Cerita Dewasa

Dikarenakan Cinta Yang Tak Diizinkan Keluarga,Maka Kami Nekat Melakukan Seks

Arin dan Adhit adalah dua remaja yang sedang dimabuk cinta, keduanya mengagungkan kesetiaan dan ketulusan dalam mengarungi perasaan kasih sayang yang selama ini menghinggapi kedua sejoli itu. Hubungan mereka telah terjalin selama 3 bulan dan dipenuhi dengan kisah-kisah romantis yang indah.

Janji untuk saling setia dan mengasihi selamanya sampai ajal menjemputpun diucapkan.

“Rin!, Aku punya kaset CD menarik yang bercerita tentang gejolak cinta anak muda Amerika!”, Kata Adhit kepada Arin saat istirahat di sekolah.
“Wah menarik sekali! Ingin rasanya aku menonton”, respon Arin penuh antusias.
“Kalau begitu pulang sekolah kita nonton bareng di rumahku, kebetulan rumah sedang kosong, Ortu sedang ke Medan, kakakku ke Surabaya ngurus skripsinya, pembantu pulang kampung jadi aku sendirian nich!”, tawar Adhit pada gadis cantik di depannya.
“Cihuiiii!, Kita bisa bebas dong, nggak ada mata sinis atau muka cemberut dari ortumu!”, teriak Arin kegirangan.
“Jangan gitu dong!, jelek-jelek mereka orang yang memeliharaku lho”.
“Maaf deh!, maaf aku hanya bercanda”.
“Teet Teet Teettt!”
“Waduh bel masuk sudah berbunyi tuh! Yuk, kita masuk ke kelas! Oh ya, kutunggu kau di depan gerbang sekolah”.
“Muachhh!”, Adhit mencium kening Arin dengan mesra.
“Saya mencintaimu Rin!”.
“Saya juga mencintaimu Dhit!”.

Keduanyapun segera menghambur menuju kelas masing-masing.

Baca Juga: Adik Kandungku Masih SMP

Singkat cerita,

“Ayo Rin masuk, nggak usah sungkan nggak ada orang kok, anggap aja rumah sendiri”, ajak remaja tanggung yang memiliki wajah mirip Keanu Reves kepada Arin, gadis bertubuh montok berwajah cantik yang berhasil digaetnya 3 bulan lalu dengan perjuangan yang gigih.
“Aku ambil minum dulu, kamu langsung aja puter filmnya, ini CD-nya”.

Tanpa diperintah lagi Arin langsung meraih kaset CD dari tangan Adhit dan langsung memasukkannya dalam VCD Player yang ada di ruang keluarga.

“Gimana Rin filmnya, bagus nggak?”, tanya Adhit saat keluar dari dapur dengan membawa sebotol air putih beserta 2 gelas.
“Belum tahu dong, baru saja mulai”.
“Wah!, bintangnya ganteng dan cantik lho Dhit, seperti kita berdua”.
“Bisa saja kamu”.

Merekapun tampak asyik menikmati film di layar kaca 29 inci. Mereka berdua sangat mesra, mereka duduk dengan perpelukan, sesekali Adhit mencium pipi Arin yang merah dan mulus, Arinpun tak mau kalah, dia balas mencium. Siang itu agaknya dunia berpihak pada mereka. Suasana rumah yang sepi membuat mereka berdua leluasa menumpahkan kasih sayang selama ini terkekang oleh aturan orang tua. Namun canda dan tawa mereka tiba-tiba terhenti berganti dengan desahan-desahan halus dari speaker sub woofer TV, tubuh kedua remaja itu menegang, wajah mereka memerah seperti kepiting rebus, nafas mereka terdengar memburu. Tatapan mata mereka tertuju pada adegan film yang membuat jantung berdegup kencang.

Arin dan Adhit tampak menghayati permainan dua insan berlainan jenis tanpa sehelai benang pun saling berpagutan, mengulum, berciuman, menjilati kemaluan, erangan halus dan desahan nafas bintang remaja amerika itu mematri amat kuat dalam ingatan mereka berdua. Nafsu birahi dua sejoli yang sedang dilanda kasmaran merambat naik membuat keduanya menggigil menahan gejolak yang sangat kuat.

