cerita dewasa

Para Pria Obat Awet Mudaku

Namaku Myr, umurku saat itu hampir 35 tahun, dan 2 bulan terakhir setelah waktuku di pengadilan untuk mengurus perceraian dan perebutan harta. Ida masih di SMP kelas 1, untunglah sekolahnya pintar dan selalu dapat beasiswa, saat itu uang merupakan komoditas yang langka.

Sungguh yang amat melelahkan dan tidak perlu sebetulnya, karena aku bukanlah orang yang gila harta, aku punya usaha sendiri, kelima kamar di paviliun samping dan belakang sudah terisi penuh dengan mahasiswa yang belajar di kota ini, apalagi aku tak perduli atau mementingkan materi dengan hidup sederhana.

Minggu pagi ini aku bangun pertama kali dengan senang karena semua sudah berakhir dan tak usah dipikirkan lagi. 2 bulan sudah aku tidak menikmati kebutuhan badan karena tiap hari boleh dikata berakhir di kantor pengacaraku, untung Mbak Maureen itu mengerti sekali problema rumah tangga yang menghimpit itu. Dia akhirnya menjadi teman dan penasihat yang tangguh banyak sekali menolongku.

Sambil meregangkan badan aku melepas selimut dan aku merasakan sentuhan kain satin dasterku di puting buah dadaku dan entah kenapa rasanya nikmat dan merinding kulitku dibuatnya. Terasa putingku membesar dan keras. Cepat aku pergi mandi di shower, aku mandi. Air membuat kesegaran tersendiri dan aku merasa vaginaku merebak terkena air sejuk yang mengalir mengenai klitorisku. Kulitku meremang dan uhh.. aku tibatiba sadar bahwa aku menginginkan batang panas untuk mengisi lubang nikmatku. Ahh.. dua bulan tanpa garukangarukan di situ. Lagi di tengah urusan itu kok tidak selera sekali ya.

Baca Juga: Digoyang Wanita Hamil

Aku pakai handuk melilitkan di badanku dan menyisir. Dari jendela kamarku yang di atas ini aku bisa melihat ke bawah dan Andi sedang mencuci motornya, ahh.. keponakan jauhku (dari sisi sexku) itu memang rajin. Walau dia sibuk dengan kuliahnya di kedokteran dia suka dan rajin mengurus kebun luas di rumah ini juga. Tibatiba ia ke belakang pohon dan membuka celana pendeknya, mau kencing! Aku berhenti menyisir dan mengamati, astaga besar benar batang penisnya. Ia tak sadar ada yang meperhatikan dan diguncangguncangnya menghabisi sisa urinenya dan terasa kakiku melemah, lututku gemetar setelah 2 bulan tidak melihat penis lelaki. Aku cepat ganti daster tipis pendek, BH dan CD tak sempat lagi kukenakan, dan nafasku menderu berlomba dengan nafsu yang sudah tak tertahan lagi geloranya.

Kubuka jendela dan Andi, tolong Mbak ya.. teriakku agak keras penuh rencana.
OK, Mbak Myr.. sahutnya.
Ini tolong dong ambilkan tas merah kecil di atas lemari tinggi itu, bawa tangga kecilnya Di.

Andi cekatan naik sambil memperhatikan pakaianku yang pendek menerawang, pahaku yang putih terlihat hampir sampai ke atas. Tapi ia tak berani langsung melihatnya. Aku tersenyum dan Andi naik ke atas tangga. Dicarinya di antara tas dan koper di atas (memang tidak ada)
Yang mana sih Mbak koq tidak ada?
Masa sih tidak ada, coba Mbak yang naik, pegangin lho tangganya, Mbak takut jatuh.

Aku naik ke anak tangga yang atas dan Andi memegang sisi tangga. Dan mulutnya segera ternganga karena ia bisa melihat aku karena daster mini dan tanpa mengenakan CD. Aku purapura tak tahu dan sibuk mencaricari di atas.

Aku naik satu anak tangga lagi dan melebarkan kedua kakiku di tangga dan membungkuk ke arah lemari sehingga Andi jelas bisa melihat semua itu dan dari sudut mata kulihat Andi terbelalak.
Lihat apa Andi? tegurku.
Ia malu dan menundukkan kepala.
Mmaa.. aaff.. Mbak Myr..

Aku geli melihat ia tersipusipu.

Lha kamu kan sudah biasa di sekolah lihat yang gini kan
Wah.. tapi Mbak Myr..
Tapi apa.. ayoo..

Aku turun lagi satu anak tangga. Lututku lemas sekali dan gelora nafsuku sudah menggelegak rasanya
Mau lihat lagi Andi? tantangku.
Andi terkejut dan parau ia berkata,
Bbbolehh Mbak?
Kutarik sedikit rok dasterku, pahaku yang putih dan berbulu halus sekali tersingkap dan bibir vaginaku pas di depan mulutnya.
Ndi.. desahku, Pernah mencium ginian tidak?
Bbbeelumm.. gemetarnya.

Suaranya tambah parau karena mulutnya terasa kering. Tibatiba aku tertawa karena dari sisi atas celana pendeknya mendesak keluar kepala penisnya, rupanya ia tak mengenakan celana dalam.
Ini sih garagara Mbak Myr, aku jadi malu deh..

Dia sudah tak kuat lagi dan disergahnya bibir vaginaku. Aku cepat mendekap kepalanya dan Ssshh.. ahh.. Andi cium terus Ndi.. Mbak ingin sekali.. Andi mencium kedua tepi bibir dan lidahnya mencaricari dan menarinari di atas tepi bibir vagina. Klitorisku yang sebesar kacang merah mengeras dan keluar dari ujung atas vaginaku dan Ahh.. ahh.. lidah Andi terasa melewati dan kasap sekali seperti amplas. Aku sudah tak kuat lagi dan nafasku menderuderu bak angin puyuh. Andi mendekap pantatku dan diangkatnya aku dari tangga. Dasar anak muda kuat sekali, dia menggendongku dalam posisi demikian. Aku pun tak takut jatuh lagi, pikiranku nanar menikmati sedotan mulutnya.

Dibawanya aku keranjang besar dan direbahkannya lembut di sana. Sambil jalan tadi mulutnya tak lepas dari vaginaku yang sudah kuyup dengan cairanku. Akhirnya dalam 2 menit aku menjerit, Aaauhh.. dan kutekan dengan pinggangku dan kulipatkan pahaku di sisi kepalanya dengan kuat. Mulut Andi menyedot kencang di klitorisku dan meletuslah orgasmeku yang pertama sejak 2 bulan ini. Mataku berkacakaca dan nanar.

Andi.. Andi.. enakk.. enakk sekali.. terus.. terus.. Ndi.. keluhku. Kulihat Andi pun terengahengah, Mbak.. Mbak.. tolong lepas dong pahanya, Andi hampir tidak bisa nafas nih.. Kulepaskan kempitan pahaku dan segera kududuk bersimpuh di ranjang dan kutarik dasterku ke atas, terpana Andi melihat buah dadaku masih keras dan berdiri dengan sedikit pongah dalam ukuran 38C.

Diulurkan secara pelan tangannya takuttakut, langsung kusambar dan kuletakkan di atas putingku, segera diremasremasnya bak tukang roti meremasremas adonan terigu. Putingku terasa tertekan di telapak yang kasap sekali dan seketika nanar kembali pandanganku. Mataku berkacakaca. Nikmatnya langsung seperti listrik mengalir spontan ke arah vaginaku yang baru saja orgasme. Kutarik, kutindih si Andi dan sambil menarik ke bawah celana pendeknya, dan wess.. batang penisnya yang sudah keras sekali terpental kena pipiku. Di ujungnya terlihat cairan bening tanda ia sudah benarbenar bernafsu sekali. Aduh.. aduh.. Mbak.. aku tidak kuat lagi.. mau keluar.. Aku terperanjat karena lupa bahwa anak muda seperti Andi belum bisa tentunya menguasai diri. Cepat kukulum kepala penisnya dan kusedot sambil kumasukkan sampai hampir ke belakang mulutku. Perlahan kugerakkan kenyotan dan lidahku terputarputar di sekeliling kepala penisnya. Andi terguncang di ranjang dan mengejang, terasa menahan geli enak dan dalam 1 menit meledaklah mani dari buah zakarnya yang kueluselus. Telapak tanganku yang satu meraba daerah antara zakar dan pantatnya, dan Andi tambah nikmat mengeluarkan orgasmenya. Wah maninya banyak sekali dan memenuhi mulutku.

