cerita dewasa

Cerita Sex Giliran Seks Gadis Cantik

Selama aku menjadi sopir taksi di ibukota selama beberapa tahun Iwan telah banyak menemui kejadian yang menegaskan fenomena itu. Suatu ketika, ia mengembalikan dompet seorang ibu yang ketinggalan di taksinya.Sesungguhnya, ia tidak mengharapkan keuntungan apaapa dari situ, sebab baginya kejujuran dan kepolosan sudah menjadi bagian integral dari jiwa, tubuh dan segenap aktifitas kesehariannya.

Kalau pun kemudian, si ibu dengan ekspresi wajah lega dan ucapan terima kasih tak terhingga, lalu memberikan uang sebagai penghargaan atas jasa nya, dan kemudian dengan halus si sopir itu menolaknya, itu sematamata karena apa yang telah ia lakukan sudah menjadi tugasnya. Komitmen Iwan untuk menjunjung tinggi harkat kesupir taksian saya, tak lebih.

Pada kesempatan lain, ia menolong seorang korban kecelakaan lalu lintas di depan kampus sebuah perguruan tinggi. Ia segera membawanya ke UGD rumah sakit terdekat, dengan tidak memperhitungkan lagi berapa tarif taksi yang dapat diperolehnya bila ia tetap mengabaikan kejadian itu. Semua terasa seperti tindakan bawah sadar yang telah terbentuk sedemikian rupa selama bertahuntahun, sejak ayahnya yang telah almarhum menanamkan nilainilai kearifan tradisional dalam diri Iwan.

Hari itu Iwan kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa. Untuk yang satu ini memang bukan rutinitas yang lazim, karena setiap petang tiba, ia menjemput Ida (25 tahun), tokoh sentral berikutnya, yang adalah seorang wanita panggilan kelas atas yang tinggal di sebuah rumah mewah di sebuah kompleks pemukiman real estate, untuk kemudian membawanya ke suatu tempat, di mana saja, yang telah disepakati sebelumnya oleh pelanggan setianya itu.

Ida sudah menyewa taksi Iwan selama 6 bulan. Jadi pada jamjam tertentubiasanya petang hariIwan menjemputnya di rumah tersebut, membawanya ke tempat yang senantiasa berbedabeda tergantung mana yang ditunjuk wanita itu, lantas mengantarnya kembali pulang setelah bisnisnya usai pada jamjam tertentu pula. Ida membayar cukup mahal untuk tugas tersebut dan Iwan menerima itu sebagai bagian tak terpisahkan dari harkat kesupir taksian nya.

Ia tidak menganggap itu sebagai kerja yang hina lantaran menerima bayaran dari hasil desah dan keringat maksiat Ida. Ini bagian dari tugas, demikian ia mencari alasan pembenarannya. Iwan selalu menganggap persetan dengan semua anggapan sinis tentang dirinya. Baginya, ia tetap memiliki hak untuk menentukan sikap dan melakukan apa yang terbaik bagi dirinya sendiri. Prinsip sederhana memang tapi logis.

Sudah 4 bulan lamanya Iwan melakukan tugas rutin itu. Ia sudah berusaha menghilangkan beban psikologis apa pun termasuk perasaan cinta. Terus terang sebagai seorang pria, Iwan memang tidak dapat mengingkari kata hati bahwa Ida memang cantik dan diamdiam ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dengan rambut sebahu, wajah oval proporsional, hidung bangir, kulit putih dan postur tubuh ramping semampai, Ida tampil mempesona mata setiap pria yang melihatnya, termasuk dirinya. Sebagai lelaki bujangan dan normal, Iwan tidak dapat menepis getargetar aneh saat wangi parfum Ida yang khas menyerbu hidung ketika ia masuk ke taksinya. Tapi ia berusaha menekan perasaan itu sekuatkuatnya.

Terlebih, ketika muncul rasa cemburu, saat Ida terlihat digandeng oomoom kaya yang lebih pantas menjadi ayahnya. Iwan seyogyanya harus menempatkan diri pada posisi yang benar: ia adalah pelanggan dan saya hanya supir taksi. Maka ia mematuhi ramburambu itu secara konsisten.

Terlebih secara fisik dan finansial ia kalah jauh dibanding Ida, mana mungkin wanita gedongan dan sudah terbiasa menikmati kemewahan seperti Ida mau dengan sopir taksi miskin dengan tampang ndeso seperti dirinya, bukankah itu bagaikan pungguk merindukan bulan? Iwan cukup tahu diri mengenai hal ini.

Percakapan mereka pun, baik ketika pergi maupun pulang, biasabiasa saja. Tak ada yang istimewa, bahkan nyaris bersifat rutin. Iwan berusaha menjaga jarak dengan Ida agar tidak terlibat lebih jauh ke masalah yang sifatnya terlalu pribadi. Namun belakangan ini sudah ada sedikit peningkatan kualitas pembicaraan. Tidak hanya sekedar, Mau ke mana? atau Jam berapa mau dijemput?, dan sebagainya.

Ida mulai menanyakan latar belakang pribadi sang sopir langganannya itu hingga menanyakan ada berapa jumlah penumpang di taksinya untuk hari ini. Tentu Iwan pun ada rasa gembira pada perkembangan menarik ini. Mulanya sang sopir agak rikuh tapi perlahan ia mulai dapat menyesuaikan diri dan menjadi pembicara atau pun pendengar yang baik.

Seiring berjalannya waktu, hubungan emosional mereka pun berlangsung hangat. Ida mulai tak canggungcanggung mengungkap riwayat hidupnya pada si sopir. Ia ternyata produk keluarga broken home. Ayah dan ibunya bercerai ,ibunya kabur bersama pria lain sehingga ia ikut ayahnya yang pemabuk dan tukang main pukul. Ia tidak tahan dan prihatin dengan kondisi seperti itu sehingga memutuskan untuk minggat dari rumahnya dan mengadu nasib ke ibukota. Kuliahnya pun tidak selesai. Awalnya ia tinggal di rumah seorang famili jauhnya dan mulai mencari pekerjaan agar dapat mandiri.

Saya harus terus hidup dan berjuang, kata Ida menetapkan hati.

Bermodalkan kecantikan dan keindahan tubuhnya, ia menjadi SPG lalu tak lama mulai memasuki dunia model. Fotofoto dirinya pernah menghiasi majalah fashion, lifestyle hingga majalah pria dewasa. Selain itu ia juga mendapat peran kecil dalam beberapa sinetron lokal. Namun, tanpa disadarinya, perlahan namun pasti ia terjerumus ke lembah nista. Kehidupan malam dan hingar bingar pesta, sepertinya memberikan keleluasaan baru dan ia bagai memperoleh jati diri di sana.

Sejak itu Ida pun dikenal sebagai model plusplus, ia menjadi primadona di kalangan atas. Hampir semua kliennya siap melakukan apa pun untuk berkencan dengannya. Belakangan, ia kemudian menjadi simpanan seorang direktur sebuah bank swasta ternama di negeri ini, dengan tip dan bayaran yang sangat besar plus rumah mewah komplit segala isinya. Sang Direktur hanya datang pada waktuwaktu tertentu saja untuk menemui Ida. Meskipun begitu, profesinya tak juga ditinggalkan, selain menjadi model ia menjadi wanita panggilan kelas atas.

Saya menyukai pekerjaan ini, katanya suatu ketika, suaranya terdengar serak dan terkesan dipaksakan.

