cerita dewasa

Cerita Sex Tante Diintip ABG

Tapi mengapa abg itu nekad ngintip aku? Apakah aku harus marah? Ah tidak, aku bingung sekali karena aku tak merasakan kemarahan dalam diriku, sama sekali tidak. Aku justru bingung dengan diriku, ada apa ini? Entah kenapa aku justru merasa senang ada anak abg mengintipku ketika aku sedang dalam keadaan polos tanpa selembar benang pun! Entah kenapa aku justru merasa tersanjung.

Duuuhhhhh memalukan sekali, kenapa kewanitaanku tibatiba terasa geli dan lembab memikirkan kejadian barusan. Ada apa dengan diriku? Tibatiba aku merasakan kegatalan yang menyeruak, yang terasa nikmat setelah 2 tahun perceraianku.

Ini adalah rasa yang pertama kali kualami setelah selama dua tahun aku tak pernah lagi bersentuhan dengan lelaki. Rasa nikmat itu seperti mengalir kuat tibatiba, berawal dari puting buah dadaku yang mengejang lalu merambat ke selasela pahaku. Aku merasa enak sekali, ingin sekali rasanya kuselesaikan saat itu juga.

Tapi.. tidak! Itu sesuatu yang tabu bagiku, lagipula aku harus segera berangkat kerja, aku bisa terlambat dan kena potong gaji jika telat ngantor. Segera kupakai bajuku, sebuah seragam berupa gaun terusan panjang biru muda dengan sabuk kecil warna coklat yang melingkar di atas pinggangku.

Oh Tuhan! pagi yang indah ini aku merasa manis sekali, walaupun hatiku masih berdebar kencang akibat peristiwa pengintipan barusan. Ow. Dia sedang berdiri dengan seragam khasnya putihbiru. Tubuhnya tampak kurus, dan makin terlihat kurus setelah kulihat kakinya kering dan kecil. Innocence! keluhku.

Sungguh anak abg ini seperti sosok yang tak berdosa dan terlalu muda untuk tahu soalsoal orang dewasa. Tapi siapa sangka, barusan ia kepergok mengintip ke dalam kamarku, memergoki ketelanjanganku entah untuk yang ke berapa kali.

Yang aku tahu ya cuma tadi pagi itu. Aku melangkah mendekat ke arahnya. Canggung sekali rasanya ketika mendekati pelaku kriminal cilik ini. Aku belum memiliki keberanian untuk menginterogasinya, aku masih malu! Adit, usianya kutaksir sekitar 15 tahun. Ia tampak tenang banget ketika aku akan mendekat padanya. Dan tak kuduga sama sekali ia menyapaku dengan ramah banget,

Selamat pagi Tante cantikmau berangkat kerja ya?
Sialll! aku menggerutu dalam hati.

Nyantai banget anak ini, apa memang dia gak merasa kupergoki ya? Akhirnya kupaksakan menyambut keramahannya dengan sewajar mungkin,

Pagi juga Dit. Kok belum ke sekolah?
Bentar lagi Tan, lagi nunggu temen mau njemput neh, jawabnya tenang sambil matanya menatapku lekatlekat.
Eh beraninya anak ini? pikirku, apa dia gak tahu ya kalau aku sudah mergokin perbuatan nakalnya barusan?

Aku tak bisa melamun lamalama karena mobil antarjemputku pasti sudah menungguku di ujung gang.

Iya deh, aku berangkat dulu kataku sekenanya.
Silakan Tanteku yang cantik tukasnya tanpa ekspresi malu atau berdosa. Justru aku yang sekarang

jadi salah tingkah karena pagipagi sudah dapet sanjungan dari cowok abg usil.

Iya Dit, thanks ya..dadahh! Lagilagi aku kebingungan sendiri..
Thanks untuk apa Tan?? tanyanya sambil mencegat langkahku.

Uh sebel banget aku dibuat kikuk seperti ini, bagaimana bisa anak abg ini membuat wanita dewasa sepertiku mati kutu? Aku mendekatinya sekali lagi dan segera kucubit gemas pipinya..

