Cerita Dewasa

Interrogation Queen

Aku menatap pria di depanku. Teguh sekali dia tidak mau mengaku. Aku sudah berada diambang kesabaranku. Tidak tahu kah dia aku memiliki julukan ‘Ratu Interograsi’? Jika boleh, aku mau memotong jarinya satu-persatu dan memaksanya untuk mengaku.

“Tuan, saya tegaskan sekali lagi. Saya sudah kehilangan kesabaran, saya harap anda mau bekerja sama dengan kami. Sekarang, katakan siapa yang menyuruh anda memata-matai kami?” tanyaku berusaha untuk menahan emosi.

“Cuih! Tak sudi aku memberikan informasi apapun kepadamu wanita jalang!” serunya setelah meludah kewajahku. Aku mengelap ludahnya dari wajahku menggunakan sapu tangan dengan tenang, padahal aku sudah memikirkan cara agar dia mau mengaku.

“Kangin, ambil palu! Ryeowook, Leeteuk, lepaskan ikatan tangannya lalu letakan diatas meja! Tahan tangannya dengan kuat!” perintahku kepada ketiga anak buahku. Mereka langsung menurut. Seakan tahu rencanaku, tawanan kami langsung melawan.

Baca Juga: Cerita ngentot saat berteduh dengan pak dhe

“Lepaskan aku, jalang!” teriaknya. Aku menatapnya dengan tatapan tenang. Aku mengambil kacamataku lalu memakainya. Tak lama Kangin kembali membawa palu dan tangan pria itu sudah ada diatas meja.

“Siap-siap untuk merekam. Aku menyukai teknik penyiksaan ini!” bisikku kepada Kangin saat dia memberikan palu padaku.

“Baik, nona.” jawab Kangin lalu membuka handycamnya dan mengarahkan handycam itu kearah kami.

“Baik tuan Jack, kamu tahu berapa berat palu ini? Beratnya tidak kurang dari 1 kg. Sebaiknya anda bekerja sama jika tidak mau palu ini menyentuh jari-jari anda!” ancamku.

“Tidak akan kuberikan informasi apapun!” serunya seakan lampu hijau di kepalaku. Aku langsung tersenyum.

“Jari telunjukmu mengerikan sekali, nak, kukunya tidak pernah dibersihkan. Hitam dan kotor!” seruku seakan seorang guru. “Ini harus diberi hukuman!” aku mengangkat kedua tanganku yang memegang palu tinggi-tinggi dan menghempaskannya tepat kearah jari telunjuk tangan kanannya sehingga kukunya lepas dari dagingnya dan darah muncat kemana-mana. Dia menjerit. “Siapa!” teriakku tepat di depan wajahnya.

“Tidak, aku tidak tahu! Aku bersumpah, aku tidak tahu! Aku hanya diberi tugas oleh seseorang melalui internet! Dia mengiming-imingiku dengan uang yang sangat banyak sehingga aku menerimanya! Kumohon ampuni aku!” serunya. Aku tidak puas, dia pasti berbohong.

“Anak baik tidak boleh berbohong!” ucapku sambil tersenyum setan kearahnya. “Pembohong harus diberi hukuman!” tanganku mengayun keatas dan kuhempaskan kembali kebawah, tepat kejari manis tangan kanannya. Dia menjerit histeris melihat jari manisnya sudah hancur. “Kau tidak bisa memakai cincin nikah, sayang!” ucapku sambil tersenyum.

“Baik, baik aku mengaku! Namanya Louis! Louis de’Houstan! Dia bos kami yang mengatur semuanya! Dia juga bekerja sama dengan perusahaan ini! Dia ingin merebut posisi tuan Siwon! Kumohon lepaskan aku!” teriaknya panik. Aku menatapnya.

“Dimana dia? Dimana Louis?” tanyaku. Dia tampak ragu untuk membeberkan informasi yang ingin aku ketahui ini. Aku melayangkan tanganku keatas sekali lagi.

“Aku tidak tahu. Dia hanya mengirimi tugas lewat pesan singkat! Aku bersumpah!” teriaknya sebelum tanganku mengayunkan palu ini ke jarinya. Aku menggeleng.

“Kau memang tidak jera-jera ya, Jack! Nikmati hukuman untuk pembohong!” aku kembali menghempaskan palu itu ke jari tengah tangan kanannya. Dia menjerit kesakitan membuatku semakin puas.

“Arghhhh… aku tidak tahu! Kumohon aku tidak tahu! Ampuni aku, kumohon bebaskan aku!” teriaknya sambil menangis karena kesakitan.

