemuan hanya terapiterapi biasa. Diamdiam Tami justru berharap mertuanya itu melakukan sesuatu yang nakal pada Bu Yuli . Hingga pada suatu siang, Tami menemukan pemandangan yang diharapkannya. Di dipan terapi Yuli nampak berbaring telungkup biasa. Tapi di sampingnya, mertuanya mengurut kaki dengan meletakkan betis Bu Yuli di pahanya. Dengan cara itu kaki Bu Yuli tepat berada di selangkangan Pak Narto . Yang membuat mata Tami terbelalak adalah penis mertuanya itu dibiarkan mencuat keluar dari lobang kolornya dan menyentuh tepat pada telapak kaki lembut pasiennya. Pemandangan itu membuat Tami merasa birahi dan membasahkan lobang vaginanya. Hingga pada suatu saat, Tami sempat mencuri lihat sms mertuanya pada Bu Yuli .

Pinter sayang. Besok jangan lupa ya. Gak usah bawa apa apa. Pake minyak wangi yang kemarin. Sama celana senam itu, kalau bisa kaosnya yang warna kuning itu.

Besok siangnya, Tami semakin penasaran dan bernafsu melihat tingkah mertuanya. Saat itu mertuanya ikut duduk di dipan terapi di samping kepala Bu Yuli . Dengan lagak wajar, Pak Narto mengurut lengan Bu Yuli . Yang tidak wajar adalah, Pak Narto membiarkan penisnya keluar dari kolor kumalnya dan tepat berada di depan muka Bu Yuli . Pemandangan itu bagi Tami sangat seksi karena walau posisi muka bu Yuli tepat di depan penis mertuanya, tetapi ibu cantik itu diam saja dan hanya menatap lekatlekat pada batang yang mencuat tegang itu. Sampai akhir terapi tidak terjadi kejadian yang lebih. Tetapi justru kejadian itu membuat Tami sangat terangsang. Tepat setelah Bu Yuli berpamitan, Tami mengambil pose di depan wastafel sambil sedikit menungging. Pak Narto nampak tertegun menatap posenya. Tami membiarkan pantatnya membungkah terbuka sementara daster pendeknya terangkat ke atas. Lebih gila lagi, Tami membiarkan selangkangannya tanpa celana dalam. Pak Narto melongo menatap celah memeknya yang sudah basah kuyup. Dengan pandangan dingin Tami menunjuk ke arah bokongnya, sambil berkata,

Pak, cepat masukkan. Mumpung ibu sedang ke pasar.

Dengan gugup bercampur birahi memuncak, Pak Narto memposisikan dirinya di belakang Tami . Diplorotkannya celana kolornya, dihunusnya penisnya dan segera disodokkannya ke dalam vagina menantunya itu. Tami terpekik kaget karena kasarnya sodokan pertama itu. Tapi karena kesal bercampur birahi, Tami membalas menyodokkan pantatnya ke belakang.

Ayo Pak, sodok memekku seperti kamu pengen nyodok memek Bu Yuli ! goda Tami sambil menggoyang pantatnya. Pak Narto tertegun, menantunya itu tahu apa yang dirasakannya.

Ayo Pak, kamu khan sangat ingin menyodok memek Bu Yuli . Sini kubantuin, Pak. Punyaku juga enak lhooo, gak kalah sama Bu Susssaannnnnn., goda Tami lagi sambil meremas penis itu dengan vaginanya.

Pak Narto juga merasakan nikmat akibat penisnya dijepit vagina menantunya yang masih terasa seret. Ia pun mulai menggerakkan pinggulnya perlahan naikturun dan terus dipercepat diimbangi gerakan pinggul Tami . Keduanya terus berpacu menggapai nikmat.Pak Narto mendengus, kesal campur birahi.

Baiklah, dasar memek gatel, katanya kasar sambil menyodok kuatkuat.

Kontolmu itu yang gatel pak tua mesum! balas Tami yang makin hilang kendali merasakan nikmat yang baru kali ini dirasakan.

Pak Narto mengerakkan pinggulnya semakin cepat dan keras. Sesekali disentakkan kedepan sehingga batang penisnya mentok ke dalam vagina menantunya itu

OhBapak !jerit Tami penuh nikmat setiap kali mertuanya itu menyodokkan penisnya, terasa batang itu menghantam dasar lubang vaginanya yang terdalam.

