cerita dewasa

Sexy Wife 7

Sovi duduk sendirian di sofa, merangkul kedua lututnya sendiri sambil menundukkan kepala. Sudah hampir seminggu berlalu sejak insiden salah tangkap terhadap dirinya dan Citra yang menyebabkan mereka berdua terpaksa melayani sekelompok aparat. Tapi apa benar terpaksa? Itulah yang membuat Sovi sudah tersiksa secara batin selama seminggu. Sovi tak tega menceritakan kepada Bram apa yang terjadi di kantor aparat bersama Gede dan anak buahnya. Bukan cuma karena Gede mengancam akan membeberkan kejadian salah tangkap itu kalau Sovi cerita ke siapasiapa. Tapi lebih karena rasa bersalah Sovi sendiri.

Ia ingat bahwa malam itu, dia dengan sengaja dan sadar menyanggupi permintaan Gede untuk melayaninya layaknya suamiistri. Memang, saat itu dia tak pikir panjang karena ingin menyelamatkan Citra, tapi setelah semuanya selesai, barulah Sovi menyadari bahwa yang diperbuatnya tetap tak pantas. Dia adalah istri Bram hanya Bram yang berhak menikmati tubuhnya. Dia menyadari bahwa ada yang berubah dalam dirinya, dan beberapa minggu lalu dia khilaf ketika dalam suatu hari dia bermain api dengan si tukang sayur, Pak Giman, dan dua pengamen, Marvel dan Bolang. Sovi sudah bertekad akan menjaga kehormatannya sebagai istri, namun ternyata dia tak mampu menahan godaan yang muncul dari dalam dirinya sendiri, mulai dari dorongan untuk menggoda para karyawan di kantor, berpenampilan seksi ketika di mall, bahkan ketika seharusnya dia bisa menjaga kehormatan waktu dipaksa Gede.

Ya, Sovi sedang merasa lemah dan bersalah kepada Bram. Sovi juga takut rumah tangganya dengan Bram akan tergoncang kalau Bram tahu apa yang terjadi. Seminggu itu Sovi tak banyak bicara, dan sering menangis. Bram bingung dibuatnya. Awalawalnya, Bram berkalikali berusaha menghibur Sovi dengan berbagai cara, dari membelikan baju baru sampai mengajak makan di luar, tapi Sovi tetap murung. Sovi juga sudah seminggu tidak menanggapi ajakan Bram untuk berhubungan seks. Ada sedikit trauma yang hinggap dalam benak Sovi. Sovip kali Bram mendekatinya dan berusaha berintimintim, misalnya dengan merangkul dan mencium, Sovi selalu teringat kembali akan kasar dan brutalnya Gede serta anak buahnya. Jadilah dia selalu menolak dengan halus. Bram bisa merasakan istrinya sedang bermasalah, tapi dia tak bisa berbuat apaapa ketika Sovi tidak merespon semua usahanya.

Telepon berdering. Sovi menjawab.

Baca Juga: Nikmatnya Ngentot Di Toilet Sekolah

Halo

Halo sayang, rupanya Bram. Terdengar berisik melatar belakangi suara Bram.

Aku mesti pulang malam lagi hari ini, kata Bram.

Ya udah, aku tiduran di ruang tamu saja Mas, nunggu Mas Bram datang, kata Sovi dengan nada datar.

Percakapan itu berakhir tanpa emosi. Bram mengucapkan rasa sayang dan dijawab oleh Sovi, seolah berbasabasi. Di ujung lain jalur percakapan itu, Bram menutup sambungan telepon dan kembali ke apa yang sedang dilakukannya. Lagilagi dia berada di satu klub malam, bersama Mang Enjup, dua orang lagi anggota DPRD yang sedang mereka lobi untuk meloloskan proyek, berikut beberapa wanita penghibur berpakaian seksi yang merubung keempat lakilaki itu, berharap ikut kecipratan sedikit dari deal proyek yang pastinya bernilai sangat besar.

Aya naon, Bram? tanya Mang Enjup sambil merangkul salah satu pramuria.

Sovi, Mang keluh Bram.

Kayaknya dia ada masalah, tapi nggak mau cerita, udah seminggu dia nggak mau ngomong banyak.

Mang Enjup tertarik mendengar nama Sovi disebut. Sudah agak lama sejak terakhir kali dia bertemu Sovi. Dan Mang Enjup belum lupa dengan niat busuknya terhadap Sovi. Tentu saja, Mang Enjup tidak akan menunjukkan itu semua di depan Bram. Lakilaki tua cabul itu sudah sangat berpengalaman. Jadi dia hanya memberi saran.

Bram, kata Mang Enjup,

Gimana kalo si Sovi disuruh ke psikolog aja? Siapa tau kalau ke orang yang ahli, Sovi mau cerita. Sukursukur masalahnya bisa dibantu. Mang Enjup merogoh kantongnya, membuka dompet, mencaricari sesuatu di dalamnya, lalu akhirnya mengambil satu kartu nama putih dengan tulisan warna merah dan biru.

Ini ada kenalan Mamang. Psikolog ahli biarpun masih muda. Coba ajah kamu ajak Sovi ketemu dia, kata Mang Enjup.

Bram melihat nama yang tertulis di kartu itu. Dr. Lorencia Partomo, M.Psi. Spesialis Trauma Psikologis. Mungkin bisa dicoba, pikir Bram. Dikantonginya kartu nama Dr. Lorencia.

