cerita dewasa

Cerita Sex Aku Rindu Ibu Han

Sebenarnya dia tidak cantik, tapi wajahnya tidak pernah membuatku bosan, manis, mungkin itu istilah yang banyak dipergunakan orang. Tubuhnya, sempurna. Tidak semampai, tidak juga kecil, dengan kulit putih bersih dan senyuman anggun.Aku tahu, pak Han suaminya, seorang dosen bertitel S2 itu, sudah sakitsakitan. Usianya mungkin berkisar 40, tapi kalian tak akan percaya bila kukatakan dia terlihat sangat tua.

Konon, selama menempuh studi di Amerika, dia terserang semacam TBC, atau bisa jadi TBC, karena terlalu sering mendekam di kamar. Dan aku tidak yakin bila beliau masih sering menjamah Ibu Han, isterinya.

Rumah kos ini berbentuk huruf T, bagian horizontalnya dihuni mahasiswa termasuk aku meskipun aku bukan mahasiswa, dan vertikalnya merupakan kediaman pak Han, isterinya yang kerap membuatku jantungan, dan 2 anak mereka, Edo dan Ridho.

Begitulah, kebetulan jendela kamarku menghadap ke area jemuran. Tiap pagi aku bisa menyaksikan Ibu Han menjemur pakaian. Bila posisinya berbalik, maka aku bisa menikmati pantatnya yang aduhai, bila posisinya kebetulan menghadapku, maka belahan dadanya akan selalu terpampang bila dia menunduk mengambil potongan pakaian untuk dijejerkan di tali itu.

Baca Juga: Menikmati Keperawanan Babysister Cantik

Mulanya aku menyaksikan semua itu dengan mengintip, karena saat itu aku masih merasa malu jika kemudian ketahuan. Namun selanjutnya, aku malah menyisihkan kain gordyn sehingga aku akan kelihatan jelas berdiri di balik kaca meskipun tidak transparan, kaca panjang itu berwarna hitam.

Hingga pagi itu, Ibu Han kembali beraksi dengan dasternya yang berleher rendah. Aku tak lagi bisa menahan kesopanan untuk menyaksikan pemandangan berharga demikian. Kuturunkan celanaku, dan mengeluarkan penis yang sedari tadi sudah menegang. Aku membelaibelainya lembut sambil mataku tajam memelototi belahan dada Bu Han yang menggoda. Dalam bayanganku, dua benda montok menggemaskan itu sedang kujilati dan kuremasremas perlahan. Hingga tak terasa tanganku tak lagi membelai, melainkan mulai mengocokngocok penisku kencang.

Tibatiba, Bu Han menatap ke arah jendela dan sepertinya tahu apa yang kulakukan, dia dengan refleks menutupi dadanya dengan mengatupkan ujung daster, lalu berbalik. Aduh, malunya aku. Diapun berlalu, ketika semua pakaian sudah berpindah dari ember.

Keesokan harinya, seperti biasa aku akan masuk ke rumah mereka, mengambil air es yang ada di kulkas. Aku berpapasan dengan Bu Han, sejenak ketakutan membayangi benakku.

Ngapain om kemarin di balik jendela?, tanyanya hampir berbisik. Dia memang memanggil semua penghuni kos dengan sebutan om, karena kedua anaknya memanggil kami demikian.

Hmmhmmm , aku tentu tak bisa melanjutkan, gugup. Bagaimana kalau perempuan ini menamparku? Aku tak karuan.

Tapi dia berlalu lagi, masuk ke kamar dengan ekspresi wajah yang sulit kuprediksi. Aku masuk ke dapur, melalui sebuah lorong sepanjang 4 meter. Ruangan ini memang agak unik. Untuk menuju dapur, kita tidak melewati jalan yang cukup lapang, karena tembok kiri kanan hanya berjarak kira² 70cm. Entah apa maksudnya membuat bangunan seperti ini.

Di dapur, yang luas, aku kembali memikirkan ucapan Bu Han, namun akhirnya kubuang semua prasangka itu. Paling² diusir, pikirku. Akupun kembali hendak melewati lorong sempit itu, tapidari arah berlawanan Bu Han datang.

Kami berdua terjebak di pertengahan, kami harus memiringkan badan 90 derajat, hingga akhirnya berhadapan. Sempit sekali, kurasakan dada Bu Han menempel di dadaku. Darahku berdesir.

Ibuaa..aaku , aku terbatabata.

Entah setan apa yang tiba² merasukiku, kutahan tubuhnya dengan kedua telapak tanganku kutempel di dinding kiri dan kanan tubuhnya. Kami bertatapan lama sekali, aneh, kurasakan deru nafas Bu Han menjadi lebih cepat memenuhi wajahku.

Jangan om..ntar ketauan

Ngga apaapa bu, aku udah ngga tahanhh, balasku.

Diapun pasti bisa merasakan penisku yang mengeras persis di bagian bawah pusarnya. Tanpa pikir panjang, kudekatkan bibirku ke lehernya, kuhisap perlahan, Bu Han seolah ingin memberontak, namun cengkeraman kedua tanganku di pundaknya membuatnya tak bisa bergerak kemanamana.

