cerita dewasa

Cerita Sex 2017: Kundalini

Namaku Kundalini. Sebenarnya aku malas menceritakan pengalamanku ini ke orang lain, apalagi aku harus mengetiknya terlebih dahulu. Tapi tak apaapalah. Hitunghitung ada teman cerita.

Seperti tadi sudah kunyatakan, namaku Kundalini, cewek 25 tahun, 41 kg, 34B. Aku tinggal di kota kecil di Jawa Tengah, setelah menyelesaikan studiku di perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Aku tidak mau terlalu spesifik memperkenalkan diriku.

Aku termasuk orang yang dapat dibilang maniak dalam hubungan seksual. Aku pun mampu bertahan lama dalam menghadapi lawan jenisku. Untungnya aku tergolong pendiam, sehingga orang tetap mengenalku sebagai Kundalini yang pendiam. Dan memang, aku minder sehingga kurang banyak berteman.

Selama ini aku menjalin hubungan dengan temanku yang bernama Prast. Prast tidak terlalu good looking, namun dapat dikatakan point tujuh, berkulit gelap, tinggi kurus. Bulu matanya kata temantemanku indah seperti bulu mata cewek. Namun ada sesuatu yang lebih dari sekedar tampilan fisik. Setelah membaca ceritaku, mungkin anda akan paham apa yang dinamakan pria idaman, bagaimana definisinya. Mungkin ini pulalah yang membuat dia banyak mempunyai teman wanita, yang terus terang terkadang (meski jarang) aku agak sedikit cemburu.

Baca Juga: Disetubuhi Bosku

Menurut ceritanya, dia hanya berpacaran dengan beberapa cewek dulunya, namun kurasa pasti lebih dari puluhan. Dengan dia pula lah aku pertama kali mengenal hubungan seks, dan ternyata aku sangat menyukainya. Kami melakukannya hampir setiap malam. Peristiwa ini berawal 3 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah.

Waktu itu aku ke rumah Prast. Seperti biasa, kami nonton film di rumahnya. Kebetulan waktu itu Prast punya film bagus yang judulnya Powder. Kami rebahan sambil ngobrol, sementara Prast asyik merokok. Selama ini, hubunganku hanya sebatas snogging, necking atau petting saja, tidak pernah intercourse. Kalaupun ada yang harus disebutkan lagi, paling heavy petting saja.

Namun siang itu terjadi sesuatu yang tidak kami perkirakan sebelumnya. Entah siapa yang memulai, aku atau Prast. Kami saling berpagutan, sementara tangan Prast masuk ke baju yang kukenakan dan meremasremas payudaraku. Satu yang kusukai dari Prast adalah dia selalu membuka bra yang kukenakan tanpa menggunakan tangan, tetapi menggunakan gigi. Itupun tanpa perlu melepas baju yang kupakai. Dia biasanya menggigit hook braku hingga lepas. Aku menyukainya ketika giginya terasa menyentuh punggungku.

Tangan Prast sekarang tidak lagi hanya bermain di payudaraku, namun sudah mulai turun membelai pusarku. Bibirnya pun meniupniup pusarku. Geli rasanya, namun sangat merangsang. Lidahnya menjilati bulubulu yang ada di atas kemaluanku. Bolakbalik dari pusar ke atas kemaluanku. Aku paling suka jika Prast melakukan hal ini. Terutama waktu lidahnya menari menjilati sisi atas, kiri dan kanan dekat kemaluanku. Nikmatnya tidak terkira.

Aku pun mulai meremasremas batang penis Prast. Dia sangat menyukainya. Tanganku merogoh masuk ke dalam jeansnya. Tidak puas dengan hanya merogoh, kubuka dan kulepaskan celananya. Celana dalamnya kelihatan penuh dan ujung kemaluannya muncul dari celana dalamnya. Aku tertawa kecil melihatnya. Kusentuh dengan menggunakan ujung jariku, Prast menggeliat kegelian dan cekikian. Prast menindihku dan kami bergumul di atas karpet.

Sejauh ini kami hanya bermain seperti hal di atas. Hanya menggesekgesekkan kemaluan kami tanpa melakukan intercourse. Namun siang itu rupanya lain, aku meraih celana dalam Prast dan melepaskannya, dan Prast pun berbuat demikian padaku. Celana dalamku lepas sudah, sementara baju masih kupakai. Prast sendiri pun demikian. Praktis pusar ke bawah, kami bebas.

Kembali Prast menindihku diikuti dengan ciumanciuman yang mesra. Badanku terasa panas bergelora. Kurasakan badan Prast hangat menindihku. Batang kemaluan Prast menggesekgesek di belahan kemaluanku. Prast mencoba menusukkannya. Aku pun, jujur saja sudah ingin melakukan persetubuhan, namun aku takut hamil. Tetapi akhirnya Prast membujukku untuk sedikit menggesekkan kepala kemaluannya ke lubangku. Aku menurut saja.

Kepala kemaluannya terasa hangat menyentuh klitorisku. Nikmat kurasakan kegelian yang memuncak ketika kepala kemaluan itu menyentuh lembut. Kami tidak tahan lagi akan sensasi yang tercipta oleh gesekan itu. Tanpa kusadari, gerakan tubuhku rupanya membuat kepala kemaluan Prast tidak saja menyentuh klitorisku, namun kini telah penetrasi lebih jauh masuk ke lubang vaginaku. Aku kaget, berusaha menolak. Namun, dorongan untuk mencoba lebih jauh akibat kenikmatan itu telah membutakanku. Aku pikir sebentar lagi saja, ah.. tanggung.

Aku kaget setengah mati ketika kutarik kemaluan Prast terlihat darah di kepala kemaluannya. Aku pikir ini pasti darah keperawananku. Aku menangis, menyesal. Kenapa tidak berhenti waktu kemaluan Prast hanya menyentuh klitorisku. Kembali aku menangis dan menangis menyesalinya. Prast mencoba meredakan tangisku. Namun aku tetap merasa tidak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja ke tempat kostku.

Seminggu setelah kejadian itu, aku pikir aku sudah tidak perawan lagi. Kenapa juga waktu itu aku berhenti sebelum mengalami kenikmatan. Itu juga tidak akan mengubah keadaan. Menangis pun percuma karena kenyataan akan tetap sama. Akhirnya waktu malam itu Prast datang, aku berhubungan badan dengannya. Lagian aku ingin menikmatinya pula. Aku tidak mau membohongi diri sendiri. Kami melakukannya di kursi tamu di teras tempat kostku yang gelap.