“Rin, aku mencintaimu, aku men.., men.., menyayangimu”, kata Adhit dengan suara bergetar sembari mencium tangan Arin.
“Aku jug.., juga cinta kamu Dhit”, kata Arin terbata-bata Keduanya saling berpandangan, nafsu birahi mereka mencuat dirangsang oleh tontonan yang aduhai dan memabukkan.
“Arin.., aku ingin kita bersatu jiwa dan raga”.
“Maksudmu?”.
“Aku ingin kita melakukan seperti difilm itu”.
“Maksudmu hubungan seks!” kata Arin terkejut, Adhit hanya menganggukkan kepala.
“Tidak Dhit, Kita belum meni..”

Belum selesai perkataannya, tubuh Arin menggigil hebat saat sangat Adhit merayapi buah dadanya yang telah mengeras melalui sela-sela kancing baju.

“Kau cantik Rin, aku ingin mencurahkan kasih sayangku padamu”, bisik Adhit sambil lidahnya menjilati daun telinga Arin.
“Dhit!, jang.., an Dhit jang..”.
“Tidak Rin, kau adalah milikku, kita akan bersama selamanya dan tidak akan pernah berpisah”.

Arin tak kuasa menolak ajakan bejat dari Adhit untuk melakukan hubungan badan, nafsu birahinya telah menguasai akal sehatnya. Adhit mulai melakukan serangan kepada Arin, memory gerakan yang ada difilm segera saja dipraktekkan. Adhit memagut bibir Arin dan Arinpun membalas dengan hangat, keduanya saling mengulum dan berpelukan mesra. Walau masih pelajar SMU tangan Adhit telah terampil untuk membuat rangsangan dahsyat ke tubuh Arin yang sintal dan mulus itu. Satu persatu kancing baju seragam Arin dilepasnya dan kini tampak kutang berwarna putih menyembuh keluar. Melihat kutang Arin, Adhit tak tahan lagi, dia langsung melepas kutang itu dan membenamkan wajahnya di buah dada yang ranum milik Arin. Disedot-sedotnya puting susu Arin yang kenyal.

“Ahh.., uuh.., ahh.., uuh”, Arin tampak mengerang keenakan ketika tangan kiri Adhit mulai meremas-remas buah dada Arin dan mulutnya menyedot puting susu Arin. Perlakuan itu membuat nafas gadis cantik yang masih perawan itu memburu dan tubuhnya menggelinjang tak karuan.
“Dhit.., uhh.., ugh.., ahh!”, mulut Arin menganga saat mengerang menahan hentakan nafsu dan aliran hawa aneh yang belum pernah dia rasakan selama ini.

Mendengar erangan Arin yang erotis membuat penis Adhit mengeras dan menegang. Penis yang selama ini hanya dipuaskan dengan tangan, agaknya akan menemukan lubang fantasi yang sebenarnya telah diinginkannya sejak lama. Nafasnya memburu peluh mulai bercucuran seiring dengan naiknya panas tubuh mereka. Adhit mulai menyusuri tubuh Arin yang montok, dia mengendus-endus dan mencium serta menjilati perut Arin, membuat gadis berumur 17 tahun itu kegelian dibuatnya. Rok abu-abu yang masih melekat segera dilepas Adhit dengan setengah paksa.

“Rin, kau cantik sayang, tubuhmu indah, hmm, nikmat!”, rayuan gombal Adhit membuat perasaan Arin melambung menembus awang-awang.
“Dhit.., lakukanlah!, lakukanlah!”.
“Sabar Rin, kita akan bersama-sama menjumpai kenikmatan yang maha dahsyat yang belum pernah kita rasakan.
“Agghh.., ughh.., uuh.., ahh”, tubuh Arin menggelinjang, nafasnya memburu dan dari mulutnya keluar erangan kenikmatan saat tangan nakal Adhit meremas vagina Arin yang masih tertutup celana dalam berwarna hitam.

Lelaki berumur 19 tahun itu menindih tubuh kekasihnya, ditatapnya wajah cantik dengan bibir merah merekah dengan mesra.

