Cerita Dewasa

Tante Arlin Tetanggaku

Namaku Anton, Umur 26 tahun karyawan swasta ternama di Yogyakarta. Kesibukanku selain bekerja rutin, saya suka online marketing. Biasalah buat nambahnambahin sekedar beli rokok dan bensin. Aku tergolong pemuda yang atletis.

Karena setiap cabang olah raga bisa aku ikuti. Ya meskipun nggak jago2 amat setidaknya aku bisa menyeimbangi ketangkasan setiap cabang olah raga yang ada. voli, badminto, basket hingga sepak bola. Badanku yang proposional membuatku bisa bergerak lincah serta energik setiap melakukan aktivitas. Aku tinggal di pedesaan yang amat sangat asri dan nyaman. itu kampung tercintaku dimana aku lahir disitu juga.

Disekitar rumahku terdapat tetanggatetanggaku yang baik dan ramah2. Ada pendatang, ada pula yang memang asli pribumi warga setempat. Sebut saja Mbak Arlin (usia 29 tahun, Tinggi, putih, bersih, body seksidan hidung mancung, mirip artis korea dengan rambut panjang lurus bagaikan iklan shampo di TV adalah salah satu tetangga pendatang dari kota. Sudah 4 tahun mbak Arlin dan keluarganya 1 suami 1 anak masih umur 1 tahun menjadi tetangga dekatku.

Aku juga sering mengobrol dengan mas Joni suami mbak Arlin sehingga cukup dekat dan santai dengan mereka. Apalgi anaknya yang masih luculucunya sering aku ajak main ke dalam kamarku. Mas Joni suami Mbak Arlin kerjaannya menjadi hotskeeping di kapal pesiar internasional. Sehingga waktu kerja dan waktu libur sudah terjadwal bagaikan sistem blok. 8 bulan berlayar, 2 bulan libur/mendarat. Jadi Mas Joni itu bisa kumpul keluarganya 1 tahun hanya 1 kali dalam waktu 2 bulan saja. Gaji yang besar ternyata tidak selalu membuat seseorang bisa bahagia dengan selalu berkumpul dengan keluarganya.

Sore itu ku lihat Mbak Arlin yang sedang menggendong anaknya dengan wajah yang sedih berada di pagar halam rumah dan didepannya sudah ada mobil taxi menjemput mas Joni yang pastinya kembali bekerja berlayar dikapal pesiar. Benarbenar tidak sinkron dengan hatiku jika kelak aku harus meninggalkan istri dan anakku lama oleh urusan pekerjaan. Aku tidak ingin bekerja seperti itu. Bagiku yang penting gajiku cukup asal tidak selalu meninggalkan keluarga dalam tempo waktu yang cukup lama. Terlihat mbak Arlin di kecup keningnya kemudian dipeluknya dan tetesan air matanya berlinang.

5 Menit kemudian setelah taxi pergi bersama membawa mas Joni, aku mendatangi rumah mbak Arlin. Memang seperti biasanya juga aku sering main disitu. Entah itu mainan ama anaknya, atau kadang juga dimintai bantuan dikala mas Joni tidak dirumah misal seperti benerin genteng bocor, kran mampet, lampu mati dll. Jadi kaya udah terlalu santai dan mas Joni juga sering bilang ke aku untuk titip anak dan istrinya itu diwaktu sedang berlayar.

Mas Joni udah berangkat lagi to mbak? Sapaku dari samping halaman.
Iya Mas Anton, barusan aja kok. Hmmmm sendiri lagi ni aku mas. Jawab mbak Arlin sambil menghela nafas.
Berlayar kemana mbak mas Joni bulan ini? Tanyaku.
Bilangnya ke Italy dan Spanyol mas, Eh.. ayo masuk aja,,itu Mbak ada kue, sayang kalo tidak ada yang makan.

Jawab mbak Arlin sambil kemudian menyuruhku masuk untuk ditawari makan kue.

Sambil mengganti menggendong anaknya aku masuk ke rumah mbak Arlin. Kemudian diambilkannya segelas Jus

Jambu yang dingin beserta kue yang tadi udah ditawarkan ke aku.

Ayo Ton, diminum dan di icip kuenya. Buatan Mbak sendiri. Mbak Arlin menawarkan.
Siap mbak, santai aja..Pasti nanti Anton makan dah. jawabku sambil masih menggendong anaknya yang candaan ama aku.

kemudian aku minum jus jambu dan mengicipi kue buatan mbak arlin.