“Begitu cengengnya, kah, kau?” aku mengangkat palu itu tinggi-tinggi. “Seorang pria tidak boleh menangis. Apalagi karena seorang wanita!” kuhempaskan palu itu tepat ke jari kelingking tangan kanannya. Dia semakin keras berteriak membuat senyumku semakin lebar.

“Belanda! Dia di Belanda! RoseMary Street No. 174!” teriaknya. Aku tersenyum.

“Apa rencananya untuk menjatuhkan Choi Corp?” tanyaku. Dia menggeleng.

“Kumohon ampuni aku! Bebaskan aku! Aku tak tahu apa-apa! Kumohon!” teriaknya sambil menangis.

Aku mengangkat palu itu setinggi-tingginya. “Kau kira aku percaya? Si ‘jalang’ ini tidak bodoh, Jack!” ucapku penuh penekanan di kata ‘jalang’ mengingat dia terus memanggilku jalang selama interogasi. Aku menghempaskan palu itu keibu jari tangan kanannya.

“Aku tidak tahu! Kumohon aku tidak tahu! Maafkan aku memanggilmu jalang! Aku tidak tahu apa-apa!” teriaknya sambil menangis.

“Aku terima permintaan maafmu. Tapi tugas, adalah tugas!” seruku sambil menghempaskan palu itu kejari manis tangan kirinya. Dia menjerit keras.

“Madre, ayúdame! Yo no soy fuerte, me duele! (Ibu, tolong aku! Aku tidak kuat, ini sakit sekali!)” ucapnya dalam bahasa Spanyol. Aku tertawa, tentu aku tahu artinya, aku menguasai berbagai bahasa.

“Su madre no está aquí, querido! (Ibumu tidak ada disini, sayang!)” balasku dalam bahasa Spanyol. Aku menghempaskan palu itu kejari telunjuk tangan kirinya. Dia menangis kesakitan.

“Louis ingin memberi racun ke dalam makan siangmu! Dia ingin membunuhmu karena dia tahu Siwon sangat menyayangimu!” jawabnya dengan suara yang serak karena terlalu banyak berteriak. “Itu saja yang kutahu! Kumohon bebaskan aku!” aku meneliti bola matanya, bohong, dia berbohong! Aku tahu itu.

“Ssttt… jangan berteriak! Lihat, suaramu jadi serak!” ucapku. “Kau berpotensi menjadi aktor sayang! Kau hampir membuatku yakin bahwa kau tidak tahu apa-apa. Sayangnya, matamu tidak bisa berbohong!” aku mengangkat palu itu dan menghempaskannya keibu jari tangan kirinya. Dia menangis dan menjerit minta ampun sementara aku hanya tersenyum.

“Ampuni aku! Aku mohon bebaskan aku! Aku mohon bebaskan aku! Aku mohon ampuni aku!” dia meminta ampun padaku.

“Aku tidak minta permintaan ampunmu! Aku minta jawabanmu!” tegasku. Aku mengayunkan palu itu mehempas palu itu ke jari tengah tangan kirinya. Dia seperti sudah kehilangan suaranya. Tidak ada suara yang kudengar. Hanya ringisan.

“Dia ingin meracuni makan siangmu dan tuan Choi, mencuri berkas-berkas tuan Choi. Dia punya banyak mata-matanya disini.” jelasnya sambil tersendat.

“Siapa mata-matanya?” tanyaku. “Kau tak mau kehilangan jari terakhirmu kan?” aku meletakan palu ku diatas kelingking tangan kirinya.

 

“Aku tidak tau.” dia menjawab dengan suara yang tinggal sedikit. Aku menggeleng dan mengangkat palu itu dan menghantamkan palu ku ke jari kelingking tangan kirinya. Dia menangis dan berteriak lalu membaringkan kepalanya keatas meja. “Yang aku tahu, manajer Song, Song Minji dan sekertarisnya, Lee Nara.”

“Anak baik.” aku mengelus kepalanya. “Singkirkan dia!” pintaku kearah kedua anak buahku yang memegangi tangannya.

Mereka mengangkat badannya. Begitu dia berbalik, aku mengangkat tanganku yang menggenggam pistol dan menembak kepalanya, tepat dibagian tengkorak.

“Huh, menyusahkan! Singkirkan mayatnya!” ucapku kesal sambil melepas kacamataku. Ketiga anak buahku tertawa bersama.

“Kau mengerikan, Interrogation Queen!” ucap Kangin sambil tertawa. Ya, akulah Interrogation Queen.

Post Terkait