cerita dewasa

Cerita Sex Rumah Di Atas Pohon

Ketika aku sedang asyik melihat brosur di resepsionis front desk Hotel di Medan, tibatiba ada yang menegurku.

Mas Hendi ya. Aku menoleh, seorang wanita berusia sekitar pertengahan 30 tahunan dengan dadanan baju seksi, lengan puntung dan rambut terurai.

Aku merasa tidak mengenal dia, tapi dia menegurku .

Lupa ya mas,

Baca Juga: Ngentot Di Hotel Bersama Pacarku

Aku terus terang memang lupa siapa wanita ini.

Aku Yuanita, masak lupa sih, dulu yang dikebun ( dia menyebut nama perkebunan tembakau dimana aku pernah lama tinggal disana ketika orang tuaku bertugas memimpin perkebunan itu setelah dialihkan dari pengelolaan orang Belanda).

Aku masih belum begitu ingat, tetapi semua tebakannya tepat. Aku kemudian purapura ingat dan langsung menanyakan kabarnya dan dimana dia sekarang. Mungkin meski aku purapura ingat tetapi roman mukaku terbaca masih ada keraguan.

Mas Hendi masak nggak ingat, kita dulu kan pernah main rumahrumahan di atas pohon,

Di situ baru aku ingat, Yuanita adalah anak pembantuku yang dulu menjadi teman mainku ketika aku masih kelas 5 SD.

Yaya aku ingat, lho kamu nginap di sini, sama siapa, sekarang tinggal dimana,
tanyaku yang baru pulih ingatan.
Iya aku baru chek in tadi pagi, suamiku lagi di restoran tuh, aku sekarang tinggal di Canada, katanya dengan air muka berseriseri .

Yuanita yang dulu anak pembantu di rumahku sekarang bersuamikan bule dari Canada. Dia rupanya sudah 10 tahun tinggal di sana. Pantas saja dadannya kaya orang bule. Wajahnya sih termasuk lumayan, kalau nggak mau dibilang paspasan. Kelebihannya dia memiliki body yang lumayan bahenol.

Kamu udah punya anak berapa sekarang, tanyaku.
Ah belum ada, kami memang berencana tidak mau punya anak,

kata Yuanita.

Dia lalu mengajakku ke restoran untuk memperkenalkan dengan suaminya.

Suaminya lagi asyik menikmati wine sambil merokok. Dia kelihatannya sudah cukup umur, mungkin sekitar 50an. Tapi gayanya masih modis.

Kami ngobrol sekitar 30 menit dan ku ketahui suaminya bekerja di perminyakan lepas pantai.

Mas mana istrinya kenalin dong, katanya.
Aku kesini dalam rangka tugas, jadi ya nggak bawa istri, Aku tinggal di Jakarta, kapankapan kalau ke Jakarta call aku ya, aku menawarkan diri.
Sering sih ke Jakarta, eh ngomongngomong di kamar berapa, katanya sambil dia menunjukkan no kamarnya dengan mempelihatkan kunci kamar. Aku beritahu no kamarku.

Kami kemudian berpisah, karena penjemputku sudah menunggu di lobby.

Sepulang dari acara malam, aku kembali ke hotel. Rasanya belum ngantuk untuk langsung tidur . Aku singgah ke bar untuk sekedar menikmati home band yang kedengarannya lagunya asyikasyik. Penyanyinya melantunkan lagulagu oldies. Aku menyapu pandangan mencari meja yang kosong.

Tibatiba Yuanita memanggilku sambil melambaikan tangan. Aku dengan terpaksa bergabung ke mejanya. Untuk memanaskan badan aku pesan long island. Dulu ketika aku menginap di hotel ini, bar tendernya pintar membuat long island, makanya aku pesan itu lagi sekarang. Suami Yuanita yang kemudian kuketahui namanya Peter menyeruput Tequila, sedang Yuanita kelihatannya menghadapi Martini.

Gila anak kebon, ibunya dulu pembantu sekarang gaya amat , batinku dalam hati.

Peter cepat akrab, dia pandai bergaul. Kami ngbrol ngalor ngidul tanpa isi. Yuanita selalu mempromokan aku, gimana dulu aku sangat di hormati di perkebunan ayahku.

Dulu Mas Hendi masih kecilnya cakep banget, kata Yuanita.

Sampai tengah malam akhirnya kami bubar. Mereka menolak aku tutup billnya. Yuanita ngotot dia yang membayar.