“Buka matamu Rin, rasakan aliran nikmat yang terus menerjang dan mendesak-desak tubuh kita”, pinta Adhit saat melihat mata Arin terpejam karena tak kuasa menahan kenikmatan yang asing dan baru pertama kali ini dia rasakan.
“Bagaimana sayang, kau bahagia?”, tanya lelaki itu sembari tersenyum romantis.
“Kau nakal Dhit?, Kau membuatku lupa diri”.
“Aku ingin membahagiakanmu Rin”.
“Uuuh.., aah.., uhh”, Arin kembali mengerang saat lehernya digigit lembut oleh Adhit.
“Rin, bantu aku membuka bajuku”.
Gadis yang telah memuncak birahinya itupun langsung membuka kancing baju pacar yang menindih tubuhnya.
“Jangan gitu dong Dhit, bajumu nggak bisa kulepas, jangan menciumi aku dulu”.
“Oh Sorry, habis kamu cantik sih”, keduanya langsung tertawa cekikikan.
“Oke, aku buka sendiri deh”, setelah berkata begitu Adhit langsung melepas baju dan celana panjang sehingga kini dia hanya memakai celana dalam saja dan tampak kepala penisnya menyembul keluar seakan mau berkata kalau dia sudah siap untuk bertugas.

Tanpa kompromi lagi, dia langsung menghujani ciuman ke leher, bibir dan buah dada Arin dengan penuh nafsu, digelutnya tubuh gadis yang membuatnya mabuk kepayang itu dengan aroma birahi. Keduanya bergulingan di lantai, mereka sudah tidak mempedulikan sekelilingnya, film dari VCD yang masih berlangsung sudah tidak menarik lagi bagi mereka, benda-benda di sekitar ruang keluaga Adhit menjadi saksi bisu bagaimana Adhit dan Arin memburu kenikmatan yang hanya diperbolehkan bagi mereka yang telah resmi menjadi suami isteri.

“Rin, Hmm”.
“Adhit.., kau hebat aku bangga padamu”.
“Auuhh.., aghh.., uhh”

Kembali Adhit menyusuri lembah-lembah misteri di tubuh Arin, dan sampailah kini dia di lembah yang paling rahasia bagi kewanitaan Arin, Vagina, kulit paha yang putih mulus membuat penis Adhit mengangguk-angguk dengan hebat, CD-nya sudah tidak sanggup menahan desakan penis yang telah membesar itu. Celana dalam Arin yang masih membungkus vagina segera dilepas Adhit dan tampaklah vagina Arin yang memancarkan cahaya birahi amat kuat, membuat Adhit kelabakan. Nafsu Adhit bertambah beringas melihat vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus, ditekuknya lutut Arin dan dibukanya paha Arin.

Adhit melihat daging merah ranum yang membuatnya menelan ludah. Tanpa ba.., bi.., Bu lagi dibenamkannya kepala Adhit diantara kedua paha Arin. Dijilatinya selakangan Arin, kemudian disedotnya bibir vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu, klitoris Arin menegang jadinya, Adhit pun tanggap bahwa Arin telah meningkat birahinya dan diapun langsung menggetarkan klitoris itu dengan telunjuk kanannya, membuat vagina Arin semakin membesar dan mengencang.

Tak lama cairan bening vagina tanpa permisi mengucur deras membasahi bulu-bulu lembut yang ada di sekeliling bibir vagina, bahkan sebagian tumpah membasahi lantai keramik ruang keluarga Adhit tempat kedua remaja itu memadu cinta. Adhit pun segera menghisap cairan itu dan menyedotnya sampai licin tandas.

“Uuuenak tenan Rin, manis, asin dan gurih”, kata Adhit, mendegar perkataan kekasihnya Arin tersenyum bangga. Adhit kembali menggetarkan klitoris Arin, diapun mengkombinasikan dengan sedotan pada puting susu Arin yang mengeras.
“Uuuh.., ughh.., aahh”, tubuh Arin menegang dan menggelinjang dengan dahsyat, kedua tangannya menjambak rambut Adhit yang sedang asyik mengulum susu putihnya.
“Dhit, masukkan penismu Dhit dalam vaginaku.., cepat Dhit.., cepat.., aku akan.., aah.., aahh.., uhh.., auughh.., auu”, erangan Arin kali ini lebih keras dari sebelumnya, tubuhnya berguncang hebat, lenguhan panjang keluar dari mulutnya. Dia orgasme! .

