cerita dewasa

Gadis Kecilku

Nama ku Anton Aku AKan bercerita tentang pertama kali aku bersetubuh Cerita Ini Terjadi Tahun 2009 dan berawal ketika Sekolah kami Ikut Sebuah Perlombaan LKTI.

Pertama melihatnya, hatiku seperti hilang setengah. Energiku down sampai 20 persen hingga aku harus bertumpu di kursi. Tatapanku menghujam tepat di matanya yg menatapku. Lalu tatapanku berpendar ke seluruh permukaan wajahnya. Tak terkata betapa memikatnya Tuhan menciptakan gadis kecil ini. Ibarat hasil maha karya sempurna yg tak ternilai. Mungkin yg dapat kugambarkan hanya warna pipinya yg putih dengan semburat rona ungu dan bibirnya yg merah bak jambu air yg menantang untuk digigit.

Aku dibebani tugas menjadi ketua panitia penyambutan siswa baru. Padahal aku baru juga naik ke kelas dua. Seandainya dapat memilih, aku memilih tdk ingin jadi panitia apapun.Aku lebih suka memanfaatkan waktu luang untuk mengurus kebun Jeruk peninggalan ayah yg tdk seberapa. Lumayan untuk tabungan dan keseharianku dengan Mama.

Tapi tugas adalah tanggung jawab, apalagi ini dengan Suruhan Kepala Sekolah. Repotlah aku mengurusi ratusan anakanak yg baru melepas Menyelesaikan SLTP. Dan saat itulah dia datang!Melihatnya, aku seperti melihat sesuatu yg seperti milikku. Seandainya dia sebuah mainan, maka aku sangat ingin memilikinya. Andai dia permen, maka aku ingin mengemutnya. Atau misalnya dia boneka, maka aku ingin memeluknya. Atau mungkin dia aroma udara, maka aku ingin menghirupnya dalamdalam hingga dia tinggal sepenuhnya dalam diriku.

Baca Juga: Cerita Sex Kurenggut Prawan Nya Waktu Kuliah

Tapi keinginan itu tinggal keinginan. Dia seperti bulan yg mustahil kuraih. Temanteman mengakui aku menarik. Tapi semua itu hampir tdk ada artinya dibanding dia. Dia cantik lahir bathin, kaya dan putri tunggal Seorang Pengusaha kaya raya, serta cerdas. Kecerdasannya dapat dilihat saat setahun kemudian kami samasama masuk final Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional wilayah timur.Masuk final berarti kami akan melakukan perjalanan dan harus menginap sedikitnya dua malam untuk masingmasing dua kali persentase.

Di hotel, kami mengambil dua kamar. Satu untukku dan Pak amin, satunya lagi untuk ibu ana dan dia. Lucunya, ternyata dua official kami, Pak amin dan Bu ana sementara dalam proses saling mendekat.Melewati dua hari yg melelahkan, kami memutuskan menambah waktu dua hari untuk menunggu pengumuman hasil. Mungkin juga menjaga jangan sampai ada pemberitahuan berikut.

Tapi menambah waktu berarti ada waktu jalanjalan. Lalu siang jam satu, official kami mengajak nonton . Tapi kurasa itu hanya basabasi. Aku menolak dan lebih memilih jalan dengan eka (nama gadis itu) lihatlihat buku di sebuah perpustakaan. eka sepakat, tapi setelah mereka berangkat,tanpa aku izin eka malah masuk ke kamarku.

Aku mau tidur di sini, ucapnya ringan.
Cewe masuk kamar cowo nggak baik dilihat orang, celetukku asal.

Ia tdk menjawab. Malah mengunci pintu dan memasukkan anak kunci ke sakunya. Tubuhnya dihempaskan ke kasur. Nampaknya dia betulbetul ingin tidur.Tdk lama dia pulas dengan irama napas yg teratur. Wah, tidur kok di sini, pikirku. Dia juga kan punya kamar. Kalau begini, aku tdk bisa keluar. Aku tdk mungkin mengambil anak kunci di sakunya. Apalagi di saku depan. Memikirkannya saja sudah tdk mungkin. Menunggu setengah jam lebih, aku terasa ngantuk. Mungkin kami memang butuh istirahat setelah dua hari memforsir tenaga dan pikiran.