Pengaruh long island membuatku cepat terlelap, sampai paginya aku terbangun terasa badan sudah segar. Aku mandi dan berpakaian casual. Hari ini aku tidak ada jadwal. Hari ini ada meeting, tapi saat makan malam. Jadi aku bisa rileks, Tapi mau nerusin tidur rasanya udah nggak ngantuk. Kulirik jam di meja kecil baru jam 8 pagi.

Aku turun ke restoran untuk sarapan pagi. Ketika aku sedang asyik menikmati toast dan jus, tibatiba ada yang mecolek.

Nah pagipagi udah nglamun, ternyata Yuanita mengejutkanku.
Suamimu mana, kok sendirian, tanyaku.
Dia tadi pagi subuh udah berangkat ke Lhokseumawe. Aku malas ikut, urusan kerjaan mana ada enaknya kata Yuanita.

Peter bersama orang companynya mungkin ngurusi minyak di sana.

Mas apa acara hari ini, tanya Yuanita.

Aku mengatakan bahwa hari ini free kecuali nanti malam, jadi belum tau mau ngapain, paling tiduran lagi abis ini.

Idih tidur melulu, katanya.

Kami sarapan satu meja sambil ngobrol nostalgia. Aku geli mengingatingat masa lalu ketika bermain dengan Yuanita. Waktu itu rasanya Yuanita cinta monyet ke aku.

Selesai sarapan, Yuanita mengajak aku mampir ke kamarnya. Mulanya aku ragu, karena nggak enak juga masuk kamarnya padahal suaminya sedang pergi. Tapi Yuanita memaksa menggandengku ke kamarnya. Aku turuti saja mau tau apa maunya.

Gila dia menempati kamar suite, kamar yang paling mahal di hotel ini. Kamarnya ada ruang tamunya dengan sofa. Gila si Yuanita sekarang jadi orang kaya rupanya dia, pantes aja asesorisnya kelihatan mahalmahal.

Dia mengeluarkan sebotol red wine. Aku diberi sedikit dan dia sendiri menuang di gelas sedikit. Kami tos dan menenggak sedikit. Yuanita mengajari aku agar kalau meminum red win harus dikunyah. Aku coba, seluruh mulutku terasa kelat atau sepet. Enak juga rupanya red wine kalau dikunyah. Aroma mulut jadi terasa bersih.

Aku duduk di sofa sambil menghidupkan TV. Yuanita langsung duduk merapat. Tidak itu saja dia memelukku, katanya dia kangen banget ke aku. Sering dia terbayangbayang masa kecilnya bersamaku. Aku diam saja tidak membalas pelukannya. Tidak enak rasanya dia kan sekarang sudah jadi istri orang. cerita sex

Soal main perempuan, aku selama ini tidak munafik, tapi mengganggu istri orang adalah hal yang paling aku jaga. Sekarang istri bule memelukku erat sekali. Aroma tubuhnya wangi. Bagaimanapun ini membuat aku agak terangsang. Bagaimana tidak, teteknya yang kenyal menekan lenganku, rasanya dia tidak pakai bh karena tidak ada kain keras yang menghalangi. Dasar istri bule, gayanya udah kaya bule aja.

Nafasnya terasa berhembus ke dekat telingaku. Ketika aku menoleh ke arahnya, badanku langsung ditarik merapat dan dia segera mencium mulutku. Aku terkejut sehingga tidak segera membalas ciumannya. Tapi ciuman Yuanita begitu ganasnya, sehingga tanpa aku bereaksipun dia sudah mengganas.

Rasanya tidak sopan juga kalau aku tidak membalas serangannya. Aku memiringkan badanku dan memeluknya erat lalu membalas ciumannya. Serangan Yuanita begitu ganas seperti orang yang nafsu banget. Aku berpikir, mungkin pengaruh pergaulan barat maka dia berani agresif begini. Aku didorongnya telentang sehingga Yuanita langsung menindihku.

Dia menyiumi semua wajahku, kupingku lalu leherku. Tanganku diarahkannya untuk meremas teteknya. Gila bener teteknya gempal. Kancing bajuku dibukanya satupersatu. Dia menyiumi dadaku dan kedua puting susuku. Aku makin tinggi terangsang. Tangannya mulai meremasremas k0ntolku yang sudah mengeras. Dibukanya pelanpelan sabukku lalu dia menurunkan resletingku. Dengan satu gerakan mencuatlah k0ntolku dari celana dalam.

