Cerita Dewasa

Cutenya Teman Pacarku

Sejak berpacaran dengan Lita, mahasiswi Fakultas Komputer Universitas terkemuka di Bukit Tinggi, yang berbeda dua angkatan dengannya, Suryanto mulai bergaul dengan teman-teman Lita. Aktivitas Lita membawanya sering berkumpul dengan anak-anak Komputer yang seperti teman-teman baru bagi Suryanto. Kenyataan ia satu-satunya anak Teknik saat berkumpul dengan teman-teman Lita membuatnya mudah dikenali. Dari sering berkumpul ini pula ia mulai kenal satu persatu anak Komputer. Sikapnya yang mudah bergaul membuat ia juga diterima dengan tangan terbuka oleh komunitas anak-anak Komputer.

Sebagai anak Teknik dan punya pengalaman organisasi lebih banyak dibanding teman-teman Lita, membuatnya sering memberikan wawasan baru bagi anak-anak Komputer angkatan Lita.

Di sini juga ia menjadi kenal Karina, yang sama seperti teman Lita yang lain, sekedar kenal dengannya. Karina sering ikut datang karena statusnya sebagai pacar Agus, salah satu pentolan angkatan Lita. Tidak ada perhatian khusus Suryanto kepada Karina, kecuali tentu saja, sebagai laki-laki normal, dadanya yang super. Meski bersikap biasa kepada Karina dan cenderung bersikap sama terhadap teman Lita yang lain, kelebihan pada tubuh Karina kerap membuatnya tidak kuasa melirik lebih dalam, terutama saat Karina memakai baju yang memamerkan lekuk tubuhnya secara sempurna, apalagi kulit Karina putih bersih dan mulus.

Perkenalan lebih terjadi saat Lita meminta Suryanto mengantarnya ke kost Karina karena perlu meminjam bahan kuliah.

Baca Juga: Sex Promotion Girl

Saat itu pun Suryanto masih belum sadar Karina itu siapa, dan baru paham setelah disebutkan pacar Agus. Meminjam buku menjadi waktu bertamu yang lebih lama setelah Suryanto dan Karina ternyata punya selera musik yang sama. Obrolan itu masih dalam batas koridor pertemanan, hanya bedanya setelah itu, Suryanto jadi lebih ingat siapa Karina, paling tidak namanya. Karina sendiri sebetulnya bukan teman akrab Lita. Bisa dikatakan beda genk, tapi hubungan mereka baik.

Aktivitas mengantar Lita ke kampus pun kini menjadi lebih menyenangkan bagi Suryanto karena ia sering bertemu Karina.

Namun, sekali lagi ini sebatas karena mereka punya selera musik yang sama. Paling tidak, saat menunggu Lita berurusan dengan orang lain, terutama di lingkungan organisasi mahasiswa kampus, Suryanto punya teman ngobrol baru yang nyambung diajak ngobrol.

Lita pun merasa beruntung Suryanto mengenal Karina karena ia jadi lebih santai mengerjakan sesuatu di kampus terutama jika ia minta Suryanto menunggunya.

Sampai tiba masa-masa sibuk di organisasi mahasiwa Komputer yaitu pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa.

Rapat-rapat sering digelar untuk merumuskan strategi kampanye. Kasihan kepada Suryanto, pada suatu hari Lita tidak minta ditunggu lagi oleh pacarnya itu, tapi ia minta dijemput lagi pukul empat sore, dua jam setelah rapat dimulai. Suryanto pun memutuskan untuk menunggu di kost-an salah satu teman yang kost di dekat kampus. Sayang, saat tiba di kost-kostan tersebut temannya sedang keluar.

Tidak habis akal ia menuju kost-an temannya yang lain. Namun, jalan ke kost-an temannya itu melewati kost-an Karina.

Dari jalan, yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari deretan kamar kost tersebut. Ia melihat Karina keluar dari kamarnya hendak menjemur handuk. Suryanto melambatkan motornya dan berharap Karina melihat. Dan, harapannya terkabul.

Ia akhirnya memutuskan main di kost Karina sembari menunggu Lita selesai rapat.

“Lita lagi rapat ya?”
Karina membuka pembicaraan sambil sibuk menata rambutnya yang basah. Ia mempersilakan Suryanto duduk di atas karpet karena di kamarnya memang tidak ada kursi. Semua perabot terletak di bawah termasuk sebidang meja kecil tempat Karina belajar.

“Iya. Kamu koq tidak ikut Rina?”

“Males. Gua tau pasti lama. Lagian sekarang kan yang rapat pentolan aja.”

“Agus di sana juga?”

“Iyalah, dia kan proyeknya. Masa dia tidak datang. Ini juga gua lagi tungguin dia. Janjian nanti gua jemput jam enam, mau nonton bioskop.”

Suryanto baru sadar kalau ini adalah malam Minggu dan ia belum punya rencana. Dari tadi pandangannya tidak lepas dari rambut ikal sebahu Karina yang basah habis mandi. Ia hanya bisa menelan ludah melihat Karina yang seksi sekali dalam kondisi seperti itu. Aroma yang cukup familiar baginya merebak dari rambut Karina yang masih basah.

“shampoo kamu shampoo bayi ya, Deedee kan, rasa anggur?”

“Hahaha. Kecium yah, koq Suryanto tahu?

“Yah, Kamu Rina, gua juga pake Deedee. Cemen yah?”

“Buset, orang kayak kamu shamponya Deedee? Lita yang mau apa memang kamu yang suka?”

“Gua sudah pake shampoo itu sejak SMA,”

“Hehehe. Geli gua, lucu saja, lihat kamu shampoonya Deedee,” ledek Karina sambil tertawa geli.

Keduanya terdiam sesaat. Sampai tawa Karina berderai lagi.

“Koq sama lagi sih. Kita memang sudah jodoh ketemu kali ini. Jodoh jadi temen maksud gua.”

Karina berusaha meluruskan kalimatnya karena sadar perkataannya bisa diartikan berbeda. Keduanya memang saling nyambung awalnya karena punya selera musik yang sama.