Aku memang lebih suka memakai rok dibanding dengan celana kalau di rumah. Karena itulah, mudah saja bagiku untuk bersanggama di teras. Terlebih lagi, kalau di tempat kostku, apalagi kalau sedang kencan dengan Prast, aku memang jarang memakai celana dalam. Aku lebih senang yang praktis seperti ini. Meskipun selama ini kami hanya heavy petting saja atau kubiarkan Prast merabaraba kemaluanku. Namun malam ini aku memutuskan untuk melakukannya. Kalau kupikir, aku sudah tidak perawan, kenapa tidak kunikmati saja hal ini.

Prast memang ahli dalam foreplay, pandai sekali dia merangsangku sebelum akhirnya kami bersanggama. Rambutku yang panjang sepinggang dinaikkannya, dan diciuminya punggung leherku. Turun sanpai ke hook braku. Digigitnya pelan dan dilepaskannya dengan mulut. Bagian inilah yang paling kusuka. Gigitannya terasa sangat mesra di punggungku.. diangkatnya kaosku dan tangannya terasa mesra membelai punggungku. Aku benci dengan orang yang terburuburu meremas payudara. Mereka tidak dapat menghargai keindahan seni bercinta.

Aku duduk di atas Prast. Aku rasakan kemaluannya sudah mendesak tegang. Kuarahkan tanganku ke belakang dan menyusup masuk ke celananya. Aku sudah hapal ini. Agak susah memang, namun terasa asyik sekali ketika ujung jariku menyentuh kepala kemaluannya. Perlahan diangkatnya tubuhku. Secara refleks aku pun mengangkat rokku sedikit. Dalam posisiku agak sulit untuk mencopot kancing celana dan menurunkan resletingnya. Prast membantuku. Kemaluannya kini tegak tinggi.

Pernah aku mencoba mengukur kemaluan Prast, panjangnya sekitar 27 cm. Entah itu besar atau hanya sedangsedang saja. Tetapi indah. Ototnya tampak menggelembung di keremangan terasku yang terpisah tirai bambu dengan jalan raya yang ada di atas tempat kostku. Aku segera menurunkan tubuh sekaligus membimbing kemaluan Prast ke lubang kemaluanku. Aku turun perlahan, berusaha menikmati segala keindahan yang tercipta dari fantasi cinta kami. Kurasakan agak sakit ketika pertama kali kemaluannya menyeruak masik ke lubangku. Untungnya kemaluanku sudah basah akibat foreplay yang dilakukannya, sehingga tidak terlalu perih waktu penisnya penetrasi masuk ke vaginaku. Uuughh, nikmatnya selangit. Kurasakan tubuhku memanas dan semakin panas serta melambung tinggi.

Pelanpelan aku mulai menaikturunkan tubuhku di atas Prast. Prast pun berusaha mengimbanginya dengan menusukkan batang kemaluannya dari bawah. Sodokan Prast terasa menyakitkan, tetapi juga nikmat. Aku mencoba menurunkan tubuhku secara penuh agar kemaluan Prast masuk semua ke dalam kemaluanku, namun Prast bilang itu menyakitkan biji pelirnya. Aku pikir benar juga. Akhirnya aku memintanya untuk menyodokkan kemaluannya keraskeras dan seluruhnya ke dalam vaginaku, karena kupikir dia lah yang memiliki ukuran apakah itu menyakitkan bijinya atau tidak.

Ternyata kenikmatan yang tercipta akibat sodokan itu sangat hebat. Aku menggeliatgeliat, sementara Prast tetap mencoba menahan tubuhku agar tidak terlalu banyak bergerak dan jatuh ke tubuhnya. Aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. Gejolak yang kurasa ketika kami hanya melakukan gesekan kemaluan kalah jauh bila dibandingkan dengan kenikmatan yang tercipta waktu batang Prast penetrasi ke lubangku. Kalau saja aku tahu kenikmatan yang tercipta sedahsyat ini, pasti aku sudah melakukannya dari duludulu. Lagian, apa sih enaknya mempertahankan keperawanan.

Kurasakan batang Prast menyodoknyodok dengan kasar. Aku mencoba bergerak memutar, karena gatalnya kemaluanku akibat sodokannya. Tanpa kusadari, ternyata rotasi tubuhku semakin memperhebat kenikmatan yang kurasa. Selama kurang lebih 15 menit penis Prast serasa bagai poros yang mengadukaduk isi kemaluanku. Prast pun meracau tidak karuan. Aku semakin menggila akibat kenikmatan itu. Putaranku makin kupercepat, searah jarum dan berbalik melawan jarum jam bersamaan dengan gerakan sodokan Prast. Wow, nikmatnya, bung. Anda harus mencoba hal ini dengan pasangan anda.

Prast memintaku untuk menghentikan sebentar permainan gilaku ini. Aku berpikir, aku memang baru sekali ini melakukannya, tetapi memang bercinta hal yang alamiah. Tanpa belajar pun aku rupanya dapat melakukannya. Sejenak kami terengahengah dan terperangah oleh permainan kami sendiri. Aku baru tahu, permainan gaya inilah yang nantinya dikatakan Prast sebagai gaya anjing (doggy style). Hanya saja kami melakukannya tidak dengan posisi tubuhku bersandar ke tembok/kursi atau berdiri empat kaki seperti anjing dan ditusuk dari belakang. Kami melakukannya dengan dengan cara duduk, yang ternyata nantinya kuketahui memiliki kenikmatan yang sama namun tidak menyakitkan seperti jika dilakukan dengan posisi tubuh bersandar ke tembok/kursi atau apapun.

Kami hampir tidak percaya kami dapat bercinta sehebat itu. Prast dan aku terdiam sejenak, mencoba mengatur napas dan menenangkan diri akibat sensasi yang begitu intens dari persanggamaan itu. Kalaupun kami mengetahuinya, kami hanya menontonnya dari filmfilm yang memang sering kami tonton. Namun mengalaminya sendiri adalah satu hal lain yang benarbenar berbeda. Tidak heran kalau banyak orang yang gemar kawin kalau memang kenikmatannya seperti ini. Tidak heran pula kalau banyak kasus seks pra nikah, karena memang enak.

Setelah sekitar 5 menit menenangkan diri dan mengatur napas, Prast menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Kemudian dia menghadap ke arahku dan menusukkan kembali penisnya ke kemaluanku. Agak susah memang, karena teras kostku gelap. Kubimbing penisnya ke mulut vaginaku dan secara refleks Prast langsung menusukkan kemaluannya. Oooh.., nikmatnya waktu kurasakan kemaluan Prast menggaruk dinding dalam lubang kemaluanku.