Gimana Ton rasanya? Enak ndak? jawab jujur loo. Tanya mbak Arlin sambil senyum manisnya terurai.
Josh pokoke mbak, manstap.. Kalo dijual pasti laris ini kue buatanmu mbak. Jawabku sambil makan kue buatan mbak Arlin.
Halah, Pinter kamu tu ngeGombal Ton Saut mbak Arlin sambil ketawa tersipu.

Diselasela aku merahapi kue buatan mbak Arlin, aku sdiajak ngobrol mbak Arlin. Sepertinya mbak Arlin ingin melepas penat dalam pikirannya dengan sharing denganku. Terlihat jelas wajah serius mbak Arlin saat mulai mengeluarkan unekuneknya ke aku. Mbak Arlin merasa ingin bilang ke mas Joni kalo untuk cari pekerjaan lainnya. Biar selalu berkumpul setiap harinya. Mbak Arlin merasa kesepian saat mas Joni pergi berlayar.

Mbak tu mau bilang ke Mas Joni tapi lum brani Ton.. Takut menyinggung perasaan mas Joni. Keluh Mbak arlin sambil menyilakkan rambutnya.
Yang sabar mbak, siapa tahu ini ada hikmahnya, mungkin juga mas Joni juga ada planning untuk mengumpulkan modal dulu lewat bekerja di kapal pesiar. Tentu gaji besar akan cepat mengumpulkan modalnya kan mbak. Sautku sedikit menenangkan mbak Arlin.
Iya juga sih Ton, tapi kalau kamu sendiri gimana, maksudku jika kamu bekerja seperti mas Joni trus kamu udah punya keluarga dan momongan apa kamu juga bisa seperti mas Joni? tanya mbak Arlin.
Wah kalo aku punya keinginan harus bisa kumpul dengan keluarga mbak. Tidak masalah bagiku dengan gaji kecil asalkan cukup. Yang penting bisa ketemu keluarga setiap hari. Itu klo aku lo mbak, kan pemikiran orang kan bedabeda, termasuk mas Joni. Jawabku tegas.
Emmmmm sejujurnya aku juga memiliki pemikiran yang sama kaya kamu ton, gak perlu harta yang melimpah asalkan bisa terus berkumpul dengan keluarga. Seru Mbak Arlin sambil menganggukkan kepala.

Eh, bentar itu Rafa (anak mbak Arlin) tertidur, tak mindahin dia ke kamarnya bentar ya Ton. Saut mbak Arlin sambil menghampiri Rafa yang tertidur didepan TV yang sambil ngedot susu, yang memang sedari aku ngobrol dengan mbak Arlin Rafa di tidurkan di depan TV.

Ketika mbak Arlin berjalan menuju Rafa tertidur terlihat bodynya yang aduhai, antara pantat yang berisi, lekukan celana dalamnya yang terlihat jelas dan cara berjalannya yang bagaikan pragamati dengan pinggulmya bergerak kekanan ke kiri semakin menyempurnakan keindahan tubuh mbak Arlin yang notabenya sering melakukan perawatan di salonsalon kecantikan ternama di Jogja.

Ku perhatikan dengan seksama seluruh tubuh mbak Arlin itu, saat dia jongkok mau mengangkat anaknya terlihat kaos ketatnya terangkat naik sehingga terlihat celana dalam warna pink dan kulit punggungnya yang putih bersih.
Semakin aku menjadi penasaran seperti apa kalau mbak Arlin itu tanpa busana. Dalam hati aku hanya berkata,

Beruntungnya Mas Joni punya Istri secantik mbak Arlin.

Kemudian kulihat mbak Arlin membopong Rafa dan di bawa ke kamarnya. Tak lama kemudian Mbak Arlin kembali ke ruang diama kita mengobrol. Pucuk ditiba ulampun tiba, pemandangan superhot hadir dengan sendirinya ketika mbak Arlin tidak sadar kalo kancing kaosnya terlepas mungkin akibat menggendong Rafa tadi. Jadi cukup terihat garis bukitlembah buah dada mbak Arlin yang terbelah dan menampakkan warna kuning bersih dan berisi itu.

Warna BH yang sama dengan celana dalam mbak Arlin yang tadi juga sempat aku lihat, dipastikan kalau mbak Arlin itu type wanita yang mecing dengan dandanan termasuk urusan mengenakan pakaian dalam. Kemudian kami lanjutkan mengobrol dan bercanda ria hingga cukup malam.