Iwan melirik melalui kaca spion, wanita cantik itu duduk santai di belakang, menyelonjorkan kaki dan menyalakan rokok. Iwan tersenyum dan kembali mengalihkan pandangan ke depan. Ida tak menjelaskan lebih jauh pernyataan yang telah dikeluarkan. Hanya kepalanya teranggukangguk pelan menikmati lagu melankolis When A Man Loves A Womannya Michael Bolton yang mengalun dari radio di tape mobil Iwan.

OmongomongAbang sudah punya pacar atau udah berkeluarga? tanyanya tibatiba.

Kontan Iwan gelagapan dan agak kehilangan konsentrasi mengemudi.

Saya sih udah cerai Mbak ia menjawab tersipu, ya waktu masih di kampung dulu sampai sekarang yah ginilah, masih sendiri

Sebuah jawaban yang jujur terlontar dari mulut si sopir itu. Ida terkekeh. Ia menghirup rokoknya dalamdalam. Rimbun asapnya mengepulngepul, memenuhi kabin taksi. Iwan menelan ludah.

Kalau Mbak Ida sendiri bagaimana? ia balik bertanya.
Abang tahu sendiri, kan? Banyak. Banyak sekali, sahut Ida, suaranya terdengar hambar, kedengarannya ia seperti melontarkan sebuah lelucon atau apologi? entahlah
Banyak memang. Tapi hampa, Iwan menanggapi dengan getir.

Untuk beberapa saat Ida terdiam. Ia mematikan rokoknya, lalu merenunglama. Hanya deru mesin mobil dan getar alat air conditioner taksi terdengar. Lalu lintas di larut malam itu memang telah sepi. Sebagian lampu jalan telah dipadamkan. Iwan tibatiba menyadari kecerobohan dan kelancanganya, maklum sebagai orang kampung ia terbiasa bicara ceplasceplos apa adanya.

Ehmaaf ya Mba,apa saya.
Nggak apaapa Bang. Itu emang benar, mereka hampa, cuma punya tubuh dan nafsu, bukan jiwa dan cinta, Ida bertutur dengan lirih.

Iwan menghela nafas panjang, ia merasa dadanya sesak, simpati pada nasib wanita secantik Ida harus bernasib demikian.

Hidup menawarkan banyak pilihan, Mbak.
Tapi saya tak punya pilihan! sangkal Ida dengan nada suaranya meninggi.
Kearifan menyikapi dengan landasan moral, itu kunci untuk memilih. Kita memang tak akan pernah tahu apakah pilihan hidup kita sudah tepat. Tapi setidaknya, kita mesti punya pegangan yang kokoh untuk menentukan ke mana kita mesti melangkah, Iwan berkata lembut berusaha menghiburnya.

Terdengar nafas berat Ida di belakang. Suasana terkesan kering dan kaku.Keduanya tak bercakapcakap lagi hingga taksi Iwan tiba di gerbang depan rumah yang dituju.

Ida hanya mengucapkan Selamat malam. Sampai jumpa besok sore.

Iwan pun pulang ke rumah kontrakannya dengan rasa bersalah yang bertumpuk, sepertinya ia telah menyinggung wanita itu dengan omongannya. Ketika selesai tugas malam itu, ia menemukan sebuah lipstick di lantai belakang taksinya.

Keesokan harinya

Hari itu adalah hari terakhir kontrak sewa Iwan dengan Ida. Ia menjalani rutinitas ekstranya seperti biasa, ia menjemput Ida pada waktu dan tempat yang sama.

Maaf, apa ini punya Mbak? Kemarin saya nemuin di belakang kata Iwan sambil menunjukkan lipstick yang dipungutnya kemarin
Ohhiya benar, makasih ya Bang, sepertinya jatuh waktu saya ngambil rokok kemarin Ida tersenyum berterima kasih seraya mengambil lipstick itu.

Kekakuan komunikasi akibat insiden semalam berangsurangsur lenyap. Iwan pun berusaha untuk lebih hatihati berkatakata agar menjaga perasaan Ida.

Apa Mbak tidak bosan dengan rutinitas seperti ini? ia membuka percakapan,
Apa Abang punya ide yang baik? wanita cantik itu balas bertanya.
Yah misalnya rutinitas yang baru. Kawin dengan lelaki yang mampu memberi nafkah cukup lahir batintidak sekedar limpahan materi yang semu belaka, hidup bahagia, punya anak dan menikmati kehidupan, Iwan mengucapkan kalimat tersebut sesantai mungkin tanpa beban, ia ingin mendengar pendapat Ida mengenai hal ini.

Sejenak Ida terdiam. Iwan kembali melirik ke belakang lewat kaca spion mobil. Wanita itu terlihat sangat cantik dengan make up tipisnya, parasnya yang memukau seperti bercahaya, dibanding para pelacur warung remangremang atau pinggir jalan tentu ibarat bumi dan langit. Ia melepas pandang ke luar melalui kaca jendela taksi yang buram, sepertinya memikirkan sesuatu.

Itu anganangan yang terlalu ideal, Bang, jawabnya pada akhirnya.

Jangan melihat ini sebagai sesuatu yang naif, Mbak. Saya rasa pendapat saya cukup realistis. Gak mengadaada. Setiap orang, baik lelaki maupun wanita, pasti pernah berpikir mengenai hal itu: Kebahagiaan hidup berkeluarga. Semuanya akan kembali pada prinsip dan keinginan orang yang bersangkutan, sepanjang ia sadar dan yakin hal itu bakal memberikan ketenteraman bagi jiwanya, hatinya dan segenap aktifitas kesehariannya, Iwan mencoba berargumen.

Kita punya takaran penilaian yang berbeda Bang. Tak akan bisa bertemu. Jangan terlalu banyak bermimpi. Kita hidup berada dalam kemungkinankemungkinan. Apa yang bakal terjadi kemudian, kita gak bisa menebak. Dan itu sering tidak persis sama seperti yang kita bayangkan, ujar Ida lirih dengan bibir bergetar.

Iwan menarik nafas, putus asa.

Apakah Mbak menganggap bahwa lakon hidup yang Mbak lakukan selama ini sama persis seperti yang Mbak bayangkan sebelumnya?

Memang gak sama Bang. Bahkan sangat jauh berbeda. Saya gak pernah mengimpikan menjalani kehidupan seperti ini. Tapi, bukankah ini bagian dari kemungkinankemungkinan hidup? Gak berarti saya mengatakan bahwa saya menolak kehidupan berkeluarga. Saya bukan orang yang munafik lah, terus terang dalam hati saya tetap mendambakan seorang suami yang dapat menyayangi dan memanjakan saya serta anak sebagai tambatan hati. Namun, kalau saya telah menemukan ketenangan pada profesi yang saya lakoni saat ini, bagi saya bukanlah suatu pilihan yang keliru. Setiap orang memiliki cara masingmasing untuk memaknai hidupnya.

Apa Mbak merasa bahagia dengan memaknai hidup dengan jalan ini?
Saya gak bisa menjawabnya Bang. Abang gak akan pernah tahu ukuran dan nilai kebahagiaan bagi saya seperti apa. Begitu pula sebaliknya. Kita punya nilai rasa yang berbeda dalam menakar kebahagiaan, Ida bertutur pelan dengan tidak mengalihkan pandangan ke arah luar taksi.

Iwan terdiam, ia tak bisa berkata apaapa lagi. Ia sadar, wanita itu cukup konsisten memegang prinsipnya. Mendadak, kesedihan merambah dalam hati sopir taksi itu. Hari ini adalah hari terakhirnya bersama Ida. Besok, Ida akan berangkat berlibur ke Singapura dan Australia mendampingi sang direktur selama sebulan.