Kini aku berada di bawah, dengan posisi duduk mengangkang membuka kedua pahaku lebarlebar. Prast kembali menusukkan dan menggoyang seperti yang kulakukan waktu aku berada di atasnya. Hunjaman itu terasa menggelitik dinding kemaluanku yang semakin gatal. Basah makin kurasakan vaginaku oleh cairanku yang keluar melumasi bagian dalam. Aku turut mencoba menggoyangkan pantatku, namun agak sulit, karena aku di posisi bawah. Akhirnya aku mencoba mengimbanginya dengan menggoyang ke kiri kanan saja.

Tangan Prast yang tadinya bertumpu pada pegangan kursi panjang aku angkat agar meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan lagi. Sensasi ini sudah demikian menggila. Pundak Prast kugigit. Kepalaku terhentak ke kanan dan kiri. Kukibaskibaskan rambut panjangku. Tidak puas, kujambak rambutku sendiri akibat kenikmatan yang kurasa.

Sudah setengah jam lebih kami bersetubuh, namun belum tampak tandatanda Prast akan mengakhirinya. Sementara aku sudah gilanya menikmati setiap tusukan penisnya yang disertai goyangan memutar. Kurasakan bagai tombak yang menghunjam. Mengadukaduk seluruh syaraf nikmat yang ada dalam vaginaku. Kalau tidak takut ketahuan oleh teman sekost pun mungkin aku sudah berteriakteriak, mengekspresikan segala kenikmatan yang kurasa.

Tidak tahan lagi aku mencapai puncak setelah sekitar 45 menit bersanggama. Entahlah, apakah itu tergolong lama atau tidak, namun kenikmatan yang kurasa tidak mampu kutahan lagi. Dahsyat sekali waktu aku mencapai orgasme sanggama pertamaku ini (kalau orgasme akibat gesekan saja sih aku sudah sering mengalaminya, itu pun setelah satu jam atau lebih).

Basah kurasakan sampai pahaku, mungkin akibat cairanku yang meluapluap. Aku menjambak rambutku sendiri. Kedua pahaku kurapatkan, kakiku mencengkeram pinggangnya dan menariknya, memaksanya untuk memasukkan penisnya secara penuh ke kemaluanku. Nikmat sekali mencapai orgasme. Prast berbisik lembut agar aku menahan dan tetap bercinta. Anggukanku dibalasnya dengan tusukan tajam yang makin cepat. Kubiarkan saja dia mengobrakabrik dinding kemaluanku. Pasrah, namun tetap berusaha mengimbangi dan menikmati sambil berharap semoga dia tidak langsung keluar.

Benar saja, baru setelah dua puluh menit aku orgasme, Prast baru mencapai orgasmenya. Dia meracau tidak karuan dan menggenggam pundakku kencangkencang. Sakit, tapi kucoba menahannya dengan mengatupkan gigiku karena aku tahu Prast memerlukannya. Segera dicabutnya penisnya dari kemaluanku dan langsung dikocoknya di depanku. Spermanya muncrat dan ditumpahkannya ke payudaraku. Ada sebagian yang mengenai wajahku dan tembok di belakangku.

Ooh.., nikmatnya, waktu kurasakan hangat spermanya menyentuh kulit payudara dan wajahku. Langsung kuusap. Aku tidak mau begitu saja melewatkan kehangatan spermanya di atas puting payudaraku. Diciuminya aku. Kubalas dengan pagutan mesra. Nikmat dan mesra sekali kami malam itu. Meskipun pemula, kini aku tahu teknik untuk menghindari kehamilan dengan mengeluarkan penis dari lubangku dan mengocoknya untuk membantu Prast orgasme.

Pengalaman pertama bersanggama inilah yang mungkin akhirnya mempengaruhiku menjadi cewek yang dapat dikatakan gila seks. Bayangkan, kami melakukan ini dua sampai tiga kali setiap malam (kecuali kalau aku lagi menstruasi, tentunya) dengan berbagai gaya yang berbeda. Prast memang pandai dalam membuatku jadi pecinta yang gila, dan yang aku herankan, aku pun yang pendiam ini terbawa permainannya. Lebihlebih lagi, kata Prast, dia kadangkadang sampai heran dan kewalahan mengatasi kemampuanku bertahan dalam bermain seks selama lebih dari satu atau dua jam.

Pernah pada suatu hari, ketika itu kami sedang KKN di desa yang memang terpencil, kebetulan kami ditempatkan di desa yang sama, kami minta ijin untuk pulang ke kota perguruan tinggi kami untuk mengurus proposal dana KKN. Kostku sepi karena KKN di universitasku memang dilaksanakan setiap musim liburan, akhirnya Prast memutuskan untuk menginap di tempatku. Kami bercinta seharian, baik di kamarku, ruang tamu, dapur ataupun kamar mandi. Selama tiga hari kami nikmati kebebasan itu dengan bercinta. Berbagai gaya kami coba karena gairah yang kami pendam hampir sebulan lebih di desa KKN tidak mampu melakukan percintaan.

Siang itu sebelum besoknya kami berencana untuk kembali ke desa KKN, kami bercinta sampai petang menjelang. Prast dan aku rebahan di ruang tamu sambil nonton TV. Namun berakhir dengan bergumul dan saling mencium. Rangsangan yang dilakukannya sangatlah efektif. Kami yang waktu itu baru saja selesai mandi setelah bercinta, kini mulai terlibat melakukan foreplay lagi, yang tampaknya akan disusul dengan percintaan.

Satu yang kucinta dari cowok ini adalah kepandaiannya melambungkan emosiku naik turun. Kadang dia bergerak cepat tanpa menghilangkan kemesraan, lalu menurunkan temponya begitu saja seolah tidak niat bercinta dan menungguku untuk aktif memulai percintaan.

Begitu juga siang itu, setelah merangsangku habishabisan, tibatiba dia berhenti diam mematung. Aku yang sadar akan hal itu segera bertindak aktif sebelum suasana menjadi dingin. Aku harus menciuminya dan melepas celananya tanpa menggunakan tangan. Fantasi kami memang cukup liar. Kugigit lepas kancing bajunya satu per satu. Kuciumi seluruh dada dan perutnya. Lidahku menari menyusuri sampai ke pusar dan kususul dengan kancing celananya. Agak sulit memang, karena tanganku kubiarkan saja diremas oleh Prast. Setelah kancing celana lepas, barulah celana itu kuturunkan dan baju Prast kulepas.