Hari berganti, minggu berlalu, bulan berbulan telah membuat suasana aku dan mbak Arlin semakin dekat bahkan sedikit intim. Tidak sedikit SMS dari mbak Arlin kalau malam samasama belum tidur berisikan SMS berbau tentang sex. Aku berfikir paling juga candaanya mbak Arlin. Namun kadang aku juga berandaiandai kalo mbak Arlin itu sedang kesepian dan aku diajak gituan. hahahaha.. ya kaya gitu bayanganku tu. Ya mau gimana lagi, melihat wanita cantik, super seksi, putih, bersih, yang lagi kesepian , tentunya normal dong terbesit ada lamunan seperti itu.

Tidak terasa sudah 3 bulan lamanya Mbak Arlin dan Rafa sendirian ditinggal Mas Joni bekerja. Nampak terlihat sekali wajah gelisah dan seperti butuh teman sekedar ngobrol. Dari hal itulah aku jadi dekat dengan mbak Arlin karena hanya aku yang nyambung kalo diajak sharing dengan mbak Arlin. Dan suatu ketika kurang lebih sekitar jam delapanan, aku yang sedang nongkrong di warung koboi HP ku bergetar. Aku cek ada SMS masuk. Setelah ku buka ternyata SMS dari mbak Arlin. Isinya seperti ini:

Ton, Kamu lagi dimana? Bisa kerumah mbak sekarang nggak?

Ini Rafa Rewel, sedang mbak lagi nggak enak badan, agak meriang ini.

Kalo nggak keberatan mbak tolong kamu segera ke rumah mbak ya !!
Makasih.

Dengan cepat aku langsung membalasnya Baik mbak, Anton segera ke rumah mbak. Balas SMSku untuk mbak Arlin.

Setelah aku membayar jajananku di angkringan aku bergegas menuju rumah mbak Arlin yang tidak begitu jauh dari tempat dimana aku nongkrong.

Ku ketuk pintu rumah mbak Arlin. dan tidak sela waktu lama di buka pintunya. Mataku terbelalak lebar ketika ku lihat mbak Arlin yang tengah menggendong Rafa anaknya cuma memakai celana senam ketat pendek dan minim sekali dengan atatsan cuma memakai tangtop warna hitam. Sungguh membuat bulo romaku bagaikan dijamah hantu. Indah sekali.

Kakinya yang putih mulus terlihat dari ujung sampai hampir pangkal selangkangannya. Di tengah selangkangannya juga terlihat menyembul empuk dan terlihat garis kemaluaannya. aku lihat keatasnya lagi terlihat perutnya yang masih langsing putih mulus tanpa ada garitan bekas ibu hamil dan payu daranya tertutup dengan tang top warna hitam dibalut BH yang terlihat garisan lekuknya.

Spontan aku cuma bisa menelan ludahku sendiri. Apalagi terlihat mbak Arlin yang kringetan mungkin karena menggendong rafa yang lagi rewel, keringat yang di lehernya seakanakan ingin aku usap dengan belaian lidahku. Benarbenar seksi sekali. Ditengah lamunanku itu aku tersadar dengan perkataan mbak Arlin.

Anton, malah diem mlotot sih.. Masuk sini.., Coba kamu gantian yang gendong Rafa ya, mbak capek dari sore tadi nggendong Rafa terus. Sambil meyerahkan gendongan Rafa ke Aku aku masuk kerumah mbak Arlin.

Pandanganku tidak terhenti meskipun aku menggendong Rafa. Ketika Rafa sudah aku gendong Mbak Arlin berjalan menuju dapur. Mungkin haus karena keluh keringatnya masih bercucuran. Dan aku juga cuma bertanyatanya, mengapa mbak Arlin hanya mengenakan pakaian kaya gitu? terlihat santai juga dihadapanku? Ah, mungkin karena biar nggak terlalu ribet dan lebih sejauk aja nggendong Rafa kali ya, batinku.

Anton, kamu mau minum apa? Kopi, Teh atau Jus? Teriak mbak Arlin dari Dapur.
Udah mbak, nanti aja, Aku biz minum kok tadi di warung koboi. Saut jawabku.

Sambil terus menggendong Rafa, sambil aku timangtimang akhirnya Rafa terdiam dan tertidur pulas dipelukan gendonganku.

Anton, kamu udah pantes kayaknya punya momongan, mpe sejak tadi Rafa ama aku yang statusnya Mamanya aja tetep rewel, eeehh giliran kamu gendong kok diem, tidur pulas pula. Hebat kamu Ton. Sapa Mbak Arlin berjalan keluar dari dapur.

Ah mbak Arlin, kebetulan aja kali ya mbak, mungkin Rafa udah capek. Kan sedari tadi to rewelnya?, nah, ini pas ku gendong udah capekcapeknya mungkin. Sambung jawabku sambil sedikit memberikan senyuman untuk Mbak Arlin.