Ia tidak tahu apakah Ida akan menyewa jasa nya lagi kelak atau mungkinkah mereka bisa bertemu lagi kelak. Baginya itu tidak penting. Kebersamaan dengan wanita penghibur kelas atas itu selama ini, tanpa sadar membangkitkan rasa cinta dan keinginan melindungi dalam hatinya. Wanita itu bukan hanya sekedar langganan, namun telah menjadi teman baginya. Melalui kaca spion mobil, ia melirik Ida.

Ia begitu cantik, sangat cantik, mengapa bunga yang begitu indah harus terhanyut dalam kubangan kotor? Iwan membatin sekaligus nelangsa. Tak lama kemudian, mereka telah sampai ke tujuan. Iwan segera mematikan mesin mobil dan pikirannya galau sepanjang menanti panggilan dari Ida untuk mengantarnya pulang, tak terasa lima puntung rokok telah habis sampai kotak rokoknya kosong.

Hujan deras mengguyur ibukota di tengah perjalanan pulang mengantarkan wanita itu. Setibanya di rumah Ida, Iwan turun dan mengeluarkan pIdang sebelum membuka pintu belakang dan memIdangi wanita itu hingga ke gerbang.

Bang, masuk dulu aja, minum dulu sambil tunggu hujan reda! tawar Ida setelah membuka gembok.
Tapi Mbak
Sudahlah Bang, masuk saja, hujannya terlalu deras, mana ada yang numpang saatsaat gini? Ida malah menarik lengan Iwan memasuki pekarangan rumahnya.

Iwan tidak bisa menolak lagi ajakan wanita itu, malah hati kecilnya merasa girang. Mereka berlari kecil ke pintu. Ida membuka pintu dan mempersilakan sopir taksi itu masuk. Iwan langsung merasakan kehangatan begitu memasuki rumah itu. Ida memang pandai menata interior ruangan sehingga kelihatan menarik dan nyaman. Dekorasi ruangan tamunya bertema oriental, beberapa buah patung menghiasi berbagai sudut. Iwan terbengongbengong memandangi sekitar ruangan itu, entah perlu gaji berapa puluh tahun baru bisa membeli rumah seperti ini.

Duduk Bang! Ida mempersilakannya duduk di sofa
mau minum apa nih? Teh? Kopi? Juice? tawarnya sambil ke mini bar dekat situ.
Kopi panas aja Mbak, makasih ya! jawab Iwan sambil menjatuhkan diri di sofa.

Ada beberapa majalah dan surat kabar di bawah meja ruang tamu. Iwan pun membukabuka sebuah majalah sambil menunggu Ida membuatkan minum. Di sebuah sudut ruangan nampak sebuah koper besar dan sebuah yang kecil, Ida memang telah selesai mengepak barangbarang yang akan dibawa sehingga besok tinggal diangkut ke mobil.

Silakan Bang, diminum dulu kopinya tibatiba Ida sudah berada di depannya dan meletakkan segelas kopi yang masih mengepul atas meja di depanku.

Badannya agak membungkuk, sehingga sopir taksi itu bisa melihat sekelebatan tonjolan dua bukit dadanya yang kencang dan dibalut bra hitam lewat gaun terusannya yang longgar. Sejenak dadanya berdesir dan ia merasa celananya tibatiba menjadi sempit.

Makasih ya Mbak!

Ida kemudian duduk di sebelahnya cukup dekat untuk ukuran seorang sopir taksi dan penumpangnya. Keduanya mulai mengobrol dan bercerita tentang apa saja, juga saling bertukar lelucon dan mereka tertawa lepas.

Ini hari terakhir kita bertemu Bang! Besok saya pergimakasih ya bantuannya selama ini kata Ida berkata sambil menghela nafas.

Hingga suatu saat, Iwan memberanikan diri dengan dada berdebar keras memegang jemari tangan wanita itu, ia ingin memberinya penghiburan sebelum pergi jauh dalam waktu relatif lama. Ida agak tertegun, tapi tidak menolak.

Mbakjaga diri di sana ya kata Iwan singkat.

Ida tersenyum,

Yamakasih, Abang juga, semoga dapat jodoh yang baik balasnya.

Tibatiba Ida melepaskan tangan sopir taksi itu lalu berdiri kemudian menuju kamarnya.

Tunggu bentar ya Bang! katanya sambil tersenyum penuh arti, ia lalu mengambil remote TV di meja ruang tamu dan menyalakan TV di depan mereka, nonton aja dulu ya sambil nunggu! lalu ia masuk ke kamarnya.

Di ruang tamu, Iwan mendengar sIdapsIdap suara air yang mengucur deras dari dalam kamar itu. Rupanya di dalam ada kamar mandi dalam. Tak lama kemudian, Ida keluar dari kamarnya, kini ia sudah memakai kimono sutra berwarna biru. Sungguh cantik dan menggairahkan ia dalam balutan pakaian tersebut, belahan pahanya memperlihatkan pahanya yang indah.

Ayo sini Bang! ajak Ida sambil menggandeng tangan Iwan.
Tapi Mbakmau apa? Iwan gugup dengan ajakan wanita tersebut.

Ia menurut saja walau merasa canggung karena baru pernah seorang wanita mengajaknya masuk ke kamarnya seperti ini.

Eeennggg.kamarnya bagus ya Mbak! pujinya sambil menutup kegugupan,
kita mau apa Mbak?

Ida hanya menjawab terima kasih, dia terus menuntun Iwan hingga memasuki kamar mandinya. Di dalam kamar mandi, ia melihat air kran masih mengucur deras hampir memenuhi separuh dari bathtub. Wangi harum dari bubble bath segera memenuhi paruparu pria itu.

Bangmakasih ya atas bantuannya selama ini kata Ida lalu tibatiba merangkul sambil mendorong Iwan ke belakang sehingga tubuh pria itu terhimpit ke tembok, tangannya lalu meraba sekujur tubuh sopir itu,
abang orang baik, tulus, jarang saya temui orang seperti abang jaman sekarang ini, apalagi di dunia saya
Eeeeapaan nih Mbak? Iwan mencoba menghindar antara mau dan tidak.

Anggap ini hadiah perpisahan dari saya Bangsekaligus terima kasih untuk mengembalikan lipstik saya itu habis berkata Ida lalu mencium Iwan dengan bernafsu sekali sambil tangannya meremasremas selangkangan pria itu.

Iman Iwan pun dengan cepat runtuh. Ia pun membalasa mencium dan memagut bibir indah Ida sambil tangannya meremas lembut pantatnya. Ida mulai melepaskan satu persatu kancing seragam sopir Iwan. Belaian tangan lembut wanita itu pada dadanya sungguh membangkitkan gairah si sopir taksi, kelelakiannya terasa makin keras sehingga celana panjangnya terasa semakin sesak. Tangannya agak gemetar dan mulai berani meraba dan meremas lembut bukit dada Ida.

Wanita itu melenguh dan semakin ganas dengan permainan french kiss nya. Sebentar saja seragam sopir itu sudah lepas dan jatuh ke lantai. Ida melanjutkan dengan membuka celana panjang pria itu. Iwan pun mulai melepaskan tali pinggang yang membalut kimono Ida. PIdadaranya yang sudah membusung dengan putingnya yang tegak telah membayang di balik kimononya, terlihat jelas ia sudah tidak memakai bra lagi.

