cerita dewasa

Cerita Mesum, Sex Untuk Anak

Teng..tong..teng..tong Jam dinding berdentang 2 kali. Malam semakin larut saja, tapi Elsha masih duduk di ruang tengah. Sejak tadi matanya sulit terpejam. Baru beberapa jam yang lalu Ibu Mas Ezaq, suaminya, menelepon,

Sha, Alhamdulillah, barusan ini keponakanmu bertambah lagi suara ibu terdengar sumringah di ujung sana.

Alhamdulillah lakilaki atau perempuan, Bu? Elsha tergagap, terkejut dan senang. Sudah seminggu ini keluarga besar Mas Ezaq memang sedang berdebardebar menanti berita ini, adik suaminya, yang akan melahirkan.

Lakilaki. Cakep lho, Sha, mirip Masmu diwaktu bayi Ibu tertawa bahagia. Miranti memang adik yang termirip wajahnya dengan Mas Ezaq.

Selamat ya, Bu, nambah cucu lagi. Salam buat Miranti, Insya Allah besok pulang kerja, Elsha dan Mas Ezaq akan jenguk ke rumah sakit. janji Elsha sebelum menutup pembicaraan dengan Ibu yang sedang menunggu Miranti di rumah sakit.

Setelah menutup telepon, Elsha termenung sesaat. Ia jadi teringat usia pernikahannya yang telah memasuki tahun ke 5, tapi belum juga ada tangis si kecil menghiasi rumah mereka. Meskipun demikian ia tetap ikut merasa sangat bahagia mendengar berita kelahiran anak kedua Miranti di usia pernikahan mereka yang baru tiga tahun.

Kok melamun?! Mas Ezaq yang baru keluar dari kamar mandi mengejutkannya. Ia memang pulang agak malam hari ini, ada rapat di kantor katanya. Air hangat untuk mandinya sempat Elsha panaskan dua kali tadi.

Mas, ibu tadi kasih kabar, Miranti sudah melahirkan. Bayinya lakilaki, cerita Elsha.

Alhamdulillah Dilla sudah punya adik sekarang, senyum Mas Ezaq sambil mengeringkan rambutnya, tapi entah mengapa Elsha menangkap ada sedikit nada getir dalam suaranya. Elsha menepis perasaannya sambil segera menata meja menyiapkan makan malam.

Selepas ibadah bersama, Mas Ezaq segera terlelap, seharian ini ia memang lelah sekali. Elsha juga sebenarnya juga sangat lelah hari ini. Ia memang beruntung, selepas kuliah dan merasa tidak nyaman bekerja di kantor, Elsha memutuskan untuk membuat usaha sendiri saja.

Dibantu temannya yang seorang notaris, akhirnya Elsha mendirikan perusahaan kecilkecilan yang bergerak di bidang Interior Design. Elsha memang berlatar pendidikan bidang tersebut, ditambah lagi ia punya bakat seni untuk merancang sesuatu menjadi indah dan menarik. Bakat yang selalu tak lupa disyukurinya. Keluarga dan temanteman banyak yang mendukungnya, akhirnya sekarang ia sudah memiliki kantor mungil sendiri tidak jauh dari rumahnya.

Dan, seiring dengan kemajuan dan kepercayaan yang mereka peroleh, perusahaannya sedikit demi sedikit mulai dikenal dan dipercaya masyarakat. Tapi Elsha merasa itu tidak terlalu memaksakan kehendak, semua dilakukan semampunya saja, sama sekali tidak memaksakan diri, malah menyalurkan hobi dan bakatnya merancang dan mendesign sesuatu sekaligus mengisi waktu luangnya. Beberapa karyawan yang sigap dan cekatan membantunya. Malah sekarang sudah ada beberapa designer lain yang bergabung di perusahaan mungilnya.

Itu sebabnya sesekali saja Elsha agak sibuk mengatur ketika ada pesanan design yang datang, selebihnya temanteman yang mengerjakan. Waktu Elsha terbanyak tetap buat keluarga, mengurus rumah atau masak buat Mas Ezaq meski ada Siti yang membantunya di rumah, menurutnya itu tetap pekerjaan nomor satu.