Perasaan kamu tu nggak ikut buar Rafa, tapi Rafa kok kaya lengket banget serta terlihat nyaman ya Ton ama kamu? . Tanya mbak Arlin sambil mendekati aku yang lagi menggendong Rafa kemudian di eluselusnya rambut Rafa.

Mendengar pertanyaan itu dalam hati aku cuma berkata, wah, mbak Arlin ini sadar ya nggak ya tanya ama aku seperti itu. Spontan karena aku udah cukup deket ama mbak Arlin aku jawab aja.

Mungkin kali iya mbak, masak mbak Arlin lupa sih? Dulu kita kan sempeeettttt..? Jawabku terhenti tidak berani melanjutkan perkataanku.

Sempeeeet apaaaaa? haiyooooo.. Saut mbak Arlin cepat sambil mencubit perut bagian sampingku.
Terasa geli sih waktu mbak Arlin mencubitku. Seperti kode untuk melakukan apa gitu kalo boleh aku terjemahkan.

Udah Ton, kayanya Rafa udah pulas itu, tolong sekalian kamu tempatkan Rafa di Kranjang bayi kamarnya, sini ayo biar aku pernahin bantal dan gulingnya! Pinta Mbak Arlin.

Kemudian kita menuju kamar Rafa, mbak Arlin membenahi kamar Rafa dengan menata Bantal guling dan alas tidur untuk Rafa. Nah, ketika sedikit membungkuk, kulihat jelas Buah dada Mbak Arlin yang putih kuning kenyal itu menggelembung seakanakan mau keluar dari BH dan tangtop mbak Arlin. Bercampur dengan sisa keringat sehingga warna dan bentuknya lebih eksotis. Ingin sekali aku memegang dan meremasremasnya.

Udah sini Ton, Rafa kami bobokkan aja. Perintah Mbak Arlin.

Dengan pelanpelan aku turunkan Rafa dari gendonganku dan aku pernahkan posisi boboknya. disela sela itu aku berkata sama mbak Arlin.

Rafa lucu banget ya mbak? Ini bubuknya pules banget! Kataku.
Iya Ton, bersyukur banget aku dianugrahi anak seperti rafa. Sangat menemaniku sekali.! jawab mbak Arlin sambil mencium lembut kening Rafa anaknya.

Kemudian sambil meninggalkan kamar Rafa pelanpelan, kita menuju ruang tengah rumah mbak Arlin. Aku duduk, kemudian diikuti mbak Arlin yang duduk di depanku. Dan aku awali obrolan itu.

Mbak katanya tadi lagi nggak enak badan? kok malah pakai baju super seksi seperti itu? Tanyaku sambil sedikit tersenyum.
Iya Ton, kayanya mbak masuk angin ini. Aku pake baju ini tadinya mau aku buat senam, biar keluar keringat. Kan kalo keluar keringat, biasanya bisa sembuh kalau cuma masuk angin aja. Jawab mbak Arlin.

Trus sekarang gimana mbak? Udah sembuh kan? tuh buktinya keringat mbak udah keluar banyak mpe basahi tubuhmu mbak? Sambungku.

Entah Ton, mbak masih terasa nggak enak badan, masih sedikit pusing ini. Biasa kalau pas mas Joni dirumah aku minta tak suruh pijitin kemudian tak suruh kerokin juga. Dan langsung sembuh. Mbak Arlin menjawab.

Seketika itu antara berani dan tidak ingin ku tawarkan diri untuk memijit dan mengerokin mbak Arlin. Dengan sedikit grogi aku beranikan diri.

Giman ka..ka..kalo Anton yang pijit dan kerokin km mbak? Tanyaku agak sedikit gugup.
Kamu yakin Ton? Nggak ngerepotin ini? Serius?. Balas mbak Arlin sambil tersenyum manis.
Seriuslah mbak, masak bohong sich. Anton beneran mau mijitin mbak Arlin. Sautku cepat dan tegas.
Loh..loh.. santai aja kali jawabnya Ton, iyaiya, mbak tau kok kamu pasti mau bantu mbak, tapiii. apa nanti kalau pacarmu tau dia nggak marah? Ungkap mbak Arlin.

Yaaah mbak Arlin ni mau ngejek apa njungkelin eeee ? Secara Anton tu udah 2 tahun menduda alias menjomblo gitu. Jawabku sambil sedikit melucu candaan.
Masak sih kamu jomblo Ton, Nggak percaya deh mbak. Cakep

Post Terkait