Prast menyuruhku untuk mengambil bantal dari kamarku. Aku heran, gaya apa lagi yang akan kami pakai, namun kuturuti saja. Aku disuruhnya untuk rebah dan ternyata bantal itu dia pakai untuk mengganjal pantatku. Akibatnya, kemaluanku kurasakan mengembang dan terbuka lebar. Aku heran, tahu darimana dia tentang hal ini.

Perlahan, diciuminya pusar dan daerah sekitar kiri and kanan kemaluanku. Rasanya sungguh menggelitik. Aku gemas dan meraih kepalanya lalu mengarahkannya ke kemaluanku. Setelah puas menciumi lalu dia mulai menjilati bagian dalam vaginaku. Dia menyuruhku untuk tidak memakai tanganku. Uuugh, rasanya ingin aku menempeleng dia akibat siksaan kenikmatan yang amat sangat. Aku tidak mampu berbuat apaapa. Tanganku hanya mampu mengepal dan mengejang di samping tubuhku, sementara dia dengan bebasnya menjilati klitorisku dan vaginaku yang terbuka lebar. Dia tiup lubangku dengan mesranya, dingin. Kembali aku terbuai, karena tiupannya disusulnya dengan gigitan pada bibir kemaluanku yang kurasakan makin gatal dan panas.

Akhirnya saat yang kunanti tiba juga. Dia mulai bangkit dan dengan mudahnya memasukkan penisnya ke lubangku yang terbuka lebar menganga. Tanganku mengangkat ke atas, sementara Prast bertumpu pada kedua tanganku. Teriknya siang itu jadi bertambah panas dengan percintaan kami berdua. Kami terdiam beberapa saat lamanya tepat setelah Prast melakukan penetrasi. Aku hapal dia, Prast sedang berusaha menikmati kehangatan bagian dalam kemaluanku. Memang, waktu kami berhenti dan diam, aku dapat merasakan denyutan penis Prast dalam lubangku. Sementara lubangku pun juga berdenyutdenyut memijit batang penisnya. Kediaman itu justru menambah kenikmatan.

Prast memang pandai dalam bercinta. Dia pula lah yang mengajariku cara untuk menggerakkan otot kemaluanku, terutama bibir dan dinding kemaluanku, sehingga aku dapat memijit penisnya tanpa harus melakukan gerakan apapun. Inilah yang kami lakukan siang itu. Mencoba menikmati kediaman dengan merasakan denyutan penis Prast dan pijitan vaginaku.

Setelah beberapa lama, Prast akhirnya bergerak juga naik turun menusukkan penisnya ke lubangku. Aku secara naluriah mengimbanginya dengan menggoyangkan pantatku. Ternyata bantal yang ditaruhnya di pantatku sangat menolong. Biasanya agak susah untuk mengoyangkan pantatku akibat tekanan Prast, namun kali ini gampang saja, karena relatif lebih licin. Hampir lebih dari satu jam kami melakukannya sebelum akhirnya Prast mengangkatku untuk berganti gaya.

Tanpa melepas penisnya dari kemaluanku, Prast mengangkat tubuhku yang relatif kecil (beratku 41 kg). Agak susah memang, tapi dia memang pintar. Waktu dia mencoba mengangkat tubuhku, otomatis aku memeluknya erat dan ini membuat penisnya tenggelam lebih dalam ke lubangku. Sementara itu, waktu tubuhnya telah tegak dan aku menggelayut memeluk lehernya, tangannya mengangkat pahaku agar penisnya tidak lepas dari vaginaku. Betisku (sebenarnya tungkai) kulingkarkan ke lehernya untuk membantu dia agar aku tidak terjatuh.

Dan waktu dia mencoba memperbaiki posisi berdirinya sambil memanggulku, inilah yang kurasakan sangat intens. Penisnya dengan kasar menyodok kelaminku karena memang tidak ada kontrol waktu tubuhku diangkatnya agar posisi kami lebih baik. Lalu dengan kasarnya tubuhku dilambunglambungkan pelan. Hunjaman batang penisnya kurasakan sangat menyiksaku. Tetapi justru tusukan yang terasa kasar, dalam dan tidak terkontrol ini malah menambah intens ketegangan kemaluan kami berdua.

Tetap dalam posisi yang sama, disandarkannya punggungku ke tembok. Waktu dia berjalan ke tembok, karena aku masih menggantung dan kemaluannya masih tetap tertancap di lubangku, maka sangat terasa hentakan ketika Prast melangkah dan ini membuatku makin gila. Setelah bersandar barulah aku agak tenang. Kami mencoba berhenti sebentar untuk menikmati momen ini. Kurasakan batang Prast berdenyut naik turun meskipun dia dalam posisi diam. Sementara kurasakan lendirku turun melumasi batang penis Prast. Kemaluanku pun terasa berdenyutdenyut. Aku lihat Prast merem melek menikmati remasan lubang vaginaku atas penisnya. Lembut aku diciumnya.

Karena sulit untuk mendapatkan kenikmatan waktu bersandar di tembok, aku meminta Prast agar menggendongku keliling ruang tamu. Sebenarnya ini hanya alasanku saja, karena aku telah dibutakan oleh sensasi kenikmatan kasarnya sodokan penisnya yang tadi kurasakan waktu dia memanggulku. Prast mengiyakan dan langsung mengangkat kembali tubuhku dengan memperbaiki sanggaan atas pahaku dan membawaku berjalan keliling ruang tamu. Pelan saja, pintaku, yang dijawabnya dengan anggukan. Wajahnya tenggelam di antara kedua belah payudaraku yang tidak terlalu besar (dada 34B, lingkar pinggang 27).

Aduuh, nikmatnya merasakan tusukan kasar dalam gerakan jalan lambat seperti ini, batinku. Makin lama, kurasakan jalan Prast bertambah cepat dan hentakan yang terasa pun makin kuat. Tempo permainan itu pun makin cepat. Tanganku makin erat melingkari lehernya. Aku tidak mau jatuh. Sedangkan aku juga tidak mau begitu saja Prast menanggung berat badanku dengan kedua lengannya. Hentakan penisnya makin lama makin hebat. Aku mengerang. Kutancapkan kukuku di punggungnya. Aku hampir orgasme. Inikah kenikmatan cinta?