Huuhhhhh kamu ini, udah sekolah sana! kataku agak sewot.

Tapi dengan cekatan tanganku ditelikungnya sehingga dia balik memelukku

hehehe..jangan marah dong Tanteku nan cantik..

Aku sungguh merasa aneh, aku tak bisa marah dengan kenakalan anak ini dan herannya baru sekali itu aku merasa akrab dengan seseorang walaupun itu hanya seorang anak abg. Tapi cengkerama singkat pagi itu seakan memberiku semangat baru. Aku menjewer telinganya, dan dia balik menggelitik pinggangku. Lalu pada saat yang tak kuduga dia memelukku erat sehingga kepalanya menempel kuat pada dadaku. Mendadak hatiku gemuruh..ahh tidak. Dia bahkan lebih pantas jadi anakku. Kami berdua jadi saling goda dan tertawa.

Aku berusaha keras untuk bercanda sewajarnya, layaknya seorang ibu kepada anaknya, atau kakak kepada adiknya, atau tante kepada ponakannya. Adegan itu tentu saja menjadi perhatian penghuni koskosan yang lain yang segera tersenyumsenyum melihat gurauan kami. Semoga saja mereka tidak berpikir yang tidaktidak tentang kami yang berselisih usia jauh sekali. Tetapi ternyata justru aku yang terjebak untuk berpikir tidaktidak. Karena..aduhh, tadi entah sengaja atau tidak dia Adit sempat meremas pantatku.

Cerita Ngentot | Tibatiba kulitku meremang dan aku merasa geli sendiri. Apalagi kalau kuingat tadi kepalanya sempat menempel lama pada dadaku, dadaku serasa mengembang penuh seakan menyesak pada kain penutupnya. Siang itu sampai sore hari, aku terus teringat gurauangurauan Adit yang seakan membangunkanku dari tidur yang panjang. Aku telah bercerai sejak 2 tahun lalu, rasanya sungguh menyakitkan sehingga kuputuskan untuk merantau ke Jakarta demi menghapus kenangan yang menyedihkanku. Pasca perceraian aku selalu menutup diri dari pergaulan yang serius dengan lawan jenis.

Aku mengisi hari demi hari dengan kesibukan bekerja, senam, memasak, dan merawat diriku. Siapa tahu kelak aku akan ketemu jodoh yang lebih baik dari mantan suamiku, karena bagaimanapun aku harus punya pasangan kelak, punya keluarga, punya anak, dst. Jadi aku tak boleh terpuruk pada kesedihan yang menyiksa. Tapiapakah aku ini masih cukup cantik dan menarik sehingga Adit yang masih ingusan itu nekad mengintipku dan menggodaku?? Ahh aku tak tahu pasti.

Tibatiba saja pertanyaanpertanyaan aneh ini berkelebatan terus dibenakku. Ahh narsisnya aku. Siapa tahu dia tadi cuma iseng saja? atau mungkin dia tak sengaja? Terus apa maksudnya dia tadi meremas pantatku? Apa maksudnya dia tadi menempelkan kepalanya pada dadaku? Aku berusaha melupakan pikiranpikiran konyol ini dengan fokus pada kerjaan. Tapi anehnya aku malah gak bisa konsen. Bingung! aku jadi makin lekat pada sapaan Adit yang menggodaku dengan sebutan Tante Cantik.

Sejujurnya, apakah dia cuma iseng atau sekedar membual tetap saja membuatku tersanjung. Sehingga aku jadi bertanyatanya,

benarkah aku masih cantik dan menarik?