Aku belum sempat banyak berpikir, Yuanita sudah aktif mengulum k0ntolku. Celanaku ditariknya sampai terlepas. Bagian bawahku sekarang sudah telanjang. Yuanita lihai sekali memainkan seluruh kemaluanku sampai aku benarbenar lupa diri. Bukan hanya kemaluan, tetapi sun holeku dia bersihkan dengan jilatan lidahnya. Aku semakin melayang. Gila dia bisa menelan seluruh k0ntolku ke dalam mulutnya. Memang k0ntolku tidak terlalu besar, ratarata ukuran Asia lah, 15 cm. Terasa ujung k0ntolku menyentuh kerongkongannya. Inikah yang dimanakan deep trough. Nikmat sekali rasanya.

Yuanita lalu berdiri dan melucuti sendiri bajunya. Bodynya memang agak gemuk, tetapi tidak gembrot. Teteknya gede, pantatnya besar dan pahanya juga besar. Bulu jembutnya dicukur licin, jadi kelihatannya seperti Vagina anak kecil.

Dia menarikku untuk meneruskan acara di tempat tidur. Aku turuti. Aku membuka semua bajuku sehingga kami berdua bebaring di tempat tidur dalam keadaan bugil. Dia sekali lagi mengulum k0ntolku. Pelanpelan dia mengubah posisinyu sehingga Vaginanya berada tepat di depan mulutku. Aku paham kemauan dia. Dia mau 69 dan aku menjilati vaginanya. Dia mengerangngerang ketika lidahku menyapu bibir Vaginanya.. Aku lalu menjilati bagian dalam belahan nya yang masih rapat. Dia makin mengerang sehingga mengabaikan k0ntolku.

Aku merasa Yuanita suka di oral. Kudorong dia agar telentang dan kubuka kakinya lebar=lebar serta lututnya kulipat dan ku tekuk kakinya ke atas. Lubang Vaginanya terekspos dengan jelas. Vaginanya masih bagus, meski dia sudah berumur sekitar 30 seperti juga aku. Aku mulai mengerjai Vaginanya dan lihat clitorisnya sangat menonjol. Jarang aku menemukan cewek dengan itil yang menonjol keluar dan mencuat begini. Aku menjilati seputar itilnya. Yuanita mengerang makin keras.

Dia rupanya tipe cewek yang berisik kalau bercumbu. Jika saja ada orang yang lewat di depan kamar kami, pasti dia mendengar erangan Yuanita. Aku mendengar erangan itu makin bernafsu dan semangat. Kini ujung itilnya menjadi sasaran jilatanku. Dia makin menggila seperti orang nangis suaranya. Tidak lama kemudian Yuanita mencapai orgasme. Mulutku tetap aku bekap ke Vaginanya dan ujung itilnya aku tekan dengan lidah.

Asyik sekali terasa sensasinya, itilnya mengedutngedut saat dia orgasme. Jariku kucolok ke dalam lubang vaginanya mencari titik g spot. G Spotnya mudah ditemukan karena juga menggunduk empuk. Kuusapusap pelan gpostnya. Aku bangkit melepas bekapan mulutku ke Vaginanya. Lubang vaginanya aku kangkangkan selebar mungkin dan jariku terus merangsang gspotnya. Yuanita mendesisdesis, makin lama makin cepat dan akhirnya dia mencapai orgasme sambil berejakulasi. Cairan kental tibatiba menyemprot mukaku sampai kena ke mulut. Rasanya agakagak asin dan kental. Yuanita seperti menangis terlolonglolong ketika dia berejakulasi.

Setelah ejakulasinya berhenti aku segera menancapkan k0ntolku ke vaginanya. Aku menggenjotnya dengan gerakan kasar. Dia mintaminta ampun karena katanya badannya lemas sekali, tapi sambil ngomong mulutnya mendesisdesis. Aku tidak pedulikan permintaannya, terus menggenjot dengan kasar sambil mengatur posisi dimana terasa dia membalas reaksi gerakanku. Sampai terasa pada posisi yang tepat aku bertahan dalam posisi itu. Yuanita kembali mengerangerang keras.

oh I am coming Iam coming .ooooohhh. please mas Hendi please aku nggak kuat. Aduh aduh keluar lagii, katanya ketika orgasmenya datang beruntun dalam waktu singkat.

Aku makin gila menggenjotnya karena terasa Vaginanya makin mencekal dan menjepit ketika dia mencapai orgasme, aduh ampun udah nggak kuat. katanya tapi aku terus menggenjot makin kasar karena aku merasa akan segera mencapai orgasme. Dia orgasme lagi dan bersamaan dengan itu aku pun ejakulasi didalam Vaginanya.

Badan kami berkeringat sekali . AC yang dingin dikamar tidak terasa.