Aku ingat pesan Mbok Inem pembantuku bahwa mani itu adalah protein sumber awet muda. Aku telan semua mani Andi tak bersisa sedikitpun, kupijat batang penisnya yang masih keras itu sampai akhirnya bersih semua. Kukeluarkan penisnya dan kelihatan berkilat merah darah tua gundulnya itu. Berkilapkilap basah.

Aduhh.. luar biasa enak sekali Mbak, maaf ya saya tidak kuat lagi.. Matanya sayu dan masih sambil menikmati ketelanjanganku. Aku menerkamnya dan memeluknya dan buah dadaku terasa kempes di atas dadanya yang keras. Andi memerah wajahnya karena kemesraan yang kulakukan. Di pahaku terasa penisnya mulai mengeras lagi, aku geli merasakannya, segera membesar.. membesar.. dan kuremas lagi dengan tanganku.

Tuh Andi, apa itu tuh..? Tidak apa kamu keluar tadi itu normal, sekarang mulai mekar lagi tuh..

Vaginaku kuletakkan di atas batang penisnya dan.. Lihat nih Andi.. Aku mulai menggosok gosokkan dan menggesergeser ke atas dan ke bawah dengan mulut bibir vaginaku di atas batang penisnya. Terasa rambut kemaluannya menggelitik ke bibir vagina dan ke batang panas itu. Andi ternganga dan tergagapgagap menyaksikan dan di depan matanya berayunayun buah dadaku, ia masih tak percaya apa yang sedang terjadi.

Ndi, remasremas buah dadaku lagi dong.. keluhku keenakan menggosok vagina itu. Kuarahkan klitorisku dan terasa belakang kepala penisnya menggarukgaruk, enaknya tak terkira nikmatnya. Cairan dari lubang vaginaku mengalir dan aku mulai jongkok. Kupegang penisnya dan kuarahkan ke mulut lubang kenikmatan itu. Perlahan kuturunkan pinggangku dan.. Aahh.. kepalanya kugarukgarukkan di bibir vaginaku sebelum perlahan kumasukkan. Andi terbalikbalik matanya menahan nikmat yang tak terkirakan itu.

Sengaja aku berhenti setelah kepalanya masuk sedikit, dan senutsenut kupermainkan otot bibir vaginaku (ilmu ini kudapat dari si Mbok Inem). Andi merasakan betapa kepala penisnya seakan dipijatpijat dan dinding bibir vagina itu seolah menyedot dan menghimpit dengan halus. Lekukan bibir vagina itu pas sekali ke kepala penisnya. Dia mencoba mengangkat pinggulnya akan memasukkan lebih dalam dan aku terdiam saja masih jongkok, dan.. Bless.. masuk lagi beberapa inci, dan akhirnya aku duduk di atas pinggang Andi. Pahaku menganga di kiri kanan dengan seksi sekali, dan akhirnya seluruh penis sudah amblas ke dalam lubang vaginaku. Rambut kemaluanku tersibak ke kiri dan ke kanan di antara batang penisnya.

Aku terpejam menikmati betapa panas dan kerasnya batang itu meregangkan seluruh lubangku yang sempit sekali. Agak sakit memang, karena lama sudah tak dikunjungi daging keras itu. Perlahanlahan kunikmati dan aku mulai menggerakan naikturun, kemudian teratur aku gerakkan pinggangku ke depan dan ke belakang. Andi pun merasa penisnya seolaholah diperah dan kepala penisnya terutama. Enak luar biasa, ia mengimbangi dengan gerakan naikturun juga. Aku sudah seperti penunggang kuda. Buah dadaku tak dilupakan Andi, aku membungkuk sedikit sehingga kedua melonku bisa diremasremasnya dan..

Niikmaatt.. Aku percepat gerakanku dan sekarang aku mulai gerakan penari Hawaii, hanya pinggulku yang bergoyang dan gerakannya memutar lingkaran.

Hehh.. ahh.. garukan kepala penis di dinding vaginaku terasa luar biasa, seluruh lekuklekuk lubangku terasa digaruk. Aku ingin tahu berapa lama Andi kuat menghadapi manuverku, kukerahkan otototot vaginaku dan kulihat lagi mata Andi sudah terpana, terbeliakbeliak sehingga kelihatan hanya putih biji matanya saja dan mulutnya mengeluarkan suara seperti tak ada artinya.

Ahh.. ahh.. akkhh.. Mbak Myr.. Mbak Myr.. enakk.. Tangannya sekarang memegang dan meremas bukit pantatku. Dan aku sendiri merasa orgasmeku mulai bergelora menuju puncaknya. Aku seperti penunggang kuda menaiki kuda liar dan naikturun putar.. putar.. putar.. Buah dadaku terasa bebas sekali terpental pental, rambut kemaluanku dan rambut kemaluan Andi terasa bersatu tiap aku meremas memutar di atasnya,

Ahh ahha ahh.. Akhirnya meletuslah orgasmeku dan aku masukkan dalamdalam penis Andi dan kulebarkan pahaku di sisinya dan kugosok keras keras bibir kemaluanku di atas rambut kemaluannya, dan.. dan.. dan.. Andi pun meletus lagi orgasmenya, Srott.. serr.. terasa maninya menyemprot di dalam lubangku tapi tak kuperhatikan lagi. Aku sendiri seperti lupa diri memutar mutar pinggangku dalam gerak melebar dan meremas kuat batang penis Andi.

Akhirnya aku lemas rebah di atas dadanya.
Mbak Myr luar biasa deh.. aku senang sekali bisa diperawani oleh Mbak Myr..
Apa? Oh kamu tuh belum pernah toh.. Di.. Aku kira kamu sering samateman mahasiswi atau sustersuster di rumah sakit, kan pada cantikcantik..
Andi memerah wajahnya dan berkata, Aku pemalu Mbak.. jadi tidak pernah dapat. Sekarang aku dapat sama Mbak Myr, aku senang sekali.. boleh lagi tidak..?
Aku cubit zakarnya.
Tentu.. tentu.. boleh Ndi.. asal kamu tidak bosen saja, Mbak kan sudah tua, godaku sambil meremasremas buah zakarnya.

Ayo kita mandi saja bareng.

Nah pembaca bisa bayangkan apa lagi yang terjadi di kamar mandi kan. Aku disenggamai lagi sambil berdiri, dan air panas mengalir terus (tapi hatihati jangan kena air sabun lho, baik ke lubang penis atau ke vagina, perih). Aku main dengan Andi sambil berdiri di shower, kakiku sebelah diangkatnya sehingga penisnya mudah masuk menusuk vaginaku, seperti sebatang besi panas menusuk gundukan mentega, Bless..

Siang itu aku selesai dengan Andi, lalu aku berbenah dan pergi ke rumah Mbak Nani di seberang. Ia seorang janda seumurku, tapi aku tahu juga ia suka menerima lakilaki. Nani sebenarnya teman aerobikku di tempat senam. Dengan Mbak Nani aku samasama berdagang berlian untuk tambahan penghasilan, karena ia banyak relasinya di Dharma Wanita sewaktu suaminya masih ada. Badannya tinggi, hampir sama dengan aku yang 178 cm dan buah dadanya pun ukurannya 38D. Nani tidak punya anak dan di rumah ia tinggal bersama 2 sepupu wanita dan adikadik suaminya yang masih pada sekolah, ada yang SMA dan ada yang sudah kuliah. Aku jarang ke rumahnya selama ini karena dulu suamiku dulu tak suka aku bergaul dengan dia. Entah kenapa.