“Mungkin kali ya. kamu bocor sih,” sahut Suryanto terkekeh.

Obrolan pun terus berlanjut mengalir seperti sungai. Karina yang cerewet selalu punya bahan pembicaraan menarik demikian pula dengan Suryanto. Uniknya obrolan tersebut selalu nyambung. Di tengah ngobrol Suryanto sekali-sekali melirik dua tonjolan di dada Karina yang luar biasa indah. Soal cewe, selera Suryanto memang yang memiliki dada besar. Ia sudah bersyukur punya Lita yang berdada lumayan berisi, namun melihat Karina, rasanya rugi kalau diabaikan, membuat darahnya mengalir kencang.

Saat melihat dari jalan tadi, Suryanto menemukan Karina hanya memakai kimono mandi dan sedang menjemur handuk.

Ia sempat diminta menunggu cukup lama oleh Karina karena harus berpakaian dulu. Harapannya, Karina keluar dengan pakaian lebih tertutup, tapi yang didapati adalah Karina hanya memakai tank top putih yang memamerkan ceplakan branya dengan jelas hingga renda-renda di dalamnya dan celana pendek yang membuat 3/4 pahanya terbuka.

“Eh, Rina, gue mo nanya nih….”
“Apaan?”
“Tapi jawab jujur ya….”
“Apaan dulu??
“Ya ini gua mau nanya?.”
“Oke, jujur….”
“Anak-anak Komputer sebetulnya risih tidak sih gua sering ngumpul bareng mereka.”
“Angkatan gua??
“Iya.”
“Jujur kan? Tidak, yakin gua. Eh, tapi maksudnya ngumpul karena kamu temenin Lita kan?”
“Iya.”
“Ya tidak sama sekali. Yang suka sama kamu banyak koq.”
“Bener ini? Kalo cowok – cowoknya gimana?”

“Tidak juga. Kenapa sih? Ya kalau ada pun paling yang dulu naksir sama Lita tapi sudah di sambar sama kamu? Hahahaha.”
“Sialan kamu?, serius ini gua.”
“Gua juga serius. Bener koq, percaya saja lah sama gua.”
“Terutama yang cewe, malah yang gua tahu pada sensi sama Lita.”
“Sensi kenapa? Memang salah gua apa yah?”
“Maksudnya sensi itu begini. Soalnya Lita dapet cowok kayak kamu.”
“Memang gua kenapa?”
“Ya? Kamu kan sabar banget tuh mau tungguin Lita, terus gabung sama kita-kita, main bareng?”
“Gitu yah?”
“Iya pak Suryanto. Ini yah, gua kasih bandingan : cowo gua yang dulu, itu sama sekali tidak mau gabung. Sebatas anterin gua saja. Sombong banget, kayak melihat apaan gitu kalau kita lagi kumpul. Tidak tahu, pembawaan anak teknik kali yah, berasa pintar sedunia.”

Karina menyinyir tapi dari sorot matanya terlihat ia sangat serius.

“Dulu gua itu sering tahan hati soalnya cowok gua itu di bicarakan terus sama temen – temen gua. Sombong lah, belagu lah.

Yah mereka sih ngomongnya baik-baik, minta gua ajak dia bergabung. Tapi cowok gua sama sekali tidak mau gimana lagi. Jadi serba salah kan?”

“Anak teknik? Anton maksud kamu?”

“Betul pak! Anton. Mungkin juga karena ketuaan kali yah? Tapi tidak tahu lah! Nah, ketika kamu masuk dan mau mencoba berbaur.

Temen-temen gua, tidak cewek tidak cowok, jelas seneng. Apalagi kamu bisa nyambung pembahasannya. Yang cowok respek sama kamu, yang cewe. Hehehe, suka.”

Karina sengaja hanya sampai kata itu. Sebetulnya ia ingin bilang keSuryanto bahwa anak-anak, cewek – cewek tentunya, banyak yang naksir Suryanto.

“Suka apaan?” Suryanto berusaha memaksa Karina memperjelas pembicaraannya sambil tertawa.

“Yah suka. Ih, kamu GR yah?” kata Karina sambil menunjuk Suryanto.

“GR apaan? kan gua cuma minta diperjelas saja,”

“Nih yah, ada satu temen gua yang bilang berharap banget kamu putus sama Lita. Katanya, gua mau lah, biar deh bekas temen juga gitu.”

“Yang bener kamu? Siapa sih?”

“Tidak usah gua kasih tahu. Kalo perasaan kamu peka, kamu pasti tahu lah! Eh, bener itu, dalam hati kamu pasti seneng juga kan disenengin sama cewek- cewek. Hahaha.”

“Sialan kamu!” balas Suryanto sambil tertawa.

Tanpa sadar, Suryanto mendorong paha kiri Lita. Sejak perkenalan pertama mereka saat kumpul bersama teman-teman yang lain sepuluhan bulan yang lalu. Baru kali ini mereka benar-benar saling bersentuhan secara fisik. Meski sebuah sentuhan tanpa maksud apa-apa, tidak kurang Karina terhenti sejenak. Syaraf sensor di pahanya seperti mengalirkan sesuatu yang menbuatnya berdesir.

Hampir tidak ada yang tahu, bagian yang didorong dan disentuh Suryanto justru bagian paling sensitif pada Karina, bagian yang mampu mengalirkan perasaan erotik dalam diri cewek berumur 20 tahun itu.

Karina berusaha tidak memandang mata Suryanto, tapi ia tidak kuasa menahannya. Rangkaian kejadian yang hanya berlangsung sekitar satu detik itu seperti membuat tubuhnya mengalirkan darah demikian cepat.

“Eh, Rina, sorry yah kalau terlalu keras. Tidak sakit kan?”

Kali ini Karina malah berharap Suryanto kembali menyentuhnya. Desiran akibat sentuhan tidak sengaja tadi benar-benar membuatnya merasakan sensasi yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tapi, ia berusaha mengendalikan diri. Pahanya yang merinding tersentuh tangan Suryanto berusaha ia tutupi.