Hatihati aku berbaring di sebelahnya setelah sebelumnya memasang guling sebagai pembatas. Rasanya degdegan juga tidur di sebelah gadis yg telah lama memikat hatiku ini. Tapi perasaan ingin memilikinya telah lama kukubur. Mungkin itu yg membuatku cepat terlelap.Aku terbangun setelah merasa pipiku hangat dan pinggangku terbebani sesuatu. Aku kaget bukan kepalang menyadari pipi Eka yg menghangatkan pipiku. Seperti mimpi, tapi ini nyata. Terasa betul napasnya hangat. Di bawah, betisnya melingkari pinggangku. Pangkal pahanya bersandar tepat di pinggang sebelah kiri. Hangat.Aku grogi bukan main.

Seumurumur, baru ini pipiku berdekatan dengan pipi cewek. Badanku rasanya bergetar. Mungkin kalau cewek lain, aku masih bisa tenang. Tapi ini, Eka! Gadis yg aku dambakan. Tak bisa berbuat lain, aku diam saja. Tapi menghayati kediaman dalam suasana begitu, menimbulkan perasaan intim di hatiku. Tdk mampu kutahan, tanganku bergerak membelai rambutnya yg hitam lebat dan beraroma.Aromanya! Ah, ini menyebabkan aliran darahku mengalir deras dan berpusat di tengah tubuhku. Ada yg tegang di antara degup jantung yg cepat.

Aku mulai mengerti diriku saat lengan Eka tibatiba mendekap lebih erat. Ia menyeruakkan kepalanya di leherku. Kulirik matanya, kelopaknya tertutup. Ia tetap tidur.Lamatlamat kupikir, boneka yg kudamba itu kini dapat kupeluk dan aroma udara itu kini dapat kuhirup! Sekilas peringatan bahwa ini bukan sewajarnya, aku langsung menarik tangan. Saat itu juga kelopak mata Ika berkerjapkerjap membuka. Ekspresi pertamanya adalah bingung. Serta merta dia menarik diri. Mungkin sadar kalau dia yg mendekapku, dia mendesah lirih dengan wajah memerah.

Maaf Kak. Eka kira Mama.Tadinya aku ingin minta maaf. Tapi melihat ekspresinya, aku jadi ingin mencubitnya. Tapi aku tdk berani.

Aku malah tertawa sampai badanku terguncangguncang.

Puas ya, bikin orang kayak guling, candaku.
Ih, Kakak! teriaknya tertahan.

Lalu tanpa kuduga dia kembali mendekapku dan menyembunyikan wajah di leherku, sementara kakinya disusupkan di antara kakiku yg miring. Aku kegelian. Tapi satu yg tdk kuperhatikan dari tadi adalah sesuatu yg empuk menyentuh dadaku. Dua bukit kembar itu terasa betul. Kedekatan yg hampir menyatu ini betulbetul membolakbalikkan pikiranku. Darahku yg tadi mengalir deras, kini tambah deras. Aku diam menikmati sensasi baru itu.mataku menangkap gerak jam dinding. Jam dua lewat empat menit. Hmm, mereka pasti pulang sore atau malah malam, pikirku mengingat dua official kami. Tdk mungkin dua orang yg lagi kasmaran itu hanya nonton saja. Paling disambung JJS (JalanJalan Sore) .

Sementara berpikir, tanpa kusadari tanganku bergerak memeluk pinggang eka. Tubuhnya seperti mau hilang dan menyatu dengan tubuhku. Aku memang lebih tinggi. Dikeloni begitu, eka malah tambah merapatkan tubuhnya.

Hihihi, ah, aku kegelian merasa hembusan napasnya di leherku. Bulu romaku merinding.
Geli, ah ringisku sambil mengubah letak kepalanya.

Tapi jariku tdk sengaja malah menyentuh bibirnya.Spontan dia menengadah dengan mata berkerjapkerjap indah. Sungguh, caranya menatap dari jarak sepuluh senti itu membuatku ingin menyentuh bibirnya lagi. Tapi tatapan jernihnya sangat polos dan mengundang perasaan sayang.Perlahan gelora dalam tubuhku berkurang. Tinggal degup jantungku yg malah bertambah. Rasanya aku seperti sedang memandang seorang adik yg hanya untuk disayang.

Sedikit beda barangkali, karena ada juga perasaan ingin menyentuhnya lebih dalam.eka masih menatapku saat jariku bergerak menyentuh bibir mungilnya. Kubelai pelan kelopak yg mengatup itu penuh perasaan. Lembut, kenyal dan agak lembab. Bibir yg sempurna, bisikku dalam hati. Tiga kali kuusapusap ke kiri dan kanan hingga sesekali tersibak, Ika menggeser naik badannya hingga wajah kami hampir sejajar. Lagilagi kurasakan dadanya menekan erat di dadaku. Kembali getaran aneh menyelimutiku. Kulirik dadanya, ia ikut melirik dan mendapati kancing kemeja atasnya terlepas. cerita sex

Eh..? dia tersentak.