*****

Baca JUga Cerita Sex Lain nya di KampusBet

Sayang kamu mau dengar saranku nggak? kata Bram pada pagi berikutnya, ketika sedang sarapan bersama Sovi.

Saran apa, Mas? ujar Sovi.

Aku tahu ada yang ngganggu pikiran kamu tapi kamu sepertinya nggak bisa cerita ke aku, atau Citra, atau keluarga kita. Iya kan? Bram melanjutkan.

Sebenarnya aku pengen banget bisa bantu kamu langsung, apalagi aku kan suamimu, harusnya kita bisa beresin semua masalah kita samasama, yang.

Sovi meringis mendengar katakata aku kan suamimu, yang dirasa menohok, karena sangat berkaitan dengan dilema hatinya. Dia diam saja.

Kalau kamu nggak bisa bicara dengan aku Bagaimana kalau dengan yang profesional aja? Aku dikasih info tentang psikolog. Siapa tahu dia bisa bantu kamu. Bram menunjukkan kartu nama Dr. Lorencia.

Sovi memperhatikan kartu nama itu. Spesialis Trauma Psikologis. Dan perempuan. Orang ini profesional, jadi pasti akan menjaga rahasia. Dan dia juga tidak ada kepentingan, jadi semestinya Sovi tak usah takut konsekuensi macammacam, ketimbang kalau dia cerita ke suaminya sendiri. Mungkin bisa dicoba. Bram tahutahu sudah berada di samping Sovi, merangkul dan membelai rambut Sovi, lalu mengecup lembut pipi istrinya. Sovi merinding, masih belum bisa menghilangkan traumanya.

Kamu mau, kan? bisik Bram mesra.

Aku pengen lihat kamu senyum lagi seperti biasa, nggak murung terus seperti ini. Kalau kamu mau, sekarang juga kita ke tempat dia. Dia praktek pagi. Aku bisa antar kamu ketemu dia sambil berangkat ke kantor.

Mas kata Sovi sambil menoleh. Jawaban Sovi disampaikan berupa anggukan kepala.

*****

Pagi itu, ketika berangkat bersama Bram, Sovi belum bisa tersenyum lepas. Tapi siapa tahu orang yang akan ditemuinya bisa membantu. Tempat praktik Dr. Lorencia Partomo terletak di satu rumah mewah, agaknya rumah pribadi sang psikolog spesialis. Bram dan Sovi masuk dan disambut asisten Dr. Lorencia.

Sudah ada janji? tanya si asisten.

Ya, kemarin malam saya sudah buat janji jam 9, kata Bram.

Atas nama Sovi.

Oke. Sebentar ya Pak, kata si asisten, yang lantas menggunakan interkom.

Bu Loren, yang perjanjian jam 9 sudah datang.

Suruh langsung masuk saja, jawab suara di interkom. Bram menengok ke Sovi. Kamu nggak apaapa kan sendirian, yang? tanyanya.

Nggak apaapa, Mas kata Sovi pelan. Nanti kutelepon kalau sudah selesai.

Oke, aku berangkat dulu ya, kata Bram yang kemudian mengecup kening istrinya. wajah Sovi tetap tanpa ekspresi.

Bram kemudian meninggalkan Sovi dan berangkat ke kantor. Si asisten mengarahkan Sovi menuju ke satu pintu besar, dan membukakan pintu itu. Sovi masuk sendirian ke ruangan di belakangnya. Ruang praktik Dr. Lorencia terbilang besar dan mewah, dengan meja jati ukir yang terlihat mahal di tengahtengah, beberapa kursi antik, dan satu sofa besar. Dindingnya tertutup wallpaper berwarna kuning muda, dihias beberapa lukisan, antara lain satu lukisan pemandangan dan satu lukisan perempuan Bali yang bertelanjang dada. Terlihat juga beberapa pot tanaman dan rak buku. Lantai marmernya sebagian tertutup permadani empuk.

Sovi mencium semacam wewangian di dalam ruangan itu, baunya tidak biasa, tapi menenangkan. Di samping ruangan itu ada satu pintu tertutup. Di balik meja jati, di kursi putar yang besar dan nyaman, duduklah Dr. Lorencia Partomo. Dr. Lorencia memandangi perempuan yang baru masuk ke kantornya. Sovi yang bertubuh sintal, tidak terlalu pendek maupun tinggi, berumur dua puluhan pertengahan, dengan rambut panjang yang digerai dan wajah cantik dipoles makeup tipis (sejak shock, Sovi tidak lagi berdandan tebal seperti sebelumnya). Wajah Sovi terlihat tak santai, bibirnya tak sekalipun tersenyum.

Sovi memandang Dr. Lorencia dan tidak bisa tidak mengagumi sang spesialis. Dr. Lorencia adalah perempuan yang sangat cantik, mengenakan kacamata berbingkai warna emas, kirakira beberapa tahun lebih tua daripada Sovi, mungkin seumuran Citra. Rambut tebal Dr. Lorencia yang diwarnai pirang gelap seperti madu dikepang dan dijadikan sanggul besar di belakang kepala. Wajahnya berkesan tegas dan kuat, gairahsex.com sedangkan tubuhnya yang agak montok namun tetap seksi itu terbungkus blazer, kemeja, dan celana panjang putih yang membuatnya kelihatan profesional. Tapi Sovi bisa melihat kemeja yang dikenakan Dr. Lorencia terbuka sedikit di bagian dada, dan dalaman hitam berenda yang dipakai di bawah kemeja itu terlihat menyelip, memberikan kesan seksi yang misterius. Sovi bergerak ke arah kursi di depan meja Dr. Lorencia. Dr. Lorencia berdiri dan menjabat tangan Sovi sambil memperkenalkan diri.