“Tidak koq Sur, Tidak apa – apa, cuma kaget.”
“Aduh, gua jadi tidak enak. Bukan maksud gua mau lancang ke kamu koq, Rina reflek saja.”
“Iya gua tahu,” Karina berusaha menahan agar mulutnya tidak mengatakan bahwa bagian yang Suryanto sentuh adalah daerah paling sensitif dari tubuhnya.

Suryanto benar-benar jadi tidak enak dan salah tingkah. Karina bukan tidak menyadari hal tersebut. Ia kini paham, Suryanto memang bukan tipe cowok yang suka merayu perempuan, bukan cowok yang suka pegang-pegang perempuan sembarangan.

Memang tidak salah teman-teman di kampusnya banyak yang suka pada Suryanto. Sikapnya gentle banget, sama sekali tidak terlihat dibuat-buat, dan kenyataannya Suryanto memang benar-benar menyesal telah berlaku kasar, menurut ukurannya, kepada seorang perempuan.

Ia adalah laki-laki yang paling tidak bisa berbuat kasar pada perempuan.

“Gua juga termasuk yang dongkol sama Lita, kenapa gua justru nyambung sama cowok-nya. Hahaha,” Karina berusaha mencairkan suasana dengan melontarkan candaan yang sejujurnya tidak lucu.

Suryanto pun tertawa meski masih agak dipaksa. Ia benar – benar merasa bersalah karena tanpa terkontrol menyentuh paha Karina terlalu dalam. Maksudnya hanya pengakuan ‘kekalahan’ karena didesak soal banyak perempuan yang menyenanginya. Sejujurnya ia juga suka Karina karena ia anggap perempuan yang suka bicara tanpa basa basi, apalagi dengan orang yang ia rasa bisa membuatnya nyaman.

Sikapnya itu membuat Suryanto merasa lebih dekat dengannya, meski dengan dasar suka sebagai teman.

Dari sisi laki-laki, Suryanto juga terkejut dengan sentuhannya itu. Ia jadi menyadari Karina memiliki tubuh yang kencang dengan kulit yang halus. Benar-benar membuat kelaki-lakiannya bangkit. Ingin rasanya berbuat lebih dari itu. Tapi ia tidak tahu harus bagaimana.

Ia juga sadar, situasi seperti ini sudah cukup sebagai tanda bahaya bagi dua insan berlainan jenis yang berada dalam satu ruangan.

Hanya ia juga tidak kuasa dan tidak mengerti bagaimana menghentikannya. Langsung pergi, jelas akan membuat Karina marah, ia bisa menangkap bahwa Karina tidak menginginkan itu.

Masih diliputi perasaan tidak menentu dan membuatnya tertegun seperti patung, Suryanto terkejut ketika Karina sudah menjulurkan tangan dan meraih tangannya. Tapak tangannya digenggam kedua tangan Karina dan diarahkan ke bibirnya.

Dalam keadaan terbuka, Karina menciumi perlahan-lahan permukaan telapak tangan kanannya. Suryanto benar-benar tegang bercampur kaget. Ia tahu itu sudah lebih dari sekedar pertanda Karina menginginkan sesuatu, lebih dari sekedar sentuhan tanpa sengaja.

Karina pun bukan tanpa maksud seperti itu. Ia sadar antara dirinya dan Suryanto baru benar-benar kenal beberapa bulan belakangan.

Tapi, akal sehatnya tidak kuasa menahan keinginannya untuk disentuh lebih dalam oleh Suryanto.

Suryanto benar-benar bimbang. Ia tahu, Karina sudah membuka gerbang dan kini dialah yang harus memainkan bola.

Semua ada di tangannya. Di antara bimbang untuk meneruskan, yang artinya ia dan Karina sudah melanggar komitmen pada pasangan masing-masing, atau menghentikan, yang artinya ia bisa kehilangan kesempatan merasakan sesuatu yang selama ini sering membuat badannya bergetar dan hanya ia lampiaskan pada Lita, tangannya seperti bergerak sendiri membelai pipi kiri Karina.

Jantung Suryanto berdegup kencang, bukan lagi takut Karina akan menolak, tapi sadar ia telah membuat sebuah pilihan penuh resiko tapi pasti sangat menyenangkan.

Karina tersenyum. Merasakan belaian lembut jemari Suryanto di pipinya. Suryanto pun bergerak menyisir leher dan tengkuk Karina.

Sampai di punggung, tangan kirinya ikut merangkul Karina dan seketika keduanya sudah berpelukan. Karina membenamkan seluruh tubuhnya ke Suryanto. Pelukannya bahkan lebih kuat dari Suryanto dan pantatnya ia geser mendekat.

Keduanya masih duduk di lantai beralaskan sebuah karpet tebal berwarna biru. Suryanto mengangkat wajah Karina perlahan.

Ia bisa melihat Karina tersenyum bahagia merasakan kehangatan tersebut. Suryanto sadar, ia melakukannya bukan untuk mengejar perasaan Karina, tapi lebih pada nafsu. Nalurinya sebagai laki-laki berkata bahwa ini adalah kesempatan merasakan nikmatnya tubuh seksi Karina yang selama ini sudah ia kagumi. Dalam hati ia terus membatin untuk tidak tanggung-tanggung dan ragu.

Ia bertekad menunjukkan padaKarina bahwa ia memang laki-laki sejati. Sambil mulai menjilati daun telinga Karina, Suryanto berusaha membisikkan kata-kata rayuan ke telinga Karina.

Blek! Mulutnya justru seperti terkunci. Semuanya sangat sulit untuk dikatakan. Balasan Karina hanya sebuah erangan manja berikut usapan halus disekujur punggung Suryanto. Tanpa ragu ia mendekatkan bibirnya yang merekah menyentuh bibir Suryanto.

Halus, lembut dan perlahan penuh perasaan, keduanya saling mengulum bibir lawannya. Berpelukan dan saling bertukar lidah membuat suasana semakin hangat.