Ida meraba dan meremas lembut batang kemaluan Iwan yang masih dibalut celana dalamnya. Dia memainkan jemarinya dan mulai merogoh masuk celana dalam itu, menjemput batang kelelakian si sopir taksi. Dengan sekali tarik, terbukalah kimono Ida, wanita itu lalu meloloskan tangannya sehingga kimono itu segera jatuh ke lantai.

Betapa indah tubuh di baliknya yang sudah tidak memakai apaapa lagi, kulitnya putih mulus dan begitu terawat. Kemaluannya ditumbuhi bulubulu yang halus dan dicukur rapi, tidak terlalu lebat, tapi juga tidak terlalu tipis. Celah kewanitaannya membayang di balik bulubulu tersebut. Telanjang sudah wanita cantik itu di depan Iwan yang selama ini mengisi fantasinya. Bukit dadanya yang ranum dengan putingnya yang berwarna kemerahan telah menegang seolah menantang untuk mengulumnya.

Perlahan, Iwan mulai menyusuri bukit dadanya yang sebelah kiri dengan lidahnya. Ia memainkan lidahnya hingga ke putingnya. Ida pun mendesis saat lidah pria itu menyentil dan mengitari putingnya, sementara tangan kiri pria itu meremas lembut dan memainkan bukit dada dan putingnya yang kanan. Ida mendesah nikmat. Tangannya merenggut celana dalam Iwan dan menurunkannya dengan cepat hingga terlepas ke lantai. Dengan ganas ia memainkan dan mengocok batang kelelakian yang telah ereksi maksimal itu.

Yukkita sambil berendam aja! Ida
menuntun penis Iwan menuju bathtub.

Iwan hanya bisa pasrah tidak bisa berkatakata menikmati pelayanan Ida. Ia merebahkan diri ke dalam bathtub dan Ida dengan perlahan mengocok dan mengurut penisnya di antara busabusa sabun dan air hangat. Wanita duduk di antara dua kakinya sambil masih terus mengurut dan mengocok penisku. Iwan memejamkan mata menikmati setiap sensasi yang menjalari sekujur tubuhnya. Rasa geli yang nikmat ia rasakan setiap gerakan lembut tangan Ida beraksi naik turun.

Eemmhhhenak Mbak! erang Iwan.

Entah berapa lama ia menikmati permainan tangan Ida. Lalu ia menarik bahu wanita itu dan membalikkan badannya ke arah badannya. Dipeluknya Ida dari belakang. Kini gilirannya untuk memberikan kenikmatan buat wanita itu. Tangannya memainkan pIdadaranya dengan jalan meremas, meraba dan memilinmilin lembut dengan tangan kanannya.

Sementara tangan kirinya juga tidak tinggal diam, memainkan paha, lipat paha dan daerah gerbang kewanitaan Ida. Ida mengerang, mendesis dan melenguh. Hidung dan lidah Iwan menciumi dan menjilati daerah di belakang daun telinga Ida dan sekitar tengkuknya. Jarijari kasarnya memilin dan memencetmencet lembut klitoris dan labia mayora wanita itu.

Oouuuuhhhhhh.Bang, enak Bangterusshhhhhhsaya milikmu malam ini! desah Ida

Iwan sedang menciumi leher Ida, tangannya meremas lembut pIdadara montok itu. Ida yang sudah sangat berpengalaman dalam hal ini, tak mau kalah. Ia mengocok pelan penis Iwan. Sopir bertampang ndeso itu pun semakin buas karena terangsang, ia memutar wajah wanita itu ke belakang lantas bibir mereka bertemu, saling pagut, saling gigit, lidah keduanya berbelitan dan air ludah mereka bercampur

Akhirnya setelah seperempat jam, mereka pun menyudahi pemanasan yang penuh gairah itu karena kulit mereka mulai keriput disebabkan oleh terlalu lamanya kami berendam dalam air bubble bath. Ida menciumi wajah ndeso itu dengan penuh kelembutan dan akhirnya keduanya melakukan french kiss lagi dengan posisi saling mendekap.

Setelah puas melakukan french kiss, Ida berdiri dan memutar kran shower untuk membilas tubuh mereka. Di bawah derai siraman air shower, keduanya kembali berpelukan dan melakukan french kiss lagi. Saling meraba, saling mengelus dan menyusuri tubuh pasangan masingmasing.

Rupanya Ida sudah birahi tinggi. Ia menaikkan satu kakinya ke pinggir bathtub dan menuntun penis Iwan ke arah gerbang kewanitaannya.

Saya udah kepengen banget Bang, ayo setubuhi sayabuat saya menggelepar keenakan! pintanya.

Iwan membantunya sambil tangan kirinya memilinmilin puting pIdadara kanannya. Ia menggesergeserkan ujung kepala kemaluannya pada klitorisnya. Perlahan, ia mendorong masuk penisnya ke dalam liang kemaluan Ida. Pelan.. lembut.. perlahan.. sambil terus mengulum bibir merahnya. Ida mendekap si sopir taksi sambil mendesis di selasela ciuman mereka.

Akhirnya amblaslah kirakira tiga per empat dari panjang kemaluan Iwan, dan mulai majumundur menggenjot vagina wanita itu. Ida memejamkan matanya sambil terus mendesis dan melenguh. Ia memeluk pria itu semakin kencang. Iwan mengIdankan pantatnya semakin cepat dengan tusukantusukan dalam yang ia kombinasikan dengan tusukantusukan dangkal. Ida membantu dengan putaran pinggulnya, membuat batang kemaluan Iwan seperti disedot dan diputar oleh liang kemaluannya. Guyuran air shower menambah erotis suasana dan nikmatnya sensasi yang mereka alami.

Iwan merasakan lubang kemaluan Ida semakin licin dan semakin mudah baginya untuk melakukan tusukantusukan kenikmatan yang mereka rasakan bersama. Setelah agak lama melakukan posisi ini, Ida menarik pantatnya sehingga batang kemaluan pria itu terlepas dari lubang kemaluannya.

Kemudian ia membalikkan badannya dan agak membungkuk, menahan tubuhnya dengan berpegangan pada dinding kamar mandi. Rupanya dia ingin merasakan posisi rear entry atau yang lebih populer dengan istilah doggy style. Kemaluannya yang berwarna merah jambu sudah membuka, menantang, dan terlihat licin basah. Perlahan Iwan memasukkan batang kemaluannya yang tegang kaku dan keras ke dalam lubang kemaluan Ida.

Aaaahhhhhh.yaaahhh! desis Ida dengan tubuh mengejang.

Iwan mulai mengIdankan pantatnya majumundur, menusuknusuk lubang kemaluan Ida. Ida merapatkan kedua kakinya sehingga batang kemaluan pria itu semakin terjepit di dalam liang kemaluannya. Iwan merasakan kenikmatan yang luar biasa dan sensasi yang sukar dilukiskan dengan katakata setiap kali ia menghujamkan kemaluannya. Tangannya meremasremas pantat Ida bergantian dengan remasanremasan pada pIdadaranya. Sesekali, ia menggigitgigit kecil di daerah sekitar tengkuk dan pundak wanita itu.

Setelah cukup lama bergumul dalam posisi doggie, tibatiba Ida meminta berhenti lalu membalik badannya dari posisi rear entry ke posisi berhadapan.

Nikmati aku sepuaspuasnya malam ini Bang, mungkin ini pertama dan terakhir kalinya buat kita! katanya dengan nafas tersenggalsenggal.