Sepulang kerja, berbagai perasaan dan pikiran yang aneh terus berkelindan di benakku. Sampaisampai di dalam kamar mandi, dengan telanjang bulat aku mematutmatut tubuhku di depan cermin, benarkah aku masih menarik. Ahh..belum ada kerutan, kuraba payudaraku juga masih terasa kencang dan berisi, perutku juga tak berlemak, lenganku masih singset, wajahku?? Ahhh aku tak tahu. Aku jadi merinding jika mengingat dia mengintipku. Tibatiba aku merasa ingin pembuktian. Aku harus membuktikan diri apakah aku ini masih menarik atau tidak? tak peduli jika itu harus kuujicobakan kepada anak abg seperti Adit. Apa boleh buat.

Ini adalah pilihan yang paling kecil resikonya ketimbang jika aku membuktikannya pada lelaki yang sudah dewasa, bisabisa aku jatuh pamor nanti hihihihi. Kebetulan aku sedikit tahu kebiasaan Adit kalau malam hari. Dia biasa dudukduduk sendiri sambil bacabaca koran di tangga loteng untuk menjemur pakaian. Apakah kirakira dia masih dengan kebiasannya itu? Kusibak tirai jendelaku dan aku mengintip keluar. Uhh benar sekali, dia masih di sana, seperti sedang melamunkan sesuatu. Tapi aku bingung, aku harus bagaimana sekarang? Bagaimana aku harus memulainya agar rencanaku berjalan lancar. Ahai, aku masih punya beberapa jemuran yang masih basah yang biasanya kujemur pagipagi sekali.

Tapiiiaku harus bagaimana? Dadaku gemuruh memikirkan rencana dan sensasisensasi aneh yang mulai mencengkeramku. Aku jadi ingin tampil menarik di hadapan anak ingusan itu saat ini. Segera kupilih daster terusan pendek yang kupikir cukup sexy, karena agak ketat, berbahan tipis dan menerawang kalau kena sinar lampu. Aku ingin banget melihat reaksi Adit nanti.

Adeehh..tibatiba saja aku merasa geli lagi pada selangkanganku, geligeli dan gatal seperti ingin disentuh. Tibatiba aku merasa membersitkan cairan..duhh kenapa kok aku tibatiba basah ya..?? Aku ragu apakah rencana ini harus kuteruskan? apakah aku tidak terkesan murahan? Tapi hasratku makin menggebugebu, rasanya keingintahuanku sudah tak bisa kutahan lagi. Toh aku tidak ngapangapain, aku kan cuma pengen tahu reaksi anak abg itu? Ahh..lagilagi berusaha mencaricari alibi untuk pembenaran

rencanaku. Yahh. Mau tak mau kubulatkan saja tekadku. Sekarang! atau tidak sama sekali! Kakiku goyah saat kulangkahkan menuju tangga jemuran. Semakin mendekat ke arah Adit dadaku makin gemuruh, semoga tak ada penghuni koskosan lain yang tahu keadaanku saat itu, seorang wanita, janda pula! dengan busana yang mungkin hanya cocok untuk dipakai di dalam kamar tidur! Untungnya dia tak mengetahui kehadiranku.

Tapi ketika sudah dekat, tibatiba dia menoleh ke arahku. Tak kuduga senyumnya terkembang lebar, tampaknya sumringah sekali. Tapi saat aku sudah dekat sekali, senyumnya berubah jadi melongo tatkala diriku sudah demikian jelas dalam pandangan matanya. Matanya memandang lekat tubuhku, terutama bagian dadaku. Aku terhenyak sekaligus merasa tersanjung luar biasa.

Hai Dit! kok melongo? minggir dikit gih! Tante mau njemur ni.. sapaku memecah kesunyian..

Lalu kudengar sahutannya dengan nada seperti gemetar..

Iiiiya Tan..silakan.. mulutnya makin melongo ketika aku menapaki tangga pertama.
Hei!! kok melongo sih? hardikku penuh tanya.
Aaa..si..si..silakan Tan.., sahutnya dengan suara yang masih gemetar.

Aku melangkah terus hingga sejajar dengannya.

Kok kamu gemetar sihh..sakit yaa?? tanyaku sedikit kecewa.
Ee..enggak Tan..aku..aku..kaget..kukira Tante bidadari dari mana.. jawabnya.