Ternyata kancingnya tanggal. Kembali aku terguncang oleh tawaku sendiri. Wajahnya memberenggut kesal. Dia membalik badan membelakangiku.

Peluk Eka dong Kak, pintanya sambil meraih lenganku melingkari lehernya.
Ika enak tidur kalau dipeluk begini, sambungnya.

Wah! Dipeluk? Aku gregetan bukan main. Tadi saja sudah bikin gemetar, padahal tdk sengaja. Lha, ini?

Kamu sering dipeluk begini? tanyaku, terlepas begitu saja.Diamdiam ada perasaan lain di hatiku.

Seperti tdk rela dia dipeluk orang lain. Hmm, rasa cemburukah ini?

Iya, tapi sama Mama aja. Papa ngomelngomel kalau Eka minta dikelonin ama dia. Heran, Papa kok gitu ya?
Ya, tentu aja, ringisku, tapi hanya dalam hati.

Ini anak polos amat, sih? gerutuku. Hampir 16 tahun masih bloon. Mungkin dia belum banyak tahu seperti aku yg juga masih hijau.

Kakak belum pernah dengar kamu pacaran, ka? tanyaku mengikuti caranya menyebut diriku kakak.

Tanganku menyentuh pipinya. Uh, halus dan nyaman sekali!

Bakal ada perang dunia kalau Papa dengar Eka pacaran. Makanya Eka nggak mau pacaran. Lagian, perasaan, Eka belum butuh tuh. Kalau Uffhhh Eka meniup tanganku yg turun ke bibirnya.

Tanganku disorong ke bawah, tapi justru menyentuh bukit kembarnya yg empuk.

Eh?! spontan ia memekik pelan. Tubuhnya dihadapkan ke badanku.
Kak. bisiknya dengan tatapan menghujam mataku.
Kok eka merinding ya?
Merinding?
Iya. Tuh, lihat..! dia menyodorkan lengannya.
Waktu dada Eka kesentuh tadi, badan aKU seperti kena stroom. Kenapa ya?
Masak sih?
Iya. Coba, satu kali lagi.Wah! Menyentuh dadanya? Ini sih bahaya! Tapi aku tdk dapat berpikir lagi.

Tangan kananku bergerak menyentuh gundukan padat berukuran standar yg masih terbungkus itu. Tapi yg kurasa tdk seberapa kecuali bukit berlekuk. Coba kutekan sedikit. Hm, kenyal sekali.

Tuh, lihat. Merinding kan? Eka menatapku.
Tapi menyenangkan,.Dia mengetatkan pelukannya hingga pipi kami bersentuhan lagi.

Sepertinya dia merasakan getar kewanitaannya dan ingin menikmatinya. Bukit dadanya ditekan kuat ke dadaku. Terdengar suara napasnya agak memburu. Tapi itu bukan hanya napasnya. Napasku juga menjadi p seperti kekurangan oksigen.kusadari kalau sesuatu di bawah perutku menegang dan terasa sakit karena terkungkung celana. Aku menarik badan sedikit dan memperbaiki posisi. Eka memperhatikan wajahku yg meringis.

Kenapa Kak?
Nggak. Cuma bikin nyaman aja, elakku.

Aku tdk mau dia tahu kalau aku sedang tegang.

Kamu pernah dicium, ka?
Udah. Sering, malah. Di pipi. Eh, Eka pernah lihat orang ciuman di bibir. ani juga ama nila pernah begitu. Enak, kali ya?
Nggak tau. Nggak pernah, sih. Aku tersenyum kecut.
Mau coba? tanyaku, asal.

Entah dari mana ide konyol itu.eka berpikir sesaat lalu mengangguk. Wah, busyet! Kulirik matanya menutup. bagaimana cara orang berciuman. Baygan film Porno. Akhirnya aku berimprovisasi membaygkan seandainya posisiku berada di posisinya, kirakira apa yg menyenangkan?Mungkin merasa kelamaan, mata Eka membuka lagi. Saat menutup kembali, kelopak matanya itu yg kukecup pertama baru kemudian mencari bibirnya. Terasa napasnya menghantam leherku. Lengannya menekan erat lenganku.

Asyik juga, pengalaman mendebarkan nih, pikirku sesaat.Dua kelopak bibirnya ingin kuemut sekaligus. Tapi tdk. Pertama menelusuri kelopak atas dan kelopak bawah dengan lidahku, sekedar membasahi. Setelah menempel hangat dengan bibirku, baru aku menyibaknya. Lidahku sedikit masuk dan menggigitgigit pelan sambil sesekali menghisapnya. Bibir Eka yg tipis penuh dan lembut itu terasa segar dan manis. Eka sepertinya cepat paham. Ia melakukan apa yg kulakukan. Tapi posisi miring membuatku kram.