“Sur.” Karina berusaha mengontrol dirinya. Ia ingin terus merasakan belaian laki-laki yang dikaguminya itu.

Suryanto tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia paham ini adalah titik kebimbangan Karina. Memaksa Karina menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya sama saja berpeluang menghentikan semuanya. Ia terus mencium Karina penuh kehangatan.

Tangannya mulai menggerayangi sisi kiri tubuh Karina dan berbalik ke atas menuju sebuah bongkah daging keinginan setiap laki-laki.

Ia mulai dengan meraba permukaannya halus dan meremasnya pelan. Persis seperti yang ia lakukan pada Wika, sahabatnya, beberapa tahun silam. Perbuatan berdasarkan naluri yang membuat ia dan Wika hampir mengakhiri persahabatan erat yang mereka bangun sejak masuk kuliah, runtuh hanya bersisa nafsu.

Suryanto seperti merasakan kembali sensasi itu. Sensasi bercumbu dengan perempuan yang rela menyerahkan tubuhnya secara total pada dirinya. Sesuatu yang justru tidak ia rasakan saat melakukannya pertama kali dengan Lita.

Status berpacaran membuat mereka mudah melakukan apapun seperti ciuman, pelukan, bahkan rabaan. Andai dulu ia mengabaikan pertanyaan Wika apakah mereka benar melakukan hal tersebut, ia dan Wika saat ini pasti sudah tidak mengubah dua insan yang saling mengejar nafsu. Tidak ada lagi keindahan persahabatan dan keagungan sebuah kedekatan yang tidak dilandasi nafsu, murni sebuah kasih sayang dua manusia yang saling membutuhkan.

Tapi dulu tindakannya tepat. Karena, ia dan Wika lebih membutuhkan hubungan tanpa berlandaskan nafsu birahi. Walaupun akhirnya ia dan Wika menghentikan semuanya sebelum keduanya bersatu dalam sebuah persetubuhan, perlu waktu berbulan-bulan untuk membangun kembali landasan yang telah mereka hancurkan sendiri.

Kini, terhadap Karina, semuanya berbeda. Tidak ada halangan untuk melakukannya saat ini. Benar atau salah, itu soal nanti, karena saat ini nafsulah yang melandasi hubungan dirinya dengan Karina. Karina bukan teman dekatnya. Sejak awal ia tertarik pada Karina karena tubuh Karina yang menggoda iman. Kalau kemudian ia menjadi dekat dengan Karina karena sesuatu hal, itu tidak mengubahnya menjadi alat untuk masuk ke dalam perasaan Karina.

Remasannya ke dada Karina semakin kuat. Tanpa ragu, ia menyisipkan jarinya dari sisi atas untuk merasakan langsung lembutnya bongkahan indah itu. Karina mengerang dan berusaha mendekap Suryanto lebih kuat. Tangan Suryanto meremasnya makin kuat dan semakin ia merasakan betapa kencangnya dada Karina. Kencang, halus dan terawat.

Ia pun kagum kepada Karina yang menyadari bahwa bagian tubuhnya yang sedang remas Suryanto adalah daya tarik utama dirinya, terbukti dari hasil perawatan yang dilakukannya itu. Sembari tangan kanannya meremas dada Karina, dan lidahnya menjilati leher Karina.

Tangan kirinya membuka pengait bra di belakang. Sekali terbuka, kedua tangannya menyusup dari bawah dan mengangkat pakaian Karina melewati leher. Dan sekejap ia langsung bisa melihat bukit besar menantang itu langsung di depan matanya. Sejenak ia kembali mengagumi keindahan yang terpajang di depan matanya itu. Dua bongkah daging yang sejak setahun lalu membuat dirinya kerap tidak bisa tidur.

Tidak berlama – lama puting susu Karina sudah menjadi sasaran mulutnya. Kuluman bibir, gigitan kecil plus sapuan lidah membuat Karina terlonjak tidak bisa menahan diri. Badannya menegang setiap Suryanto menghisap putingnya. Ingin rasanya Suryanto mengecup kuat area di kulit yang menutupi tonjolan dada Karina, tapi ia sadar hal tersebut akan mempersulit posisi Karina. Apalagi Karina memohon dengan suara lirih.

 

“Jangan ada. Ehmmm… Bekasnya. Sur.” Jawab Karina dengan nada tersendat.

Dua bukit besar itu seperti mainan baru bagi Suryanto. Ia juga sering merasakannya dari Lita, tapi yang disodorkan Karina dua kali lebih nikmat. Lita juga keras dan kencang, tapi tidak sebesar Karina. Besar tapi masih proporsional. Ia bisa merasakan puting Karina menyentuh telinganya saat ia berusaha membenamkan kepalanya ke sela – sela di antara dua bukit tersebut.

Erangan pelan mulai terdengar keras keluar dari mulut Karina. Nafas Karina mulai memburu dan matanya terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dan setiap isapan Suryanto di putingnya mengeras, kepalanya terlonjak ke belakang.

Tangannya hanya bisa menekan kuat punggung Suryanto. Kendali dirinya benar-benar sudah hilang tertutup kenikmatan isapan dan sapuan lidah Suryanto di kedua payudaranya. Bahkan angin dingin khas kota Bukit Tinggi yang kencang dari luar sudah tidak terasa lagi di kulitnya. Tidak hanya Karina yang terlena, Suryanto pun semakin bernafsu menggarap buah dada Karina yang menggairahkan itu.

Sensasinya seperti mendapatkan sebuah mainan baru. Ia menjelahi setiap titik buah dada Karina tanpa terlewatkan. Ia ingin tahu reaksi apa yang diberikan Karina setiap ia menjelajah setiap permukaan buah dada itu.

Keduanya sedikit tersentak ketika pintu kamar Karina tertutup sendiri tertiup angin kencang dari luar. Suryanto terdiam dan memandangi Karina sesaat.

“Greblak, lupa ditutup….”

Suryanto langsung bangkit dan memeriksa keadaan di luar dari jendela, apakah ada mata – mata tersembunyi yang menyaksikan perbuatan mereka.