Aku rebah di samping tubuhnya.

Gila mas Hendi hebat banget sampai aku lemes banget katanya.

Aku menarik selimut dan tidur. Karena mataku terasa makin berat.

Aku terbangun karena terasa perut lapar. Ketika aku bangkit, Yuanita menarikku, kami terlibat cumbuan kembali. Dia menindihku tubuh kami bertumpuk dalam selimut. Yuanita kelihatannya ingin main lagi. Dia bernafsu sekali menciumi seluruh tubuhku lalu pelan pelan ke perutku dan akhirnya masuklah k0ntolku ke dalam mulutnya. Selimut disingkirkan dia menduduki dan k0ntolku yang sudah tegak mengeras dijebloskan ke dalam vaginanya. Yuanita mulai bergoyang.Mulanya badannya dinaik turunkan lalu dimaju mundurkan dan diputar seperti ngulek sambel di cobek. Yuanita menemukan posisinya yang paling nikmat dia terus melakukan itu sampai akhirnya ambruk. Aku belum merasa apaapa.

Mas sudah pernah ngrasai anal sex, tanyanya.

Aku terus terang selama ini menginginkan, tetapi belum pernah mendapat patner yang mau melakukan.

Yuanita bangkit mengambil tube dan dia oleskan semacam jelli ke k0ntolku. Aku tetap pada osisi telentang. Yuanita mengarahkan k0ntolku ke lubang duburnya . Pelanpelan badannya direndahkan . K0ntolku menerobos masuk lubang duburnya dan akhirnya tenggelam. Terasa sangat sempit dan sensasinya aneh sekali. Yuanita pelanpelan mulai menggenjot. Terasa seluruh batangku seperti dijepit ketat sekali. Rasanya seperti ngewek cewek yang baru diperawani.

Dia bermain sambil terus menaik turunkan badannya. Kelihatanya dia mulai lelah sehingga mengajak aku melakukan posisi dogie. K0ntolku terlepas dan setelah dia pada posisi merangkak, aku kembali memasukkan k0ntolku ke duburnya. Tidak terlalu sulit karena bantuan jelli. Aku menggenjotnya dan terasa nikmat sekali. Rasanya aku bakal orgasme dalam posisi dogie ini . Gerakannya kupercepat dan akhirnya meletuslah ejakulasiku di dalam duburnya. Ketika kucabut k0ntolku, dari lubang duburnya meleleh air spermanya.

Juriah membimbingku ke kamar mandi. Kami berguyur air hangat. Seluruh tubuhku dibersihkan, seperti dia memandikan anak kecil. K0ntolku berkalikali disabuninya lalu disiram dan diisap, disabuni lagi.

Batangku yang sudah kenyang menorobos lubang, agak sulit dibangunkan, sehingga Yuanita hanya mengulum k0ntol yang sedang kuyu.
Badan kami segar kembali. Siang ini kami berdua memutuskan mencari makan di luar. Kami wisata kuliner mencari makanan yang khas Medan.

Selepas makan siang kami kembali ke kamar hotel Yuanita. Kami ngobrol panjang lebar. Yuanita bercerita, meski pun dia senang bersuamikan Peter, tetapi kehidupannya kurang bahagia. Peter adalah penganut bi sex. Bahkan dia lebih suka berhubungan dengan patner cowoknya dibanding dengan Yuanita. Konyolnya Peter sering melakukannya di kamarnya di depan Yuanita. Meski begitu Peter sayang kepada Yuanita. Apapun keinginan Yuanita, selalu dituruti.

Yuanita pernah berpikiran ia mencari patner pria mengimbangi kelakuan Peter. Tapi dia katanya kurang punya keberanian, meski banyak temen Peter yang cakepcakep. Yuanita mengungkapkan kadang batinnya tersiksa hidup di Canada bersuamikan yang bi sex.

Tapi mengingat kehidupannya di Indonesia, susah akhirnya dia berusaha menikmati saja kehidupan yang ada.

Pernah Yuanita ketika sedang kesal mengancam Peter dia akan cari cowok dan juga akan mengajaknya main di rumah. Eh Peter malah senang dan dia mendorong Yuanita untuk melakukannya. Peter beranggapan dengan begitu, score mereka jadi imbang. Tapi Yuanita kemudian urung karena dia tidak mau larut dengan pasangan selain dengan Peter.

Menurut Yuanita, Peter kalau berhubungan dengannya hanya sebatas memenuhi kewajibannya saja. Kemesraannya kurang mendalam. Peter lebih mesra jika dia berhubungan dengan cowoknya.