Elsha juga bisa tetap rutin mengaji mengisi rohaninya. Namun karena kegiatannya itu, biasanya ia tidur cepat juga, tapi malam ini rasa kantuknya seperti hilang entah kemana. Berita dari ibu tadi membuat Elsha teringat lagi. Teringat akan kerinduannya menimang si kecil, buah hatinya darah dagingnya sendiri.

Lima tahun pernikahan memang bukan waktu yang sebentar. Awalnya Elsha biasa saja ketika enam bulan pertama ia tak kunjung hamil juga, ia malah merasa punya waktu lebih banyak untuk suami dan merintis usaha kecilnya.

Seiring dengan berjalannya waktu dan tak hentinya orang bertanya, dari mulai keluarga sampai temantemannya, tentang kapan mereka menimang bayi, atau kenapa belum hamil juga, Elsha mulai khawatir. Fitrahnya sebagai wanita juga mulai bertanyatanya, apa yang terjadi pada dirinya, atau kapan ia hamil seperti juga pasanganpasangan lainnya

Atas saran dari banyak orang, Elsha mencoba konsultasi ke dokter kandungan. Seorang dokter wanita dipilihnya. Risih juga ketika menunggu giliran di ruang tunggu klinik, pasien di sekitarnya datang dengan perut membuncit dan obrolan ringan seputar kehamilan mereka. Atau ketika salah seorang diantara mereka bertanya sudah berapa bulan kehamilannya.

Saya tidak sedang hamil, hanya ingin konsultasi saja senyum Elsha sabar meski dadanya berdebar, sementara Mas Ezaq semakin serius dan asyik dengan artikel sexnya. Elsha bernafas lega ketika dokter menyatakan ia sehatsehat saja. Hindari stress dan lelah, hanya itu nasehatnya

Setahun berlalu. Di tengah kebahagiaan rumah tangganya, ada cemas yang kian mengganggu Elsha. Kerinduan menimang bayi semakin menghantuinya. Sering Elsha gemas melihat tingkah polah anakanak kecil disekitarnya, dan semakin bertanyatanya apa yang terjadi dengan dirinya.

Setelah itu mulailah usaha Elsha dan suaminya lebih gencar dan serius mengupayakan kehamilan. Satu demi satu saran yang diberikan orang lain mereka lakukan, sejauh itu baik dan tidak melanggar syariat agama. Beberapa dokter wanita juga kadang mereka datangi bersama, meski lagi dan lagi, sama saja hasilnya. Sementara hari demi hari, tahun demi tahun terus berlalu.

Kadang Elsha menangis ketika semakin gencar pertanyaan ditujukan padanya atau karena cemas yang kerap mengusik tidurnya. Mas Ezaq selalu sabar menghiburnya,

Elsha, apa yang harus disedihkan? Dengan atau tanpa anak, rumah tangga kita akan berjalan seperti biasa. Aku sudah sangat bahagia dengan apa yang ada sekarang. Insya Allah tidak akan ada yang berubah dalam rumah tangga kita kata Mas Ezaq suatu ketika seperti bisa membaca jalan pikirannya.

Suaminya memang tahu kapan Elsha sedang mendalam sedihnya dan harus dihibur agar tidak semakin larut dalam kesedihan. Di saatsaat seperti itu memang cuma suaminya yang paling bisa menghiburnya, tentu saja disamping doa dan berserah dirinya pada Tuhan.

Kadang Elsha heran kenapa Mas Ezaq bisa begitu sabar dan tenang, seolaholah tidak ada apapun yang terjadi. Dia selalu ceria dan optimis seperti biasa. Apakah memang pria tidak terlalu memasukkan unsur perasaannya atau mereka hanya pintar menyembunyikan perasaan saja? Elsha tidak tahu, yang pasti sikap Mas Ezaq banyak membantu melewati masamasa sulitnya.

Sebenarnya Elsha juga bukan selalu berada dalam kondisi sedih seperti itu. Sesekali saja ia agak terhanyut oleh perasaannya, biasanya karena ada faktor penyulutnya, yang mengingatkan ia akan mimpinya yang belum terwujud itu. Selebihnya Elsha bahagia seperti apa yang biasanya, bahkan banyak aktivitas atau prestasi yang diraihnya.