“Kunci yah Sur. Sekalian Tirainya juga…”

Sebut Karina dengan suara garau dan lemah.

Karina langsung menyentuh lengan Suryanto dan memeluk laki-laki itu dan menempelkan keningnya ke dada bidang penuh otot itu. Menunduk, ia bisa melihat puting buah dadanya menempel di atas perut Suryanto.

“Sur. Tolong.”

Ia melepaskan tangan Suryanto yang mengusap-usap halus punggungnya. Tangan kanannya membimbing tangan Suryanto ke arah selangkangannya. Ia merasakan sendiri sedikit demi sedikit kewanitaannya mulai basah mengalirkan cairan hangat. Ia tahu persis telah dihinggapi nafsu.

Sejenak Karina was-was. Ia takut Suryanto melakukannya tindakan bodoh seperti laki-laki lain yang tidak peduli fase-fase seksualitas wanita. Ia ingin dilayani juga sebagai makhluk yang juga memiliki nafsu. Selama ini, yang ia alami hanya melayani keinginan laki-laki tanpa ada balasan dari laki-laki itu.

Tapi kekhawatirannya segera lenyap saat Suryanto menyambut bimbingan tangannya dan mulai aktif menggerayangi daerah kewanitaannya. Dimulai dengan usapan lembut di atas daerah vaginanya yang masih tertutup dua lapisan, celana dan celana dalam.

Dilanjutkan gosokan sedikit keras yang menekan alat kelaminnya. Sekali lagi, saat Suryanto menyentuh paha bagian dalamnya, darahnya berdesir kencang, nafsunya semakin melonjak.

Aliran darah seketika seperti mengalir deras di tengah – tengah selangkangannya. Suryanto pun tidak mau berlama – lama menunggu.

Sekali tarik, ia meloloskan celana pendek dan celana dalam yang membuat Karina makin tidak berdaya telanjang bulat.

Tangan Suryanto mulai mengusap-usap klitoris dan bagian luar vaginanya. Rasanya seperti melayang setiap sapuan jemari Suryanto mengenai alat kelaminnya itu. Dipadu permainan lidah di putingnya, Karina semakin lemah tidak berdaya.

Lututnya terasa lemas yang membuat Suryanto semakin mudah menjelajahi daerah kemaluannya karena menjadi terbuka.

Tidak tahan melakukannya sambil berdiri, Karina memundurkan tubuhnya dan menjatuhkan badannya ke ranjang. Lututnya ditekuk dan kedua pahanya ia buka lebar-lebar. Suryanto melepas sendiri kaus yang dikenakannya dan tidak menyia – nyiakan pemandangan indah bibir-bibir vagina berwarna coklat muda yang terpampang di depannya. Bulu-bulu kemaluan Karina sangat terawat karena terlihat dari cukuran yang rapi. Bulu-bulu itu hanya tersisa di atas klitoris dan panjangnya tidak ada yang melebihi satu milimeter.

Sambil memeluk pinggang Karina dengan tangan kiri, ia mulai memainkan jari kanannya di seluruh permukaan kewanitaan Karina.

Pengalaman dengan Lita mengajarkannya untuk tidak langsung memasukkan jari ke dalam vagina. Ia lebih mementingkan usapan di klitoris. Dengan ibu jari dan jari tengah, ia membuka kulit penutup klitoris. Jari telunjuknya mulai meraba-raba permukaan klitoris yang menyembul berwarna merah muda. Lonjakan pantat Karina terasa kuat setiap ia mengusap klitoris itu dibarengi erangan keras dari mulut Karina. Karina meremas-remas sendiri buah dadanya. Ia menahan kenikmatan luar biasa yang dirasakannya.

Puas jemarinya memainkan klitoris Karina, lidahnya mulai bergabung. Setiap jilatan sanggup membuat Karina menjerit.

Kedua pahanya berusaha menjepit kepala Suryanto yang membuat Suryanto semakin ganas memainkan lidahnya.

Sesekali permainan itu ia gabung dengan isapan keras klitoris Karina. Tidak usah ditanya reaksi Karina karena perempuan muda itu semakin berisik mengeluarkan erangan dari mulutnya.

Rasanya memang gila permainan mereka, karena jika erangan Karina terdengar sampai keluar, entah apa yang akan terjadi.

Suryanto sudah mengarahkan lidahnya turun menuju vagina Karina ketika Karina menahan tubuh Suryanto dan bangkit meraih kancing celana Suryanto dan melepasnya. Bersama celana dalam, satu sorongan ke bawah langsung menjulurkan batang kemaluan Suryanto yang sudah mengacung sejak tadi. Karina tahu, apa yang mereka lakukan adalah perbuatan bersama dan kini gilirannya membelai, mencium, menjilat, dan meremas milik Suryanto. Tidak canggung ia menggenggam penis Suryanto yang mengacung keras.

Kedua tangannya mengenggam bersama, terasa besar dan penuh penis itu memenuhinya.

Satu kocokan, kini giliran Suryanto yang terpaksa memejamkan mata merasakan nikmatnya genggaman tangan halus yang hangat itu.

Dari bawah, Karina melirik ke atas dan tersenyum kepada Suryanto yang berlutut di kasur. Ia paham arti senyum balasan Suryanto.

Tanpa berlama-lama lagi, ia lumat batang tersebut di dalam mulutnya. Sedikit gigitan, ia jilat seluruh permukaannya yang mengkilat itu.

Urat-urat di sekujur penis Suryanto semakin membuat nafsunya memuncak. Ingin rasanya segera merasakannya merayap di dinding vaginanya. Suryanto terengah merasakan isapan dan kulumannya. Masih ada sedikit rasa dongkol pada Lita, kenapa temannya itu yang bisa mendapatkan laki-laki yang mampu menggetarkan hati setiap wanita itu. Di tengah usahanya memasukkan seluruh batang kemaluan Suryanto kemulutnya, Karina hampir tersedak karena ujung kemaluan Suryanto menyentuh pangkal rongga mulutnya sementara di luar masih tersisa. Ia semakin bernafsu mengulum penis ini. Pelan tapi pasti ia keluar masukkan penis itu di mulutnya.