Setelah melepas lenganku dari bawah tengkuknya, aku menggerakkan badan ke atasnya, tapi tetap masih miring. Bukannya membantu, dia malah mendorong tubuhku dan menarik diri agak jauh. Ia bangkit tersenyum sambil berkerjapkerjap indah.

Ternyata rasanya seperti itu ya..? ucapnya tanpa memandangku.

Tatapannya menerawang seperti kembali menghayati apa yg baru dirasakannya. Suasana itu membuatku diam. Aku merasa bagai dalam mimpi. Sungguh, ini pengalaman pertama yg takkan pernah kulupa, sampai kapan pun.

Apa yg kamu pikirkan, Kak? suara Eka terdengar normal.

Melihat caranya menatapku, aku sadar kalau seluruh hatiku sudah menjadi miliknya. Aku mencintaimu Eka, batinku.

Kamu cantik, elakku, bernada canda.
MhuummmTok! Tok! Tok!Eh?! Refleks kami menoleh ke pintu.

Janganjangan mereka, wah! Dengan anggukan, Eka mengerti aku menyuruhnya membuka pintu sementara aku merapikan bantal dan sprei yg kusut.Syukur! Ternyata resepsionis hotel. Lakilaki setengah baya itu tersenyum melihat baju kami yg kusut. Tapi dia tdk perlu curiga berlebihan. Aku yakin dia pasti tdk akan berprasangka kami berbuat yg anehaneh.

Ada telepon dari official kalian, ucapnya santai.
Mereka akan pulang malam. Sekitar jam sembilan atau jam sepuluh lah.Aku mengangguk sebelum ia menarik daun pintu.

Eka hanya menggerendelnya. Aku tdk tahu apa yg ada di pikirannya. Hampir setengah empat, sekarang. Di pinggir jendela aku menemukan kesadaranku kembali dengan utuh, merasa apa yg baru saja terjadi adalah sebuah kesalahan.

Tdk baik kita berduaan di kamar begini. ucapku tanpa berani memandangnya.

Tapi aku merasa yakin Eka memperhatikanku. Dia mendekat dan menatap persis di depan mataku. Kulihat ada kabut di pandangannya, tapi dalam waktu singkat berubah penuh bintang. Lenganku ditarik dan kami duduk di tepi tempat tidur. Apa lagi nih, tanyaku dalam hati. Tapi dia hanya tersenyumsenyum dalam sekian detik.

Eka merasa punya seorang Kakak, sekarang. Mmm Kakak kandung, maksud Eka ucapnya bergetar.

Aku ingat dia anak tunggal. Tapi jadi kakak kandung? Tunggu dulu!

Mau kan, Kak?
Apa kewajibannya?
Kewajiban? Yeee Eka menggelitikku.

Tdk tahan, aku balik menggelitiknya. Jadinya tempat tidur berantakan.Kami bermain seperti anak kecil. Sekali waktu dia menindihku, sekali waktu aku yg menindihnya. Kecapekan, Eka merebahkan tubuhnya di dadaku. Wajah kami sedemikian dekat hingga hembusan napas kami bertabrakan. Seperti menghadapi kaca kristal yg rapuh, jemariku bergerak hatihati merapikan anakanakan rambut di keningnya yg berkeringat kecil.

Kewajiban kakak yaa keloni Eka begini. ucapnya tibatiba.

Senyum tipisnya seperti penuh harap. Aku jadi ingat sesuatu.

Munurutmu kita bisa menang?Eka mengerutkan kening.
Nggak tau. Eka nggak yakin sih. Tapi Eka nggak nyesel ikut ini. Kan malah dapat Kakak, hi
Rival kita beratberat. Kakak juga nggak yakin. Aku ikut pesimis.

Sebuah pikiran konyol melintas. Dua tanganku turun ke bawah sikunya hingga menyentuh bukit kembarnya dari sisi luar. Eka menatapku tajam.

ka.., Kakak juga gemetar menyentuh ini, bisikku hampir tdk kedengaran.

Aku ingat dia tadi bilang merinding, entah kalau kali ini. Dia menggeser tubuhnya, berbaring di sebelahku. Lengan kiriku terhimpit tepat di dada kanannya. Khawatir dia tdk nyaman, kutarik lenganku. Tatapannya kali ini tdk terfokus. Masih penasaran, tangan kananku menyentuh dada kirinya yg membusung. Agak grogi, tapi aku menguatkan hati. Eka diam saja. Aku coba mengelus bukit kecil yg masih terbungkus itu. Tapi dia bangkit duduk.