Mbak, Mbak Nani.. panggilku sambil mengetuk pintu.

Kok sepi ya? Aku masuk dari pintu samping dan rupanya sedang pada pergi karena motor anakanak pada tidak ada.

Mbak..?
Ohh.. Ibu Myr, sambut pembantunya, Mbok Warsih.
Ibu Nani kemana ya? tadi sih ada, mungkin mandi.. maaf ya Bu, Mbok lagi nyuci piring nih, Bu Myr masuk saja.

Aku masuk ke ruang tengah dan duduk di sofanya, dan aku tibatiba mendengar suara sayupsayup mendesahdesah. Jantungku berdegup seketika mendengar suara yang amat familiar kukenal itu. Perlahanlahan kucari sumber suaranya, dan ternyata datang dari kamar atas, kamar Mbak Nani. Aku naik berjingkatjingkat, aku masuk ke lorong di atas dan benar! Dari kamar Mbak Nani, lagi ngapain dia? Lututku terasa lemas lagi mengingat Andi tadi pagi, dan terasa bibir vaginaku melembab dan empuk lagi. Nafsuku mulai berkobarkobar membayangkan apa yang mungkin sedang berlangsung di kamar Nani.

Nahh.. kamarnya tidak tertutup, pintunya masih terbuka sedikit, perlahan kudorong dan kusingkap gordin kamar dan astaga.. Mbak Nani sedang disetubuhi dan posisinya ia berlutut menungging, pantatnya tinggi ke atas dan goyang pinggulnya kencang. Aku tak bisa melihat jelas siapa lakilaki itu, tapi mataku terbelalak dari posisiku jelas melihat penisnya keluar masuk cepat ke lubang vagina, dan saking pasnya terlihat bibir vagina itu tertarik keluar setiap batangnya ditarik keluar. Batang itu.. oh.. batang itu basah berkilapkilap keluarmasuk keluarmasuk dan buah zakarnya bersih sekali kemerahan tak ada rambut sama sekali. Paha Mbak Nani pun basah dengan aliran cairan dari vaginanya berkilat kilat kena cahaya.

Lututku benarbenar lemas, dan celana dalamku membasah. Aku hampir jatuh saking lemasnya, dengkulku dan aku berpegang pada amban pintu. Perlahan kudorong lagi pintunya lebih lebar dan keduanya benarbenar kerasukan, sehingga tidak melihat pintu membuka lebih lebar. Kakiku benarbenar terasa seperti agaragar jelly, lemas. Aku berpegang pada amban pintu dan Mbak Nani pun dalam badai nafsunya terlihat memutar pinggulnya mengikuti enjotan dari lelaki itu. Buah dadanya terpentalpental dan desahnya benarbenar menghanyutkan, sepeti suara binatang sedang birahi.

Ahh.. shh sshh Mas Mas.. enakk.. Uhh uhh.. hmm.. seru Nani. Tibatiba mereka meregang dan meletupletuplah orgasme mereka dan terbadaibadai buah dada Mbak Nani karena binalnya ia menjepit penis itu. Dan terpuruk ia dipelukan lelaki tadi dari belakang.

Nafas mereka memburu terengahengah seperti pelari maraton. Siapa lelaki itu? Perlahan aku mundur dan terduduk di kursi tamu di beranda kamar itu. Nafasnya masih tak terkendali dan celana dalamnya kuyup. Aku bingung mesti ngapain dan aduh gatalnya lubang vaginaku, gila aku tadi baru dengan Andi, kok sekarang sudah begini lagi. Kurapatkan pahaku kencang dengan harapan sedikit terbantu.

Masih tetap membara dan akhirnya aku tidak kuat lagi dan aku buruburu pulang berharap Andi masih di sana.

Andi.. Andi.. seruku dengan parau. Begitu masuk ke rumah, kok tidak menjawab, pikirku.
Andii.. aku mencari ke paviliun, wah kosong semua, sudah pergi dia, keluh kecewaku. Aku naik ke atas dan segera membuka semua bajuku. Mandi, pikirku untuk meredakan ini. Aku terdiam di bawah shower, aduhh.. aliran air malah tambah merangsangku. Bagaimana ini, bagaimana, ah masturbasi saja, dan kuraba klitorisku yang sudah nongol keluar, Shh.. shh enakk.. tibatiba terdengar suara bel pintu.

Aduh siapa lagi.. Andi pulang? harapku. Aku segera mengambil handuk dan kulibatkan di sekeliling tubuhku yang sintal, wah.. kurang besar. Kugenggam saja handuk itu biar tidak copot.

Bel berbunyi tak sabar lagi, dan aku cepat turun, kupikir lihat dulu siapa dan kalau tidak kenal biar tak kubuka, aku mau masturbasi, kesalku. Dari jendela kulihat, wah ternyata anak pengantar koran, anaknya Pak RT di ujung jalan. Aku bimbang apakah mau membuka pintu atau tidak? Bagaimana aku, hanya handukan saja. Entah kenapa, impulsif kubuka juga dan aku melihat anak lelaki dengan mulut ternganga terbesar begitu dia melihatku hanya berhanduk dan masih basah kulitku dan rambutku. Dalam hati, aku senang karena berarti aku OK dong.

Ya..? tanyaku.
Oh maap Mbak.. eh Ibu.. mau nagih uang koran.
Ihh sialan, hanya mau nagih, batinku.
Bisa lain kali? ujarku.
Oh eh.. bis bis.. bisaa.. paraunya.

Lho kok ia menutupnutupi depan celananya. Tibatiba aku sadar bahwa anak ini sudah lumayan besar, mulai deh aku berpikir lain.

Eh iya deh, aku bayar saja, masuk dulu deh.. aku baru mandi, kataku.
Ah biar di sini saja Mbak, eh Ibu..
Kuulurkan tanganku dan kutarik saja masuk dan ia jalan agak membungkukbungkuk, rupanya mencoba menyembunyikan sesuatu.
Kenapa sih? tanyaku, Kamu sakit pinggang?
Ah.. ah.. eh.. tidak.. tidak.. katanya.
Mukanya merona merah sekali.
Ya sudah ayo masuk ke sini!
Kutarik lagi dan kubawa ke ruang tamu.
Duduk deh.. lau dia duduk, Namamu siapa?

Aku masih berdiri di depannya dan tetesan air masih mengalir di pahaku. Si anak itu matanya terbelalak melihat paha mulusku di depan mukanya.

Apa.. apa.. apa Mbak.. gelagapan terus dia.
Aku tambah geli saja.
Oh saya namanya Banu.. jelasnya hampir berbisik.
Matanya masih menatap pahaku yang basah, poriporiku masih menggremeng sehingga bulubulu halus di situ kelihatan berdiri.
Banu mana bonnya? tanyaku.
Oh oh.. iya ini..Tangannya menggapai tas yang ditaruhnya di atas pahanya dan aha.. rupanya ia berusaha menutupi penisnya yang sudah tegang berat. Ha ha ha, aku mau menikmati siang ini untuk melepas dahaga garagara Nani tadi. Biar deh anak Pak RT sudah besar juga kok. Tapi aku mesti hatihati supaya dia tidak shock.

Ini buat bulan lalu ya Ban? tanyaku sambil mengambil kwitansi dan aku jalan ke buffet tempat aku menaruh dompetku.
Ii.. iiya.. Tante eh Ibu eh.. iya.. katanya.

Dari kaca di atas buffet aku melihat matanya mengikuti goyang pantatku di balik handuk yang nyaris tak menutupi pantatku dan pasti bulu di selasela pahaku bisa dilihatnya. Sengaja kuregangkan kakiku dan matanya membesar dan membesar. Aku purapura mencaricari dompet dan membelakangi dia dan matanya sudah terkunci ke pantatku yang sintal. Lalu aku berjinjit dan purapura mencari di atas lemari tepi buffet sehingga handukku naik ke atas juga. Ha ha ha, pasti dia melihat lebih jelas lagi ujung vaginaku sekarang.