Aku prihatin juga melihat kenyataan kehidupan Yuanita. Jika dilihat dari luar dia kelihatan mesra sekali dengan suaminya. Ternyata dibalik itu ada keresahan yang terpendam.

Kami lalu bercerita mengenang masa lalu kami ketika masih kecil. Aku dan Yuanita kadangkadang geli mengingat kekonyolan kami. Dia masih ingat detil kejadiankejadian ketika kami masih bermain bersama waktu kecil.

Ingatanku kembali ke masa anakanak bersama Yuanita, di satu perkebunan tembakau di dekat Medan, Sumatera Utara.

Kuingat ketika itu aku baru kelas 5 SD. Berarti umurku baru sekitar 11 tahun. Yuanita juga seumuran itu. Ibunya pembantu dirumahku. Rumahku sangat besar, rumah peninggalan Belanda. Ibu Yuanita menempati ruang di bagian belakang rumah agak terpisah jauh. Ada koridor yang menghubungkan bangunan induk yaitu rumahku dengan bangunan di belakang dimana terdapat dapur, gudang dan 3 kamar pembantu.

Rumahku memiliki halaman yang luas baik di bagian depan samping dan belakang rumah. Di bagian belakang ada kebun dan beberapa pohon besar seperti, mangga, jambu, duku dan manggis. Ketika itu aku senang memanjat pohon untuk memetik sendiri buahbuahan. Pohon manggis yang besar sering menjadi tempat aku beristirahat. Pohonnya agak menyendiri, sehingga kalau aku memanjat tinggi aku bisa melihat pemandangan di sekeliling. Suatu hari aku melihat gambar di majalah luar negeri ada rumahrumah di atas pohon. Aku lalu minta ke ayahku untuk menyuruh tukang membuatkan rumahrumahan di atas pohon seperti yang ada di majalah.

Ayahku setuju dan menyuruh tukang membuatkan rumahrumahan di atas pohon. Lumayan asyik juga rumah dengan luas 1,5 m x 1,25 di ketinggian sekitar 4 m. Ada tangga yang dipakukan di pohon sehingga lebih mudah naik ke rumah diatas pohon.

Sejak ada rumahrumahan itu aku sering tidur siang di situ. Yuanita yang sering nimbrung kalau aku bermain beberapa kali pernah ikut pula menikmati rumah kecilku. Aku sebetulnya kurang suka main sama anak perempuan. Tetapi di lingkunganku hanya dia yang sebayaku, jadi lumayan juga aku sering menyuruhnyuruh dia. Orang tuanya maklum, jika anaknya menjadi suruhanku. Dia juga dibebaskan bermain denganku. Yuanita agak tomboy, karena dia suka mainan lakilaki seperti mobilmobilan, layangan dan mancing . Jarang sebenarnya ada cewek suka mancing.

Sepanjang hari kadang kami main bersama mulai dari cari ikan di parit hutan di belakang rumah sampai mandi disungai. Kalau kami mandi disungai, aku mengenakan celana pendek, sedang Yuanita mengenakan celana dan kaos. Kadangkadang dia juga hanya pakai celana dalam saja. Pada waktu itu aku kurang begitu punya perhatian kepada lawan jenis. Jadi ya biasa saja mandi dengan anak perempuan. Tetek Yuanita di umur segitu seingatku juga belum numbuh.

Aku anak yang memang suka gratilan, lemari dan lacilaci orang tuaku sering kuperiksa. Pernah suatu kali aku menemukan kunci laci. Laci itu selalu terkunci dan kuncinya selalu disimpan ibuku. Rupanya kali ini dia lupa, ketika dia pergi bersama ayahku ke kota, kuncinya tergeletak di meja.

Kubuka laci itu dan di dalamnya kutemukan setumpuk majalah dan ada foto hitam putih orang bule sedang berhubungan badan. Badanku panas dingin melihat foto itu. Aku membawa foto itu ke rumahku diatas pohon .Disana aku bebas melihat tanpa takut kepergok pembantu.

Berkalikali aku lihat fotofoto itu sampai akhirnya aku onani. Pada umur segitu aku sudah mengerti onani karena diajari oleh temenku di sekolah. Kata dia k0ntol kalau dikocokkocok pakai sabun rasanya akan enak banget. Aku pun di rumah mencobanya, dan memang rasanya enak.

Ketika aku sedang asyik, di bawah kulihat Yuanita sedang melintas. Dia kupanggil naik keatas. Yuanita segera naik.

Nit kamu mau liat foto asyik enggak, tanyaku.