Eka lepas Bajunya iya? Eka pengen tau bagaimana rasanya. Tanpa tahu harus menjawab apa, kubiarkan dia melepas kancing kemejanya satu persatu.

Jantungku berdegup kencang melihat pemandangan indah kulit putih Eka yg terbuka perlahan. Dadanya masih terbalut bra putih, tapi itu cukup membuat adek kecilku terbangun. Ia melempar kemejanya ke kursi lalu kembali rebah di sampingku. Matanya berbinarbinar. Karena rasa penasaran? Ah, aku tdk punya waktu memikirkan perasaannya. Aku sendiri sibuk menata perasaannku yg bergolak.

Tanganku bergerak tanpa terencana mengelus lehernya. Ika membalas dengan menekan punggungku. Mungkin itu tanda dia terpengaruh. Ada urat kecil yg berdenyut cepat di lehernya. Matanya menutup membuka dengan ritme tdk teratur begitu tanganku mulai turun. Aku memperhatikan dada putihnya yg seperti membesar dan keras. Daerah itu kubelai sekelilingnya. Gerakan ini membuat tekanan di punggungku makin kuat. Perlahan tapi pasti, jariku menelusup ke balik branya. Dia melenguh tertahan. Tangannya pindah memeluk leherku. Kakinya juga bergerak menyilang saling himpit. Tdk dapat menahan diri, branya kugeser naik.

Ah, bukit kembar putih seperti salak terkupas kulitnya itu amat memikat. Seperti inikah dada seorang gadis? desahku dalam hati.Tibatiba Ika bergerak. Tangannya menutup dua bukit kembarnya.Risih dilihatlihat, ringisnya, tapi lebih mirip senyum.Kususupkan tanganku ke belakang tubuhnya dan melepas pengait bra. Kulepas hatihati, berharap dia tdk melarang. Eka menatap tajam begitu kuraih tangannya ke leherku. Kini dari pinggang ke atas, tubuhnya terbuka. Dalam keadaan begitu, Eka lebih mirip bayi cantik yg menggemaskan.

Dia memperhatikanku melepas kaosku sendiri. Kami sudah samasama tdk berpenutup dada saat aku setengah telungkup di atas tubuhnya.Kembali kukecup dua kelopak matanya yg segera menutup. Turun ke hidung hingga akhirnya menempel di bibirnya. Dalam posisi begitu, dadanya yg berukuran standar itu menempel lekat di dadaku. Sambil menyibak dan menggigitgigit kecil bibirnnya, kugoyg pelan dadaku hingga bukit kembarnya juga ikut terbawa.Kecupanku turun ke leher. Turun lagi dan akhirnya bibirku bermainmain di sekeliling gundukan dadanya. Belahan dada Eka memiliki aroma yg khas.

Di situ kubenamkan wajahku dan menghirupnya dalamdalam seolah ingin memindahkan seluruh aroma itu ke dadaku. Pipiku jadi terhimpit dua gundukan halus itu. Begitu lidahku bermainmain di puting susunya yg berwarna ungu kecoklatan dan tegang, dua tangan Eka menekan kepalaku seperti melarangku berhenti. Lenguhannya terdengar lagi, panjang pendek. Dua puting itu basah oleh lidahku.Saat puting susunya kuemut sambil sesekali mengisap dan menggigitnya pelan, tanganku memilin, mengusap dan menariknarik pelan puting yg satunya. K

ali ini lenguhan Eka agak keras dan tekanan tangannya juga menguat.Semenit kemudian, tanganku bergerak ke bawah sementara lidahku tetap di atas. Jari kananku berputarputar dan mencucukcucuk pusarnya. Di situ Ika menggeliatgeliat dan merintih. Tanganku terus ke bawah, menarik reslueting turun. Sesaat ia tegang, tapi akhirnya pahanya membuka memudahkanku menurunkan resluiting. Ikat pinggangnya gampang dilepas hingga dengan cepat telapak tanganku kemudian mendarat penuh di antara pahanya yg membusung. Daerah yg terbungkus CD itu terasa hangat.