Lidahnya ia sentuhkan ke ujung penis yang kokoh itu. Ia paham laki-laki sangat senang diperlakukan seperti itu. Terlihat dari paha Suryanto yang semakin terbuka membuat penisnya makin mengacung kencang. Seketika ia melihat penis Suryanto, Karina langsung merasakan rangsangan semakin besar dalam dirinya. Tanpa ragu ia berusaha memberikan pelayanan sempurna pada Suryanto, laki-laki yang sanggup membuatnya panas dingin meski hanya beradu pandang. Ia ingin Suryanto merasakan kenikmatan terdalam pelayanan perempuan.

Karina memang tidak salah karena Suryanto pun mulai merasakan apa yang diharapkannya. Baru kali ini Suryanto merasakan perlakuan total perempuan selain Lita terhadap dirinya. Apalagi saat Karina mulai menjilati dan mengulum kantung buah zakarnya.

Semuanya terasa berbeda, benar-benar sensasi yang memabukkan. Selain merasakan nikmatnya kuluman dan isapan Karina, pemandangan indah sekaligus ia dapatkan. Posisi Karina yang merangkak setengah menunduk membuat bongkahan pantatnya menjulang ke atas.

Pasti nikmat membenamkan penisnya ke kemaluan Karina sekaligus menggenggam dan mengusap pantat yang padat dan berisi itu.

Karina merasa belum cukup ketika Suryanto menarik lengannya. Tapi, ia mengikuti saja keinginan pujaan barunya itu dan menyambut kecupan hangat Suryanto di bibirnya. Ia merebahkan tubuhnya sembari menarik Suryanto. Karina sudah tahu kelakuan laki-laki.

Jika sudah menarik dan merebahkan tubuh perempuan berarti laki-laki itu sudah ingin melakukan penetrasi.

Namun, dugaannya meleset. Suryanto justru merebahkan badannya di sisi Karina. Berbaring miring, Suryanto mengisap lagi buah dadanya.

Karina semakin kagum akan laki-laki yang satu ini, benar-benar penuh kendali diri. Ia semakin kaget ketika jemari Suryanto mulai bermain lagi di sekitar kemaluannya. Kali ini usapannya sedikit keras dan cepat menggosok klitorisnya. Karina menggelinjang menerima perlakuan Suryanto. Benar-benar laki-laki penuh misteri, pikirnya.

Laki-laki sempurna, pikir Karina menyadari betapa beruntungnya ia berhasil mendapatkan Suryanto seperti sekarang.

Bisa mendapatkan lagi sesuatu yang dulu hilang direnggut kejamnya Anton terhadap dirinya. Kalau saja ia tahu Anton hanya mempermainkannya saat itu, tidak akan ia mau menyerahkan semua kehormatannya kepada laki-laki brengsek pengecut itu.

Rasanya muak hatinya mendengar semua orang membicarakan perkawinan Anton saat ia baru dua bulan memadu kasih dengan laki-laki keparat itu. Untung Agus hadir sebagai penyelamat. Ia sayang pada laki-laki ini, tapi kadang perasaannya tidak tega melihat kebaikkan hati Agus.

Tapi kali ini ia ingin total merasakan kehangatan Suryanto. Kekagumannya membuat ia semakin senang akan apa yang dilakukan Suryanto padanya saat ini. Menikmati usapan jemari Suryanto yang cepat itu membuatnya ia sanggup melupakan semua pikirannya pada dua laki-laki yang telah sempat mengisi ruang hatinya.

Di tengah lonjakan-lonjakan kecil menikmati permainan Suryanto, tiba-tiba ia merasakan sekujur tubuhnya sebuah rambatan energi tiada tara yang membuat sejenak dirinya seperti melayang. Suara-suara di sekitarnya seketika seperti lenyap, hanya terasa desiran tiada tara yang membuat tubuh sempat terbujur kaku sejenak dan berikutnya terlonjak-lonjak demikian kuat yang semakin lama semakin melemah frekuensi dan intensitasnya. Matanya terpejam, ia baru saja merasakan sensasi terbesar yang belum pernah sekalipun ia rasakan dengan laki-laki lain. Liang vaginanya pun terasa berdenyut lebih kuat dan saat semuanya belum mereda, Suryanto sudah menindih tubuhnya.

Ia bisa merasakan bobot tubuh Suryanto terutama di bagian bawah pinggangnya. Tangan Suryanto sudah tegak di sisi buah dada Karina kekar menopang badannya sendiri. Ia bisa merasakan bagian tubuh bawah Suryanto bergerak-gerak berusaha mengarahkan acungan penisnya. Karina pun langsung meraih penis yang kokoh itu dan membimbingnya ke ujung vaginanya.

Suryanto tersenyum dan Karina membalasnya dengan senyuman manis diiringi anggukan penuh kepasrahan tanpa paksaan.

Terasa Suryanto mendorong kuat pantatnya dan Karina juga bisa merasakan rengsekan batang kemaluan Suryanto di dinding vaginanya. Sungguh halus dan penuh perasaan Suryanto memasukkan penisnya ke vagina Karina. Perlahan cairan di dalam vagina melumasi permukaan penis Suryanto. Tidak ada rasa sakit sama sekali meski penis tersebut lebih besar ketimbang milik Anton dan Agus.

Itu karena Suryanto melakukannya tanpa terburu-buru dan tanpa memaksa. Mulai terasa perih ia menarik kembali penisnya sedikit dan membenamkannya lagi sampai akhir seluruh penisnya dilumat vagina Karina. Sodokan pertama penis tersebut masuk seluruhnya sanggup menyentuh bagian dalam vagina Karina yang belum pernah tersentuh sebelumnya. Karina pun merasakan sekali lagi kenikmatan luar biasa itu. Apalagi, Suryanto tidak langsung memompa pantatnya cepat-cepat dan keras. Pertama masuk penuh, ia menahannya dan memandangi wajah Karina dan kali ini ditambah sebuah kecupan mesra. Karina seperti diawang-awang diperlakukan seperti itu.