Buatnya tidak ada waktu yang disiasiakan. Selagi sempat, semua peluang dan kegiatan positif dilakukannya. Kadangkadang beberapa teman menyatakan kecemburuannya terhadap Elsha yang bisa melakukan banyak hal tanpa harus disibuki oleh rengekan si kecil. Elsha tersenyum saja.

Elsha juga tidak pernah menyalahkan temantemannya kalau ketika sesekali bertemu obrolan banyak diisi tentang anak dan seputarnya. Buatnya itu hal biasa, usia mereka memang usia produktif. Jadi wajar saja kalau pembicaraan biasanya seputar pernikahan, kehamilan, atau perkembangan anakanak mereka yang memang semakin lucu dan menakjubkan, atau cerita lain seputar itu. Biar bagaimanapun Elsha menyadari menjadi ibu adalah proses yang tidak mudah dan perlu belajar atau bertukar pengalaman dengan yang lain.

Tapi kadangkadang, sesekali ketika Elsha sedang sedih, rasanya ia tidak mau mendengar itu dulu. Elsha senang juga jika ada yang berusaha menjaga perasaannya diwaktuwaktu tertentu, dengan tidak terlalu banyak bercerita tentang hal tersebut, bertanya, atau malah menyemangati dengan doa dan dukungan agar sabar dan yakin akan datangnya si kecil menyemarakkan rumah tangganya.

Elsha tersadar dari lamunannya. Diminumnya segelas air dingin dari lemari es. Sejuk sekali. Meskipun malam tapi udara terasa pengap. Elsha meneruskan tidurnya. Dalam lelap ia bermimpi bermain bersama beberapa gadis kecil. Senang sekali.

Siang keesokan harinya, Elsha sedang merancang sebuah ruang pameran di kantornya. Ada festival Islam yang akan digelar, mungkin karena tidak banyak designer interior berjilbab rapi seperti Elsha, ia dipercaya merancangnya. Ketika sedang mencoratcoret gambar, Fitri mengejutkannya,

Mbak Elsha, ada tamu yang mau bertemu.

Dari mana, Fit? tanya Elsha.

Katanya dari Yayasan Amanah, mbak, tanya soal aplikasi mbak Elsha bulan kemarin.

Oh itu. Iya deh, saya ke depan sepuluh menit lagi. jawab Elsha.

Setelah berbincangbincang dengan tamunya, akhirnya Elsha menyepakati mengangkat salah satu anak yatim yang diasuh yayasan tersebut sebagai putra asuhnya. Namanya Salim. Elsha memang selalu menyisihkan rezekinya untuk mereka yang membutuhkan.

Dan kali ini, ia berniat untuk menyantuni dan mengasuh Salim seperti anaknya sendiri, itupun setelah dimusyawarahkan dengan suaminya. Elsha berharap, dengan begitu ia bisa cepat hamil. Ibuibu banyak yang mengatakan, mungkin Elsha perlu pancingan agar bisa lekas dapat momongan.

Begitulah, mulai saat itu, Salim yang berusia 12 tahun, tinggal bersama Elsha dan Ezaq. Mempunyai anak, membawa banyak hikmah bagi Elsha. Ia jadi semakin teliti dan perhatian. Apapun kebutuhan Salim berusaha ia penuhi. Mulai dari baju hingga mainan, juga kebutuhan sekolah bocah itu yang tahun depan mau masuk SMP.

Elsha juga mencurahkan seluruh kasih sayangnya pada Salim, hingga mas Ezaq yang merasa tersisih, sempat melayangkan protes sambil bercanda,

Hmm, gimana kalau punya anak beneran ya, bisabisa aku nggak boleh tidur di kamar. Elsha cuma tertawa menanggapinya.

Ah, mas bisa aja. dia mencubit pinggang lakilaki itu.

Dan selanjutnya merekapun bergumul di ranjang untuk memuaskan satu sama lain, sambil berharap persetubuhan kali ini akan membuahkan hasil.

Esok paginya, seperti biasa, Elsha menyiapkan sarapan bagi Salim. Tidak terasa, sudah hampir tiga bulan bocah itu tinggal bersamanya. Dan Elsha merasa senang sekaligus bersyukur, karena pilihannya ternyata tidak salah, Salim sangat pintar dan baik. Anak itu tidak nakal, sangat menurut meski agak sedikit pendiam. Hanya kepada Elsha lah ia mau berbincang, sedangkan dengan mas Ezaq, Salim seperti menjaga jarak.