Ibu Sovi, kan? Atau boleh kupanggil Sovi saja? Panggil saja aku Loren, katanya.

Nggak apaapa nih? tanya Sovi malumalu.

Apa nggak sebaiknya Bu Loren atau Mbak Loren

Jangan, jangan. Loren aja. Biar kita bisa lebih akrab, kata Dr. Lorencia dengan ramah.

Sovi merasakan tatapan mata Loren yang amat tajam dan katakatanya yang berirama. Sekilas Sovi terpikir tentang seseorang, tapi dia tidak bisa mengingat siapa yang tingkah lakunya mirip dengan Loren.

Silakan duduk, kata Loren.

Jadi

Sovi diam saja, tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

Masih bingung kenapa ketemu saya? ujar Loren.

Nggak apaapa. Suamimu sudah cerita sedikit tentang keadaan kamu. Dia rasa kamu ada masalah yang nggak bisa kamu ceritakan ke dia, betul kan?

Nggg Sovi raguragu untuk menjawab. Dia belum tahu apa yang diceritakan Bram ke si psikolog.

Kunjungi JUga Indowins.com

Nggak usah raguragu. Aku juga sebenarnya belum tahu kok apa masalahnya. Tapi kalau Sovi mau cerita, mungkin bisa kubantu bereskan masalah itu. Dan apapun yang diceritakan di ruang ini, nggak akan keluar. Kode etik. Rahasia pasien harus dijaga, Loren menjelaskan.

Gimana?

Sovi terus menatap wajah Loren yang cantik dan terlihat menenangkan itu. Pelanpelan, Sovi mulai merasa bisa percaya dengan si psikolog. Loren berdiri dari kursinya dan berjalan ke samping Sovi. Si psikolog lalu menepuk bahu Sovi.

Sovi, kita pindah tempat ya? Coba kamu tiduran di sofa itu. Kalau kamu santai, kamu bisa cerita dengan lebih enak, bisik Loren.

Ketika bahunya ditepuk, Sovi merasa pikirannya kosong. Mirip ketika waktu itu

Ya Sovi mengiyakan saran Loren, lalu berdiri dan menuju sofa besar di sebelah meja Loren. Loren berjalan di sampingnya. Di sebelah sofa itu ada kursi. Loren duduk di kursi itu sementara Sovi berbaring di sofa.

Oke kata Loren.

Sekarang kamu kosongkan pikiran. Posisimu sudah enak belum? Kalau belum, cari posisi yang enak. Anggap aja sedang tiduran di ranjang sendiri. Santai saja. Santai Jangan mikir apaapa dulu. Apapun masalah Sovi, lupakan saja dulu. Nikmati aja dulu posisi seperti ini, tenang, hening, damai

Sovi mulai nyaman mendengarkan sugesti dari Loren. Dia bisa melemaskan otototot bahu dan punggungnya, mengendorkan ketegangan pikirannya, hanya dengan berbaring di sofa besar itu dan mendengarkan katakata Loren. Si psikolog duduk di sampingnya, dengan posisi menghadap dirinya. Tangan Loren menggenggam dan menggoyanggoyang tangan Sovi. Suasana damai, sofa empuk, gerakan teratur yang dipandu Loren, suara Loren yang lembut, serta wangi ruangan yang tak biasa tapi menyenangkan itu semuanya membuat Sovi merasa aman. Dan mengantuk.

Bagaimana, Sovi? Sudah merasa santai? Nyaman? Rileks? Sekarang Mendadak Loren menarik tangan Sovi dengan gerakan menyentak.

Tidur!

Sontak mata Sovi terpejam dan kepalanya terkulai. Sovi tertidur atas perintah Loren, tapi sebenarnya itu bukan tidur. Loren terus menggenggam dan menggoyanggoyang tangan Sovi.

Sovi, Sovi bisa dengar katakataku? Kalau bisa dengar, tolong buka mata. Mata Sovi terbuka kembali. Tatapannya kosong.

Bagus. Sekarang dengar semua katakataku. Kalau ngerti, tolong kedipkan mata.

Sovi berkedip. Loren tersenyum. Sovi sudah berada dalam keadaan hipnotik.

Sovi. Mulai sekarang, kalau kamu bicara denganku, kamu tidak akan raguragu bercerita. Kamu ngerti? Kalau ngerti tolong bilang Ya, kata Loren.

Ya, jawab Sovi.

Bagus. Kamu akan jawab semua yang kutanya tanpa kecuali, biarpun kamu selama ini malu untuk menceritakannya. Ngerti? Kalau ngerti bilang ya, Loren meneruskan sugesti.

Tanpa dapat melawan, kembali Sovi menjawab

ya.

Bagus, Sovi. Satu lagi. Semua saran yang akan kamu dengar dariku, akan selalu kamu ingat, bahkan kalau kamu belum setuju. Ngerti? Kalau ngerti bilang ya.

Lagilagi,

Ya.