Aneh, pikirku. Kok, panas?Aku tdk berniat melepas celana panjang dan CDnya. Telapak tanganku menempel lama di situ, merasakan kehangatan yg empuk dan ajaib itu. Tubuh Eka meliukliuk kusentuh di dua tempat begitu. Dia berusaha menahan rintihannya, tapi sesekali terlepas juga. Ekor mataku melihat dia berusaha membasahi bibir dengan lidahnya. Seperti kehausan.Tdk cukup, telapak tanganku kutekan ke dalam hingga daerah yg gemuk itu seperti melebar, lalu jari tengahku membuat gerakan menggaris, ke atas ke bawah.

Aku tahu, tepat di tengah gundukan hangat itu ada lekuk belahan memanjang. Lamalama CD di lekukan itu basah dan agak lengket. Rintihan Eka mulai bergelombang. Daerah pusarnya juga turun naik seperti ombak. Napasnya mulai megapmegap.Sambil tanganku terus melakukan gerakan turun naik dan sesekali mengilik bagian atas yg ada klentitnya. Pilinan, gigitan dan sedotanku pada puting susunya juga kuperkuat. Rasanya aku tdk habis pikir kenapa semua itu kulakukan. Mungkin pengaruh bacaan dan film yg pernah kutonton.Sedikit kesadaran menghampiriku. Tapi itu sudah cukup untuk membuatku berhenti.

Tubuhku kutarik ke atas dan mengecup keningnya tulus. Geliatnya juga berhenti dan kelopak matanya membuka. Aku merasa dia penasaran. Tapi aku jadi kasihan. Rasa sayangku melebihi gairahku saat itu. Kulihat di keningnya ada bintikbintik keringat. Ah ka, desahku dalam hati. Aku mencintaimu, tapi kenapa aku melakukan ini padamu? Penuh rasa penyesalan, aku membaringkan tubuh di sampingnya. Lama kami terdiam dengan tatapan ke langitlangit kamar.

Eka gemetaran Kak. bisiknya parau.

Tanganku bergerak ke bawah menaikkan celana dan CDnya.

Maafkan aku, ka. bisikku pelan di telinganya.

Ia menengadah dan kudapati matanya berlinang.

Eka berharap jadi adikmu Kak, jawabnya, juga pelan.
Mestinya Eka tadi tdk buka baju. Jadinya begini deh. dia meringis kecut.
Kakak juga nggak bisa tahan diri. Penasaran, sih.
Kakak pernah begini?Aku menggeleng keras.
Cuma pernah lihat di film aja. Pernah juga baca novelnya. Jadinya ya, pengen rasa betulan, hihi.
Sama seperti tadi? dia mendelik nakal.

Cepatcepat kuraih bra dan kemeja lalu mengancingnya. Geloraku naik lagi begitu menyentuh dadanya kembali. Tapi aku menguatkan diri untuk tdk terpengaruh. Eka tersenyumsenyum menatapku.

Eka tadi cuma pengen buka baju aja. Kalau Kakak terus ke bawah, Eka akan larang. Tapi kok Eka nggak mampu larang ya? Rasanya ka keenakan. Pengen terus.
Itu bahaya banget, ka.
Kok, Kakak bisa nahan diri ya?Aku tertegun. Iya ya? ulangku dalam hati.
Mungkin aku ingat kamu akan jadi adikku.Aku mencium keningnya, lagi.
Kalau Papamu tau, bukan cuma perang dunia yg terjadi. , malah.Eka meringis.

Dia meraih kaosku dan memakaikan ke tubuhku. Tangannya sempat mencubit putingku yg dilingkari bulubulu halus. Aku memekik kecil lalu mendorongnya. Kulumat sekali lagi bibirnya sebelum akhirnya melompat turun.

Jam empat, ka. Mandi yuk..!
Kakak duluan gih. eka nyusul. Beresin sprei dulu.Kamar mandi kututup tapi tdk kukunci.

Aku yakin eka menyusul. Aku juga yakin dapat menahan diri menghadapinya. Kubuka pakaian dan menyisakan CD. Tdk biasanya aku mandi begitu. Tapi aku risih kalau polos di depannya. Eka menyusul dengan lipatan handuk dan beberapa potong pakaian. Cepatcepat aku masuk bathtub. eka juga menyisakan CDnya dan masuk. Aku menelan ludah melihatnya.

Tubuhmu indah ka, sambutku meraih pinggang dan menuntunnya duduk membelakangiku.
Kamu juga atletis, Kak.Aku menyiram dan mulai menyabuninya. Menyentuh daerah dadanya, Eka rebah di dadaku.
Ihhh..! tibatiba ia memekik.

Tangannya mencaricari bagian bawah tubuhku. Sebelum kusadari, ia sudah memegang daerah rahasiaku dan menggenggamnya.