Kenapa, Lim? tanya Elsha menanyakan sebabnya saat mereka sarapan bersama. Saat itu mas Ezaq sudah berangkat ke kantor, sedangkan Salim masuk siang.

Bocah itu terdiam, hanya jarijari tangannya yang bergerak memainkan bulatan bakso di atas nasi gorengnya.

ga pa pa, ngomong saja sama Umi. kata Elsha. Dia memang menyuruh Salim untuk memanggilnya dengan panggilan Umi sedangkan untuk mas Ezaq Abi.

Ah, nggak, Mi. Salim masih tampak takut.

Elsha menatapnya. Di usianya yang baru beranjak remaja, bocah itu terlihat tampan. Kalau besar nanti, pasti banyak gadis yang akan terpikat kepadanya.

Umi nggak akan marah. kata Elsha lagi, penuh dengan sabar. Salim menggeleng, dia menundukkan kepalanya semakin dalam.

Karena Kasihan, Elsha pun mendekatinya.

Tidak apaapa kalau kamu nggak mau bilang, umi nggak akan maksa. Dipeluknya bocah kecil itu, diletakkannya kepala Salim di atas gundukan buah dadanya. Ia biarkan Salim menangis di situ.

Maaf kalau Umi sudah membuatmu takut. ucap Elsha penuh nada penyesalan, ia memang tidak berharap perbincangan ini akan berakhir seperti itu.

Lama mereka berpelukan, hingga Elsha merasa tangis Salim perlahan mereda dan akhirnya benarbenar berhenti. Ia sudah akan melonggarkan dekapannya saat merasakan sesuatu yang lembut mengendus dan menyundulnyundul pelan buah dadanya.

Ah, Salim! Apa yang kamu lakukan? Elsha memang cuma mengenakan daster longgar saat itu, hanya saat keluar rumah atau ada tamu pria, ia mengenakan jilbab. Dengan pakaian seperti ini, bibir Salim yang bermain di belahan susunya sungguh sangatsangat terasa.

Cepat Elsha melirik ke bawah, dilihatnya si bocah yang kini berusaha mencium dan menyusu ke arah buah dadanya.

Salim! Elsha menegur, tapi dengan suara dibuat selembut mungkin, takut membuat bocah itu kembali menangis. Padahal dalam hati, Elsha benarbenar mengutuk aksinya yang sudah kurang ajar.

Salim mendongakkan kepala,

Mmaaf, Mi. suaranya parau, sementara tubuhnya gemetar pelan.

Tak tega, Elsha segera memeluknya kembali.

Tidak apaapa, tapi jangan diulang lagi ya. Itu tidak boleh. ia membelai rambut Salim penuh rasa sayang. Salim mengangguk.

Maaf, Mi. Salim cuman pengen tahu gimana rasanya nenen. Elsha terkejut,

Emang kamu belum pernah? tanyanya tak percaya.

Salim kan yatim piatu dari kecil, Mi. Jangankan nenen, siapa ibu Salim aja nggak ada yang tahu. Salim ditinggal di depan pintu yayasan. jawab bocah itu dengan getir.

Elsha meneteskan air mata mendengarnya, ia mendekap dan mengelus kepala Salim lebih erat lagi. Setelah terdiam cukup lama, Elsha akhirnya membuka suara,

Bener kamu pengen nenen? tanyanya dengan suara berat. Keputusan sudah ia ambil, meski itu awalnya begitu berat. Salim menganggukkan kepala.

Janji ya, cuma nenen? tanya Elsha sambil memandang matanya.

Iiya, Mi. angguk Salim cepat.

Dan jangan ceritakan ini sama orang lain, termasuk pada Abi. Karena anak sebesar kamu sudah tidak seharusnya nenen pada Umi, ini tidak boleh. Tapi karena kasihan, Umi terpaksa mengabulkannya. terang Elsha, terbersit nada getir dalam suaranya.

Iya, Mi. Salim janji. kata bocah kecil itu.