Setelah mengelilingi ruang tamu empat kali, aku akhirnya mencapai orgasme yang teramat sangat nikmat. Direbahkanya aku di meja dapur dan dibiarkannya aku menikmati puncak kenikmatan itu. Tusukannya dipercepat di atas meja itu. Kakiku yang sekarang terangkat di pundaknya mengejang. Sementara tanganku berpegangan erat pada kedua sisi meja dan tangan Prast bertumpu pada pundakku. Tibatiba dicabutnya batang penisnya dari lubang vaginaku dan dikocoknya di hadapanku. Rupanya ia pun hampir mencapai orgasme.

Tidak lama kemudian, dimuncratkannya spermanya ke pusarku. Ada sekitar tujuh kali semburan dahsyat disertai beberapa kali muncratan sisa spermanya. Bahkan wajahku pun bersimbah sperma yang tidak sengaja muncrat, bercampur dengan keringat akibat teriknya siang itu dan sanggama kami. Puas rasanya siang itu.

Satu hal lagi yang kusukai dari Prast adalah kekuatannya bersanggama. Meskipun telah beberapa kali bersanggama dan memuntahkan spermanya, ia masih kuat untuk melakukannya lagi ketika kami mandi berdua siang itu. Butuh waktu dua jam bagi kami untuk mandi dan bersanggama lagi setelah lebih dari satu jam bersanggama sebelumnya siang itu. Kami mandi di dua kamar mandi yang berseberangan tanpa menutup pintu sebelum akhirnya memutuskan untuk mandi bersama dan bersetubuh lagi di kamar mandi.

Pernah suatu kali kami mencoba main dengan gaya kasar. Kata Prast ini adalah bondage atau penyiksaan. Beberapa kali aku pernah melihatnya waktu kami nonton film blue Jepang. Apa salahnya ini kami praktekkan pula.

Waktu itu dua hari setelah ulang tahunku ke duapuluh tiga di bulan september. Mahasiswa baru biasanya masuk sekitar bulan Agustus. Sementara mahasiswa lama baru mulai kuliah sekitar awal September. Itu pun masih banyak yang bolos hingga akhir September, bahkan lebih. Kostku memang masih sepi, karena mayoritas isinya mahasiswa senior. Sebenarnya bisa saja kami bercinta di rumah Prast, karena ia memang tinggal sendirian. Tetapi kami lebih suka melakukannya di kostku.

Malam itu hari Rabu sekitar jam delapan lebih (karena layar emas di TV swasta sudah mulai), kami bercinta. Kali ini tanpa foreplay, Prast menyuruhku untuk mengambil sabuk. Aku turuti dan kuambil sabuk kimonoku. Ternyata sabuk kain itu ia gunakan untuk mengikat tanganku. Direbahkannya aku di tempat tidurku. Tanganku menghadap ke atas. Diciuminya aku dengan kasar. Seperti yang aku telah katakan, kami berdua memiliki fantasi seksual yang liar. Meskipun aku pendiam, namun urusan seks aku sangat berpikiran progresif. Kalau ada sesuatu yang baru, kenapa tidak dicoba untuk sekedar menyegarkan suasana.

Prast masih duduk di atas tubuhku, ketika tibatiba dirobeknya bajuku dengan kasar. Aku menyukai gayanya. Braku pun direnggutnya. Padahal biasanya dia menggigit hook braku sampai lepas. Kali ini sangat berbeda. Setelah itu, giliran rokku yang ditariknya ke bawah hingga kancingnya pun lepas. Seperti telah kukatakan, aku lebih senang memakai rok tanpa celana dalam. Kini aku telah telanjang bulat di hadapannya.

Dia lalu berdiri dan melepas kaus serta celananya satu persatu hingga bugil. Kulihat penisnya mengacung tinggi di atasku. Ooh, indahnya. Dia turun dari kasur dan tubuhku diseretnya hingga kakiku berjuntai di pinggir tempat tidur. Posisi pantatku yang berada di bibir tempat tidur membuat kemaluanku merekah lebar. Sementara tanganku masih terikat ke atas. Dengan kasarnya dipukulkannya batang penisnya ke vaginaku. Sakit sekali rasanya, tapi aku telah terbuai oleh kenikmatan yang akan kunikmati. Pelanpelan dia naik ke ranjang dan ditamparkannya kembali batang penisnya ke pipi kanan dan kiriku berulangulang.

Turun dari ranjangku, diambilnya ikat pinggangnya yang kubelikan untuk hadiah ulang tahunnya. Ujung ikat pinggang yang terbuat dari logam itu dipukulkannya ke perut dan kemaluanku. Nikmat sekali rasanya meskipun sakit. Aku mengaduh kesakitan, namun memintanya untuk terus menyakitiku. Tibatiba dimasukkanya dua jarinya ke dalam lubang kemaluanku dan dihunjamhunjamkannya dengan kasar. Sementara tangan kanannya digunakannya untuk menjambak rambutku. Kini posisiku seperti udang goreng, melengkung. Satu karena jambakan Prast, dan yang satu lagi karena hunjaman jarinya atas kemaluanku.

Tidak puas dengan dua jari, kini tiga jarinya dimasukkan ke lubangku. Jari telunjuk dan manis masuk ke lubang, sementara jari tengahnya menggosokgosok klitorisku, terasa geli setengah mati. Nikmat bercampur geli, namun aku tidak dapat berbuatapaapa karena terikat. Tanganku yang terikat tidak memungkinkan aku bergerak bebas. Kakiku menendang ke sana kemari. Tibatiba Prast menghentikan hunjamannya. Diambilnya sabuk yang tadi dipergunakannya untuk mencambukiku. Diikatnya kakiku dengan sabuk itu. Satu ke kaki tempat tidur kiri dan kaki kananku diikatnya dengan tali tasnya ke kaki kanan ranjangku.

Kini aku tergeletak mengangkang, terikat, telanjang dan tidak berdaya bagaikan wanita Jepang dalam film blue. Prast kulihat kembali mendekati diriku dan menciumi vaginaku yang terbuka lebar. Diambilnya bantal dan diganjalkannya ke bawah pantatku. Waktu diganjalkannya bantal itu, karena kakiku terikat, otomatis ikut tertarik dan pergelangan kakiku terasa sakit sekali. Kembali ia naik ranjangku dan disodorkannya penisnya ke wajahku. Posisinya yang berada di atas tubuhku persis tidak memungkinkanku untuk menghindar. Aku tahu, aku harus mengulumnya seperti layaknya permen saja.