Kulihat kepolosan dan kejujuran di matanya. Gubraak! Aduh anak ini! Dia bercanda atau serius sih? Aku jadi salah tingkah karena terusterusan dipuji.

Uhh kamu ini, kecilkecil udah pinter nggombal! Aku menanggapi ucapan Adit dengan perasaan yang campur aduk.
Ehh..benerr Tan..suerr..tante bak bidadari turun dari kahyangan..dan aku ingin jadi Jaka Tarubnya hehehehh..

Deg! Jadi?? Bukankah Jaka Tarub itu juga suka ngintip?

Jadi kamu juga demen ngintip kayak Jaka Tarub dong? Aku langsung mencoba menohok dia.
Ya tergantung Tan.. jawabnya lugas, tak ada keraguan di wajahnya.
Tergantung gimana?? aku jadi penasaran dan mengurungkan langkahku untuk menjemur pakaian.
Tergantung orangnya Tankalau orangnya cantik seperti Tante ya emang pantas diintip, jawabnya terus terang.

Hah? beraninya anak ini ngomong seperti itu. Tapi anehnya aku tak bisa marah atau jengkel, sebaliknya perasaanku malah jadi berbungabunga..

Weew Tante kok pipinya jadi merah sii? suka yaa?? tanyanya tibatiba, matanya serasa langsung menusuk mataku.
Duhh beraninya anak ini. Siapa yang ngajarin kurang ajar seperti itu pikirku?
Huh suka apaan? sahutku agak gemetar.
Suka diintipin..hehehehehhh.. jawabnya

Terus terang. hatiku langsung berdegup kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Posisiku masih sejajar dengannya, berdiri saling berdekatan di tangga yang sempit itu.

Ja..jadii..kamu suka mengintip ya? tanyaku memastikan.
Kan aku sudah bilang Tan. Tergantung siapa dulu orangnya, jawabnya lagi sambil senyumsenyum menatap mataku.

Aduh anak ini, berani banget dia ngomong yang menjurusmenjurus seperti itu. Dan matanya itu, tak henti menjelajah tubuhku bahkan menatap mataku secara langsung. Anehnya aku justru menjadi kikuk dilihatin seperti itu. Malah aku sekarang tertunduk tak berani beradu pandang dengannya. Ya ampuuunnsemua ucapannya itu jelas ditujukan langsung kepadaku. Anehnya, diperlakukan seperti itu aku mulai merasakan sensasi yang aneh, kulitku jadi merinding, pucukpucuk dadaku serasa menegang, dan selasela pahaku jadi terasa geligeli.

Malu sekali rasanya dikerjain anak ingusan ini. Aku merasa tidak kuat lagi berdekatan dengannya dan mendengar ucapanucapan yang menjurus mesum seperti itu. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan Adit, aku harus tak peduli dengan semuanya itu, atau purapura tak peduli. Aku melangkah gamang, satu persatu tangga kunaiki dengan goyah. Celakanya pada anak tangga terakhir angin nakal bertiup kencang menyibak gaunku dari bawah..wussshh..cepat sekali. Tak sempat kutahan pakaian bawahku agar tak berkibarkibar, tapi aku kerepotan sendiri karena tanganku sedang membopong seember jemuran.

Cerita Dewasa | Aku berharap Adit tak mengetahui kejadian itu, bisa malu aku dibuatnya. Tapi dugaanku salah besar. Di bawah Adit malah sedang berjongkok melihat adegan bajuku disibak angin, wajahnya tersenyumsenyum penuh arti tanpa rasa malu sedikitpun. Aku lekaslekas naik lagi menuju loteng agar penderitaanku segera berakhir. Tapi anehnya angin nakal itu seakan mengejarku. Bahkan ketika sampai di loteng pun pakaian bawahku masih tersingkapsingkap. Aduhhh..si Adit malah jadi kegirangan, senyumnyaya ampuun itu bukan senyuman anak belia. Itu seringai serigala..