Aku tibatiba membalik dan Banu sudah pucat dan seperti orang dihipnotis saja. Aku balik membawa dompetku dan sengaja aku duduk di seberangnya. Kukangkangkan kakiku sehingga handukku naik ke atas paha. Aku purapura meneliti rincian kwitansi dan Banu matanya menjalang mencoba mencari apa yang akan bisa dilihatnya. Aku sendiri sudah basah kuyup, vaginaku lemas membayangkan mau menikmati anak ini.

Tibatiba aku bertanya, Eh kamu hari Minggu koq tidak pergi mainmain sih? kan bisa besok nagih.

Aa.. aku pengen beresin ini Bu.. katanya.
Masih banyak yang mesti ditagih? tanyaku lagi.
Tidak, ini terakhir.
OK, ini uangnya dan terima kasih ya, kataku sambil berdiri.

Terlihat mukanya kecewa karena mungkin inginnya sih apa ya? (mana aku tahu dia mikir apa, yang jelas tegangnya masih tuh di balik celana pendek jeansnya).

Dia berdiri dan cepat ditutupkannya lagi tasnya di depan kemaluannya.

Eh Banu, mau bantu Mbak tidak? tanyaku.

Dengan sergap ia menjawab, Mau.. katanya senang.

Ini Mbak mau pakai krim tapi susah kalau di belakang punggung. Mau tidak kamu bantuin oleskan.
Wah kalian mesti lihat ekspresi mukanya, seperti orang menang lotere 1 juta dolar tuh.
Ayo sini naik ke kamar Mbak deh! ajakku.
Berdebardebar aku membayangkan ini semua. Lubang vaginaku sudah bukan main gatelnya. Aku berbaring telungkup tanpa melepas handuk setiba di kamar.

Itu Ban, ada di meja hias yang warna putih botolnya.
Ini ya Mbak? katanya cekatan.
Ia sudah lupa dengan tasnya dan celananya seperti sebuah tenda dengan tonggak tegak lurus.
Yep.. itu dia Banu. Ini mulai dari pundak atasku ya Ban.
Ia duduk di pinggirku dan nafasnya terdengar terengahengah. Srr.. duh dinginnya krim itu ketika ia mulai mengoles pundakku. Tangannya terasa hangat sekali dan gemetar.
Banu kamu pernah tidak ngolesin body cream gini? tanyaku untuk membuat ia relaks.
Ahh.. nggak pernah. Mbak cantik sekali dan kulitnya halus bener deh, katanya sambil terus mengoleskan krim.
Ah enak, dan pahanya terasa menempel pada sisi tubuh atasku.

Eh Mbak, ini handuknya ngehalangin, katanya lebih berani.

Aku berdebar dan.. Oh iya.. dorong saja.. tangannya mendorong sisi atas haduk di punggungku dan ditambahkannya krim dan dioleskannya ke punggungku.

Mbak.. eeh.. saya buka saja ya handuknya.

Ah.. batinku, berani juga anak ini. Kuangkat sedikit badanku dan ditariknya handuk dan jadi longgar dan copot. Buah dadaku terasa sedikit pedih waktu ditariknya handuk itu dan telanjang bulatlah aku. Dari kaca meja hias aku lihat Banu ternganga lagi melihat tubuh mulus dan montok tersaji di depan matanya. Ia lupa mesti memberi krim. Aku pun menahan nafsuku dan tetap terlungkup.

Eh Banu ayo dong! ngeliatin apa sih kayak belum pernah ngeliat wanita, desahku merangsang.
Oh iya iya..

Dia mengoles lagi dengan sigapnya, tangannya teasa tambah hangat.

Hmm, pantatnya juga tidak Mbak Etty?

Hi hi hi dia panggil aku pakai nama Etty, lucu rasanya karena sudah lama tidak dipakai nama itu.

Iya, ujarku.

Dan Seerr.. rabaan tangannya membuatku mendesah keenakan dan suasana di kamar itu sudah penuh dengan hawa nafsu saja. Rabaan tangannya mulai mengcengkeram kedua bukit sintal, dan aku pelanpelan merenggangkan pahaku dan kuangkat sedikit pantatku. Banu pindah ke dekat pahaku dan aku geli karena pasti dia ingin lihat vaginaku. Sengaja kuangkat terus dan kulebarkan lagi pahaku dan tangannya masih meremasremas (bukan ngolesin lagi cing).

Kulihat ia menjilatkan lidahnya ke bibirnya dan tangannya mendekat ke arah paha dan jempolnya kiri dan kanan mendekat ke vaginaku sambil tetap meremasremas pantatku sebelah bawah. Aku pun tak sadar mendesahdesah keenakan dan terasa di sebelah dalam pahaku mengalir cairan dari vaginaku. Aku diam saja supaya Banu tidak malu dan kuintip terus dari kaca kelakuannya.

Diulurnya jempolnya dan terasa sentuhan halus di tepi bibir vaginaku. Enak dan aku angkat lagi pantatku dan jempolnya menyentuh lebih berani. Aku menahan terus nafsuku, maunya sih aku sudah berbalik dan kuterkam saja si Banu ini tapi itu akan mengurangi nikmat. Banu melihat aku diam saja dan jempolnya tambah ke dalam pahaku dan ia kelihatan terkejut merasakan lincir dan hangat, basah sekali bibir vaginaku. Ia melihat aku tetap terdiam, aku menggigit bantal yang kupeluk dan terasa puting susuku gatal sekali juga. Kutahan nafsuku dan kubiarkan dia eksplorasi dulu.

Nak Banu.. aduhh.. keluhku, Shh.. enak sekali..

Dan kakinya tambah dikangkangkannya lebarlebar, pantatnya naik sedikit sehingga vaginaku sudah terpampang di mata Banu yang terbelalak. Tenggorokannya kering sekali dan tangannya dingin. Bulu kemaluanku sudah menempel karena kuyup. Jari Banu meremasremas pantat dan paha atas. Dilihatnya vagina merekah dan bau khas seperti laut begitu merambah hidungnya membuat suasananya tambah merangsang. Dasar anak masih ijo dia tak tahu mau ngapain.

Aku biarkan jarinya mendekat ke bibir vaginaku dan kutahan nafas mengantisipasi enak yang bakal kurasakan. Kutinggikan lagi pantatku dan terasa jarinya menyentuh dan mulai menggosok dengan rasa ingin tahu sambil takut dimarahi. Aku berbisik, Terus Banu.. paha dalam ibu itu perlu juga, aku memberanikan dirinya, dan aku lebarkan lagi pahaku sehingga betul betul sudah bebas terlihat belahan vaginaku dari belakang situ. Jarijari Banu mulai mendekat lebih jauh ke lubang dan bibirbibir kiri dan kanan vaginaku dan mengorekngorek.

Aduhh.. nikmat sekali.. Jari tengah Banu masuk ke lubang basah dan keluarmasuk, ia mengorekngorek tanpa tahu apa yang harus dikerjakan. Kutuntun tangannya dan kutangkupkan pada vaginaku dan jari telunjuknya aku letakkan di atas klitorisku
Gosok dan gelitik Banu! kataku. Pantatku tambah tinggi sehingga aku hampir berlutut. Pantatku sudah hampir setinggi mulut Banu yang ternganga selebar pintu Tol.