Terima kasih Sovi. Sesi terapi kita sekarang bisa dimulai dengan lancar. Sesudah ini kamu akan tidur sebentar, dan lupa kamu pernah mendengar katakata tadi dariku, tapi kamu tidak akan lupa apaapa yang tadi sudah disampaikan. Begitu aku tepuk tangan sekali, kamu akan tidur lagi, lalu sesudah aku tepuk tangan dua kali, kamu akan bangun lagi seperti biasa. Gairah sex

Loren bertepuk tangan satu kali. Sovi terpejam dan kepalanya terkulai. Lalu Loren bertepuk tangan dua kali dan Sovi terbangun. Ketika terbangun Sovi bingung.

Em tadi aku ketiduran? kata Sovi.

Itu tidak penting, anggap biasa saja, kata Loren, dan berkat pengaruh sugesti barusan, kebingungan Sovi langsung hilang.

Nah Sovi, silakan ceritakan masalahmu.

Sovi sudah merasa nyaman berbaring di kantor Dr. Lorencia. Dia merasa sangat percaya kepada si psikolog yang cantik itu. Dia tak lagi ragu untuk berbicara. Entah kenapa. Mulailah Sovi bercerita.

Aku bingung, Ren Aku ngerasa sedang berubah, kata Sovi lirih.

Berubah? Jadi apa? balas Loren.

Jadi Sovi masih sulit mengatakannya.

Jadi

Jangan ragu, Sovi Kamu bisa cerita apa saja ke aku Nggak apaapa, kata Loren dengan nada suara sugestif.

Jadi

Bilang aja, Sovi, jangan takut kata Loren sambil mengusap rambut Sovi seolah ibu yang menenangkan anaknya.

Jadi perempuan nggak bener nada bicara Sovi berubah berat seolah dia tak rela menyebut dirinya sendiri dengan istilah demikian.

Jadi seperti pelacur.

Oohh, Loren menanggapi. Suaranya bernada tertarik.

Kenapa seperti itu, ya? Coba ceritakan, Sovi.

Ungh Sovi raguragu. Loren kembali membelai rambut Sovi dan berkata perlahan,

Jangan raguragu, Sovi, kamu bisa percaya aku. Ceritakan

Sentuhan dan ucapan Loren membuat Sovi makin nyaman. Sovi akhirnya mulai bercerita.

Awalnya waktu aku nemu fotofoto perempuan lain di HP Mas Bram. Pelacur. Suamiku itu ternyata punya hobi jajan di luar. Tapi

Stop, Loren menghentikan cerita Sovi.

Seperti apa fotofotonya? Jelaskan.

Emm mungkin ada 2 atau 3 cewek yang berbeda. Di fotofoto itu mereka berpose seksi.

Seperti apa?

Ada yang seperti mau nyium kamera ada yang pamer buah dadanya ada yang tiduran sambil pake lingerie

Ceritakan penampilan mereka, Loren melanjutkan.

Ya seperti biasanya perempuan nggak bener Baju seksi, tank top, rok mini, malah ada yang difoto cuma pakai bra dan celana dalam Ada yang rambutnya dicat pirang Semuanya pake makeup tebal, bedak tebal, lipstik merah, blush on

Oke. Sekarang teruskan cerita kamu. Sesudah kamu lihat fotofoto itu, gimana?

Aku ngadu ke Kak Citra, kemudian Sovi menceritakan siapa itu Citra.

Kata Kak Citra, Bram emang suka jajan dari dulu. Terus Kak Citra ngasih saran katanya aku suruh tiru saja penampilan mereka supaya Bram nggak usah lagi nyari ke luar.

Sementara Sovi bercerita, Loren terus memandanginya sambil membelai rambutnya dan sesekali mengeluarkan komentar pendek seperti Hmm atau Terus?

Jadi aku coba sarannya Kak Citra. Dia dandani aku supaya jadi seperti mereka. Terus kutemui Mas Bram Sovi berhenti.

Terus? Loren mendorong Sovi untuk melanjutkan.

Ayo dong cerita.

Sepintas Sovi tersenyum kecil, mukanya memerah. Tapi kemudian mukanya kembali ke ekspresi kosong semula.

Yang jelas malam itu sih kami bercinta nggak seperti biasanya, emmm rasanya lebih hebat aja dari sebelumnya, bisik Sovi lirih.

Tapi Mas Bram juga waktu itu seperti berubah kelihatan sekali dia lebih nafsu.

Oke kata Loren,

Jadi awalnya begitu. Terus?

Mas Bram minta aku terus seperti itu jadi kucoba saja terus. Awalnya risi dan nggak biasa, mesti dandan terus dan bergenitgenit, gairahsex.com dari dulu aku nggak pernah begitu. Tapi Sovi mencoba mengingat sesuatu, tapi yang ingin diingatnya tak kunjung muncul.

Ada satu malam, waktu itu aku dandan seksi untuk Mas Bram, dan dia pulang diantar temanteman kantornya karena mabuk nggak ingat apa yang terjadi sesudah itu, tapi rasanya dia semangat sekali bercinta malam itu biarpun mabuk. Nah

Ayo teruskan.

Rasanya sesudah malam itu aku berubah aku jadi lebih terbiasa tampil seksi, nggak lagi malumalu Tapi

Ada apa?

Kadang aku seperti lepas kendali, suara Sovi kembali melemah setelah sebelumnya naik karena bersemangat.

Aku aku nggak tahu harus cerita atau nggak aku

Ayo cerita, Sovi Kalau kamu nggak cerita, masalahmu nggak akan selesai bujuk Loren.