Dia penasaran dan ingin liat foto apa.

Aku segera tunjukkan kedia. Dia terdiam dan memperhatikan fotofoto itu. Aku tidak tahu waktu itu dia terangsang seperti aku apa tidak. Tapi dia diam saja dan mukanya agak merah. Dia tanya ini foto orang lagi ngapain kok pada telanjang. Itu kontolnya kok pada diadu ama Vagina. Untuk apa sih kok pake diadu segala.

Aku jelaskan mereka melakukan itu untuk merasakan enak. Yuanita tidak percaya. Dia memang masih buta soal sex sama sekali. Makanya dia tidak malu bermain dengan aku. Setelah kami puas mengamati fotofoto itu, aku segera turun mengembalikan foto ke tempatnya semula. Sebab sebentar lagi orang tuaku pulang.

Yuanita masih ada di atas rumah. Dia malah tidur disana. Aku naik keatas, k0ntolku masih menegang terbayang oleh gambargambar tadi. Kepalaku jadi pening. Mungkin karena nafsu yang ingin disalurkan, tapi aku sama sekali tidak tahu pada waktu itu.
Sejak melihat foto itu aku jadi tertarik untuk melihat bagian wanita yang sesungguhnya. Tidak ada wanita lain kecuali Yuanita yang masih bloon. Tapi dia kan masih anakanak dan teteknya aja belum ada.

Berharihari aku ngebet nafsu. Meski sudah berkalikali onani, tetapi rasa penasaran ingin lihat cewe punya tetap besar.
Akhirnya pada suatu hari ketika Yuanita bersamaku diatas rumah pohon, aku ngomong ke dia bahwa aku pengin lihat Vaginanya. Yuanita tidak mau, malu katanya. Aku bilang apa seperti yang digambar itu apa lain sih, kataku.

Dia bilang lain. Ini membuatku makin penasaran. Setelah kubujuk dan kuancam aku tidak mau bermain dengan dia lagi, akhirnya dengan berat hati dia memelorotkan celananya. Tapi tangannya menutup bagian kemaluannya. Aku suruh dia buka sebentar. Dia buka sebentar lalu ditutup lagi. Tentu saja aku tidak puas dengan pandangan yang sekilas itu. Tangannya kutarik dan aku ingin puas memandang Vaginanya. Memang bener lain, karena Vagina Yuanita masih belum ada bulunya dan bentuknya menggunduk.

Dia kusuruh telentang dan kubukabuka lipatan Vaginanya. Tapi Yuanita melarangku karena katanya sakit kalau dibukabuka. Ketika aku buka terasa ada bau pesing dari Vagina Yuanita. Tanganku yang menyentuh Vaginanya juga jadi agak bau. Tapi baunya tidak hanya pesing, bau aneh. Pada waktu itu aku merasa jijik, tapi penasaran pengen liat Vaginanya lebih jelas.

Yuanita kusuruh ngangkang lebar dan aku membukabuka belahan Vaginanya. Didalamnya kelihatan merah, ada lubang kecil diatas dan dibawah juga kayak ada lubangnya. Aku pegangpegang Yuanita menggelinjang katanya geli dan perih Jadi kalau Vaginanya dibuka lebarlebar katanya perih.

Membandingnya dengan foto kelihatan Vagina Yuanita masih kecil banget. Tapi waktu itu aku penasaran pengen melakukan adu kemaluan. Aku bilang ke Yuanita,

mau nggak kita nyoba kaya yang difoto itu, keliatannya orangnya keenakan, mungkin rasanya enak, kataku.

Yuanita hanya mengangguk.

Aku langsung memelorotkan celana dan k0ntol kecilku sudah mengeras. Aku meniru posisi di foto dimana cowoknya diatas dan ceweknya ngangkang dengan kaki dilipat. Yuanita memperhatikan k0ntolku katanya bentuknya aneh kayak kepala jamur, katanya.
Aku lalu merapatkan k0ntolku ke Vagina Yuanita. Aku tempel dan aku masukkan kebelahan Vaginanya. Aku pada waktu itu tidak tahu bahwa k0ntol harus dimasukkan ke dalam lubang vagina. Jadi k0ntolku aku gesergeser. Rasanya sudah nikmat banget, Aku terus menggesergeser sambil melakukan gerakan seperti memompa. Aku melakukan terus sampai akhirnya aku mencapai orgasme. Menurut Yuanita dia merasa geli tapi ada enaknya juga. Setelah itu kami berpakaian kembali.