Tannn!!, Adit setengah berteriak memanggilku dari anak tangga, aku gak perlu ngintip kok Tansudah keliatan tuhh! Pink! serunya.

Duhh malunya aku, pipiku rasa terbakar api. jantungku berdetak kencang. Anak itu jadi tahu dehh warna dalemanku, tapi berani sekali dia menggodaku seperti itu. Kurang ajar sekali dia!! Untuk beberapa saat aku ingin marah kepadanya. Tapi segera urung karena aku merasa aneh dengan tubuhku. Kulitku tibatiba terasa sensitif sekali. Poriporiku meremang. Dan aku merasakan kegelian yang berkumpul enak sekali pada selasela pahaku. Ahhaku merasakan basah di celana dalamku! Kenapa bisa begini?? Mengapa setelah kejadian memalukan ini aku malah menjadi begini? Entah mendapatkan keberanian darimana, mendadak terbersit keinginan agar Adit dapat melihat lebih jelas lagi bagian tubuhku yang mungkin jarang ia lihat.

Aku tak berusaha membetulkan busanaku yang masih tersingkap, aku malah berpurapura sibuk menjemur pakaianku yang cuma empat potong saja. Aku sendiri menjadi heran dengan diriku. Seolah ada kekuatan yang memaksaku untuk memamerkan tubuhku di hadapan Adit. Seperti ada kekuatan yang menahanku agar tak cepatcepat selesai menjemur pakaian.

Aku menginginkan dia melihatku lebih jelas lagi, aku ingin dia mengintipku atau apapun! Aku ingin mendengar komentarnya mengenai tubuhku. Wusshh..angin nakal bertiup lagi. Menyingkap lebih ke atas dasterku. Tapi aku tak lagi berusaha menahannya. Aku membiarkan saja angin nakal itu. Dan saat aku menoleh ke bawah ke arah Adit dari atas loteng, Ia benarbenar melongo, matanya seakan melotot ke arahku tak berkedip sekejap pun! Hatiku pun berdegup makin kencang.

Seluruh poripori di tubuhku terasa makin melebar dan mengembang, tubuhku terasa makin sensitif. Aku mulai menikmati adegan eksiku di depan anak belia ini. Tak bisa kupungkiri lagi aku merasa senang dengan perbuatanku ini. Ya aku merasa senang karena aku mulai merasakan kenikmatan tersendiri yang susah kuungkapkan dengan katakata. Aku bahkan mulai terlanda sensasisensasi aneh yang membuat bagianbagian genitalku meremang geli, dan bagian paling genitalku pun membasah. Ughh kenapa bisa begini?? aku merintih tertahan.

Rasarasa yang aneh itu terus menderaku hingga kurasakan selasela pahaku tidak sekedar lembap, melainkan sudah benarbenar basah dan becek. Bagaimanapun untuk hal yang satu ini orang lain tak boleh tahu, apalagi anak belia yang sedang menontonku saat ini. Segera kutangkupkan gaunku agar tak tersingkap lagi dan kutoleh anak itu. Hmmmkemana dia? Adit sudah tak ada lagi di bawah loteng. Kemana perginya anak ingusan itu? Hhhhentah kenapa aku merasa kecewa begitu tahu Adit sudah tak lagi menontonku, hatiku terasa hampa.

Tapi..aku terkejut sekali mendengar suaranya memecah lamunanku.

Tante, tante cantik sekali, suara Adit bergetar tepat di belakangku, jaraknya terasa sangat dekat sekali.

Begitu kutolehkan kepala, astaga! benar sekali dia telah berada di belakangku, entah sejak kapan? Mungkin karena aku tadi terlalu sibuk membanggakan diri sampaisampai aku tidak menyadari kalau Adit tahutahu telah beberapa centimeter di belakangku.

Ah bisa saja kamu Dit.
Aku ngomong apa adanya Tan. Tante memang cantik.