Setelah Arin tenang, kembali Adhit menindih tubuh Arin yang telah bugil.

“Sabar Rin, ini baru permulaan, kita akan merasakan kenikmatan yang lebih nikmat lagi”.

Diciumnya gadis yang dicintainya itu dengan kasih sayang, Arin kelihatan tampak puas setelah dia menggapai bintang-bintang lazuardi di langit kenikmatan.

“Ok Rin, sekarang gantian kau yang merangsangku”, Adhit meraih tangan Arin, diapun duduk di Sofa.
“Rin, Kamu pintar berkaroake kan?, Nah sekarang penisku kamu buat karaoke Rin, jilatilah dan kulumlah”, pinta Adhit pada Arin yang masih terlihat merem melek.

Adhit langsung melepaskan celana dalamnya sendiri dan tampaklah penis yang besar dan panjang bagaikan pisang raja sehingga membuat Arin sedikit ragu untuk mendekat.

“Jangan takut Rin, tidak apa-apa, Ini milikmu, kau berhak memiliki dan menikmati penisku Rin”, kata Adhit sambil menarik kedua tangan Arin dan dilekatkan pada penis yang kekar itu

Arin pun mulai terbiasa dan dia langsung menjilati kepala penis dengan antusias dan penuh birahi, membuat Adhit merem melek keenakan.

“Terus Rin.., teruus.., oohh.., uuhh nikmat”.

Dikulumnya Kepala penis itu dan disedotnya dengan mulut Arin yang membuat tenaga Adhit seakan-akan luluh lantak, diapun mengerang dan menggelinjang menahan birahi yang sangat dahsyat. Arin yang sudah mulai mengikuti irama seks Adhit melancarkan serangan, dia menjilati scrotum Adhit, rambut kemaluan yang lebat tak luput dari tangan terampil Arin membuat Adhit kelabakan dan ngos-ngosan.

Setelah beberapa lama Arin mengaduk-aduk dan membelai dengan sentuhan nafsu yang ganas penis Adhit, tubuh Adhit pun bergetar hebat, dia merasakan aliran aneh menyusup di sekujur tubuhnya mulai dari ubun-ubun sampai ujung kaki, tubuh Adhit berguncang dengan keras membuat sofa tempat dia duduk mengeluarkan bunyi nyaring.

“Rin.., ooghh.., ughh.., Rin.., kau.., kau”.
“Croot.., croot.., crot”, sperma Adhit menyembur ke dalam mulut Arin membuat gadis bertubuh putih mulus itu tersedak.
“Wah sperma mu banyak banget Dhit, membuat aku tersedak nih, tapi rasanya Oke punya lho, hmm aumm”, kata Arin sambil menjilati sisa sperma yang masing ada dikepala penis, disedotnya batang penis Adhit hingga cairan spermanya keluar semua dan Arin pun segera menelannya.
“Kau hebat Rin, kau cantik”, rayu Adhit di atas sofa dengan lirih sembari tangannya membelai lembut rambut gadis yang telah membuatnya orgasme.
“Kau masih kuat Rin?”.
“Tentu Dhit, kau belum memberiku kenikmatan sejati, penismu belum melaksanakan tugasnya”.
“Ohh Arin, kau benar-benar pengertian sayang”.

Adhit pun kembali memeluk Arin dan menjilati telinga kanannya hingga membuat Arin menggigit puncak Adhit karena kegelian.

“Aduh.., aduh sakit nih”.
“Habis.., kau nakal”.

Sembari duduk kedua remaja yang telah terbuai nikmatnya seks itu melakukan percumbuan tingkat tinggi, naluri seksnya sangat kuat, khayalan seks yang selama ini hanya di angan-angan saja mulai dipraktekkan, membuat permainan seks mereka sangat profesional, gerakan erotis, cara merangsang pasangan, erangan-erangan yang memabukkan mereka mainkan. Teknik-teknik yang didapat dari nonton blue film, foto erotis di internet, juga buku-buku porno, seks education membuat mereka mahir walau pertama kali mereka melakukan aktivitas seks sebenarnya.