Semakin sering Pak Narto melakukannya, semakin bertambah nikmat yang dirasakan Tami . Tami tertawa sambil menggoyang pantatnya tak kalah liar. Jadinya mereka bersenggama dengan kasar seperti dua anjing kampung yang mengejar kenikmatan hewani. Tami merintihrintih kenikmatan, sementara di belakangnya, lelaki tua kurus itu mendengusdengus memacu nafasnya. Kejadian buruburu itu memberikan sensasi yang luar biasa bagi dua insan berlainan jenis beda usia itu. Mereka memacu gairahnya sambil berdiri, Tami memegang bibir wastafel, sementara mertuanya berkacak pinggang menyodoknyodok dari belakang. Tak lama kemudian, pada hentakan yang sekian kali, wanita hamil itu merasakan otot di seluruh tubuhnya meregang, juga terasa ada yang berdenyutdenyut di dalam lubang vaginanya.

Ahk..! Ahduh akhh! teriaknya tertahan merasakan orgasme yang untuk pertama kali dari persetubuhan terlarangnya dengan sang mertua

Sangat nikmat dirasakan Tami , seluruh tubuhnya terasa dialiri listrik berkekuatan rendah yang membuatnya berdesir. Sementara Pak Narto yang belum keluar terus menggerakkan pinggulnya semakin cepat. Menyebabkan birahi Tami mulai naik lagi dan namun ia menarik tubuhnya hingga penis mertuanya itu terlepas.

Tami kemudian duduk bersimpuh di depan mertuanya. Batang penis mertuanya itu mengacung tepat di wajah manisnya. Ia langsung meraih batang yang masih tegang dan basah itu

Bapak belum pernah ngerasain mulutku kan? ia tersenyum nakal menantang mertuanya.

Heheheheternyata kamu nakal banget ya kalau lagi ngentot, ayoBapak juga pengen ngerasain disepong sama kamu ia meraih kepala menantunya.

Tanpa babibu lagi, Tami pun memasukkan penis itu ke mulutnya dan mengulumnya dengan nikmat. Sungguh pemandangan yang erotis, seorang wanita hamil melakukan oral seks dengan mertuanya sendiri yang berusia terpaut jauh darinya. Pak Narto meremmelek, gairahnya seakan semakin terbakar melihat dan merasakan bibir menantunya yang cantik ini melahap dan mengulum batang penisnya yang sedang ngaceng dan ia sangat menikmati sentuhan lidah dan bibir wanita itu, dibiarkan sang menantu memanjakan penisnya dengan mulutnya sambil meremasremas rambutnya. Tami dengan penuh nafsu mengulum dan menjilati batangan itu. Teknik oralnya semakin terampil hingga nikmat yang dirasakan mertuanya pun semakin tinggi. Bahkan istri yang telah puluhan tahun mendampinginya itu pun tidak mau mengulum penisnya apalagi menelan air maninya. Tapi kini menantunya sendiri, seorang istri yang sedang hamil itu dengan rakus melakukannya. Pak Narto pun merasa beruntung memiliki menantu seperti Tami . Tidak terpikirkan apa reaksi istri dan putranya bila tahu perbuatan gila mereka. Pria setengah baya itu merasa batang penisnya semakin sensitif dikulum dan dilumati mulut Tami . Dan tanpa dapat ditahan lagi muncratlah cairan kenikmatan hangat dari otot tegang itu, yang segera dilahap dengan rakus oleh Tami . Penis itu dikulum hingga hampir sepenuhnya masuk ke dalam mulutnya sehingga sperma yang tercurah langsung masuk ke tenggorokannya dan tertelan. Tami merasakan nikmat aroma dan rasa cairan khas berwarna putih kental itu memenuhi mulutnya. Demikian pula Pak Narto , tubuh tuanya meregang tersentaksentak seiring curahan cairan kenikmatannya yang dengan rakus ditelan menantunya. Tami bahkan juga menjilati cairan yang meleleh dibatang kontol hingga tuntas. Mereka melakukannya agak buruburu karena khawatir sang nyonya segera datang. Tengah asyikasyinya menikmati cleaning service dari menantunya, Pak Tokok mendengar suara motor istrinya datang. Mereka pun segera memisahkan diri. Pak Narto terengahengah sambil membetulkan celananya, sementara dengan dingin Tami menurunkan dasternya dan kembali mencuci piring sambil mengatur kembali nafasnya yang naik turun. Pak Narto terbiritbirit menuju kamar mandi sementara istrinya masuk membawa belanjaan dengan tanpa kecurigaan apa pun

Post Terkait