Pernah dalam satu hari aku nggoda beberapa orang sekaligus dan mereka orang asing bukan Mas Bram. Tukang sayur langganan. Pengamen yang datang ke rumah.

Waah Loren berkomentar.

Apa yang kamu lakukan ke mereka?

Umh Sovi ragu, mukanya memerah.

Aku kalau ke Pak Giman itu nggak sengaja waktu itu aku beli terong dari dia, terus

Terus?

Umm aku mainmain dengan terong itu Nggak tahunya Pak Giman masuk rumah mergoki aku tapi aku malah jadi jadi

Kamu apain dia, Sovi?

Oral dia

Hmm Loren berkomentar tanpa kaget, tapi tetap terdengar tertarik.

Terus dengan pengamen tadi? Gimana tuh?

Pengamennya berdua, masih ABG salah satunya aku kenal. Jadi kuajak masuk dan kukasih makan tapi satunya usil, dia nyolek bokongku

Terus? Kamu marah nggak?

Ungh anehnya enggak. Akhirnya malah kuladenin mereka berdua yang satu kuisep yang satu lagi kubiarkan gesekgesek kemaluannya ke pantatku sampai dia keluar

Oke Tapi kamu nggak sampai berhubungan seks dengan mereka kan?Gairah sex

Iya syukurnya kata Sovi.

Kenapa syukurnya? tanya Loren.

Soalnya waktu itu aku seperti ingat aku istrinya Mas Bram. Aku cuma boleh setubuh sama Mas Bram

Oh gitu. Ceritamu masih lanjut kan Sovi?

masih.

Tolong lanjutkan.

Sesudahnya suatu hari aku ke kantor bareng Mas Bram. Aku sengaja dandan dan pakai baju biasa. Tapi aku tetap dilihat orang. Semua orang nengok kalau aku lewat.

Gimana perasaan kamu, Sovi, waktu diperhatikan orang kantor?

kok aku seperti senang, ya?

Wajar. Sovi, kata Loren.

Kamu cantik.

Aku cantik? Pujian Loren membuat Sovi tersipu. Memang seperti biasanya perempuan, Sovi senang dipuji, apalagi mengenai kecantikannya.

Iya Loren kembali membelai rambut Sovi, dan kini malah terus membelai pipi Sovi.

Kamu cantik makanya semua orang suka melihat kamu. Semua orang itu. Orang kantor. Pengamen. Tukang sayur. Aku juga, Sovi

Sovi berdebardebar ketika Loren berkata seperti itu.

Aku pengen cium kamu, Sovi, pinta Loren. Tanpa menunggu jawaban, Loren langsung mencium pipi Sovi, tepat di ujung bibir Sovi. Sovi merasa geli seperti kesemutan, dan perasaan itu makin menjadi ketika Loren melanjutkan melumat bibir Sovi, memainkan lidahnya dalam mulut Sovi. Untuk pertama kalinya Sovi merasakan ciuman mesra dengan sesama perempuan, mulut bertemu mulut. Loren melepas bibir Sovi, kemudian kembali bicara.

Kamu senang kan dikagumi orang, Sovi? kata Loren.

Iya jawab Sovi. Loren tersenyum, sugestinya masuk sendiri tanpa dilawan. Dilihatnya mata Sovi setengah terpejam, membayangkan nikmatnya ciuman barusan.

Terusin ceritamu, kata Loren.

Sesudah dari kantor aku ketemu Kak Citra di mall Kak Citra cantik banget dia juga dilihatin semua orang Malah lebih hebat lagi, orang sampai meleng karena gak bisa lepas matanya dari Kak Citra. Aku iri.

Hmm Iri? Iri karena Kak Citra lebih cantik?

Iri karena Kak Citra lebih menarik perhatian tapi sesudah itu aku dimakeover, terus ganti baju juga

Terus gimana? Kamu masih iri?

Terus kami Kami Sovi seperti susah menceritakan lanjutannya. Jelas itu karena yang terjadi adalah dia dan Citra diciduk aparat, lalu digilir. Bukan sesuatu yang bisa diceritakan dengan mudah, bahkan di bawah pengaruh hipnotis Loren. Jadi Loren menaikkan tingkat pengaruhnya.

Susah ya ceritanya? kata Loren sambil tangannya mulai hinggap di tubuh Sovi. Loren mulai menyentuh dan meremasremas payudara Sovi. Sovi pagi itu mengenakan kemeja merah jambu dan rok hitam selutut. Sementara tangan kanan Loren mencopot satu dua kancing kemeja Sovi, tangan kiri Loren menyelinap ke dalam rok Sovi. Loren kemudian menyelipkan tangan kanannya ke dalam baju Sovi, dan langsung menyentuh kulit payudara Sovi. Dia mencaricari dan menemukan pentil Sovi yang sudah terasa keras. Sementara tangan kiri Loren mulai merabaraba daerah kemaluan Sovi. Loren menemukan sesuatu di sana.

Hmmm Sovi, kamu ngerasa basah nggak? bisik Loren.

Iya kata Sovi jujur.

Basah mananya, Sovi? Loren mendorong lagi.

Basah di Sovi berhenti, lalu berbisik,

aku malu nyebut nya

Memek kamu basah, Sovi, kata Loren tegas sambil mencubit klitoris Sovi, membuat Sovi memekik lirih,

Aauhh!!

Enak kan, Sovi? tanya Loren.

Enak Ren jawab Sovi.

Tahu nggak kenapa itu enak?