Ia merasa dirinya demikian berharga di hadapan Suryanto,

Suryanto sendiri merasa telah memenangi sebuah peperangan. Penisnya yang sudah bersarang di vagina Karina adalah sebuah tanda babak baru hubungannya dengan Karina yang tidak akan mudah dikembalikan seperti sedia kala. Bersatunya kedua tubuh mereka adalah sebuah ikatan emosi yang hanya bisa dirasakan oleh Suryanto dan Karina, tidak seorangpun bisa merasakan itu.

Setelah itu, mulailah Suryanto menggerakkan pantatnya mengangkat dan menekan yang membuat penisnya keluar masuk bergesekan dengan liang vagina Karina. Hangat dan lembut bisa Suryanto rasakan lewat sekujur penisnya dari dalam vagina Karina.

Karina menyambut setiap gerakan Suryanto dengan jepitan dan gerakan kecil pantatnya. Dari mulutnya keluar erangan yang semakin lama semakin keras dan cepat berirama. Melihat Karina terpejam dan mengerang dengan mulut yang sedikit terbuka sambil mendongakkan kepala membuat Suryanto makin bernafsu. Karina semakin seksi dalam kondisi seperti itu. Lehernya yang putih dan guncangan kuat pada buah dadanya membuat Suryanto semakin ingin membenamkan penisnya dalam-dalam di vagina Karina.

Apalagi setiap ujung penisnya menyentuh pangkal vagina Karina. Rasanya sungguh tiada tara. Suara ranjang mulai terdengar seiring semakin kuatnya sodokan Suryanto. Tapi mereka sudah tidak peduli. Karina bukan tidak menyadari seseorang pasti ada yang mendengar deritan tersebut di bawah. Apalagi kalau teman kost yang menempati kamar di bawahnya sedang berada di kamar. Tapi ia yakin semua temannya akan maklum.

Semakin kuat dan cepat sodokan Suryanto membuat Karina merasakan lagi desakan rasa luar biasa yang akan tiba.

Ia hanya bisa mencengkram punggung Suryanto keras-keras ketika desiran itu semakin kuat dan mencapai puncak.

Kepalanya benar-benar mendongak ke atas hingga kedua bola matanya hanya terlihat tinggal putihnya. Setelah sampai, sekali lagi ia merasakan tubuhnya ringan dan aliran darah mengalir deras ke arah vaginanya. Dinding vaginanya berdenyut kuat hingga Suryanto juga bisa merasakannya. Suryanto langsung menghentikan gerakannya membiarkan penisnya merasakan cengkraman kuat yang terjadi hanya beberapa detik itu. Tindakan Suryanto juga membuat Karina merasakan kenikmatan luar biasa. Kali ini terasa lebih nikmat karena denyutan vaginanya tertahan penis Suryanto yang sedang membenami kemaluannya itu. Semakin banyak saja kekaguman Karina pada Suryanto. Tahu kapan ia akan merasakan puncak kenikmatan dan menghentikan sodokan membuat Karina bisa merasakan sepenuhnya kenikmatan tersebut. Sebuah teknik bercinta yang baru kali ini Karina rasakan.

“Sur. Nikmat sekali.”

Karina memeluk Suryanto kuat-kuat dan menciumi pipi dan pundak laki-laki itu. Sekali lagi Suryanto tersenyum membalas Karina.

“Enak Tidak Rina?”
“Banget!” Jawab Karina singkat dan tegas.
“Mau coba gaya yang lain Rina?”
Karina langsung mengangguk dan menunggu aba – aba Suryanto gaya apa yang diinginkan Suryanto.

Suryanto membalik badan Karina dan mengangkat badan bagian bawah Karina dengan memeluk pinggang dari belakang.

Karina langsung berdebar – debar begitu tahu Suryanto ingin melakukan gaya doggy. Missionari saja sudah sanggup mencapai pangkal vaginanya, apalagi doggy.

Tidak menunggu lama Suryanto langsung memasukkan penisnya. Karina menunduk sambil menggigit bibirnya merasakan seluruh penis Suryanto terbenam makin dalam di vaginanya. Pantatnya terangkat tinggi yang membuat Suryanto semakin tidak bisa mengendalikan birahinya. Kali ini Suryanto langsung mendorong dengan cepat dan Karina mengikuti irama dengan mendorong pantatnya ke belakang. Keduanya sama – sama merasakan kenikmatan yang lebih dalam.

Masuk hitungan belasan menit menyodok vagina Karina, belum ada tanda-tanda dorongan Suryanto melemah.

Sebaliknya justru makin kuat, membuat Karina makin bernafsu. Tetesan peluh mulai membasahi keduanya, namun baik Karina dan Suryanto justru makin bersemangat. Karina, yang bisa dua kali beruntun merasakan kenikmatan puncak saat disodok Suryanto dari belakang justru semakin ingin merenguk terus kenikmatan itu. Pantat dan pinggangnya makin bergerak liar membuat Suryanto tidak mampu menahan lenguhannya.

 

Tiba – tiba ganti Karina yang berinisiatif. Ia lepaskan penis Suryanto dari vaginanya dan mendorong Suryanto sampai terlentang.

Ia langsung memanjat tubuh Suryanto dan duduk di atas acungan penis Suryanto yang masih kokoh berdiri. Melihat Karina bergerak naik turun, Suryanto tidak kuasa untuk tidak meremas buah dada Karina yang terguncang-guncang. Telapaknya yang besar berusaha meraup seluruh permukaan buah dada itu, tapi tidak pernah berhasil. Remasannya makin kuat membuat Karina makin mempercepat gerakannya.

Sekali lagi Karina harus mengaku kalah. Karena meski ia telah mencoba berbagai goyangan yang dipadu dengan gerakan naik turunnya, justru ia yang kembali merasakan desakan kenikmatan dari liang vaginanya. Karina langsung tumbang menindih Suryanto yang sudah siap menerimanya dengan pelukan mesra dan kecupan hangat di ubun-ubunnya.