Begitulah, dengan perlahan Elsha pun menurunkan dasternya hingga buah dadanya yang besar terlihat jelas. Meski masih tertutup BH, benda itu tampak begitu indah. Ukurannya yang di atas ratarata membuatnya jadi tampak sesak. Elsha segera membuka cup BHnya, tanpa ada yang menyangga, bulatan kembar itupun terlontar dengan kerasnya hingga sanggup membuat mata bulat Salim makin melotot lebar.

Mmi Salim memanggil, tapi pandangannya sepenuhnya tertuju pada area dada sang ibu angkat yang kini sudah terbuka lebar, siap untuk ia jamah.

Ayo, katanya mau nenen? kata Elsha sambil menarik salah satu bulatan susunya ke depan, memberikan putingnya yang merona merah pada Salim.

Tahu ada benda mulus menggiurkan yang mendekat ke arah mulutnya, Salim pun membuka bibir, dan mencaplok puting Elsha dengan perlahan,

Ahm lenguh mereka berdua hampir bersamaan.

Elsha kegelian karena ada lidah basah yang melingkupi ujung susunya, sedangkan Salim merasa nikmat mendapat benda yang selama ini ia idamkanidamkan. Lidahnya terus menari membelai puting susu Uminya, sedangkan bibirnya terus mengecap untuk mencucup dan menghisaphisapnya.

Ah, jangan keraskeras, Lim. Sakit! desis Elsha di selasela jilatan sang anak angkat. Ia mulai merasa merinding, jilatan Salim mengingatkannya pada mas Ezaq, gairahsex.com yang biasa melakukannya sebelum mereka tidur. Meski aksi Salim terasa agak sedikit kaku, tapi sensasi dan rasanya tetaplah sama

Sementara itu, Salim dengan tak sabar dan penasaran terus menyusu. Mulutnya dengan liar bermain di gundukan susu Elsha. Tidak cuma yang kiri, yang kanan juga ia perlakukan sama. Kadang Salim malah membenamkan wajahnya di belahan susu Elsha yang curam, dan membiarkan mukanya dikempit oleh bulatan kenyal itu, gairahsex.com sambil tangannya mulai meremasremas ringan.

Ah, Lim. rintih Elsha mulai tak sadar. Ia menekan kepala bocah itu, berharap Salim mempermainkan susunya lebih keras lagi.

Salim yang gelagapan berusaha mencari udara, digigitnya salah satu puting Elsha hingga uminya itu menjerit kesakitan.

Auw, Lim! Apaan sih, sakit tahu! Elsha mendelik marah, tapi melihat muka Salim yang memerah dan nafasnya yang ngosngosan, iapun akhirnya mengerti.

Eh, maaf. Umi nggak tahu.

Gak apaapa, Mi. Salim tersenyum, kedua tangannya masih hinggap di dada Elsha dan terus meremasremas ringan disana.

Gimana, kamu suka? tanya Elsha sambil membelai kepala Salim penuh rasa sayang.

Si bocah mengangguk,

Iya, Mi.

Mau lagi? tanya Elsha. Salim mengangguk, senyumnya terlihat semakin lebar.

Kalau begitu, ayo sini. Elsha pun menarik kepala bocah itu dan ditaruhnya kembali ke atas gundukan susunya.

Begitulah, sampai siang, Salim terus menyusu di bongkahan susu Elsha, sang ibu angkat yang masih berusia muda, tidak lebih dari 30 tahun. Dengan susu yang masih mulus sempurna, Salim benarbenar dimanjakan. Ia menjadi bocah yang paling beruntung di dunia. Sementara Elsha juga merasa senang karena kini ia menjadi semakin intim dan akrab dengan sang putra angkat yang sangat ia sayangi.

Rutinitas itu terus berlangsung. Kapanpun dan dimanapun Salim ingin, asal tidak ada orang terutama mas Ezaq Elsha dengan senang hati menyusuinya. Dan seperti yang sudah dijanjikan, Salim memang tidak pernah meminta lebih.

Bocah itu cuma meremas dan menghisap, tidak macammacam. Ditambah lagi, sama sekali tidak ada nafsu ataupun birahi dalam setiap jilatannya, Salim benarbenar murni melakukannya karena pengen nenen. Elsha jadi merasa aman.