Habis berkata Ida langsung mencium Iwan dengan ganasnya sambil mencengkeram erat punggung pria itu, merapatkan tubuhnya dan meraih penisnya yang masih menegang. Iwan mengangkat kaki kiri wanita itu dan mengarahkan penisnya ke liang kemaluannya. Dengan sekali dorong penis itu pun kembali memasuki liang kewanitaan Ida yang sudah sangat berlendir itu. Setelah penisnya masuk, Iwan pun menyentaknyentaik batang kemaluannya lagi, semakin keras, semakin cepat dan bertenaga. Keduanya semakin lepas kontrol, erangan mereka sahutmenyahut berpadu dengan suara shower akibat dilanda nikmat yang luar biasa.

Aaaarrgghh.entot memekku, Bang, yahgituuuuuhhyang keras, yang keras.oohhhh, kontol Abang enak bangettthhh! ceracau Ida tidak karuan

Iwan pun jadi merasa sangat perkasa dan semakin bergairah karena merasa berhasil membuat wanita itu keenakan. Maka ia semakin kuat menyodoki batang kemaluannya di dalam vagina Ida. Seiring dengan semakin kuatnya rintihan dan erangannya. Ida merasakan klimaksnya sudah sangat dekat.

Saya keluaarr Bang..! Aaagghh..! serunya sambil memeluk Iwan eraterat.

Ida merasakan liang kemaluannya berdenyutdenyut seperti menghisaphisap kemaluan Iwan. Pria itu juga merasakan tubuh Ida yang menjadi lemas setelah mengalami wanita orgasme. Namun ia masih saja memompa kemaluannya sambil menyangga tubuhnya. Mulutnya menghisaphisap puting pIdadaranya, kirikanan sambil lidahnya berputarputar pada ujungnya.

Sesekali jarijariku meraba dan memutarmutar klitorisnya. Ida seperti orang yang sedang tak sadarkan diri. Dia hanya berahuh saja sambil sesekali menciumi bibir tebal Iwan. Setelah beberapa saat, mendadak dia mengejang lagi, melenguh dan mengerang,

Aaagghh..! Ooouuuhh Bangsaya keluaarr lagii..!

Ida engalami orgasmenya yang kedua kalinya atau istilahnya multiple orgasm. Ida menciumi pria itu dengan ganasnya sebagai ekspresi kenikmatan orgasme yang diraihnya.

Mbak..tahan yah.. saya juga mau keluar sedikit lagi.. kata Iwan sambil memacu pantatnya lebih cepat lagi menghujam liang kemaluan Ida.

Ida hanya bisa pasrah. Akhirnya, Iwan pun merasakan sebuah gelombang besar yang mencari jalan keluar. Ia mencoba untuk menahannya selama mungkin, tapi gelombang itu semakin besar dan semakin kuat, maka ia mengatur pernapasan, berkonsentrasi penuh. Tangannya yang kokoh mendekap erat tubuh Ida.

Aaahhhsaya keluar Mbaaakkk! erangnya melepas orgasme

Iwan merasakan kenikmatan yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya. Ada rasa hangat menyelubungi tubuhku. Kemaluannya berdenyutdenyut di dalam liang kemaluan Ida. Perasaan yang baru pernah dirasakannya seumur hidup, bahkan dengan mantan istrinya di kampung yang lugu dan gagap seks. Ida menjerit kecil merasakan semburan hangat memenuhi vaginanya memberinya sensasi nikmat yang luar biasa.

Fantastisbeneran nih Abang cuma pernah main sama mantan istri Abang dulu? Ida setengah tak percaya.
Iya sumpah Mbak, emang kenapa? tanya pria itu keheranan.
Jajan juga gak pernah? tanya Ida lagi sambil meraih penis Iwan yang masih tegang yang baru saja lepas dari himpitan vaginanya

Iwan menggeleng, menatap wajah Ida yang semakin cantik pasca orgasme dan dalam keadaan basah di bawah siraman shower.

Saya percaya, orang seperti Abang gak ada bakat untuk bohong Ida tertawa renyah.

Iwan hanya nyengir kuda lalu mencium lembut kening wanita itu. Ketika mencuci batang kelelakiannya di bawah shower. Ida memeluk Iwan dari belakang dan membantu mencuci batang itu. Setelah selesai mandi bareng, mereka saling mengeringkan diri dengan handuk. Ketika Iwan hendak mengenakan pakaiannya kembali, Ida melarangnya dan menawarkan untuk bermalam di situ.

Abang capek? Malam ini nginep aja di sinihujannya juga belum berhenti! tawar Ida
EerrrrrrrMbak! Iwan menepuk pundak Ida yang membelakanginya
Iyaeeemmm!

Saat Ida menoleh, Iwan mencuri sebuah ciuman dan dibopongnya Ida ke arah tempat tidurnya yang berukuran queen size dengan warna serba pink. Diletakkannya tubuh telanjang Ida perlahan di tempat tidurnya. Ia ciumi sekujur tubuhnya.

Setelah puas, ia berbaring di sebelahnya, tangannya mendekap tubuh wanita itu dan mulutnya menciumi di sekitar daun telinganya sambil tangannya mengeluselus punggungnya. Tak lama kemudian Ida tertidur dengan senyum di bibirnya. Iwan mengecup lembut bibirnya, lalu ikut tidur di sampingnya, beredekapan, telanjang di bawah selimut.

Keesokan pagi

Iwan terbangun saat ia merasakan ada jarijari halus merabaraba dadanya dan ciuman di keningnya. Ida telah lebih dahulu bangun dan dia membangunkan pria itu. Ida mengecup bibir tebal itu perlahan dan mereka pun terlibat dalam sebuah french kiss. Tangan Iwan mengelusi punggung putih mulus Ida sementara Ida mengeluselus rambutnya.

Mbakbukannya hari ini harus ke bandara? Nanti telat kata Iwan.
Masih ada waktu jawab Ida pesawatnya berangkat sore jam lima, kenapa gak kita habiskan bersama saja?
Apa gak akan ada orang lain lagi ke sini? Kalau kita ketauan kan gak enak Iwan agak waswas kalau ketahuan ia sedang meniduri wanita simpanan orang kaya, bisabisa digebuki seperti di filmfilm.
Nggakdia terlalu sibuk jamjam segini, nanti baru nyusul di bandara Ida tersenyum lalu mengecup kembali bibir Iwan. pokoknya Bangsekarang ini waktu cuma buat kita berdua, santai dan nikmati aja!

Ida mulai menciumi sekujur tubuh sopir taksi itu, menjilati dadanya dan menggelitiki putingnya dengan lidahnya. Tangannya menjalari sekujur tubuhnya dan merabaraba batang kelelakian Iwan, memainkannya, mengelus dan mengurutnya sehingga penis itu pun bangun dari tidurnya. Ida tersenyum. Perlahan, disusurinya perut, pusar dan pinggangku dengan lidahnya.

EeemmhhMbak! desah Iwan yang merasakan geligeli nikmat yang membuatnya merinding.

Ia mengusapusap kepala Ida dengan penuh kelembutan. Disisirnya rambut wanita itu dengan jarijarinya dan sesekali dirabaraba tengkuk dan balik telinganya.

Perlahan jilatan lidah Ida semakin turun ke arah selangkangan Iwan. Dengan jemari tangan kirinya yang halus, ia menggenggam penis Iwan, mendongakkannya, dan dia mulai menjilati daerah pangkalnya. Disusurinya penis itu dengan lidahnya hingga ke ujungnya yang bersunat. Ia memutarmutar ujung lidahnya ke arah lubang dan sekitarnya pada ujung batang penis pria itu. Ia memang profesional dalam membuat Iwan merasa seperti melayang.