Dulu waktu pertama kali aku harus mengulum penis Prast, terus terang aku merasa jijik. Tetapi Prast memang mungkin telah mempersiapkan segalanya. Biasanya sebelum memintaku mengulum penisnya, dia ke kamar mandi dulu untuk mencuci barangnya hingga bersih. Sehingga waktu aku pertama mengulumnya tidak terlalu merasa jijik.

Kini pun aku akan melakukannya lagi. Segera kujulurkan lidahku untuk menjilatinya. Aku merasa bagaikan anjing yang memohon pada tuannya untuk diberi makan. Kujilati ujung penisnya (glan). Prast merem melek kegelian karena nikmat. Ditariknya lagi penisnya dan dipukulkannya ke pipi dan mataku berulang kali. Aku mengaduh kesakitan, namun itu tidak akan menghentikannya, karena ia tahu aku menyukai dan menikmati rasa sakit yang kualami.

Kusodorkan mulutku untuk mengulumnya, namun Prast kembali menyiksaku dengan jalan menaikkan posisi tubuhnya sehingga aku harus berusaha keras untuk dapat menggapai ujung penisnya. Tubuhku harus meregang, yang tentu saja kembali menyakitkan pergelangan kakiku meskipun kedua tanganku terikat bebas tidak ditalikan di kedua kepala ranjang.

Tibatiba saat tubuhku meregang ke atas mencoba menggapai penisnya, Prast menurunkan tubuhnya, sehingga tak ayal lagi seluruh batang penisnya yang sepanjang 27 centimeter masuk memenuhi seluruh rongga mulutku dan menyentuh anak tekakku. Hampir aku muntah dibuatnya. Bagaimana tidak, kemaluannya yang kupikir cukup panjang itu masuk sampai ke tenggorokanku. Aku sampai tersedak dibuatnya. Segera kukatupkan bibirku ke dalam gigiku sehingga tidak akan melukai batang penisnya. Aku tahu ini karena pernah Prast marah karena gigiku menggores batang penisnya.

Aku segera membasahi penisnya dengan ludahku, lalu kukulum keluar masuk dengan sangat tersiksa karena kakiku sakit terikat. Prast tidak tinggal diam, tubuhnya maju mundur (naik turun) memasukkan seluruh penisnya ke dalam mulutku. Aku tersentaksentak karena tenggorokanku terisi penuh oleh kemaluannya.

Ia tidak berhenti begitu saja. Tangannya terulur ke belakang dan ujung putingku ditariknya keraskeras. Akibatnya aku pun secara refleks dengan bibir terkatup ke gigi menggigit kemaluannya. Mungkin inilah yang menyebabkan dia merasa begitu menikmati permainan ini. Kusedot keraskeras batang kemaluannya, seiring dengan mengerasnya putingku ditarik. Dicubitinya putingku agar hisapanku tambah kencang. Aku tahu apa yang ia sukai dan ia tahu apa yang kubutuhkan. Kenikmatan kasar.

Setelah beberapa lama, dicabutnya penisnya dari mulutku dan kini aku mulai menjilati buah pelirnya. Aku sruput buah pelir yang berbulu tipis itu. Pernah satu kali Prast menamparku karena aku menyedotnya terlalu kencang. Kini, kuberanikan lagi untuk menyedotnya kencangkencang agar dia menamparku dan aku terpuaskan. Namun reaksinya berbeda. Bukan tamparan yang kuterima, tetapi tangannya meraih jauh ke vaginaku dan menepuknya keraskeras. Aku mengaduh kenikmatan.

Sekarang dia berdiri di atasku. Kulihat kemaluannya naik turun pertanda nafsu yang memburu tidak keruan. Napasku pun tersengalsengal karena ingin mendapatkan kenikmatan yang lebih dari sekedar mengulum penis. Aku tertawa terkikik. Prast tersenyum, paham maksudku. Dia turun dari ranjang dan kembali memukulkan batang penisnya ke kemaluanku.

Penisnya yang basah oleh ludahku dengan mudah menerobos lubang senggamaku. Dihunjamkannya dengan keras sehingga tubuhku terangkat naik ke atas ranjangku. Kembali kakiku terasa sakit karena tertarik oleh hentakannya itu. Jempolnya tidak diam, namun turut menekan dan memainkan klitorisku. Aku semakin gila dan kepalaku terayunayun ke sana kemari. Kenikmatan yang kurasa sudah tak tertahankan lagi. Aku jebol dan mencapai orgasme yang teramat sangat tinggi. Baru kali ini aku merasa nikmat dan sakit dalam waktu yang bersamaan setelah lebih dari setengah jam bercinta. Pun itu tidak hanya satu kali saja. Karena Prast tidak menghentikan permainannya meskipun ia tahu aku sudah orgasme. Ia belum, itu yang ia pikirkan. Mau tidak mau aku harus tetap melayaninya.

Hunjaman demi hunjaman yang disertai tekanan atas klitorisku kembali merangsangku dan membuatku mampu mengimbangi permainannya. Alat kelamin Prast tetap tegar menusuk lubangku dengan kasarnya. Berulangulang kulihat Prast membasahi jarinya dengan ludahnya dan menggunakannya untuk melumasi klitorisku. Nikmatnya kurasa sampai ke ubunubun. Vaginaku kembali berlendir setelah agak kering karena orgasme telah lewat. Perih yang kurasakan kini hilang kembali berganti kenikmatan tusukan Prast yang disertai goyangan memutar.

Penisnya kurasakan bagai bor tumpul yang mendera dinding kelaminku. Ujung penisnya terasa menyodoknyodok dinding rahimku. (Kalau batang penis anda cukup panjang, pasti inilah yang akan pasangan anda rasakan).

Tangan kanan Prast kembali beraksi. Kini dengan memukuli pantatku yang terganjal bantal. Sakit tapi nikmatnya terasa sekali, sementara jempol dan jarinya bergantian memainkan klitorisku dan penisnya menyodok vaginaku. Semakin sakit aku merasa semakin nikmat. Namun kami bukan pasangan masochis. Kami hanya sekedar bereksperimen dengan gaya bercinta.

Aku kembali mengejang karena orgasme, sementara Prast kulihat masih tegar dan menikmati permainan ini. Dua kali sudah aku orgasme. Mungkin inilah yang disebut sebagai multi orgasme. Bahagia sekali rasanya memiliki pasangan yang mampu memuaskan nafsuku. Prast pun sangat menyukai hal ini. Aku yang dianggap sebagai gadis desa pendiam dan rendah diri oleh temantemanku sekelas di kampus sebenarnya adalah maniak seks. Sementara orang melihat Prast sebagai pemuda yang kekanakkanakan karena kesenangannya akan kartun dan video game. Tidak seorang pun yang menyadari bahwa sebenarnya kami adalah pasangan yang sangat panas dalam bercinta.