Soalnya kamu terangsang sewaktu kamu cerita pengalaman seks kamu, Sovi Mulai sekarang, kamu bakal terangsang kalau kamu cerita Ngerti, Sovi?

Iya ahhh

Bagus. Kamu mau cerita semuanya kan, Sovi?

Iya

Semuanya akan kamu ceritakan, Sovi. Dan kamu mau cerita apa saja, karena itu enak, kan?

Ya

Oke Sovi Ayo cerita apa yang terjadi sesudahnya. Tangan Loren tetap di kemaluan Sovi, membuat celana dalam Sovi makin basah dengan cairan kewanitaan Sovi.

Ah Kami pulang tapi terus ditangkap aparat

Ditangkap? Hmm. Cerita terus deh. Eh tapi tolong ganti posisi. Duduk tegak ya. Nyender aja,

Loren membantu Sovi bangun, sehingga Sovi duduk bersender di sofa, dengan kedua kaki kembali menjejak lantai. Loren duduk di depan Sovi, dan memegang kedua lutut Sovi. Pelanpelan Loren menggerakkan kedua lutut Sovi saling menjauh, membuat pasiennya mengangkang. Sovi sudah pasrah menjadi boneka Loren yang bisa diposisikan semaunya. Si psikolog cantik kemudian turun dari kursinya, lalu berlutut di depan selangkangan Sovi. Dia menyibak rok Sovi dan kemudian mengesampingkan celana dalam Sovi yang sudah basah.

Cerita terus, Sovi Aku dengar dari bawah sini, kata Loren sambil mulai menggarap vagina Sovi, dengan satu jilatan dari bawah ke atas sepanjang rekahan itu. Semestinya Sovi bingung, karena jelas praktik psikolog normal bukan dengan menggerayangi dan bahkan melakukan seks oral dengan pasien tapi Sovi sudah keburu menganggap wajar semua yang Loren lakukan, karena sugesti tadi.

Aku umh ditangkap karena disangka pelacur Aku dan Kak Citra dibawa ke kantor terus uhh

Emm *lep lep* Terus apa, Sovi? kata Loren sambil terus menjilati gurihnya kemaluan Sovi. Loren mulai menjamah klitoris Sovi pula menyedot dan mencium.

Aahh Terus Kak Citra masuk ketemu komandan mereka aku ditinggal lama waktu kutengok ternyata Kak Citra lagi digarap sama mereka

Gimana perasaanmu waktu melihat Kak Citra digarap, Sovi? Loren mengatakan itu semua dengan sangat tenang, nyaris tanpa perasaan.

Aku kasihan Kak Citra kesakitan Dia dia lagi disetubuhi merekaa di pantatnya Pantatnya di

Dientot sama mereka? Loren membantu.

Iya pantat Kak Citra dientot sama mereka Aku minta mereka stop Kasihan Kak Citra ahhhhh Sovi jelas keenakan dioral oleh Loren yang rupanya ahli memberikan kenikmatan kepada sesama perempuan.

ENGG!! Tahutahu saja Sovi orgasme ketika vaginanya disodok lidah Loren, membanjiri mulut Loren dengan cairan cinta.

So..vi, panggil Loren dengan nada naikturun,

kok kamu orgasme sih? Kan kamu lagi kasihan sama Kak Citra? Hmm

Awh ah Sovi tak bisa menjawab, masih kaget karena mendadak orgasme.

Oo kamu sebenarnya suka ya ngelihatnya sampai kamu terangsang sendiri terus gimana ceritanya?

Suka? Hh ehh selagi dia mulai pulih, baru Sovi bicara lagi,

Aku tawarin buat gantiin Kak Citra daripada Kak Citra kecapekan biar aku yang dientot sama mereka

Waktu itu kamu sampai basah seperti sekarang, kan sugesti Loren.

Iya? Sovi merasa aneh karena ceritanya diubah Loren. Tapi dia tak kuasa menolak Loren. Ditambah lagi akal sehatnya sedang kewalahan sehabis dilanda orgasme mendadak.

Iya Sovi kamu basah karena terangsang melihat kakakmu digilir sama aparat Lalu kamu minta gantiin? Biar kamu ganti dientot sama mereka?

Ehm iya?

Loren bangkit lalu tibatiba menjambak sebagian rambut Sovi. Namun gerakannya tetap luwes, tidak sampai membuat Sovi sakit. Dan anehnya Sovi tak melawan, dia seolah sudah jadi boneka yang bisa digerakkan Loren seenaknya. Loren mendorong kepala Sovi ke samping sampai Sovi terempas di dudukan sofa.

Kamu nakal, Sovi kata Loren, pelan tapi tegas.

Nakal Kamu suka ya, keseksian badanmu dikagumi lakilaki? Kamu suka ya, kalau lakilaki terangsang garagara kamu goda? Kamu pengen ngentot sama siapa aja? Sama banyak orang sekaligus? Sambil mengatakan semua itu, Loren kembali memainkan tangannya di klitoris dan vagina Sovi, merangsang alat kelamin yang baru saja orgasme.

Iya kan, Sovi? Ayo jawab!

Ah, uhh, ah iyaahhh Sovi mengiyakan, tanpa sadar apa yang dikatakannya.

Terus gimana ceritanya, Sovi Loren mengurangi intensitas godaannya, memberi kesempatan bagi Sovi untuk bercerita.