Kembali Adhit berpagutan dengan Arin, dilumatnya bibir merah merekah milik Arin, lidahnya mulai menggelitik rongga mulut Arin, menggigit dengan lembut lidah Arin membuat gadis seksi itu semakin terbakar birahinya. Tangan nakal Adhit meremas dengan kuat buah dada yang mengeras dan menantang milik Arin, kali ini si empunya sedikit meringis kesakitan namun rasa nikmat mengalahkan rasa sakit itu, leher Arin pun tak luput mendapat gigitan lembut Adhit, Arin pun menggelinjang keenakan. Gadis yang sintal itupun tidak mau hanya pasif, dia menanggapi permainan Adhit, tangan kanan Arin mengocok penis Adhit, membuat batang penis Adhit menjadi sangat keras seperti batangan logam sedang tangan kirinya menjambak rambut Adhit sehingga membuat lelaki yang memiliki dada bidang itu kelojotan dibuatnya.

“Rin kau siap Rin, penisku akan kumasukkan dalam vagina sucimu”, bisik Adhit di telinga Arin.
“Masukkan saja Dhit, aku telah siap”, jawab Arin dengan terpejam, dia sudah terbang ke surga dunia.
“Kau tak menyesal Rin kehilangan keperawananmu?”, tanya Adhit ragu.
“Tidak Dhit, semua telah telanjur, aku sudah merasakan betapa nikmatnys seks yang membuat diriku seperti terbang di awang-awang”.
“Arin kau sungguh nekat”.
“Demi kau Dhit, Demi kita, Demi cinta kita!”, jawab Arin.
“Aku mencintaimu Rin, kita kan bersama selamanya”.
“Ahh uggh.., uuhh.., agh.., uhh.., aahh”, Arin mengerang dan tubuhnya berguncang saat Adhit mempermainkan klitorisnya dengan jari telunjuk, digetarkannya klitoris Arin lebih keras lagi.

Adhit ingin agar vagina gadis yang telah menyerahkan jiwa dan raganya itu menjadi lebih basah sehingga dengan mudah penis yang berukuran “bangkok” miliknya bisa menembus benteng kesucian Arin.

Usaha remaja itu agaknya menemukan hasil, cairan vagina Arin tumpah meluber membasahi lantai dan jari telunjuknya, kemudian dia meremas vagina itu dengan sedikit keras sehingga membuat Arin mengeluarkan lenguhan kenikmatan. Ditekuknya kaki Arin dan dibukanya paha mulusnya sehingga tampak vagina yang menganga, lubang vagina Arin bertambah besar seakan memanggil-manggil untuk segera dimasuki.

Adhit yang melihat hal itu semakin bernafsu untuk segera menuntaskan permainan, dipegangnya penis yang menjadi kebanggaannya selama ini dan dilekatkannya di mulut vagina Arin, Adhit menarik nafas dan matanya terpejam, diapun mulai mempersiapkan diri untuk menjebol keperawanan Arin dan mengakhiri masa perjakanya, dia tidak peduli apa kata orang nanti, yang dia rasakan kini adalah kenikmatan dan kenikmatan yang amat sangat yang tidak bisa dia lukiskan. Dengan pelan dan pasti penis Adhit mulai menusuk daging merah ranum milik Arin yang telah menanti untuk dikunjungi.

“Aduh sakit Dhit.., sakit!”, rintih Arin kesakitan saat kepal penis Adhit mulai masuk ke liang vagina Arin. Adhit tampak terkejut mendengar rintihan Arin, dia tidak menduga walau telah banyak cairan vagina Arin yang keluar, Arin masih merasakan kesakitan. Adhit pun cepat tanggap kepala penis yang sudah masuk dibiarkan bertahan dalam vagina, tubuhnya direbahkan menindih tubuh Arin dengan siku dijadikan penyangga agar gadis yang dicintainya itu tidak tersiksa.
“Tenang Rin, tidak apa-apa kok!, sakitnya hanya sebentar setelah itu kenikmatan dahsyat yang akan kamu rasakan”, bisik Adhit sambil menjilati daun telinganya membuat Arin mengerang halus.

Adhit mulai memutar-mutar pantatnya sembari tangan kananya meremas payudara Arin.

“Uuuhh.., ahh.., ughh.., ohh, nikmat sekali Dhit, teruuss.., teruss.., ahh”, desis Arin yang kembali merasakan kenikmatan, kedua tangannyapun segera memeluk tubuh kekasihnya yang telah memberi kenikmatan dunia itu.