Dengan pelan tanganku meraba paha Banu, seperti orang kena listrik ia mengejang. Jangan takut Banu, Ibu tidak apain kok. Aku naikkan lagi dan penisnya yang sudah keras luar biasa terasa di luar celana pendeknya. Aku eluselus dan ia seperti orang kesurupan, matanya terbalikbalik keenakan, dan kutarik celananya ke bawah, ia berdiri dan bebas merdeka batangnya itu. Kugenggam eraterat dan aku bilang,

Banu kamu ke belakang situ dan tempelkan penismu ini ke mulut lubang vagina. Aku menungging berlutut, pantatku tinggi ke atas dan posisi vaginaku sudah terbuka lebar. Banu mendekat dan sambil memegang penisnya ia mengarahkan ke vaginaku.
Ahh.. ahh.. enak Banu..
Iya Mbak enak sekali..
Aku pegang penisnya dan pelanpelan kuamblaskan ke dalam lubang vaginaku. Gila panas sekali batangnya itu. Dan aku mulai berayunayun ke depan dan ke belakang. Banu pegangan pada pinggulku, buah dadaku berayunayun menggelantung bebas. Dan pelan sekali kusedot penis Banu dalam vaginaku, kugerakkan otot dinding vaginaku bergelombanggelombang. Di kaca aku melihat posisiku dan Banu, sungguh pemandangan luar biasa. Anak masih ijo itu antusias sekali dan kelihatan ia masih bingungbingung. Terus kugenjot dan Banu mulai pintar mengikuti gerakannya, dan terasa batangya majumundur menggarukgaruk dinding vaginaku dengan nikmat sekali.

Dan 2 menit kemudian meledakledak orgasmeku dan ia kujepit dengan kencang dalam vaginaku sampai terasa seperti kuperas batangnya sampai kering dari spermanya. Terdampar Banu di atas punggungku dan aku rebah ke ranjang. Penisnya masih setengah tegang dan terasa berdenyut denyut. Itu pengalaman Banu pertama.

Aku tertidur setelah itu dengan enak sekali, sungguh segar. Besoknya aku sibuk di kebun sampai sore, dan siangnya aku tidur lagi sebentar, rencanaku anak kostku yang lain akan kupetik perjakanya. Jam 06.00 sore aku mandi dan dandan sedikit, aku kenakan daster tipis. Setelah itu aku duduk di kamar tamu membaca koran sore menunggui anakanak kost pulang kuliah sore. Di luar terdengar suara orang berjalan menuju pintu depan, hatiku berdebar menebak siapa yang datang. Ketokan pintu baru 2 kali dan aku sudah membuka dengan cepat sambil tersenyum manis. Eh Pak RT ayahnya Banu, aku kecewa dan terkejut. Apa Banu laporan ke Bapaknya? Tidak biasabiasanya Pak Zainul kemari.

Oh selamat sore Mbak Etty, maaf mengganggu, katanya.

Matanya liar melihat tubuhku dari atas sampai ke bawah, apalagi dasterku tidak bisa menyembunyikan buah dadaku dengan baik.

Iya Pak mari masuk, undangku sambil melebarkan pintu.
Ada apa Pak RT?
Oh ini Bu, ada surat ke sasar di rumah Pak Anwar pas saya lewat tadi mau pulang dan karena lewat rumah Mbak, ya saya bawa sekalian, katanya sambil menyerahkan sepucuk surat.

Matanya menatap wajahku dengan tajam kemudian turun ke arah buah dadaku yang separuh nongol di dasterku. Ih ganas juga orang ini pikirku.

Oh terima kasih Pak, mari duduk! kataku sopan dengan mengharapkan ia segera pergi.
Ini Bu, tadi saya ketemu nak Andi dan titip pesan, anakanak mau ke undangan pesta anaknya Pak Anwar ulang tahun Bu, mereka makan malam dan katanya mau nginap di sana.

Aku kecewa sekali mendengar itu.

Ya, terima kasih Pak ngerepotin jadinya.
Oh tidak kok, seringainya seperti serigala buas.

Umur Pak Zainul aku rasa sekitar 40 tahunan masih gagah. Kata orangorang dulu dia atlet renang dan sekarang punya toko olah raga di jalan besar dekat rumahku.

Mbak kok kayaknya agak pucat? ujarnya lagi.
Aah masa.. kataku.
Saya belajar sedikit Mbak tentang pengobatan, katanya.
Mau tidak saya pijat telapak kakinya? katanya.
Tidak lama kok, paling 10 15 menit.
Aku jadi iseng, Iya deh Pak, silakan duduk Pak, saya dimana?
Oh itu Mbak duduk saja di kursi rotan itu dan saya pakai ya dingklik ini, katanya dengan sigapnya.

Aku duduk dan ia duduk di dingklik dan mulai meraba telapak kakiku. Kemudian ia mulai memijit dan.. Aduh sakit Pak! kataku. Pahaku terbuka karena terkejut tadi. Aku jadi merah karena ingat tidak pakai celana dalam. Celaka, batinku. Cepat kurapatkan lagi dan Pak Zainul tenang seperti orang tidak melihat padahal pasti dia lihat tadi. Ia meletakkan satu kakiku di atas pahanya dan mulai memijat dengan pelan, Ah enak juga, kakiku satu lagi di bawah pahanya dan aku menikmati pijatannya.

Pelanpelan dari tapak kakiku tangannya naik ke atas kaki kemudian ke betisku dan didorongnya ke arah luar sehingga aku agak mengangkang lagi jadinya. Aku diam saja. Kakiku satu lagi sekarang pas di bawah buah zakar dan penisnya, pelanpelan kunaikkan dan jempolku pas kena buah zakarnya kugesergeser di situ. Pikirku, tidak ada akar rotan pun jadilah, lagi orangnya lumayan bersih dan tidak bau badan. Aku memejamkan mata dan membiarkan pijatannya naik ke betisku dan aku mulai merasa basah.

Kueluselus buah pelirnya dengan jarijari dan punggung kaki. Ahh, koq penisnya besar sekali terasa di kakiku. Pak Zainul pakai celana training dan kuintip, wah sudah jadi tenda tuh. Dan aku sudah berserah dan Pak Zainul sudah mendesak pahaku dan dasterku sudah tersingkap sampai ke atas, aku diam saja dan ia mulai menciumi dengkulku, aduh gelinya.

Kemudian ia menciumi dan menjilati pahaku. Dan kakiku diangkatnya ke atas sandaran tangan kursi rotan sehingga vaginaku terpampang menganga di depan mukanya. Ia masih duduk di depan dingklik tadi. Dan.. dan.. astaga.. Pak Zainul dengan cekatan menciumi tepian bibir vaginaku. Aku sudah tak perduli apaapa lagi hanya melenguhlenguh keenakan. Ia menurunkan celana trainingnya dan berdiri, Ini Mbak, obat untuk sehat, katanya sambil tersenyum dan diasongkannya penisnya ke mulut vaginaku.

Dia berlutut dan Bles.. seketika masuk penisnya seperti pisau panas membelah mentega. Dan tangannya merogoh buah dadaku dan diperasnya, ditariknya dasterku ke atas dan telanjang bulatlah aku. Tanganku terkapar di kiri dan kanan sehingga buah dadaku yang sintal menonjol, Pak Zainul menciumi kirikanan kirikanan sampai pentil buah dadaku keras sekali dan basah oleh ludahnya. Pantatnya majumundur majumundur menusuk vaginaku dan aku sudah keenakan tak perduli apaapa. ohh.. enaknya.. Aku sendiri mengempit kencangkencang batang panas dan beruraturat itu. Garukan majumundur dari kepala penisnya dengan seksama menggores dinding lubang vaginaku. Luar biasa enak. Tangan Pak Zainul meremasremas buah dadaku dan pentil puting susuku terasa keras di telapak tangannya yang kasap.

Pak Zainul, Paakk.. ayo Pak goyang teruss..
Pinggul Pak Zainul dengan gesit majumundur.
Pok plok plokk plok..

Buah zakarnya tergantunggantung menabrak bagian bawah vaginaku dan bulunya di sekitar base dari penisnya ikut masuk ke lubang, dan waktu keluarmasuk menambah geli tak terhingga. Aku menjeritjerit kecil keenakan, dan kakiku seperti gurita mengempit di pinggang Pak Zainul. Gila enak bukan main.