Jangan..! sentakku panik.
Bahaya ka.
Hihihi. Besar, ya ia terkikik dengan wajah merah melepas genggamannya.
Tegang, ya..?Aku tahu dia penasaran.

Tapi ia tdk boleh kubiarkan. Bisabisa aku tdk mampu menahan diri.Melampiaskan rasa penasarannya, dia berbalik menunduk di dadaku dan mengecup kuat hingga membekaskan tanda merah. Sesaat aku tergetar. Kususupkan kepalaku ke dadanya dan balas mengecup satu setengah senti dari putingnya. Eka menggeliatgeliat. Ditekannya kepalaku kuatkuat ke dadanya. Kutau dia terangsang hebat. Timbul pikiran untuk menyusupkan tanganku ke balik CDnya. Tapi aku khawatir tdk dapat menahan diri.

Akhirnya kubalikkan lagi tubuhnya. Kusabuni seluruh tubuhnya pelan. Tanganku gemetar di pangkal paha. Cepatcepat kupindahkan ke dadanya. Daerah lembut kenyal itu kubelai sambil sesekali menekan. Eka tersenyum memeluk leherku. Kulihat dia keenakan tapi dapat bersikap wajar.Tdk puaspuasnya aku memandang dan membelai dada indahnya. Ia menyadari itu dan mengatupkan mata.

Gadis yanng sempurna, ucapku dalam hati tdk bosanbosannya.
Ika seperti mau pipis, Kak. bisiknya tibatiba.

Pinggul dan betisnya bergerakgerak, sementara lengannya erat menekan lenganku.

Eh?! Aku tertegun kaget. Mau pipis? Janganjangan dia mau orgasme.

Menurut yg kubaca, orgasme adalah puncak kenikmatan seks.Weeh, kulihat gerakan Eka semakin tdk terkendali, sementara tanganku tanpa sadar menekan dan menggoyg buah dadanya agak cepat. Dua jari telunjukku menjepit putingnya.

Aaah Emmh Kak, dia merintih membuat tanganku bergerak turun ke bawah.

Di segitiga pengamannya, telapakku menekan kuat. Itu membuatnya makin menggelinjang. Aku tambah yakin dia mau orgasme.Tangan kanannya pindah ke tepi, mencengkeram bathtub, sementara yg kiri turun menempel di tanganku yg masih menekan CDnya. Ditempeli begitu, jari tengahku kugerakkan membentuk garis ke atas dan ke bawah. Tangannya juga ikut terbawa. Ah, rintihan dan geliat tubuhnya mempengaruhi adek kecilku yg terbawa gerakan pinggulnya. Rasanya seperti mau pipis juga.

Hey, seperti inikah rasanya kalau mau orgasme? Saya sudah berulangulang orgasme lewat mimpi. Tapi nyatanyata seperti ini adalah hal baru. Jadi ini adalah pengalaman pertama.Kulihat kening Eka berkerut dengan kepala yg bergoyg gelisah ke kiri dan kanan. Tangannya yg menempeli tanganku kunaikkan ke dada yg satunya, lalu kembali ke bawah. Dengan kebebasan begitu, jari tengahku kugerakkan makin cepat dengan tekanan yg lebih kuat. Tangan yg di dada juga bergerak meremas memilin makin gemas.

Gerakan Eka tambah liar di antara rintihannya yg tertahantahan. Aku juga merasa di tengah tubuhku seperti ingin melepas sesuatu yg mendesakdesak. Tubuhku terasa bergetar, entah karena getaran tubuhku atau getaran tubuh Eka.

Emh Mhhh Mhhh Kaak..!
Yaa Emhh Emhhh.. rintihan Eka menulariku.

Keringat keluar deras di keningnya dan keningku. Matanya tertutup rapat dengan hidung kembang kempis dan napas megapmegap. Aku merasa tdk jauh beda dengannya.Tibatiba di tengah gerak tanganku yg turun naik, Eka mencengkeram kuat tanganku di bagian atas CDnya. Kupikir itu daerah klitnya, sebab terasa ada tonjolan kecil seperti butir jagung, tapi lebih kecil lagi. Kupaksakan turun agak ke bawah dan menekan kuat di situ. Gerakan tubuh Eka membuatku terangsang hebat.

Tibatiba tangan kiriku mencengkeram dan meremas kuat bukit dadanya, sementara jari tengahku tertekan kuat di belahan paling bawah CDnya. Aku menggeletar hebat dipengaruhi sesuatu yg menderu deras di adek kecilku.Aliran deras itu mendesak kuat dan jebol! Aku megapmegap ingin berontak. Gerakan itu menyebabkan jariku tegang dan menusuk kuat hingga masuk hampir setengahnya bersama CD Eka. Saat itu juga Ika memekik gemetar dan menggelepargelepar. Rupanya dia tiba di puncak menyusulku.