Kurasa ia berkata dengan sungguhsungguh, matanya menatap tajam ke mataku tanpa ragu. Tibatiba dengan berani ia merapat kepadaku, kudengar suaranya bergetar lirih,

Tan, aku boleh minta sesuatu?
Aapa sih Dit? cemas rasaku menunggu pertanyaan Adit.
Aku minta cium, Tan. katanya lugas.

Aku sungguhsungguh terkejut dengan permintaan Adit yang tanpa tedeng alingaling itu. Aku tak tahu harus bagaimana, karena ada perasaan iba juga jika aku tak mengabulkan permintaannya, tapi mengabulkan juga salah. Aku sama sekali tak menyangka keadaan akan berlanjut seperti ini.

Kenapa Adit minta seperti itu? tanyaku raguragu sambil kuberanikan menatap matanya langsung. Tapi ternyata aku tak kuat berlamalama beradu pandang dengannya.
Karena Tante Sari cantik. Aku sayang Tante sejak awal ketemu dulu. jawabnya lugas.

Mendengar jawabannya aku benarbenar terkejut. Tak kusangka ternyata ia benarbenar mengagumiku. Pipiku terasa hangat. Agar tidak mengecewakan hatinya aku mencoba menawar,

Hmm iya deh. Tapi kamu merem ya?
Engga mau Tan, aku pengen seperti yang di filemfilem itu. Tante aja yang merem. balasnya lagi tak kalah cerdik.
Iya deh kali ini tante penuhi permintaanmu. Tapi cukup sun pipi saja, gak boleh lebih atau enggak sama sekali, jawabku tegas.

Adit terlihat ragu sejenak, tanganku tibatiba dipegangnya eraterat seakan takut kalau aku lepas darinya.

Iya deh Tan, jawabnya masygul.

Perlahanlahan kakinya berjinjit, lalu tangannya memelukku erat. Saat wajahnya mendekat ke pipiku, entah kenapa tanpa kusadari mataku terpejam, seperti menanti ciuman seorang pacar. Aduhh, mendadak nafasku tersengal ketika kurasakan tangannya turun ke arah pantatku, menekannya di situ kuat sekali sehingga berdempetan dengan tubuhnya. Akhirnya kurasakan nafasnya yang panas menderu di pipiku, semakin dekat. Entah bagaimana tubuhku tibatiba terasa geli semua, bulu kudukku merinding. Dan ketika bibirnya menempel pada pipiku aku gemetar tibatiba.

Ini, ini bukan sun pipi batinku.

Iniini seperti endusan hewan liar yang hendak melumatkanku. Ia, ia tak sekedar menyentuhkan bibirnya ke pipiku, tetapi mengendusendusnya, memolesmoleskannya, mengusapusap pipiku dengan bibirnya. Lalu entah bagaimana mulanya tibatiba bibirnya telah memagut bibirku, lidahnya cepat sekali menyelusup ke dalam bibirku yang terperangah dan menyentuh lidahku. Aduhh..panas sekali lidahnya. Tibatiba segenap tubuhku serasa lemas, jiwaku rasa melayang larut ke dalam belitan lidahnya yang menyentilnyentil langitlangit mulutku. Ahhh..sudah lama sekali aku tak merasakan yang seperti ini. Kusadari ini salah.

Ini tak boleh. Tapi anak abg ini?? Mengapa ia begitu pintar membenamkanku ke dalam sensasi yang menggelitik seluruh pembuluh syarafku. Ohhh, Tuhann..tidakia meremas pantatku, lembut sekali. Ia meremas pantatku dan merapatkanku kepada tubuhnya. Terasa selangkanganku mulai geli dibuatnya. Ohhh tak boleh inibibirnya merangsek leherku, menjilatnya rakus. Eghh ia menyedoti leherku..bagaimana inigeli sekali rasanya. Aduhhhpantatku terus diremasremasnya dengan gemasgeligeli terasa mulai menjalar ke selangkanganku. Iaiaahhh..kenapa ini?? rahimku mulai berkedutkedut.