Ada 15 menit kami bertarung, dan kempotan vaginaku juga membuat wajah Pak Zainul merah dan uraturat di keningnya menonjol keluar semua. Lubang vaginaku terasa agak pedih dan bibir vaginaku benarbenar ikut keluarmasuk dijepit oleh batang penisnya. Akhirnya Pak Zainul kejangkejang dan penisnya dibenamkannya dalamdalam dan aku segera merontaronta mengencangkan kempitan lubang vaginaku dan kakiku di pinggangnya juga dengan keras membantu. Uahh.. Meletus orgasme kami betubitubi.

Mataku terbelalak dan nafasku sudah terengahengah, dan tubuh Pak Zainul tumbang menimpaku di kursi itu. Hampir saja kursinya terguling. Diciumnya dengan mesra bibirku dan kubalas dengan gairah. Senutsenut vaginaku masih berdenyut dengan kuat dan batangnya terasa masih keras. Spermanya kurasa banjir keluar dari selasela penisnya dan mengalir ke arah pantatku dengan hangat dan kental. Wah tidak dapat si Andi aku dapat servis enak dari Pak RT, lumayan buat jajan sore. Aku jadinya menikmati anak dan bapak. Entah dia tahu tidak aku sudah memperjaka anaknya.

Tak lama Pak RT pulang setelah mencuci penisnya, dan katanya, Mbak besok aku lanjutkan ya terapi pijetnya, katanya sambil meremas buah dadaku dengan tangan satunya dan tangan satunya menggosokgosok vaginaku, aku senyum saja dan Iya deh Pak RT. Dalam hati aku senang juga ada selingan dari orang yang berpengalaman. Kalau sama anakanak muda aku jadi guru mereka, kadang ada enaknya dengan orang yang ada ilmu goyang yang seimbang. Aku mandi lagi, dan setelah makan aku berbaring dan tak lama aku dengar suara Andi, Herman dan Toni. Hmm, mereka sudah pulang, kulihat sudah jam 10.30 malam. Aku tidak keluar kamar membaca dan mendengarkan musik. Capai juga ngangkang di atas kursi tadi. Pinggulku agak nyeri juga. Ingat itu aku geli juga karena tidak menyangka.

Ketukan di pintu menyadarkan aku dan aku bilang, Iya.. Andi masuk dan ia senyumsenyum.

Ada apa Andi? nggak jadi nginap di rumah Anwar ya? kataku manis.

Aku tak bangkit dari ranjang, dasterku agak tersingkap kubiarkan. Mata Andi segera melihat itu dan senyum lagi.

Anu Mbak Etty. Perlu apaapa tidak? katanya sambil mendekat.
Oh ini Mbak Etty.. katanya sambil duduk di sampingku dan tangannya memegang tanganku.
Tapi tidak boleh marah ya.. Herman, Toni kan masih SMA, mereka baru dapat pelajaran biologi dan sering nanyananya, aku tapi sulit juga menjelaskan kalau tidak ada peragaan.
Lha iya, kamu kan di kedokteran bisa dong ngejelasin, kataku.

Elusan tangannya membuat hatiku berdesir lagi dan vaginaku langsung mendenyut. (Gila nafsuku besar sekali sih batinku).

Lalu kenapa?
Ini lho, tapi bener ya tidak boleh marah? kata Andi lagi.
Iya sudah, apa sih susah banget mau ngomong. Kamu perlu uang buat beli peta biologi?
Eh tidak, sebenernya sudah ada tapi perlu bantuan Mbak Etty, kata Andi lagi.
Gini Mbak, mereka ingin tahu tubuh wanita dan aku pikir paling gampang kalau Mbak Etty tidak keberatan aku pakai tubuh Mbak buat peragaannya.
Ha.. ha.. ha.. Andi kamu adaada saja, malu ah, kataku sambil berdebardebar dengan pengalaman baru ini.
Boleh tidak Mbak? desak Andi lagi.
Iya dah, tapi gimana? aku mesti apa?

Baru aku bilang begitu pintu kamar sudah terbuka dan masuk Herman dan Toni. Kurang ajar dari tadi mereka nguping di pintu. Aku agak menjerit karena kaget. Herman dan Toni malumalu dan mukanya merah. Andi mengajak mereka ke tempat tidurku dan katanya, Mbak saya lepas ya dasternya. Aku malu, karena aneh rasanya ada 3 lelaki muda di kamarku.

Tapi gemuruh di dadaku menggebugebu membayangkan tubuh ke3 anak muda ini. Aku hanya bisa manggutmanggut, lidahku kelu dan duh vaginaku sudah langsung melembab dan lembek terasa hangat bibir vaginaku. Aku duduk dan kuangkat dasterku dan waktu tanganku ke atas buah dadaku langsung bebas menggelinjang sintal dan kulihat mata ke3 anak itu membelalak.

Aku menutup buah dadaku dengan daster yang sudah lepas dan Andi mendekat lagi. Mbak baring ya, tangannya ke atas. Ini kita serius kok Mbak, mereka besok ujian. Jadi Mbak tidak usah malu karena membantu nih. Tanganku ditariknya keduaduanya ke atas dan buah dadaku munjung dengan bebas dan seksi sekali. Kulirik dan duh mereka sudah pada tegang. Aku berbaring hanya bercelana dalam segitiga kecil sekali hampir tak bisa menutup vaginaku dan di depannya jelas sekali basah sudah.

Andi juga suaranya bergetar karena menahan nafsu, aku rasa. Ton, Man sini kamu di sisi sana biar aku jelaskan tentang buah dada, katanya sok seperti dosen. Herman dan Toni berdesakdesak dengan gesit mendekat. Andi memegang buah dadaku dan menjelaskan bahwa ini adalah buah dada yang sehat dan terpelihara baik katanya sambil meremas, dan katanya, Nah kamu coba pegang dan remasremas! Herman kamu perah yang sini dan Toni kamu coba kekenyalan yang satunya, kemudian gantian dan bandingkan. Mata mereka jalang sekali dan kedengaran desah nafas mereka yang sudah tak beraturan. Aku sendiri begitu diremas Andi tak sadar mendesah enak. Dan seketika kedua anak itu rebutan meremasremas kedua buah dadaku, dan banjirlah cairan di vaginaku.

OK.. OK.. sudah sudah cukup! seru Andi, Sekarang lihat ini, ini adalah puting susu dan di sekitarnya ini disebut aerola, katanya sambil memelintir putingku ke kiri dan kanan, aku menggelinjang geli. Ini kalau sehat akan bereaksi bila disentuh atau dirangsang sehingga mengeras, lanjutnya. Nah coba kamu pegang puting seorang satu ya.. dan pelintir seperti ini! katanya sambil mencontohkan dijepitnya puting susuku di antara jempol dan jari telunjuknya dan diputarnya putingku. Aduh seketika aliran syarafku ke vagina tambah enak rasanya.

Vaginaku terasa kuyup dan mengalir ke sisi pahaku. Celana dalamku tak dapat menampung lagi cairan itu. Herman memelintir puting susu kiri dan Toni di buah dada kananku. Aku tak sadar kakiku sudah mengempit dan bergoyanggoyang menahan rasa geli dan pinggulku bergesergeser di ranjang. Andi sendiri memperhatikan kedua anak itu praktikum di puting susuku dan keduanya asyik sekali. Diremasnya vaginaku dari luar celana dalam sehingga aku sudah kehilangan sadar dan rasa malu. Gelinjanggelinjangku sudah seperti kuda liar.

Andi.. Andi.. oohh.. Gila kalian ayo dongg.. Pelintirpelintiran tangan Tony dan Herman masih terus dan mereka seperti anak kecil dapat mainan. OK OK, stop dulu! muka keduanya kecewa dan mereka menurut sekali. Sekarang kita beralih ke bagian sini, katanya sambil meremas vaginaku. Aku senang sekali serasa akan mendapat pelepasan. Mereka semua jelasjelas sudah ereksi penisnya tapi masih menahan diri. Sebenarnya aku yang sudah tidak tahan ingin sekali vaginaku dimasuki batang panas dan aku gembira sekali membayangkan ada 3 penis panas.