Hampir dua jam sudah Prast meyetubuhiku dan belum tampak tandatanda ia akan orgasme juga. Kekuatan dan gaya bermain seksnya lah yang mungkin menjadikan aku makin cinta kepadanya. Aku turuti kemauannya untuk terus bersanggama sampai kapan pun.

Dua puluh menit kemudian barulah Prast mulai tampak goyah. Pertahanannya tampaknya akan segera jebol. Aku mulai memompa semangat berusaha memuaskannya. Tetapi apa yang terjadi justru sebaliknya, dia bertambah kencang dan aku bertambah lemah. Tidak, aku tidak boleh kalah, pikirku. Akhirnya aku kembali mengalami orgasme, mengejang keras, menggeretakkan gigigigiku karena tangan dan kakiku terikat.

Baru lima menit sesudahnya Prast mencabut penisnya dan bergegas naik ke atas tubuhku dan menjepitkannya di antara kedua belah payudaraku yang ditekannya dengan tangan sehingga mampu memberi kenikmatan laksana dinding vagina. Digesekkannya maju mundur sampai akhirnya spermanya dimuntahkannya di atas payudaraku dan dimintanya aku mengulumnya, setelah bersih tidak ada lagi sisa sperma yang menyembur.

Perlahan kurasakan penisnya mengecil dalam mulutku sehingga dapat kukulum penuh dalam mulutku beserta buah pelirnya. Kami tersenyum puas tepat jam sebelas. Berarti kami bercinta kurang lebih selama tiga jam. Entahlah itu tergolong lama atau tidak, yang penting aku terpuaskan sampai tiga kali dan untungnya aku juga dapat memuaskan Prast, meskipun setelah itu kurasakan pergelangan kakiku terasa nyeri akibat ikatan yang terlalu kencang. Malam itu Prast akhirnya menginap di tempatku.

Setelah membersihkan badan, kami rebahan di kasur lipat tipis milik temanku sambil nonton berita menjelang tengah malam salah satu TV swasta. Tubuh kami masih terbalut handuk saja. Namun karena agak dingin, aku mengambil selimut di kamar dan berpelukan agar lebih hangat. Handuk kami lempar ke tempat pakaian kotorku. Kami terbiasa tidur telanjang berdua di rumah Prast. Di bawah selimut, kami berdua berpelukan, telanjang, sambil nonton TV. Segar sekali rasanya mandi setelah bercinta. Pikiranku jadi lebih tenang dan lebih jernih. Entah karena apa aku tidak tahu.

Kirakira jam setengah dua dini hari, saat program TV sudah habis, Prast membopongku ke kamar. Aku kecapekan setengah mati setelah tiga kali orgasme malam itu. Prast selalu memilih sisi kanan ranjang. Itu tidak masalah, karena aku dapat tidur di sisi manapun. Namun ternyata, aku tidak dapat tidur pulas karena Prast selalu menggangguku dengan rabaanrabaan nakal di pusarku dan bagian atas kemaluanku yang terasa sangat menggelitik. Kubalas dengan mencoba meraba penisnya, tetapi, astaga, ternyata penisnya sudah tegang mengacung dan aku tertawa karena selimut kami jadi mirip tenda pramuka. Digesekgesekkannya penisnya ke perutku. Aku yang tadinya kegelian kini jadi terangsang.

Tawaku berubah jadi sensasi aneh yang menjalari seluruh tubuhku. Aku pun mulai bereaksi dengan mencari tangan Prast dan membimbing tangannya untuk meraba dan meremas payudaraku. Aku memang terkadang gampang panas. Mungkin ini pulalah yang disukai Prast dariku. Sementara tangannya meremas payudaraku, tanganku bergerak ke bawah, mencoba menggapai batang penisnya. Aku selalu menikmati momenmomen seperti ini. Kugenggam batang penis Prast, kurasakan kehangatannya di telapakku dan kupejamkan mataku menikmati segenap sensasi yang muncul. Rasa hangat yang aneh, yang disertai berdirinya buluku seiring dengan sentuhan kulit tubuh telanjang kami berdua di bawah selimut.

Tibatiba Prast beranjak turun dari ranjangku dan bergegas ke ruang tamu. Aku heran, kenapa dia berbuat begitu. Ternyata dia mengambil toples yang berisi kripik singkong. Aku memang suka menyimpan keripik singkong yang jadi kesukaannya. Apa lagi yang hendak dilakukannya. Gaya bercinta yang selalu baru membuatku terheranheran atas fantasinya. Sekarang apa lagi yang akan terjadi, aku hanya dapat menebaknebak.

Diangkatnya selimut yang menutupi tubuhku, lalu ditariknya kakiku sehingga badanku terseret agak ke pinggir ranjang. Diremasnya keripik singkong itu kecilkecil dan ditaburkannya di sekujur badanku. Kini aku sudah mulai dapat menebak jalan pikirannya. Setelah rata ditaburkannya keripik singkong itu di atas badanku, perlahan dia naik ke atas ranjang dan rebah di sampingku. Posisi tubuhnya miring sehingga memungkinkannya bersentuhan langsung dengan kulitku. Dia mulai dengan mencoba menjilati seluruh kripik yang ditaburkanya ke sekujur badanku.

Kini aku dihinggapi sensasi aneh ketika ujung kripik singkong yang kasar tersebut meyentuh kulitku sewaktu akan dimakan Prast. Campuran antara kasarnya ujung singkong dan lembutnya ujung lidah Prast menciptakan fantasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Ini sangat berbeda dengan rabaan atau ciuman mesra bibir Prast yang biasanya menghujani punggung dan dadaku.

Tanganku memelintir puting payudaraku sendiri keenakan. Kutarik kencangkencang agar rasa gatal akibat gesekan ujung kasar keripik itu kalah. Tetapi hal ini tidak terlau banyak menolong. Aku makin panas dan bertambah horny. Kubiarkan lidahnya menarinari di atas tubuhku, menjilati bersih semua kripik singkong yang ia taburkan. Sementara aku mencoba menikmati segenap sensasi yang timbul dengan berdiam diri. Semakin aku berusaha menekan, semakin tersiksa aku, namun kenikmatan yang kudapat akibat siksaan itulah yang membuatku tetap bertahan untuk mencapai titik akhir yang paling nikmat.