Dari ujung penis itu, Ida kembali menyusurinya hingga ke bawah, menjilatjilat buah pelirnya, sesekali mengecup dan agak menghisapnya. Rasa aneh antara sakit, geli, dan enak membuat Iwan menggeliatgeliat.

EnakkhhhhhMbakgeliuuhh desah Iwan sambil meremasi rambut Ida.

Ida memandang pria itu dengan pandangan mata yang menggemaskan

Sungguh bidadari sejati.. betapa cantiknya kamu Ida! kata Iwan dalam hatinya

Tibatiba Ida berhenti melakukan oral seksnya. Dia mendekati wajah Iwan. Menciumnya dengan mesra dan lembut bibir tebal pria itu. Kemudian ia membalikkan badannya dan membelakangiku, seperti posisi 69″. Ia memegangi penis Iwan dan mulai menghisap, mengulum dan menjilatinya.

Kembali rasa geli dan nikmat mendera pria itu. Ia mencium wangi harum yang khas dari gerbang kewanitaan Ida yang terpampang menantang di depan wajahnya. Gerbangnya sudah mulai terbuka, berwarna merah muda dengan dihiasi bulubulu halus dan dicukur rapi. Penisnya berdenyutdenyut di antara hisapan dan geseran lidah wanita itu. Ia memegangi dan mengelus pantat Ida dengan kedua tangannya.

Ia arahkan gerbang kewanitaannya ke arah mulutnya. Dijilatinya bibir vagina itu dan daerah sekitarnya. Ida mengerang di antara hisapanhisapannya pada batang kemaluan Iwan. Vagina itu mulai licin dan basah, serta terus menebarkan aroma yang khas harum karena rajin dirawat.

Iwan mendapati sebuah tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya, dijilatinya benda itu. Ida pun mengerang dan mendesis, sejenak melepaskan batang kelelakian itu dari mulutnya. Iwan menjilat dengan lembut dan sesekali lidahnya menggesergeser tonjolan kecil yang ada di belahan gerbang kewanitaan Ida. Ida mendongakkan kepalanya dan mendesisdesis kenikmatan sambil menggoyanggoyangkan pantatnya.

Ooohhhhhh Bang kok jilatannya enak bangethhh! kata Ida di antara erangannya.

Ida mengurut dan mengocok penis itu makin cepat sambil mulutnya menghisap ujungnya. Kedua tangan Iwan tidak tinggal diam saat lidahnya beraktivitas. Terkadang jarijari tangannya menggaruk mesra punggung Ida dengan lembut, atau meraba, mengusap dan memainkan pIdadaranya yang menggantung menantang di atas perutnya.

Setelah beberapa lama saling menjilat, menghisap dan menikmati permainan ini, Ida beranjak dari posisinya.

Bangsekarang yah! katanya sambil memegang penis yang tegang tegak kaku menghadap langitlangit.

Ida mengangkangi Iwan sambil memunggunginya. Ia mengarahkan batang kelelakian itu ke gerbang kewanitaannya. Iwan menggesergeserkan ujung penisnya pada tonjolan kecil di antara belahan gerbang kewanitaannya untuk membantu penisnya masuk. Ida memejamkan matanya sambil mendesah saat penis pria itu memasuki liang kemaluannya yang sudah licin basah.

Pelan.. lembut.. Ida perlahan menurunkan pantatnya, membuat penis itu masuk semakin dalam. Terus turun hingga akhirnya mentok dan menyisakan kirakira seperempat dari panjang penis pria itu. Ida agak terpekik saat ujung penis itu menyentuh dinding rahimnya.

Kemudian Ida mulai menggoyangkan pantatnya naikturunnaikturun. Pada mulanya perlahan hingga beberapa gerakan, akhirnya Ida semakin cepat. Mereka menikmati sensasi yang luar biasa saat kedua alat kelamin keduanya menyatu dan saling bergesekan. Ida berulang kali mendesah, melenguh, mendesis, meracaukan katakata yang tak jelas. Iwan juga menikmatinya dengan pikiran yang melayang meresapi rasa geli dan nikmat yang menjalari sekujur tubuhnya.

Beberapa menit kemudian, Iwan mengangkat badannya sekitar 45 derajat dan bersandar pada kepala tempat tidur Ida. Ida sambil membelakangi bertumpu pada perut pria itu dan terus mengIdah tubuhnya naikturun pada selangkangan pria itu divariasikan dengan memutarmutar pinggulnya.

Aaaghh.. Mmmbbakkk.. teriak Iwan sambil memegangi pinggangnya yang ramping dan putih mulus karena penisnya serasa dipelintir ketika Ida meliukliukkan tubuhnya.

Ia meraih tubuh Ida dari belakang. Ia remasremas lembut kedua pIdadaranya yang terasa keras tapi kenyal. Putingnya ia pilinpilin dengan mesra. Ida menghentikan sejenak Idanan pantatnya. Dia mendesah, mendesis. Iwan merasakan batang kemaluannya dan liang kemaluan Ida samasama berdenyutdenyut. Diciuminya tengkuk wanita itu, sesekali digigitgigit ringan tengkuk, bahu kanannya, dan belakang telinganya.

Putar sini Mbak! pinta Iwan pada Ida untuk membalikkan posisinya.

Wanita itu berbalik tanpa melepaskan batang kemaluan Iwan dari liang kemaluannya. Batang kemaluan itu pun serasa ada yang memuntirnya. Sekarang keduanya berhadapan. Mereka saling memeluk, saling meraba. Iwan mereasakan penisnya masih berdenyutdenyut di dalam liang kemaluan Ida yang juga terasa berdenyutdenyut seperti menghisap batang kemaluan itu.

Mereka berpagutan, saling menggigit, menghisap dan mengulum. Tangan dan jemari Iwan dengan lincahnya bergerak di sekujur badan Ida, membuat wanita itu kegelian dan merinding. Sekitar setengah jam dalam posisi demikian, akhirnya Iwan merasakan ada sensasi luar biasa yang membuat tubuhnya serasa mau meledak. Ia mengerang dan mengatur napasnya. Rasanya ada gelombang besar dari pinggangnya yang hendak mencari jalan keluar melalui batang kemaluannya.

Mbak Ida sayangsaya hampir keluar sedikit lagi.. kata Iwan terengahengah.
Barengan ya Bang! jawab Ida lalu memagut bibir tebal pria itu

Iwan pun balas menciumnya. Mereka samasama diam dalam posisi berciuman sambil terus memacu tubuh. Iwan merasakan seperti ada aliran listrik mulai merayapi sekujur tubuhnya. Sekujur tubuhnya terasa hangat, begitu juga dengan tubuh Ida. Sambil terus bermain lidah, mereka menikmati sensasi yang luar biasa itu.

Aaaaahhhhh.!! erang Iwan melepas ciuman
Iyaahhhh.teruusss..teruussshhh!!Ida juga merasakan hal yang sama

Iwan merasa seperti melayang ke langit. Senyap, pandangan matanya berkunangkunang walaupun memejamkan matanya. Rasa nikmat yang aneh disertai oleh rambatan sensasi menjalari setiap bagian tubuh mereka. Mereka mengejang hingga akhirnya merasakan suatu yang sangat melegakan.

Nikmatcahaya terang yang membuat berkunangkunang itu berubah menjadi kegelapan. Ia rubuh menindih tubuh Ida, mereka terdiam dengan nafas naik turun. Ida menatap wajah ndeso si sopir taksi, dia tersenyum penuh arti dan kemudian mencium keningnya. Iwan balas memagut kecil dagu Ida. Tak lama, Ida mendorong tubuh pria itu hingga berbaring saling bersebelahan.