Ini namanya vagina, kata Andi sambil meremasremas terus dari luar CDku yang sudah kuyup. Mas Andi, kenapa kok basah gitu sih? tanya Toni dengan polos sambil agak bergetar dan parau suaranya. Oh ini, kata Andi sambil memegang depan CDku. Ini biasa kalau wanita sedang birahi maka akan keluar cairancairan seminal seperti ini. Dan maaf Mbak Etty, saya turunkan ya celananya! Lagi aku tak bisa menjawab kelu lidahku dan aku hanya manggut cepat dan kuangkat pantat dan pinggulku. Andi menyelipkan tangannya ke samping CDku dan menariknya turun, seketika terbukalah vaginaku dan Herman maupun Toni tambah besar saja belalak mata mereka.

Andi mengeluselus vaginaku dan mengatakan, Ayo kalian pindah ke sini dekat paha Mbak Etty biar jelas, katanya. Nafas Andi pun mendengusdengus, aku rasa kalau dibiarkan ia sudah mau menancapkan penisnya ke dalam lubangku. Andi menjepitkan jarinya pada bibir vaginaku yang tebal, empuk panas dan menyibak bibir vaginaku dan menariknya keluar, Nah ini namanya labia, bibir vagina, kata Andi. Coba kalian rasakan, dieluselus seperti ini! katanya lagi. Ahh.. nikmat sekali.. Herman dan Tony dengan gemetar memegang seorang sebelah dan menariknya. Kemudian mengeluselus dengan ujung jarijari mereka. Gila geli sekali, dan aku senang karena mereka serius dan semangat sekali (iya lah mana tidak semangat melihat vagina begitu cantik).

Ada dua menit mereka menariknarik pelan dan mengintipintip dari dekat, dengus nafas mereka geli sekali kena pahaku di atas. Dan Andi menghentikan mereka. OK, berikutnya perhatikan bentuknya ini, katanya sambil menyibak rambut kemaluanku yang sudah kuyup oleh cairan vaginaku. Aduh, itu cairan mengalir kemanamana terasa sampai ke lubang duburku. Ini adalah klentit atau klitoris, katanya sambil menarik kacangku yang sudah keras sekali. Di dorongnya keluar di antara kedua jarinya dan lihat..! katanya lagi. Ini kalau disenggol akan mengeras seperti ini. Dan dimainmainkannya dengan ujung jarinya klitorisku itu.

Mataku gelap rasanya seperti mau pingsan karena enak sekali. OK, kamu coba Man, katanya ke Herman, dan Herman dengan semangat menggoyang klitorisku dan ia juga bereksperimen menjepit klitorisku dengan kedua jari dan memilinmilin. Pantatku menggelinjanggelinjang liar dan Tony aku lihat sepintas ternganga melihat kelakuanku. Andi sementara itu tak tinggal diam, ia memeperhatikan kedua anak itu sambil meremasremas memerah buah dadaku.

Aku lemas dengan nafsu yang sudah memuncak sekali. Pahaku sudah ngangkang lebar sekali dan bau mesum dari vaginaku memenuhi kamar. Badanku terasa hangat sekali dan betapa lubang vaginaku mengharapkan batang panas, tapi aku masih mengikuti semua permainan anakanak ini. OK, sudah! katanya setelah Toni juga mendapat giliran. Sekarang seperti ini kalian harus tahu bahwa lubang vagina ini sangat sensitif jadi tidak boleh kasar kalau mau memeriksa. Andi memasukkan jari tengahnya yang kasap ke dalam lubang vaginaku dan begitu masuk dinding vaginaku langsung mendenyut mencengkeram, Senut.. senutt..

Usahakan kuku kalian harus sudah digunting dan tidak tajam, karena kalau sampai luka sulit nanti sembuhnya, katanya sok tahu seperti dosen sungguhan. OK, kalian coba masukkan dan gosok gosok seperti ini keluarmasuk, katanya. Aku terbadai saja di ranjang dan kedua anak ini bergantian memasukkan jari tengahnya memasturbasi aku, entah berapa kali sudah aku orgasme.

Seprei ranjang sudah kusut seperti kapal pecah. Andi terus meremasremas buah dadaku sambil memainkan puting susuku. Nah sekarang kita harus mengerti juga bau vagina yang sehat seperti ini, kata Andi. Ia mendekatkan hidungnya ke lubang vaginaku dan hembusan nafasnya yang panas menambah bara nafsuku. Kalau aku tidak menahan diri sudah kuterkam si Andi ini dan kutunggangi penisnya. Aku masih play along dengan mereka.

Kemudian Andi berbicara lagi. Dan kita juga perlu menjilati untuk tahu rasanya cairan ini, katanya sambil bibirnya langsung menerkam vaginaku. Ahh.. jeritku keenakan. Dan lidah kasapnya segera bermain di sekitar situ, kirakira semenit ia dengan berat hati melepaskan dan..OK, sekarang Toni kamu coba! Toni dengan cekatan mendekat dan memasukkan mukanya di antara selangkanganku yang sudah kubuka lebarlebar.

Aku ambil bantal dan kuganjal pantatku sehingga vaginaku munjung keluar. Mulut Toni terasa panas sekali dan dengan semangat ia menciumi dan seruputseruput ia menjilati. Aku terbadai lagi dan orgasmeku memuncak untuk kesekian kalinya. Lidah Toni berkalikali masuk ke lubang vaginaku dan cairan demi cairan dihisapnya. Kadang kadang ia menghisap dengan kencang dan pahaku sudah tak sadar mengempit kepala Toni. Sudah Ton! kata Herman menarik Toni dan membuka paksa pahaku, dia juga tidak sabaran jadinya. Dan gantian Herman! Aduh, gila digigitnya bibir kemaluanku, rupanya saking semangat tergigit sedikit bibir vaginaku, tapi ia juga semangat dan terasa lidahnya lebih panjang dan kasar lagi dari lidah Toni dan Andi.

Aku menggeruskan vaginaku ke mulutnya dan pahaku mengempit kepala Herman di antara kedua pahaku yang sintal putih. Sementara Andi sudah membuka celananya dan penisnya sudah keras sekali, disorongkannya ke mulutku dan dengan rakus aku menerkam dan mengelomohi kepala penisnya. Toni juga tadi melihat Andi, ia meremasremas buah dadaku dengan semangat. Kadangkadang aku agak menjerit karena sakit juga, mungkin gemes si Toni ini.

Herman masih asyik menyeruput vaginaku dan klitorisku, dia cari dan disedot. Toni tadi tidak sampai mengisapisap klitorisku. Tak lama Andi meletup orgasmenya dan dengan rakus aku hisap kencang sambil meremasremas batangnya dan mengocokngocok supaya spermanya keluar semua. Kutelan habis semua sperma itu. Toni ternganga lagi melihatku ganas seperti itu dan binal sekali. Man, Man sudah Man! kata Andi. Herman dengan segan mengangkat kepalanya dari vaginaku. Andi mengatakan, Mbak Etty, kami perlu membuat eksperimen lanjutan, boleh tidak? Aku sudah tidak bisa berpikir karena ingin sekali penispenis ini kuremas dalam vaginaku.

Andi mengeluarkan pisau cukur Gillette dan katanya, Man kamu ambil itu sabun untuk cukur kita cukur jembut Mbak Etty! Toni masih terus meremasremas buah dadaku dan kadang mempermainkan puting susuku, dan dihisapisapnya juga. Tanganku memegang batang penisnya dari luar celana. Kemudian aku bilang, Kalian tidak fair masak aku sendiri yang telanjang bulat kalian semua buka juga dong! Aku rasa aku mesti lapor ke Jaya Suprana di MURI karena kalau ada rekor buka baju pasti mereka menang. Dalam sekejab sudah telanjang semua. Herman dan Toni bulu kemaluannya masih halushalus, mereka baru SMU kelas I, kalau tidak salah ingatanku. Herman mengoleskan sabun di bulubulu kemaluanku sambil jarinya iseng mencubiti klitorisku.