Putaran pantatnya membuat penis Adhit seperti mengaduk-aduk vagina Arin. Vagina Arin seakan-akan menyedot dan memijat penis kekar Adhit membuat keduanya terbang ke surga loka. Kedua tangan Arin ikut pula meremas-remas pantat Adhit hingga lelaki itu mendesis-desis mengeluarkan energi birahinya yang mau meledak.

“Rin.., oh.., uuhh”, gerakan batang penis Adhit semakin cepat, kali ini sudah tidak berputar namun naik turun mencoba menerobos masuk vagina Arin.
“Krek!”, “Kreek!”, “Bless!”.

Robek sudah selaput dara Arin ditembus penis Adhit, rasa sakit tidak lagi dirasakan Arin, yang ada kini cuma rasa nikmat yang luar biasa yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Gerakan naik turun pantat Adhit diimbangi naik turunnya pantat Arin, keduanya semakin kompak untuk memburu kenikmatan surga dunia.

“Uhh.., aahh.., ugghh.., oohh”.
“Hmm.., aumm.., aah.., uhh.., oohh.., ehh”.
“Dhitttt.., uuhh.., Dhittt.., ahh”.
“Riinnn.., auhh.., ohh.., Arini kau”.

Untuk menambah daya nikmat, Adhit menaikkan kedua kaki Arin di atas pinggulnya sehingga jepitan Vagina terhadap penisnya semakin kuat. Tangan Adhit meremas payudara montok Arin dan mulutnya memagut dan melumat habis bibir Arin membuat tubuh Arin memakin menegang.

“Adhittt.., oohh.., aahh.., ugghh.., aku.., au.., mau.., ah.., ahh.., ah.., ah.., uh.., uhh”, tubuh Arin menggelinjang hebat, seluruh anggota badannya bergetar dan mengencang, mulutnya mengerang, pinggulnya naik turun dengan cepat dan tangannya menjambak rambut Adhit.

Kemudian memeluk tubuh Adhit dengan erat. Arin telah mengalami orgasme.

“Rin.., ohh Rin.., aku jugg.., juga mau keluar.., ahh.., aahh.., ahh.., uhh”, gerakan pantat Adhit semakin cepat, batang penisnya terlihat keluar masuk di liang vagina, denyutan vagina yang memijatnya membuat dia keenakan.
“Croot.., croot.., crott”, sperma Adhit keluar dengan cepat dan dia tidak sempat mencabut penis dari vagina Arin sehingga sperma itu tumpah di dalam lubang vagina. Rasa panas di ujung kemaluan mereka rasakan, keduanya saling berpelukan erat dan kedua mata mereka tampak terpejam seakan menghayati tetesan nikmat yang baru saja mereka peroleh.
“Kau cantik Rin!, Kau hebat!, aku puas Rin”, kata Adhit kepada Arin yang masih terpejam, dilumatnya bibir gadis yang telah rela dia perawani itu dengan kasih sayang.
“Plop”, Suara yang mengiringi keluarnya penis Adhit dari lubang vagina Arin.

Kedua remaja yang telah bercinta itu tampak telentang dengan nafas masih terdengar ngos-ngosan, tubuh mereka bugil tanpa sehelai benang pun. Penis Adhit masih terlihat menegang, menjulang seakan belum puas dengan tugas pertamanya. Sedang Arin telentang dengan peluh yang bercucuran, dari lubang vaginanya tampak bercak darah yang keluar. Ya.., darah perawan Arin yang telah pecah di siang itu dan Arin pun telah merelakannya demi kekasih tercinta. Sperma Adhitpun tampak meleleh keluar dari dari lubang vagina Arin dan membasahi lantai.

Adhit dan Arin masih membiarkan tubuh mereka bugil dan menghayati serta merasakan kenikmatan yang luar biasa dan baru mereka dapati. Apakah mereka akan melanjutkan ke babak kedua dan apakah pengalaman pertama ini membuat mereka menjadi ketagihan, ketagihan dan ketagihan untuk terus bercinta dan berhubungan seks dengan lebih dahsyat lagi. Entah hanya mereka yang tahu.

Post Terkait