“Kamu kuat banget Sur. Aagghhh…. Aaaaggghhh….”

“Kamu di bawah lagi yah Rina?”

Karina mengangguk lemah dan menggulingkan badannya ke sisi kanan Suryanto.

Sebelum Suryanto memasukkan lagi penisnya ke vagina Karina, Karina memberikan sesuatu yang belum pernah ia lakukan pada laki-laki manapun yaitu memasukkan penis tersebut ke mulutnya. Sebelumnya ia tidak mau mengulum penis yang sudah masuk ke vaginanya.

Tapi, untuk Suryanto, yang telah memberikannya kenikmatan tiada tara, ia lakukan itu.

Puas mengulum dan menjilati penis yang dipenuhi lendir sisa persetubuhan mereka, Karina kembali merebahkan dirinya dan menyuruh Suryanto memulai lagi aksinya. Suryanto langsung bergerak dan dorongan seperti saat pertama mereka memulainya yaitu perlahan dan terus semakin lama semakin kuat dan cepat. Karina sudah pasrah kalau ia harus sekali lagi merasakan orgasme, tapi baru ia berpikir begitu, tiba-tiba sodokan Suryanto terasa lebih keras dari sebelumnya. Sesaat kemudian Suryanto mengerang panjang dan menyodokkan penisnya sangat kuat beberapa kali. Karina pun bisa merasakan hangatnya muncratan sperma Suryanto di dalam vaginanya. Suryanto masih terus menyodok terputus – putus dan semakin melemah. Sperma Suryanto juga Karina rasakan mengalir keluar setiap Suryanto menyodokkan lagi penisnya.

“Aaaggghhh…. Sur keluarin di dalam saja yah. Aaaaggghhh… Aaagghhh…” Kata Karina.
“Tidak apa – apa ini? Nanti kalau kamu hamil gimana” Jawab Suryanto.
“Tidak.. Ehmm… apa – apa Sur, Kita hadapi bersama. Aaagghhh… Aaggghhh” Jawab Karina dengan lembut.

Setelah benar-benar selesai, Suryanto pun tumbang menindih Karina. Suryanto terdiam sesaat di atas buah dada idamannya itu merasakan betapa nikmat persetubuhannya dengan Karina.

Karina mengusap lembut kepala Suryanto penuh kehangatan.

“Sur, kamu puas tidak?”

Suryanto hanya mengangguk. Badannya terasa lemas. Karina tersenyum bahagia mendapatkan jawaban Suryanto. Paling tidak, tekadnya membuat Suryanto merasakan kenikmatan tertinggi berhasil ia lakukannya.

“Rina, nikmatnya benar-benar tidak ada yang samain.”

“Kamu juga hebat Sur. Baru kali ini aku merasakan orgasme berkali – kali.”

Keduanya pun duduk berdampingan di sisi ranjang. Karina merebahkan kepalanya di pundak Suryanto. Sambil membakar rokok, Suryanto merangkul Karina. Keduanya hanya bisa terdiam dan sama-sama tidak percaya apa yang baru saja terjadi di antara mereka.

Karina masih tidak percaya ia telah melakukan hubungan seks dengan Suryanto, pacar Lita, teman satu angkatannya.

Meski ia memang sudah kagum pada Suryanto sejak pertama berkenalan, tapi akhirnya sampai berhubungan intim dengan Suryanto, adalah sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.

Suryanto, walaupun ia juga tertarik pada Karina diawali oleh ketertarikan fisik, tetap saja apa yang baru saja ia alami benar-benar di luar dugaannya. Apalagi Karina seperti menyambut keinginan terpendam Suryanto itu yang sebetulnya ia simpan dalam-dalam.

Ia kenal Agus dan tahu bagaimana Agus selalu menerima sarannya dalam hal aktivitas di kampus. Ia juga tahu Agus sangat menghormatinya terutama sebagai senior meski beda fakultas.

Dalam diamnya, Karina tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Lita yang terkenal emosional di kampus. Serupa dengan Karina, Suryanto juga sulit membayangkan apa yang akan terjadi pada Agus jika ia tahu apa yang dilakukannya dengan Karina.

Agus memang pendiam dan tenang, tapi Suryanto tahu Agus adalah orang yang keras.

Suryanto mengeratkan rangkulannya pada Karina. Karina pun membalasnya diikuti kecupan di bibir. Tapi Suryanto tidak membalasnya yang membuat Karina bingung.

“Kenapa Sur?”

Suryanto menggeleng sambil tersenyum dan mengecup kening Karina dan mendekap Karina lebih dalam.

“Yuk ke kampus.” ajak Suryanto sambil melepas pelukannya.

Karina mengangguk sambil tersenyum. Berpakaian, kedua lantas keluar kamar bersikap biasa. Suryanto lebih dulu menuju motornya di lantai bawah.

“Bareng aja Rina” sahut Suryanto.

“Oke!” Jawab Karina dengan tegas.

Waktu saat itu menunjukkan pukul 4.15 sore. Keduanya tidak sadar telah dua jam bercumbu dan berhubungan intim.

Kalau sesuai janji, Suryanto sebetulnya sudah terlambat. Dan memang benar, saat tiba di kampus FK, anak-anak yang rapat sudah duduk-duduk di koridor kampus.

“Bareng Karina?” Tanya Lita tanpa curiga.

“Iya, tadi saya ketemu di jalan, yah sekalian saja.”

“Tunggu bentar yah, 10 menit lagi.”

“Oke, aku tunggu di sini yah.”

Di tempatnya duduk, Suryanto melihat Karina berdiri di samping Agus. Agus masih sibuk membahas beberapa masalah dengan teman-temannya. Karina pun melirik ke arah Suryanto dan memberikan sebuah senyum yang manis. Keduanya memang harus kembali bersikap normal, tapi di hati kecil mereka, baik Suryanto dan Karina sama-sama berharap kejadian yang mereka alami terulang lagi ?

Post Terkait