I.. ka.a. ka pipis Kaak..! Ah ah aahh..!Tanganku seperti mau patah dicengkeramnya.

Di antara sisasisa orgasmeku, aku merasa jari tengahku panas dijepit kuat oleh belahan agak bawah di antara pahanya. Ada kedutan yg keras. Sungguh kuat dan menjepit. Lamalama kian melemah.Eka dan aku samasama terkulai lemas. Kami menentramkan perasaan dan mengatur napas yg masih memburu. Tiga menit kemudian, Eka berbalik memelukku, menelusupkan kepalanya di leherku.

Eka lemas, Kak. bisiknya lemah.

Aku menggigitgigit bahunya pelan. Coba mereplay perasaan yg kurasakan. Ajaib nan nikmat.

Ika seperti terbang, bisiknya lagi.
Enak banget.Aku terdiam.

Eka mungkin tdk tahu kalau aku juga mencapai klimaks. Mungkin karena pengaruh geliat tubuh dan rintihannya. Atau mungkin karena sudah tegang sejak beberapa jam lalu. Atau karena yg kuhadapi adalah Eka, gadis yg telah lama memikatku ini. Atau mungkin karena ketigatiganya.Eka menggeliat linglung, melepaskan diri dari dekapanku. Aku ikut bangkit. Kuraih dan mendekap tubuhnya di bawah shower yg mengguyur kami.Jam lima sore di teras, kulihat mata Eka yg malumalu seperti dipenuhi bintang. Dengan rambut masih agak basah begini dia kelihatan lebih cantik. Duduk bersisian begitu, membuat beberapa tamu hotel mencuricuri pandang ke arah kami.

Aku senyumsenyum bingung, tdk tahu persis apa yg ada di benakku. Di sisi lain aku bahagia, di sisi lain aku merasa malu dengan perasaan berdosa. Ah, sepertinya rasa malu lebih mendominasi perasaanku.

Kita telah melakukan kesalahan, ka.
Jangan disebutsebut lagi Kak. Eka malu.
Iya, tapi mengenai ini Kakak nggak bakal lupa.Eka tdk menjawab, hanya mencubit pahaku pelan.

Kami kembali pulang hanya dengan satu trophy. Eka meraih nomor tiga dalam LKTI itu. Aku hanya dinilai berbakat. Aku memang gagal, tapi yg kualami dengan Eka lebih bernilai daripada sebuah trophy. Kuakui itu membuatku merasa dikejarkejar perasaan malu dan berdosa, tapi di sisi lain itu adalah hal terindah sejak aku mengenal dunia.Di sekolah, kami memang akrab. Tapi tdk beda jauh dibanding harihari sekolah sebelumnya. Malah terkesan seperti tdk pernah terjadi apaapa. Padahal aku ingin sekali dapat mendekapnya lagi, walaupun hanya menghirup aromanya.

Suatu hari ia datang ke rumahku. Aku senang sekaligus bingung melihat wajahnya disaput kabut.

Papa dapat promosi Kak. Terpaksa pindah dan Eka harus ikut.Berita itu seperti memaku tubuhku ke kursi.

Aku hanya terdiam dan tertegun menatapnya. Air matanya turun dan membasahi pipi mungilnya. Khawatir kepergok Mama, aku hanya mengecup dan memeluknya singkat.Itu hari terakhir aku bertemu dia. Sampai lima bulan kami masih berkirim surat. Tapi setelah itu, setelah dia mengatakan akan dipindahkan lagi, aku dan Mama juga pindah. Pamanku di Manado yg panggil. Beliau pengusaha sukses.

Sampai aku selesai SMU, menyelesaikan diploma teknik sipilku, kerja di kontraktor tiga tahun dan kini sedang cari S1 di teknik arsitektur sebuah Universitas swasta di Ujung Pandang, aku tdk dengar lagi beritanya.

Dimanakah kau Eka?Eka, cerita ini khusus untuk kamu. Tahukah kamu bahwa aku tdk mau menjadi kakakmu? Aku ingin kamu jadi istriku! Tahukah kamu bahwa tdk ada nama gadis lain selain kamu di hatiku? Di lebaran kemarin ini, aku ingin minta maafmu atas kesalahanku waktu itu. Andai kamu sekarang sudah jadi milik orang lain, masih bolehkah kita bertemu walau hanya sekedar menatap dan mencium aroma harum rambutmu? Ah, dimanakah kau Eka sayang..?

Post Terkait