Kujilati leher itu sepuasnya hingga akhirnya berpindah ke bibir indahnya, kulumat dengan berapiapi. Pada titik ini, aku sudah mulai bisa mendengar desahan Bu Han.

Ommhhhhhh.., desisnya.

Tubuhku kuliukkan seperti huruf S supaya mulutku persis berada di belahan dadanya. Kubukai kancing dinas PNS nya, tersembullah payudara putih nan montok itu, dibalut bra berwarna hitam. Dengan gemas kuremas perlahan, hingga akhirnya semakin keras

Pelanpelan om, bisiknya.

Kurenggangkan kedua kaki supaya posisiku lebih rendah darinya. Kusorong bra itu keatas hingga kedua payudaranya bebas menggelantung. Aku mulai menjilati puting sebelah kiri, sementara tangan kananku membelaibelai payudaranya sebelah kanan, lalu bergantian.

Jangan dikasih tanda, mungkin maksudnya jangan dicupang, tentu saja aku mengerti.

Kuhisap, kujilat, kuremas, dan tanganku bergerilya ke dalam roknya. Kucaricari vaginanya dan menggesekgesek dengan jari, sesekali kumasukkan jari jauh ke dalam sana, kuubek² isinya lembut. Bu Han tidak karuan, dia pasrah

Perlahan namun pasti, vagina itu menjadi lembab dan basah. Bu Han merem melek dengan kombinasi sentuhansentuhan itu. Suhu tubuhnya memanas, dan sama sepertiku, dia tak lagi peduli jika seandainya seseorang muncul di dapur, memergoki kami.

Kurogoh kantong celanaku, dari dompet kukeluarkan sebuah kondom, buruburu kukeluarkan penisku yang sudah mengeras dan membungkusnya.

Sambil menghisap bibir Bu Han, kuangkat roknya dan menyibak celana dalamnya kesamping. Kuarahkan penisku kesana, mencoba mencari lubangnya sambil terus melumat bibir.

Ketemukumasukkan perlahan, sedikit demi sedikit penisku yang membesar memenuhi liang kenikmatan Bu Han. Liang yang hangat, basah, berdenyut, dan menjepit. Kusodoksodok perlahan, makin lama makin capat, dan aku mengadukaduk isi vagina Bu Han membabi buta.

Aduuuuhhhenaknyaa , Bu Han berbisik jujur.

Rintihan, deru nafas, desahan, silih berganti memenuhi ruangan. Kami bertahan dengan satu posisi lama sekali karena kami tak punya pilihan gaya lain di lorong sesempit itu.

Ohhomm.. .enak bangetthh , rintih Bu Han sambil mencengkeram pinggangku keras sekali, kurasakan getaran hebat tubuhnya dan sesuatu di bawah sana menjadi sangat becek.

Ayo om, dikeluarin, ntar Edo ama Ridho datangayo sayangnih ibu bantu, bahsejak kapan aku dianggap sayang. Bu Han memang benar² membantu, diliukliukkannya pinggang, kurasakan batang penisku seperti dipijat, nikmat sekali..!

Kudekap dia erat, penisku kukocokkocok kencang dalam vaginanya hingga kurasakan aliran darahku berkumpul di satu titik, penisku, dan

Ahh.., aku berteriak tertahan menghunjamkan penisku keluar masuk vaginanya, kurasakan aliran hangat yang sangat nikmat keluar dari penisku dan memenuhi ruangan kondom yang lowong, menjadi penuh.

Aku lemas, masih kuciumi bibir dan dahi Bu Han sejurus kemudian tanpa mencabut penisku dari vaginanya.

Kubenahi bra, dan kukancingkan kembali bajunya. Dia masuk ke dapur, aku kembali ke kamarku, kami tak berkata sepatah katapun.

Hari ini, dia menjemur pakaian seperti biasa. Ajaib, dia tak menggunakan bra. Kuperhatikan juga lekuk pantatnya yang tidak menggambarkan segitiga, ahdia juga tidak memakai celana dalam.

Aku berpurapura keluar dari kamar, menuju dapur, kulihat dia kemudian mengikutiku. Di dapur itu, aku memangsanya habishabisan, karena aku memberikannya layanan berbagai posisi.

Lucunya, setelah selesai, kami tak mengucapkan sepatah katapun, kubenahi bajunya, kucium bibirnya, dan aku berlalu. Dia berjalan ke kamarnya.

Di lain hari, ketika sedang menjemur, kutarik dia ke kamarku, tentunya setelah melihat kiri kanan aman. Kujatuhkan di kasur, kurenggangkan kedua pahanya, aku memberikan service oral sex yang menggelora, masih kuingat bagaimana dia menjambak rambutku dan wajahnya terlontar kesana kemari ketika dengan ganas lidahku menarinari pada kelentitnya, kujilati, dan kuhisap vaginanya.

Sama, setelah dia kelelahan, dia akan keluar dari kamarku tanpa sepatah katapun, aku hanya tersenyum memandanginya menghilang di belokan. Aku senang membuatnya ketagihan

2 tahun aku melayaninya, yah aku sebut melayani, karena sebenarnya dialah yang lebih menikmati semua itu, aku belum menemukan sesuatu yang luar biasa darinya, pun begitu, aku sangat merindukannya.

Post Terkait