Istirahat dulu yuk, abis ini kita makan! kata Ida lalu mengajak Iwan kembali ke balik selimut.

Mereka berpelukan sambil masih dalam kondisi samasama telanjang bulat.

Sore harinya

Satu hal yang mengganjal di hati Iwan sejak peristiwa semalam dan tadi pagi, ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Ida namun belum ada keberanian untuk itu. Iwan memang pria yang tulus, namun pengetahuannya tentang wanita terbilang minim. Kepada mantan istrinya dulu saja ia tidak pernah mengatakan saya cinta kamu karena memang mereka dijodohkan. Pasangan yang ketika itu masih sangat hijautidak pernah merasakan saatsaat romantis hingga akhirnya perceraian mereka.

Sepanjang perjalanan ke bandara ia tidak ada kesempatan untuk itu karena Ida sibuk bicara melalui ponselnya, yang pertama dengan seorang teman, yang kedua dengan si direktur, yang membakar api cemburu dalam hati Iwan. Ketika taksi yang dikemudikannya akhirnya tiba di bandara, Iwan turun duluan dan menurunkan barang bawaan Ida dari bagasi, saat itu Ida masih berbicara di ponselnya.

Ini adalah saat terakhir, juga mumpung antrian kendaraan di gerbang keberangkatan tidak terlalu padat, maka Iwan pun membulatkan tekadnya, ia masuk ke jok kemudi. Ida baru saja hendak membuka handle pintu belakang ketika sopir taksi itu akhirnya berseru.

Ida, tunggu! pertama kali ia memanggil wanita itu dengan namanya.

Ia mengurungkan niatnya dan memandang nya. Matanya bertanya. Dada pria itu berdegup kencang.

Saya mencintai kamu, Ida, Iwan mengungkapkan perasaan itu dengan tenggorokan tercekat.

Ida menatap tak percaya. Iwan segera meraih tangannya, meraba jemarinya yang halus, mengalirkan keyakinan. Mata mereka saling bertatapan tanpa berkatakata, hening selama beberapa saat

Hentikan semua ini, Ida. Kamu seharusnya hidup lebih layak, terhormat dan bernilai. Apa yang kamu lakukan selama ini hanya akan membuat hidupmu didera kesalahan dan dosa. Hiduplah dengan saya. Kita kawin. Saya berjanji akan membahagiakan kamu.

Ida menggigit bibir. Ia tampaknya memikirkan sesuatu. Iwan berharapharap cemas dalam hatinya, ia menggigit bibir bawahnya dan jantungnya berdebar kencang sekali, inilah pertama kalinya dalam hidup ia terus terang mengungkapkan cinta pada seorang wanita. Ia sudah menabahnabahkan hati untuk siap menerima kemungkinan terburuk. Matanya memandang Ida dengan tajam dan penuh harap.

Ida akhirnya tersenyum, ia mempererat genggaman tangan si sopir taksi. Tatapan matanya seperti menyiratkan sesuatu. Sesuatu yang sangat misterius sebelum akhirnya berkata,

Baiklah Bang. ia berhenti sesaat,

saya memang harus menentukan pilihan, pada akhirnya. tapi kita hidup dalam dunia yang berbeda. Bang, Abang tak akan bisa memahami saya, seperti saya pun tak bisa memahami Abang. Terima kasih atas ketulusan tawaran Abang. Saya menghargainya. Biarkan saya memilih dan melewati jalan yang menurut saya terbaik. Abang orang baik, terus terang, saya suka Abang, seandainya takdir mempertemukan kita lebih awal atau di tempat yang lain dari sekarang, kita mungkin bisa bersatu. Saya doakan Abang kelak mendapat jodoh yang baikjauh lebih baik dan suci, tidak seperti wanita di depanmu ini. Maafkan sayaselamat tinggal! Ida mengucapkannya dengan bibir bergetar, pelupuk matanya basah, namun ia menyekanya cepatcepat, lalu membuka handle pintu tergesagesa dan pergi.

Iwan tak bisa mencegahnya lagi. Ia hanya sempat memandangi punggungnya serta gaunnya yang berkibar ditiup angin berjalan memasuki bandara ke gerbang keberangkatan, untuk terakhir kali tanpa menoleh ke belakang, dengan pandangan kosong. Terasa ada yang hilang dalam dirinya, bak istana pasir yang diterpa ombak dan lenyap seketika, sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan bagaimana adanya.

20 menit Iwan termenung di taksinya di luar bandara, matanya kosong menatap langit biru. Sebagian dirinya serasa hilang bersama wanita itu. Tiga batang rokok telah dihabiskannya sejak Ida meninggalkannya tadi.

Iwanayo kamu bisa! Dunia belumlah kiamat, kehidupan terus berjalan! Bangkit!! Bangkit!! Jangan harap Bapak akan menemui kamu di akhirat nanti kalau kamu sampai bunuh diri garagara patah hati! Bangkitbangkitbanggbangg Iwan sekonyongkonyong mendapat seruan itu dalam lamunannya, almarhum ayahnya seperti sedang menyemangatinya

Bang.bangnarik ga nih? tibatiba saja sebuah suara dari sebelah menyadarkannya, rupanya ia setengah tertidur di tengah lamunannya.
Ooohh.iyaiya Pak, narik lahayo silakan masuk! ia membukakan pintu belakang untuk pria berumur empat puluhan itu, kemana nih Pak?
Sudirman, cuma lagi ada demo deket situbisa ga Bang? Saya buruburu nih, daritadi udah dua sopir nolak! jawab pria yang menenteng tas laptop itu.
Beres Paksaya coba lewat jalan tikus, mogamoga keburu! sahut Iwan lalu segera tancap gas dari situ,
Ayo Iwan, kamu bisa, semangat!! ia kembali menyemangati dirinya, ia harus tegar seperti apa yang selalu ayahnya ajarkan sejak kecil.

8 tahun kemudian
Foodcourt sebuah mall

Oke..oke, kamu urus saja, yang ginian gak usah pakai lapor, belajar lah memutuskan sendiri! Iwan berbicara lewat ponsel dengan seseorang,
pokoknya pastikan jangan sampai terlambat, ketepatan waktu yang bikin perusahaan kita dipercaya orang, ngerti?!
Baik Paksaya usahakan sebaik mungkin, Bapak tenang aja, nanti saya kabari lagi jawab suara di seberang sana.
Gitu dong.oke ditunggu kabar baiknya, sampai nanti ya! ia menuntup pembicaraan lalu melanjutkan makannya yang tinggal sedikit lagi.

Iwan yang sekarang sudah berbeda dari Iwan yang dulu, rambutnya kini telah dicukur cepak dan rapi, sebagian kecil nampak telah beruban, di atas bibirnya yang tebal itu telah tumbuh kumis tipis. Soal level kegantengan yang di bawah ratarata sih memang tidak terlalu mengalami kemajuan, tapi kini ia terlihat lebih dewasa.

Pakaian yang melekat di tubuhnya bukan lagi seragam sopir taksi seperti dulu, melainkan sebuah kaos berkerah merek ternama dan ponsel yang dipakainya bukan lagi barang seken atau murahan lagi, melainkan keluaran terbaru yang masih mulus. Hasil kerja keras, pengalaman dan tabungannya selama ini telah mengubah nasibnya, kini ia telah memiliki sebuah perusahaan travel yang sangat berkembang, bahkan telah membuka cabang di kota lain.