Aku awalnya aku nggak mau tapi terus aku kasih mereka Mereka kusepong

Apanya? tanya Loren sambil langsung memberi jawaban,

Kontolnya?

Kontol nya lanjut Sovi,

terus aku buka baju komandannya ngentotin aku badannya besar kontolnya juga sampai sesak ditindih dia ah Ren tambah basah nih

Loren terus membuat Sovi terangsang, membangun asosiasi antara kenikmatan dengan cerita mengenai pengalaman seksual. Si psikolog terus mendengarkan cerita Sovi.

Tapi nya enakh ah enak banget digenjot dia aku sampai keluar enak terusnya yang lain ikutan juga aku dientot juga sekali dua ahh di pantat juga (sambil Loren mulai main di lubang anus Sovi)

mereka muncrat di dalam di luar enak ah!!! Orgasme lagilagi melanda Sovi.

Hmm terus?

Ahah hh ah habis itu selesai aku diantar pulang sama mereka

Ooh gitu Terus gimana?

Mas Bram pulang aku aku ehhh!? Sovi tibatiba seperti bingung.

Aku aku bingung aku dientot orang lain aku ga berani cerita sama Mas Bramuuhhh. Hhuuu

Tibatiba Sovi menangis. Loren menyimpulkan, di situlah trauma Sovi. Dia dengan tegas berbicara ke Sovi, dan berhenti menggerayangi Sovi.

Hmm jadi itu masalahnya? Kamu nggak bisa cerita sama suami bahwa kamu disetubuhi orang lain?

Iya*hiks* jawab Sovi sambil terisak.

Kenapa?

Aku istri Mas Bram seharusnya nggak boleh tidur dengan orang lain tapi kata Sovi di selasela nafasnya yang sesenggukan.

Tenang, Sovi. Berhenti menangis, Loren kembali membelai Sovi dan Sovi pun terdiam.

Kamu merasa bersalah, Sovi? Gairah sex

Iya

Tapi kamu merasa apa waktu disetubuhi mereka, Sovi?

Ahh, ketika Sovi mau menjawab, Loren menundukkan kepala dan mengecup lehernya. Loren juga membuka kancing kemeja Sovi semua dan melepas kemeja Sovi. Enak kah? tanya Loren.

Iya

Ya, Sovi. Kamu ngerasa enak kok disetubuhi mereka. Sama aja kan dengan suami sendiri, ujar Loren.

Sama? AHH!! Jawaban Sovi diganggu pagutan Loren ke bagian atas payudaranya. Selanjutnya Loren membuka BH Sovi sehingga kini tubuh Sovi dari pinggang ke atas sudah tak berbusana. Loren berhenti bicara dan memberi kenikmatan ke Sovi dengan mulutnya di sepasang payudara Sovi. Sovi menggigit bibir, keenakan, kemaluannya kembali membanjir.

Enak kan Sovi? Loren membuka blazer dan kemeja putihnya, memperlihatkan bra seksi hitam berenda di bawah itu.

Si psikolog juga membuka celana panjangnya, memperlihatkan sepasang kaki yang jenjang dan indah, serta Gstring hitam. Kemudian Loren melucuti sisa pakaian Sovi, rok dan celana dalam. Sovi terbaring telanjang di sofa Loren, dan Loren kembali mencium bibir Sovi. Lama, dalam, dan penuh nafsu. Sovi terengah keenakan ketika Loren akhirnya melepaskan mulutnya, seutas liur menyambungkan mulut kedua perempuan jelita itu.

Tunggu sebentar ya cantik ujar Loren mesra, lalu si psikolog beranjak ke mejanya, mengeluarkan sesuatu dari laci, dan kembali lagi.

Loren memamerkan benda yang baru diambilnya kepada Sovi. Sovi membelalak melihatnya.Sesuatu yang mirip celana dalam kulit, namun di bagian depannya terdapat dildo, mainan tiruan penis. Berujung dua, yang kalau dipakai satu akan menghadap ke luar dan satu lagi ke dalam.

Loren melepas celana dalamnya sendiri, lalu mengenakan celana dalam dildo itu. Sovi melihat ekspresi lapar di wajah Loren ketika Loren memasukkan satu ujungnya ke dalam kemaluannya sendiri. Sungguh pemandangan yang ganjil, seorang perempuan cantik seperti Loren di hadapannya dengan hanya mengenakan bra dan celana dalam, tapi dengan batangan yang mencuat gagah di depan selangkangannya. Sovi menahan nafas, melihat betapa penis palsu Loren begitu panjang dan besar dan keras, tak kalah dengan semua yang pernah dirasakannya. Kedua perempuan itu pun kembali saling cium, Loren mengajak, Sovi menerima. Sovi mulai terbiasa mendapat sentuhan intim dari sesama perempuan, dalam pikirannya dia merasakan kenikmatan yang sama seperti dari Bram atau dari semua pengalamannya dengan lakilaki.

Sovi Jangan anggap aku perempuan. Anggap saja aku lakilaki yang punya penis, yang mau bercinta denganmu, ngerti? Tapi aku bukan suamimu, kembali sugesti datang dari Loren. Loren tersenyum nakal selagi dia mengacakacak pikiran pasiennya yang cantik itu. Harus diakui, dia mulai tertarik dengan Sovi. Dan andai saja dia bisa berbuat semaunya, dia sendiri ingin mencoba merebut Sovi dari siapapun yang memilikinya. TapiLoren kembali menggunakan mulutnya pada vagina Sovi, mencium dan menjilat dan memastikan kewanitaan Sovi cukup basah. Sovi merintih keenakan, apalagi ketika Loren mengganti mulut dan lidahnya dengan satu jari, lalu dua jari. Kemudian Loren mengangkangi perut Sovi, sengaja memamerkan penis palsu di selangkangannya, dengan panjang 20cm dan garis tengah hampir 3 cm mungkin sebesar penis orang bule atau Afrika. Yang tercolok ke dalam vagina Loren sendiri tak sepanjang itu.