Permainan aku dan Yuanita ini jadi nagih. Rasanya tiap hari aku selalu kepengen melakukan. Meski pada waktu itu pengetahuanku mengenai hubungan sex dibilang masih minim, tetapi aku sudah merasakan kenikmatan ngeseks. Yuanita pun senang aku gituin, jadi kalau tidak aku yang memulai ya dia . Yuanita pun sudah bisa mengisap k0ntolku seperti yang ada di foto. Rasanya pada waktu itu nikmat banget. Tapi kalau aku ngoral Yuanita aku belum berani, soalnya Vaginanya bau pesing.

Namun aku suatu hari pengin nyoba juga gimana sih rasanya mengoral Vagina. Soalnya difoto kok ceweknya keliatan keenakan banget.

Yuanita kusuruh mencuci Vaginanya bersihbersih pakai sabun. Dia turuti anjuranku, lalu dia menyusul naik ke rumah diatas pohon. Vaginanya memang tidak bau pesing lagi. Aku mulai menjilati lubang Vaginanya. Yuanita tertawa kegelian dan dia katanya gak tahan geli banget. Aku ngotot agar dia tahan gelinya. Yuanita menahan geli sambil cekikikan. Aku tetap memaksa menjilati Vaginanya. Aku tidak tahu bagian mana yang harus dijilati. Semuanya aku sapu. Tapi ketika aku sapu bagian clitorisnya dia makin kegelian dan menggelinjang. Aku jadi penasaran karena kok bagian itu agak mengeras, seperti terasa ada tulang rawannya. Aku jilatjilat dia terus tertawa kegelian.

Ludahku banjir di Vagina Yuanita.

Akhirnya aku bosan menjilati Vagina Yuanita, karena dianya terus cekikikan. Aku kembali mengadu kemaluan. Aku arahkan k0ntolku ke Vagina Yuanita yang selangkangannya aku buka selebar mungkin. Aku jadi bisa melihat k0ntolku diarahkan kemana. Aku mengarahkannya ke belahan yang kelihatannya seperti ada lubangnya. Aku coba masukkan k0ntolku ke situ, kok bisa masuk kepalanya. Tapi Yuanita merasa perih dan sakit, sampai dia mundurkan pantatnya. Sementara aku merasa makin nikmat. K0ntolku mentok. Karena k0ntolku tegangnya keras sekali dan mungkin karena masih kecil jadi kayaknya k0ntolku seperti ada tulangnya. Aku gosokgosok, rasanya makin nikmat, tapi Yuanita merasa sakit. Aku mencapai orgasme.

Besoknya aku ulangi lagi dan sekarang aku tau bahwa Vagina Yuanita mesti dikasih ludah banyakbanyak biar k0ntolku bisa masuk kelubangnya. Aku merasa nikmat memasukkan k0ntolku ke lubangnya, tapi kukira lubangnya buntu, karena k0ntolku tidak bisa masuk semuanya. Yah kupikir pada waktu itu, Vagina anak kecil memang masih buntu, lain sama yang difoto. Tapi aku pikir lagi kalau buntu mana bisa dia kencing. Itu pikiran anakanak karena dianalogkan dengan k0ntol, jadi kencing ya dari lubang. Ternyata sekarang baru tau kalau lubang itu berbeda. Jadi pada waktu itu aku berpikir pasti gak buntulah.

Jadi besoknya lagi aku mencoba dengan terlebih dahulu melumuri ludah di lubang kemaluan Yuanita. Sekarang lubang kemaluannya tidak sakit lagi kalau aku gesekgesekan kemaluanku. Aku kangkangkan paha nya lalu k0ntol kecilku aku arahkan ke celah Vagina Yuanita. Aku tekantekan Yuanita mengeluh sakit. Tapi aku merasa nikmat. Aku penasaran juga sehingga menekan keras. Yuanita menjerit kesakitan. Tapi k0ntolku bisa masuk semua. Rasanya nikmat luar biasa. K0ntolku seperti kejepit didalam Vaginanya.

Pelanpelan aku tarik, Yuanita merintih sakit lalu aku dorong lagi pelanpelan lalu kutarik dan dorong terus aku lakukan pelanpelan. Rasanya nikmat sekali, sampai aku akhirnya orgasme setelah bisa memompa lebih cepat.

Vagina Yuanita berdarah dan di k0ntolku pun ada darahnya. Aku lap k0ntolku dengan sapu tangan dan Vaginanya juga aku lap. Yuanita menangis karena Vaginanya sakit. Aku bingung. Waktu itu aku nggak ngerti soal keperawanan. Ku pikir aku melukai Vagina Yuanita karena memaksa memasukkan k0ntol. Abis rasanya enak banget, jadi aku genjot aja. Aku terdiam, lalu aku turun karena tenggorokan kering.