Ia baru saja menyeruput minumannya ketika sesuatu tibatiba membentur sepatunya. Ia melongok ke bawah meja dan menemukan sebuah mobilmobilan. Seorang bocah lakilaki mengejar dari belakang dan hendak mengambil mobil itu.

MichaelMom said dont play it herenow you see! sahut seorang wanita

Iwan memungut mainan itu dan memberikannya kembali pada si bocah berparas blasteran bule itu.

Thank you sir! kata si anak.
Maaf ya Pakcome say sorry to uncle! kata wanita itu, Hah.kamu!

Iwan juga tertegun begitu melihat ibu dari anak itu, mereka saling tatap selama beberapa saat seperti tidak percaya pengelihatan masingmasing.

Iwan? Bang Iwan? wanita itu membuka suara duluan.
IyaIda kan? yang dijawab wanita itu dengan anggukan kepala.

Tidak banyak yang berubah pada wanita itu, ia tetap cantik dan tubuhnya masih langsing walau telah memiliki anak. Rambutnya kini agak bergelombang dan disepuh kecoklatan. Pakaian yang dikenakannya serta wajahnya dengan make up tipis membuat penampilannya jadi keibuan.

Eeemmmsudah lama ga jumpa yagimana kabarnya sekarang? sapa Iwan yang merasa senang kembali bertemu dengan wanita itu, ia sangat penasaran dengan kabarnya selama 7 tahun ini yang tidak pernah kedengaran lagi,
ayo duduk dulu!

Ida duduk di depan Iwan dan keduanya saling berpandangan dengan gembira.

Kelihatannya banyak yang sudah berubah kata Ida melihat penampilan pria yang dulu menjadi sopir langganannya itu yang juga pernah menghabiskan semalam penuh gairah bersamanya.

Yabanyak, sangat banyak, kehidupan ini memang dramatis jawab Iwan kamu di mana saja selama ini? Pulang kampung?
Bukanjauhjauh sekali, benar kata Abang kehidupan itu dramatis, selain itu juga penuh misteri

Ida kini telah menikah dengan seorang bule Inggris. Setahun setelah perpisahan mereka di bandara, ia berhenti menjadi wanita simpanan si direktur yang mulai berpindah ke lain hati. Di tengah kesepiannya, ia berkenalan dengan ekspatriat asal Inggris, hubungan mereka makin serius. Pria itu ternyata tulus mencintai Ida tanpa memandang masa lalunya yang kelam, ia sendiri seorang duda tanpa anak.

Hubungan mereka pun berlanjut ke pernikahan dan pria itu memboyong Ida ke negaranya. Demikian pula Iwan yang kini telah sukses, ia sudah menikah empat tahun yang lalu dan memiliki seorang putri berusia tiga tahun. Mereka berbagi cerita sambil tertawatawa, sesekali Ida memperingatkan anaknya yang asyik dengan mainannya agar tidak jauhjauh darinya.

Akhirnya, hari ini saya benarbenar lega kata Iwan,
rasa penasaran selama ini selesai sudah dan kamu menemukan kebahagiaan kamu, seperti yang dulu kita obrolin di taksi, ingat?

Yadoa saya agar Abang mendapat jodoh yang baik pun sudah terjawab. Tuhan memang kadang terlalu baik pada umatnya Bang, saya tidak pernah bermimpi wanita seperti saya akhirnya bisa menjadi ibu dan istri seperti sekarang ini, bagi wanita seperti saya, ini lebih dari yang saya harapkan mata Ida nampak berkacakaca, nampaknya ia antara sedih dan gembira membandingkan dirinya dulu dan sekarang.

Satu misteri kehidupan yang saya akhirnya singkap hari ini, kadang memang ada dua orang saling mencintai tapi tidak ditakdirkan untuk bersatu, seperti ada jurang yang dalam yang memisahkan mereka, namun pada akhirnya mereka akan menemukan kebahagiaannya di jalannya masingmasing dan bersama pasangannya yang lain yang berada di satu tebing dengan mereka Iwan berfilsafat.

..dan kebahagiaan mereka pun bertambah ketika melihat cinta lamanya di seberang jurang itu akhirnya berbahagia walau bersama orang lain Ida menyambung lalu mereka hening, saling tatap selama kirakira 10 detik sementara Michael asyik membuka tutup pintu mobilmobilannya.

Ahahhahahahaabang ambil kuliah filsafat ya setelah saya pergi? Ida tibatiba tertawa renyah sambil menangkap mobilmobilan yang diluncurkan anaknya padanya di meja.

Hehesopir taksi kaya saya umur waktu itu udah kepala tiga mana sempat kuliah lagi, filsafat itu kadang keluar dari pengalaman hidup kita kok Lin, kan para filsuf sama nabi juga mendapatkannya dari pengalaman hidup dan lingkungan mereka dulu, cuma mereka lebih pandai merenungkan dan mengutarakan pada orang banyak

Tuhkan berfilsafat lagihihihi.! mereka saling tertawa lepas, lega setelah beban di hati masingmasing akhirnya terangkat.

Tibatiba BB Ida berbunyi dan ia permisi untuk mengangkatnya.

Ok babywell meet you soon! kata Ida lalu menuntup pembicaraan

Papanyaudah nunggu di depan ngejemput! kata Ida,
Oke Bangkita sudah harus berpisah lagi, tapi kali ini perpisahan yang melegakan, ya kan? wanita itu lalu bangkit dan berpamitan pada Iwan, Michael, say goodbye to uncle! katanya pada buah hatinya.

EeeiiMaudah selesai salonnya? Iwan tibatiba melambai ke arah belakang Ida pada seorang wanita lain yang menghampiri mereka,
ini istri saya, Anita! ia memperkenalkan wanita itu pada Ida,
Ini Idalangganan taksi dulu waktu narik hehehe.
Ya udahlah, rapiin rambut aja ngapain pake lama? jawab wanita itu lalu beralih menyapa Ida dan anaknya, Hai.

Anita dengan senyum ramah menjabat tangan Ida dan juga membelai anak itu, gemas akan wajah indonya yang imutimut. Secara fisik memang Anita kalah dibanding Ida, kulitnya tidak terlalu putih dan agak gemuk, apalagi kini sedang hamil empat bulan. Namun, wanita inilah yang banyak membantu Iwan mencapai sukses, ia adalah pedagang kecil di pasar yang adalah tetangga di dekat kontrakan Iwan.

Seorang wanita yang rajin dan ulet, sudah terbiasa kerja keras membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue di rumahnya dan secara online, belakangan ia mulai membuat kuenya sendiri. Anita dan keluarganya juga cocok dengan Iwan yang jujur dan pekerja keras, hubungan mereka semakin dalam terutama setelah Iwan berpisah dari Ida dulu hingga akhirnya mereka menikah dan mempunyai anak.

Dari seluruh keuntungan usaha jualan kue keringnya lah Anita membantu Iwan mendirikan usahanya sendiri hingga akhirnya sukses setelah melalui jalan yang cukup terjal dan berliku. Mereka pun akhirnya berpisah setelah ngobrol basabasi sebentar.

Ayo Pa, kalau telat, nanti kasian Lina nunggu sendirian di sekolah, udah mau jamnya nih! kata Anita mengajak suaminya untuk segera meninggalkan mall itu.
Oke Ma, yukk!! Iwan menggandeng tangan istrinya dan mempercepat langkah.
Omongomong Papa punya langganan cantik juga yapantes Papa betah lamalama jadi sopir taksi dulu hehehe canda Anita sambil tetap berjalan.

Post Terkait