Kurasakurasacairanku mulai memancutmancut mengairi relungrelung kewanitaanku. Tuhann..gelinya..ahhh..anak ini.anak ini

Dittt..stopp pleasesudah..sudah, aku meminta dengan memelas kepada Adit agar ia berhenti mencumbuku. Aku..akutak mau terus lagiaku..aku sudah hampir menggapai puncak ketika anak ini terus menerus mencecar leherku, kudukku, bibirku..kakiku terasa lemas sekali dan hampir tak mampu menopang tubuhku. Tapi Adit tak mendengar permohonanku. Ia terus saja menciumi wajahku, bibirku, tengkukku, leherkuaihhhh.iaiaa mencupangi leherku.. dan tangannya itu aduhh..aduhh, tangannya mulai menyingkap daster bawahku dan meremasi pantatku..ughhh tangannya tibatiba menyusup selasela pahaku.

Ditttr sudah..sudahcukup Dittt.. aku merintih..meminta agar ia berhenti.

Akuakutak mau meledak di depan anak ingusan ini. Nafasku terengah, tersengal. Tubuhku makin gemetar dan lemas kala kurasa tangan anak belia ini mulai berani mengusap permukaan celana dalamku. Aghhmalu sekali rasanya.

Tannntante sudah basahh banget, bisiknya terengahengah di telingaku, bibirnya terus menjelajah cupingcuping telingaku.

Ini.iniaduhhJarinya terasa menekannekan dan menggesek permukaan selangkanganku yang membecek dan mulai merembes sampai ke pahapaha. Aku merasa tak sanggup bertahan lagi ketika bagian jarinya terasa menyentilnyentil kelenjar syarafku yang paling peka. Aku merasa goyah. Ahhhhaku meledak. Rasanya bergalongalon cairan serasa menyembur dari rahimku, menabraki relungrelung kewanitaanku yang lama kering. Ohhh sungguh tak terperikan rasanyasudah begitu lama..sudah terlalu lama kudamba rasa yang ingin kupungkiri. Seiring geletargeletar tubuhku yang masih tak bisa lagi kukendalikan, jiwaku terasa mengawang, kesadaranku sirna berganti rasa indah, nikmat, enak yang menjalarjalar kemanamana. Ahh AditAditia terus saja mencumbuku dan merangsangku sepenuh jiwa. Ia bahkan tak menyadari kalau tantenya ini sudah merengkuhi puncak tertinggi berahi manusia.

Dittt sudah..stop, aku memohon agar ia mau berhenti.
Stop..Dittt aku meminta lagi, dengan tenaga yang tersisa kucoba mendorong tubuhnya.

Tapi ia tak bergeming, tangannya makin liar bergerilya menyusupnyusup ke dalam celana dalamku dan menyentilnyentil klitorisku secara langsung. Bukan itu saja. Ia menyeret tubuhku ke celah loteng yang agak gelap lalu tangannya menarik turun dasterku. Tali bra ku pun ikut tertarik turun, lepas melewati pundakku. Lalu payudaraku yang menggembung karena terangsang dan putingnya yang tegak kaku tak tertahankan lagi segera menyembul begitu saja ke udara

AggghhhTuhannnmaafkan hambaMu ini. Anak abg ini benarbenar di luar dugaanku. Aku terlalu meremehkannya. Sesaat setelah buah dadaku terbebas dari kekangnya mulutnya segera melumat buah dadaku yang terbuka ke dalam mulutnya. Tubuhku makin lemas menahan rangsang yang kembali bergelora. Lututku goyah karena buah dadaku terlumat dengan buasnya. Ia benar benar terlalu pintar mencumbu dan membangkitkan apiku yang lama terpadami. Aku tak tahan lagi. Ini sudah diluar batas kemampuanku. Dasterku makin melorot. Dadaku sudah terbuka sepenuhnya, tapi Adit terus mencoba menurunkannya dengan segala cara.