Terdengar gila memang, cewek seperti aku yang pendiam ternyata memiliki fantasi seksual yang aneh. Mungkin ini pula yang membuatku melayani Prast untuk main kasar tanpa harus menjadi seorang sadomasochis. Prast lah yang mengajari semua yang kutahu, termasuk semua istilah seksual yang tadinya adalah tabu bagiku. Karena Prast pulalah, fantasi seksualku makin menggila. Tampaknya aku memang berpotensi untuk memiliki fantasi seksual yang agak sakit.

Tidak perlu kukatakan betapa nikmatnya waktu lidahnya berputarputar di sekeliling putingku karena aku yakin pasti anda sudah tahu. Namun waktu lidahnya mulai menjilati pusarku, inilah bagian yang paling kusuka. Aku justru merasa sangat terangsang ketika jemari atau lidah Prast membelai bagian antara pusar dan lubang kelaminku. Tanpa diminta pun, Prast sudah tahu dan sedikit berlamalama ketika mencapai bagian ini. Pria satu ini memang penuh pengertian dan jagoan bercinta.

Setelah puas dengan sedikit foreplay, Prast berbisik lembut kepadaku untuk mengambil agar agak memiringkan badanku. Pasti ada posisi baru, bathinku. Aku turuti kemauannya, kumiringkan badanku ke kiri. Prast segera mengambil posisi di dekat selangkanganku dan menelentangkan badannya. Selangkangan kami bertemu. Aku mulai paham, poros bertemu poros. Kaki kanan Prast di dadaku, sedangkan yang kiri di punggungku. Begitu pula dengan kakiku yang ada di dada dan di bawah punggungnya yang sengaja diangkatnya sedikit.

Perlahan Prast menusukkan penisnya ke lubangku. Napasku tertahan waktu Prast memintaku untuk beringsut mendekat. Seiring aku mendekat, penisnya makin terbenam ke lubangku dan gerakanku menciptakan sensasi aneh. Mungkin ini terjadi karena penis Prast secara tidak beraturan membentur dinding kemaluanku. Posisi gunting seperti ini sungguh memberi kami kenikmatan yang teramat sangat. Ini kurasakan karena dengan posisi begini, penis Prast dapat masuk seluruhnya ke dalam vaginaku. Bahkan kurasakan tulang kemaluannya keras membentur dinding luar lubang vaginaku.

Untuk memudahkan gerakannya, Prast sedikit mengangkat tubuhnya dengan jalan bertumpu pada tangannya. Posenya seperti orang senam kudakuda pelana. Kakinya sedikit menekuk tepat di depan perutku. Dengan cara seperti ini, tubuhnya dapat bergerak seperti naik turun, tapi dalam kondisi miring. Dia memulainya dengan gerakan perlahan, namun secara pasti makin bertambah cepat. Tubuhku terhentakhentak tidak keruan karena sodokannya dari bawah tersebut. Aku berusaha untuk turut bergerak, namun terasa agak sulit, dan terlebih lagi Prast memintaku untuk menikmati saja setiap tusukannya.

Aku tidak tahan lagi. Ayo kundalini, tahan orgasmemu sebentar lagi, bisikku dalam hati. Terus terang sangat sulit bagiku untuk tidak langsung orgasme dengan posisi sanggama seperti ini. Aku berusaha menahan orgasme dengan menekan kenikmatan yang kurasakan. Secara psikologis aku memang agak tertekan kalau begini. Aku tahan semampuku, namun jebol juga pertahananku. Aku tidak kuat lagi untuk menahan segenap cairan yang sudah meluapluap di dalam kemaluanku. Aku rengkuh betis Prast dan kutarik sekuatnya agar penisnya terbenan seluruhnya ketika aku orgasme.

Aku tahan beberapa waktu dan Prast menurut saja. Kupikir dia tahu aku mencapai puncakku. Kurasakan hangat dan nikmat. Aku pasrah saja dan membiarkan Prast melanjutkan permainan kami. Lagian aku juga menikmati setiap tusukan Prast ketika kami bersanggama.

Tidak lama kemudian kulihat lutut Prast sedikit bergetar. Pasti dia sudah hampir memuncak, pikirku. Dan benar saja. Gerakan Prast cepat dan bertambah cepat serta tidak teratur. Kini dia tidak saja menghunjamkan penisnya, namun juga menggoyangkannya. Mau tidak mau aku yang tadinya pasrah menikmati, akhirnya jadi tambah tinggi juga karena tusukan yang disertai goyangan ini.

Ehhg, jeritku tertahan. Aku mencoba menahan diri ketika kurasakan Prast mencabut batang penisnya dan duduk mendekatiku. Secara refleks, langsung kukocok penisnya, sementara tangan Prast meraih vaginaku dan memainkan klitorisku dengan jari tengahnya (mungkin karena hal ini tanda jari tengah dianggap saru). Dengan gemasnya jari Prast menekannekan klitorisku, dan ini membuatku makin terangsang.

Segera saja kumasukkan sebagian batang penisnya ke mulutku dan kuoral dia, keluar masuk mulutku sambil kumainkan lidahku di glan penisnya. Tidak tahan dengan hisapan dan jilatan lidahku, Prast akhirnya memuntahkan seluruh spermanya. Ditekannya kepalaku agar seluruh penisnya masuk ke mulut, dan benarbenar menyentuh anak tekakku. Kurasakan enam kali semburan keras diikuti beberapa kali semburan kecil. Semua spermanya tertelan olehku. Aku hampir muntah ketika penisnya menyentuh anak tekakku. Untung aku sudah agak terbiasa dengan batang penisnya yang, menurutku, lumayan panjang.

Sebenarnya aku agak jijik kalau harus meminum spermanya. Tapi kali ini apa boleh buat, ini juga tidak terhindarkan dan langsung masuk ke tenggorokanku. Ketika itu aku pun tidak terlalu merasakan jijik karena sedang terbuai kenikmatan jari Prast yang dengan kerasnya menekan dan memutarmutar di klitorisku serta meremas bibir kemaluanku dengan ganasnya. Perbuatannya memaksaku untuk mencapai orgasme kedua yang hanya berbeda beberapa saat dengan saat Prast mencapai puncaknya.

Hari itu kami bangun agak telat, pada saat acara musik TV swasta yang ditayangkan setiap jam 08.30 pagi sudah hampir usai. Kami menikmati hari berdua saja dan hanya keluar rumah kost untuk membeli makanan.

Post Terkait