Aku kembali naik keatas si Yuanita masih disitu. Dia masih tertidur. Katanya Vaginanya masih perih, jadi belum berani turun tangga. Aku jadi kuatir, kalau Yuanita tidak bisa turun. Ada mungkin sekitar 2 jam sampai kami ketiduran. Bangun tidur Vagina nya terasa sudah agak mending, sehingga dia mulai bisa turun tangga pelanpelan. Dia jalan agak ngangkang, tetapi aku larang dia jalan begitu, takutnya nanti orang tau kalau Vaginanya sakit. Yuanita lalu memaksakan jalan normal.

Seminggu lebih Yuanita nggak mau dipegang Vaginanya karena masih agak sakit dan takut. Tapi setelah itu karena aku bujuk terus karena kepingin akhirnya Yuanita mau aku setubuhi lagi. Kata dia Vaginanya masih agak sakit. Tapi udah nggak berdarah lagi. Aku bisa memasukkan k0ntolku dalamdalam dan rasanya sangat nikmat, lebih nikmat dari pada mengocok. Aku sampai main dua kali karena tegang lagi.

Sejak hari itu aku hampir setiap hari main dengan Yuanita sampai dia tidak merasa sakit lagi.

Aku pernah main sama dia 4 kali ketika hari minggu . Pagi pagi aku main 2 kali setelah makan siang sampai sore aku main lagi 2 kali.

Aku jadi ketagihan main sama Yuanita. Ketika aku kelas 6 dan Yuanita juga naik ke kelas 6 teteknya mulai membengkak. Tapi waktu aku pegang katanya sakit sekali, jadi aku hanya ngeluselus dan menjilati puting susunya.

Tetek Yuanita makin besar ketika kami menjelang ujian akhir dan aku mulai mengeluarkan sperma ketika mencapai orgasme. Rasanya nikmat sekali.

Setelah aku masuk SMP kedua orang tuaku pindah ke perkebunan lain. Maknya Yuanita ikut orang tuaku pindah. Kami memang tidak lagi punya rumah di atas pohon, tetapi kami punya tempat tersembunyi untuk melampiaskan nafsu. Sampai kelas 3 SMP, aku sudah makin dewasa dan Yuanita sudah mejadi gadis yang teteknya sudah besar. Aku tidak tahu pada waktu itu kalau sperma dilepaskan di dalam bisa mengakibatkan hamil. Tapi Yuanita memang tidak hamil. Yuanita malah sudah bisa pula menikmati rasa kalau kami berhubungan. Dia pun malah ketagihan selalu mengajak aku main. Kadangkadang aku bosan, tapi Yuanita ngambek kalau aku tidak penuhi permintaannya. Nafsu Yuanita besar sekali dia selalu minta aku bermain berkalikali sampai k0ntolku susah bangun lagi walau sudah disedotsedot Yuanita. Menjelang akhir SMP Ibunya Yuanita pulang ke kampungnya. Sejak itu aku tidak pernah dengar beritanya lagi.

Aku ketemu Yuanita lagi ketika di hotel inilah. Dia kini sudah menjadi Istri bule kaya dan melalang buana ke berbagai negara. Malam itu aku tidur di kamar Yuanita, karena suaminya baru pulang besok sore.

Ketika Peter kembali ke hotel dia mengundangku ke restoran bersama Yuanita. Kayaknya dia mau bicara soal serius. Rupanya Yuanita menjelaskan soal hubunganku dengan dia selama Peter pergi. Sehingga Peter langsung membuka pembicaraan. Dia pada intinya berterima kasih karena telah mengurus istrinya selama dia pergi. Peter malah minta tolong agar aku kalau memungkinkan memenuhi nafkah bilogis istrinya. Peter bukan keberatan, malah dia berterima kasih, jika aku mau melakukannya.

Sulit juga aku menjawabnya, karena ini adalah hal yang keliru tetapi menyenangkan. Aku hanya menjawab bahwa sejauh aku sanggup membantu aku akan membantunya.

Peter bangkit menyalamiku. Dia bahkan akan mengundangku berkunjung ke Canada. Dia ingin aku menemani istrinya sekitar sebulan di rumahnya di Montreal.

Sejak itu aku sering pulang pergi ke Canada, semuanya gratis bahkan pulangnya aku masih mengantongi beberapa ribu dolar Canada.

Post Terkait