Sovi gemetar membayangkan batang itu memasuki tubuhnya dan itu akan terjadi sebentar lagiSetelah memberi pelumas pada penis palsu itu Loren menempatkan ujungnya di bukaan kemaluan Sovi, lalu pelanpelan mendesak masuk. UNNGGHH! jerit Sovi tertahan. Loren juga merintih selagi desakan dari depan membuat bagian yang tertancap dalam kemaluannya sendiri bergeser. Pelanpelan, senti demi senti, batang itu melesak ke dalam vagina Sovi. Sovi melotot, matanya menganga, dilanda rasa sakit bercampur nikmat akibat penyusupan benda berukuran tak senonoh di kemaluannya. Sampai menitik air mata Sovi dibuatnya. Loren tak sampai memasukkan seluruh batang itu dan mulai bergerak maju mundur, awalnya pelan, makin lama makin cepat. Loren menatap mata Sovi; Sovi seolah akan gila terlanda nafsu. Enak kan, Sovi? kata Loren sambil menggenjot pasiennya.

AAHHH!! AHKHH!! AIAAHH!! Sovi tak menjawab, hanya bisa menjeritjerit keenakan. Tubuh Sovi menggeliatgeliat hebat, tapi tak mampu ke manamana karena tubuh Loren tepat di atasnya; Loren membungkam mulut Sovi dengan ciuman selagi Sovi mengalami orgasme ketiga.

OOHHhHhMMmMMm!M!!!

Tapi Loren tak berhenti, dia terus menghajar vagina Sovi tanpa ampun sampaisampai Sovi orgasme untuk kedua kalinya, susulmenyusul dengan orgasme sebelumnya.

Sovi nyaris pingsan andai saja Loren masih mau terus melanjutkan, tapi si psikolog merasa sudah cukup dan dia menarik keluar penis palsunya dari dalam tubuh Sovi. Sovi terkapar kelelahan, keenakan setelah dua orgasme berturutturut, pikirannya melayang ke manamana, rentan

Tadi enak kan, Sovi? Orgasme itu enak ya, Sovi, kata Loren sambil membetulkan posisi kacamatanya.

Kamu suka?

Ah iya hhh kata Sovi lemah.

Kamu tadi dibikin orgasme, bukan oleh suamimu. Bagaimana rasanya, Sovi?

Emm enak

Sama aja kan? Samasama enak?

Iya

Bagus Sebenarnya nggak ada bedanya kamu orgasme karena suami ataupun orang lain enak kan? Nggak ada salahnya nggak ada bedanya, Loren terus memberi sugesti.

Nggak ada bedanya Sovi mengikuti, tanpa sadar.

Yang penting hanya orgasme hanya kenikmatan Pahami itu, Sovi.

Ya

Nikmati saja semuanya Nggak usah pikirkan suami kamu Pikirkan saja kenikmatannya Kenikmatan itu tidak salah

Ya

Bagus, kata Loren sambil mencium kening Sovi.

Sekarang pakai lagi bajumu, perintah Loren. Loren sendiri juga melepas celana dalam dildonya dan kembali mengenakan bajunya. Setelah dia selesai berpakaian, dilihatnya Sovi duduk manis di sofa, sudah kembali ke penampilan semula.

Baik, Sovi sesudah ini kamu akan tidur sejenak, dan kalau bangun lagi kamu tidak akan ingat apa yang barusan kita lakukan, tapi kamu akan ingat semua saranku dan semua kenikmatannya. Kamu tidak akan lagi raguragu, tidak akan trauma lagi. Ngerti?

Ya

Bagus. Tidur, Sovi Tidur Kepala Sovi tertunduk, tidur,

Kuhitung mundur dari sepuluh sampai satu, kalau sudah satu kamu akan bangun.

Sepuluh. Sembilan. Delapan. Tujuh. Enam Lima Empat Tiga Dua

Satu.

Sovi membuka mata. Dia tersenyum, merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Dilihatnya Dr. Lorencia duduk di depannya, menggenggam tangannya.

Gimana, sudah enakan? tanya sang psikolog dengan ramah.

Emm iya Ren Sovi memang merasa beban pikirannya sudah lenyap. Dan entah kenapa, dia merasa sangat ingin bertemu suaminya, karena kangen.

Aku nggak tau, tapi kok rasanya aku sudah tentram ya

Baguslah. Masalahmu sudah selesai. Kamu sudah bisa pulang Nanti kalau masih ada masalah, jangan segansegan mampir lagi oke?

Sovi mengangguk, dan dia berterimakasih kepada Dr. Lorencia. Sebenarnya dia agak penasaran apa saja yang sudah dilakukan sang psikolog, tapi entah kenapa dia tak merasa perlu bertanya. Dia sudah merasa nyaman dan memang itulah yang dicarinya. Dia kemudian membereskan urusan yang masih tersisa kemudian meninggalkan rumah Dr. Lorencia.Gairah sex

Post Terkait