Ini tak baik pikirku. Aku tak mau dia menganggapku murahan dengan membiarkan dia berbuat semaunya. Bagaimanapun aku masih punya harga diri. Akankah aku membiarkan saja dia mengerjaiku di loteng yang terbuka ini? Sungguh tak bermartabat rasanya. Aku harus melawan, aku harus memberontak. Tapi gimana caranya? Sedangkan tubuhku sendiri tengah menggelepar terkungkung berahi yang tinggi. AditAdit ia memelorotkan celana pendeknya hingga bisa kulihat benda itu..yang tak asing lagi.

Adit menubrukku hingga tubuhku terjengkang ke lantai yang dingin. Ia melumatku lagi, bibirkubuah dadaku. Aku tak bisatapi ughh..ini terlalu enak aku tak bisasedang pelacurpun tak kan mau melakukannya di tempat seperti ini. Aku mendorong tubuh Adit agar menjauh, tapi lagilagi gagal karena ia bak kerasukan setan terus merangsekku dengan buas. Aku tak bisa berkutik lagi.

Harga diriku ingin menentangnya, tapi tubuhku menginginkan lebih. Tuhannn..tolonglah aku. Aahhhaku merasakan mulutnya melumat payudara kiriku, lidah yang basah dan hangat itu menyapu putingku sehingga benda itu mengeras tanpa dapat tertahankan. Adit terus mencucup dan menjilatinya sambil sesekali menjepitnya gemas dengan gigigigiku. Aku pun mulai mengelinjang, apalagi sambil menjilat, ia juga mulai meraba dan meremasremas bulatannya. Puas dengan yang kiri, abg ini lalu berpindah ke yang kanan. Aku pun semakin merintih menerima aksinya. Terus disedotsedotnya puting susuku sampai jadi basah semua oleh air liurnya.

Sedang asyikasyiknya menikmati payudaraku dikenyotkenyot olehnya, tibatiba aku mendengar suara berat terbatukbatuk dari bawah loteng. Deg!!! Adit terlonjak kaget dan melepaskan pagutannya dari puting buah dadaku yang masih terasa geli dan nyeri..kesempatan itu kugunakan untuk membenahi bajuku yang amburadul. Celana dalamku ternyata sudah turun ke paha, bra ku entah kemana. Aku tak bisa menemukannya karena gelap di situ. Tapi tak apa. Siapapun yang di bawah itu tak boleh memergokiku dalam keadaanku yang seperti ini, ini memalukan sekali.

Ditudah, ada yang dateng aku berbisik lirih dan menggeser tubuhku menjauhnya yang perhatiannya terpecah ke suara batukbatuk di bawah tangga.

Ketakutanku memberiku kekuatan lebih. Aku segera berjingkatjingkat menjauhi Adit yang juga dengan terburuburu mengenakan kembali celana pendeknya. Dengan segala kenekatanku aku berlari menuruni tangga. Tak ada siapasiapa di bawah. Siapa yang batukbatuk tadi? Ahhh aku tak peduli lagi. Aku segera berlari menuju kamarku dan menguncinya. Kulepaskan semua bajuku di dalam kamar mandi. Kuperiksa tubuhku di depan cermin, dadaku, leherku, pundakku hampir semua penuh bekas cupangan. Duhhh memalukan sekali.

Walaupun tak tak bisa kupungkiri juga, betapa diriku telah terbebaskan dari dahaga yang berkepanjangan ini. Membayangkan Adit yang masih ingusan itu, rasanya sungguh tak masuk akal jika dia yang kukira masih hijau itu berhasil mengecohku bahkan memberikan sesuatu yang luar biasa kepadaku. Rasanya sungguh mustahil jika telah sering melakukannya. Apakah anak itu memang suka jajan?? sebelumsebelumnya? Ah jadi puyeng aku dibuatnya. Aku segera mandi sekali lagi, sekalian keramas untuk menghilangkan semua kebingungan yang berkelindan di kepalaku.

Post Terkait