Cerita dewasa

Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe

Cerita dewasa – Sudah sebelas tahun Erwing bekerja sebagai penjaga palang di gerbang Pelabuhan Bajoe, baru malam itu dia merasa bulu kuduknya berdiri tak karuan. Bukan karena cuaca yang memang sangat dingin ditambah sapuan angin dari laut, tapi karena ada sesuatu yang mengalihkan pandangannya.

Seorang perempuan bermata sayuberkali-kali dilihatnya sedang berdiri di dekat pembatas jalan. Perempuan itu berambut panjang dan cukup manis kalau dilihat sekilas. Air muka perempuan itu datar dengan bibir putih memucat. Setiap kali Erwing memandanginya, perempuan itu seakan-akan memanggilnya.

Erwing langsung berasa ingin pulang. Tapi bagaimana caranya? Dia sendirian. Apalagi hari itu dia kena sif malam. Dia harus kerja mulai jam 8 malam sampai jam 8 pagi, sementara jam dinding yang menggantung di pos jaga masih menunjukkan pukul 11. Jika dia pulang saat itu juga, manager pasti akan langsung memecatnya karena pintu palang tidak mungkin ditinggalkan dalam keadaan tanpa penjagaan.

Lelaki berkepala plontos itu terpaksa menenangkan dirinya dan menganggap perempuan yang dilihatnya hanya ilusi belaka. Dia pun memutuskan untuk menuangkan kopi panas ke cangkirnya. “Mungkin kopi bisa membuatku tenang,” katanya.

Baca Juga: Cerita Sex Gadis Penjual Kenikmatan

Sebuah truk kemudian melaju ke arahnya, dan sontak berhenti tepat di dekat palang. Erwing segera memberikan karcis pada sang sopir truk, lalu dibalas dengan uang 12 ribu. Erwing menarik tukas dan membuat palang itu naik perlahan sehingga truk bisa masuk ke area pelabuhan.

Ketika truk berpaling, Erwing kembali dikagetkan dengan kehadiran perempuan bermata sayu. Perempuan itu menatapnya tanpa sedikit pun berkedip. Jantung Erwing hampir loncat dibuatnya. Dia kemudian memicingkan mata dan kembali memastikan kalau pandangannya tidak salah, nyatanya perempuan bermata sayu masih berdiri di tempatnya, di dekat pembatas jalan.

Erwin bergidik, tapi juga penasaran. Dia balik menatap perempuan itu dan mencoba meneriakinya, “Apa dikerja di situ, Ndi?” tanyanya.

Perempuan itu membeku. Dia tidak merespons dan tidak pula beranjak dari tempatnya. Erwing makin bingung. Entah apa yang benar-benar merasuk dalam dirinya, Erwing tiba-tiba mendekati perempuan itu. Langkahnya pelan dan sedikit ragu-ragu, tapi dia terus saja melangkah.

Semakin dekat. Namun sebuah avansa hitam membuat langkahnya harus terhenti. Dia berbalik dan mendekati si sopir. Seperti tadi, dia memberikan sopir itu secarik karcis yang kemudian dibalasnya juga dengan uang 12 ribu. Sang sopir tersenyum lantas melaju. Perginya avansa hitam membuat Erwing kembali menoleh ke perempuan itu. Sial. Perempuan bermata sayu sudah menghilang.

Erwing mencari-cari, tapi perempuan itu tidak juga terlihat
.
Erwing terpaksa kembali ke tempat duduknya, dekat dari pos jaga. Betapa terkejutnya Erwing, perempuan bermata sayu sudah berdiri tepat di sebelahnnya ketika dia duduk sembari menikmati secangkir kopi panas. Terang saja, lelaki itu langsung lari tunggang langgang. Tidak peduli lagi kalau manajer akan memecatnya sebab yang dipikirkannya saat itu bagaimana dia harus lari secepat mungkin, sejauh mungkin.

***

Sejak kejadian malam itu, Erwing meringkuk di kamarnya berhari-hari. Suhu badannya makin lama makin naik. Istirnya, Rahayu sudah mengobatinya dengan berbagai ramuan herbal tapi dia tidak juga membaik. Erwing pernah dilarikan ke rumah sakit, bermalam tiga hari, setelah itu dia kembali dipulangkan karena Rahayu tidak sanggup membayar iuran yang kian membengkak.

“Apa mi yang mau kita lakukan, Daeng? Hampir habis mi juga uang,” keluh Rahayu di samping suaminya yang menggigil hebat meskipun sudah berselimut sarung berlapis-lapis. Erwing tidak menjawab, bibirnya hanya terus menggelatuk.

“Nanti kupanggil La Dompe, Daeng. Semoga tidak nakasih bayar mahalki.” Rahayu mulai terisak. “Tinggal dia mi pilihan terakhirta.”

Malamnya, La Dompe benar-benar datang. Lelaki tua beruban dengan gigi hampir semua sudah tercabut itu untungnya cuma mau dibayar rokok dan sokko. Dia pun segera mengobati Erwing. Setelah menyentuh kening Erwing seraya mulutnya komat kamit, La Dompe menghampiri Rahayu. “Dari mana saja suamimu sebelum sakit begini?” tanyanya.

“Kerja di Pelabuhan Bajoe, Puang. Waktu itu pulang cepat karena lihat katanya perempuan yang panjang sekali rambutnnya. Sejak begitumi langsung sakit.” Rahayu menjelaskan.

La Dompe sejenak terdiam. Dia memandangi langit-langit. Sekejap dia kembali menatap Rahayu, lalu berucap. “Kalian pergi buang telur besok di sana. Bawa juga ayam untuk dilepaskan. Nanti saya temani.”

Rahayu menurut saja. Dia pun mengangguk lemah. Esoknya, mereka pergi ke Pelabuhan Bajoe. Erwing juga pergi meskipun badannya masih sangat loyo. Sesampainya mereka di sana, mereka mulai membuang telur dengan dibantu La Dompe. Lelaki tua itu berkomat kamit sebelum melemparkan telur itu ke laut. Selanjutnya, La Dompe berkomat kami lagi sebelum melepaskan seekor ayam jantan di area pelabuhan.

Ritual itu selesai tanpa hambatan. Mereka pulang ketika langit mulai menghitam.

Hari-hari setelahnya, Erwing sungguh-sungguh sembuh. Lelaki plontos itu terlihat bugar sebugar-bugarnya. Sayangnya, dia sudah tidak lagi bekerja sebagai penjaga palang di Pelabuhan Bajoe karena manajer ternyata benar-benar memecatnya.

“Tidak masalah, Daeng. Banyak ji pekerjaan yang lebih baik. Rezeki juga sudah diatur Tuhan.” Rahayu menguatkan suaminya. Dan Erwing semringah.

Erwing lalu pergi. Dia mengambil sepeda motornya, lantas melaju dengan sangat kencang. Erwin kemudian berhenti tepat di dekat palang pelabuhan. Selepas memarkirkan motornya, dia pun berjalan tanpa mengindahkan mantan rekannya yang menatapnya bingung. Lelaki itu menuju pembatas jalan, dan mencoba naik.

“Mauki apa, Wing?” tanya mantan rekannya heran.