Dan Andi mulai mencukur dari mulai perut bawahku dengan hatihati sekali, dan terasa bulu kemaluanku berjatuhan dan dingin di tempat yang sudah bersih. Terus Andi maju dan sekitar bibir tepitepi vaginaku juga. Ditariknya lembar bibir vaginaku dan dicukurnya pelanpelan. Dan dalam beberapa menit gundul sudah vaginaku. Andi mengambil kaca kecil dan menyuruhku duduk. Aku mengangkang sambil duduk dan Andi meletakkan kaca itu di depan vaginaku, ha ha ha lucu sekali dan klitrosisku tampak jelas nongol, bibir vaginaku merekah dan kelihatan seperti kerang mentah.

OK, sekarang giliranku, kataku, Kalian bertiga tiduran, kita lihat siapa yang paling kuat, Mbak akan tunggangi kalian satu persatu dan yang paling kuat lama malam ini boleh tidur sama Mbak sampai pagi hadiahnya, kataku sambil senyum dengan buas dan binalnya. Ketiganya cepat berbaring dan aku bilang, Ambil bantal semua, taruh bantal di bawah pantatnya! Aku merasa liar sekali melihat ketiga tiang bendera dari daging itu sudah berdiri tegak lurus. Hmm, aku mulai dari Toni, dia berbaring di tengah dan aku jongkok di atas penisnya, kugenggam batang itu dan kugosokgosok kepalanya di mulut vaginaku.

Pelanpelan aku jongkok lebih dalam dan kepala penisnya mulai masuk. Toni merem menikmati dan mulutnya terbuka dan mendesahdesah keenakan. Bless.. masuk semua dan aku turun terus sampai terbenam dan aku mulai bergoyang berputar tanpa naikturun dengan cepat, genggaman vaginaku kukerahkan dengan kuat, terus kuputar searah jarum jam. Buah dadaku yang montok bergoyang, satu di kiri diremas Andi dan yang kanan diremas Herman, mereka juga ikut terengahengah. Aku mulai mengulek penis Toni ke depan dan ke belakang, berayunayun, pinggulku berputarputar, dan terasa hangat dan kerasnya penisnya di dalam vaginaku dan mata Toni terbelalak ke atas sehingga kelihatan putihnya saja, dan badannya melengkung kejang.

Dalam 2 menit sudah orgasme dia dan semprotan maninya di dalam vaginaku panas sekali. Dan aku sendiri karena buah dadaku diremasremas kedua anak ini di kiri dan di kanan juga tak lama ikut meledak. Suasana yang cabul ini menggelorakan birahi, dan aku mengejangkan badanku menikmati orgasme entah keberapa. Kempitan vaginaku membuat Toni agak kesakitan karena kuatnya otot dinding vaginaku. Terasa klitorisku menyentuh rapat ke penis Toni, dengan terengahengah aku berlutut dan kucabut vaginaku dari penis Toni yang kuyup dengan sperma dan cairan kewanitaanku.

Aku merangkak pindah menungging di atas penis Herman, buah dadaku bergantung bebas, aku ingin mengisap penis Herman dan menelan sumber awet muda, tadinya aku juga maunya Toni aku sedot dulu spermanya yang penuh protein itu, hanya vaginaku gatal sekali tadi. Dan setelah digaruk oleh kepala penis itu, enak sekali, agak mending walau aku masih penuh birahi.

Terasa Andi menggosok vaginaku dengan tissue untuk melap mani Toni yang berleleran dan aku sudah tak perduli. Kuraih batang penis Herman yang kulihat agak gemetar menahan gejolak senangnya, ia membayangkan penisnya bakal aku sedot. Kuciumi dulu sepanjang batang penis dari satu sisi ke sisi lain. kemudian kulekatkan lidahku di bagian bawah kepala penisnya yang sudah berkilatkilat basah dan kuputar sekitar penis itu dengan lincah dan seketika menggelinjang Herman keenakan.

Aduh Mbak Myr.. dan tangannya seketika mencengkeram rambutku dan mendorong agar penisnya masuk ke mulutku. Aku sengaja hanya menyentuh dengan ujung lidahku di atas kepala penisnya, dan tanganku mengelusngelus buah zakarnya yang sudah padat itu. Kuremasremas buah pelir itu dan ciumanciuman ke batang penis sekitar pelir membuat ia tambah liar dan sudah seperti kuda liar.

Menggeram minta agar aku menyedot. Ah anak muda perjaka. Aku masukkan kepala penisnya saja ke dalam mulutku dan kukelomoh seperti makan es krim Walls saja laiknya atau Lolipop. Pembaca wanita yang belum pernah nyoba anda kehilangan caracara yang menakjubkan ini untuk memberi nikmat pada pasangan anda (pasangan di rumah maupun di luar).

Dan tanganku tetap menggocok pelir dan batang Herman sementara itu dari belakang Toni memelukku dan memerahmerah buah dadaku dan eh gila si Andi masuk ke selangkanganku yang sudah di lapnya dan ia menarik pantatku sehingga aku terduduk dengan vagina di atas mulut Andi. Uihh geli sekalii.. dan Andi karena sudah lebih pengalaman (siapa dong gurunya) memberiku kenikmatan selangit. Aahh..

Gila deh aku dan tiga anak mudamuda dan telanjang bulat semua. Sayang tidak ada kamera video waktu itu. Kuhisap kencang sampai pipiku kempot dan lidahku menyambarnyambar kepala penis di dalam dan akhirnya Herman mengangkat tinggitinggi pantatnya dan aku hampir tersedak penisnya masuk ke dalam rongga mulutku yang dalam, dan.. Srot.. srott.. Bertubitubi spermanya muncrat dan kusedot dan kutelan habis. MbakMbak, ini dia obat awet muda, rahasia lho.

Dan Andi menyedot terus klitorisku sehingga aku pun orgasme dan saking naik ke otak, mataku gelap dan aku duduk menekan vaginaku di mulut Andi sambil berputar di situ. Aku tumbang ke samping dan Andi bangun, mulutnya berbuih putih di sekitar bibirnya sehingga aku tertawa melihatnya sambil terengahengah. Dan Toni sudah ereksi lagi, Andi juga dan Herman masih mencari nafas, penisnya separuh tegang. Kuambil air di gelas dan sambil menenangkan nafas aku minum, eh lagi duduk gitu susuku sudah diremasremas lagi dan idih ini anakanak, entah tangan siapa masuk mengorekngorek vaginaku dan aku dipeluk dari belakang, siapapun aku sudah tidak perduli.

Aku menikmati mereka malam ini. Ujian biologi? Hmm aku tahu mereka hanya buat alasan saja. Telingaku dicium dan dijilat entah oleh siapa, perutku juga diciumi salah satu anak, dan aku langsung spanning

Ayo Ton, majumundur, Mbak kepit dengan tetek nih penismu, enak tidak.
Eeenakk.. Mbakk.. gumamnya bingung.

Dia dengan canggung majumundur, keringat di buah dadaku menjadi pelincinnya.

Man kamu berlutut di atas mulut Mbak dan sinikan penismu ke dalam mulut Mbak lagi, kataku.

Lalu akhirnya Andi menyemprotkan spermanya ke dalam vaginanya, dan disusul Herman sambil mengerang kuhisap teras penisnya dan muncratlah spermanya memenuhi mulutku. Toni masih terus menggesekgesek penisnya dikepit buah dadaku, lalu dia menyemprotkan spermanya sampai mengenai dagu dan muka.

Mereka lalu lemas berbaring di samping kanan dan kiriku, mereka benarbenar puas, dan ilmu mereka jadi bertambah, ilmu yang mana? Ah aku tidak perduli, pokoknya aku puas dan dapat pengalaman uang bermacammacam. Sampai sekarang aku masih membutuhkan seks terutama yang mudamuda, agar awet muda, dan aku benar bahagia menikmati semuanya ini.

Post Terkait