Tapi semua itu berubah saat Salim naik ke jenjang SMP

Umur yang bertambah membuat pikiran bocah itu semakin berkembang. Dari yang semula cuma nenen biasa, kini berubah menjadi jilatan mesra yang sangat lembut namun sangat menggairahkan. Remasan bocah itu juga semakin bervariasi; kadang keras, kadang juga lembut.

Kalau menghisap puting yang kiri, Salim memijit dan memilinmilin yang kanan, begitu pula sebaliknya. Tak jarang Salim mendempetkan dua puting itu dan menghisapnya dalam satu waktu. Pendeknya, Salim sekarang sudah tumbuh menjadi remaja yang tahu apa arti seks yang sesungguhnya.

foto sex 2016,foto sex terbaru,foto sex terupdate,foto sex,

Elsha bukannya tidak mengetahui hal itu. Ia sudah bisa menebaknya saat melihat penis Salim yang sedikit ereksi saat mereka sedang melakukan ritual itu. Tapi Elsha purapura tidak tahu dan mendiamkannya saja.

Toh Salim juga tidak berbuat macammacam, anak itu tetap sopan. Malah Elsha yang panas dingin, itu karena ukuran penis Salim yang saat ini sudah melebihi punya mas Ezaq, padahal usia bocah itu masih sangat muda. Gimana kalau nanti sudah besar ah, Elsha tidak kuat membayangkannya.

Esoknya, saat membangunkan Salim untuk sholat subuh, Elsha disuguhi pemandangan baru lagi. Saat itu Salim masih tertidur lelap, tapi tidak demikian dengan penisnya. Benda itu sedang berdiri dan menjulang begitu tegarnya. Sempat Elsha terpana dan terpesona untuk beberapa saat, tapi setelah bisa menguasai diri, ia segera membangunkan sang putra,

Lim, ayo sholat dulu.

Salim cuma menggeliat lalu meneruskan tidurnya. Elsha jadi tergoda. Apalagi sekarang di depannya, penis Salim jadi kelihatan lebih menantang. Ukurannya yang begitu besar membuat Elsha tercengang, dengan warna coklat kehitaman dan kepala yang masih kelihatan imut (Salim baru bulan kemarin disunat), benda itu jadi terasa seperti daya tarik bagi Elsha.

Tanpa terasa perlahan jarijarinya terulur dan mulai menggenggamnya. Ia memperhatikan wajah sang putra angkat, Salim terlihat tenang saja, matanya tetap terpejam rapat sambil menikmati tidur pulasnya.

Dengan hati berdebar dan penuh perhitungan, takut dipergoki oleh sang suami juga takut bila Salim tibatiba bangun Elsha mulai mengocok benda panjang itu perlahanlahan. Saat diperhatikannya Salim tetap tertidur, malah bocah itu seperti menikmatinya terlihat dari desah nafasnya yang semakin memburu dan tarikan lirih karena terangsang

Elsha pun mempercepat kocokannya. Hingga tak lama kemudian berhamburan cairan putih kental dari ujungnya. Salim ejakulasi. Yang gilanya, akibat rangsangan Elsha, ibu angkatnya sendiri.

Merasa sangat bersalah, dengan tergopohgopoh Elsha segera membersihkannya. Saat itulah, Salim tibatiba terbangun.

Eh, umi gumamnya tanpa tahu apa yang terjadi. Elsha mengelap sisa sperma Salim ke ujung dasternya,

Ayo sholat dulu, sayang. katanya dengan nada suara dibuat senormal mungkin, padahal dalam hati ia sangat berdebardebar.

Salim memperhatikan cairan putih kental yang berceceran di perutnya. Untuk yang ini, Elsha tidak sempat membersihkannya.

Ini apa, Mi? Salim mengambil cairan itu dan mempermainkan di ujung jarinya, lalu mengendusnya ke hidung.

Ih, baunya aneh. bocah itu nyengir. Elsha tersenyum,

Tidak apaapa, itu tandanya kamu sudah mulai dewasa.

Salim memandang uminya,

Dewasa? Salim nggak ngerti. Maksud Umi apaan? tanyanya.

Nanti Umi jelaskan, sekarang mandi dulu ya. Elsha membimbing putra kesayangannya turun dari ranjang. Salim menggeleng,

Nggak mau ah, Mi. Dingin!

Eh, harus. Kalau nggak, nanti badanmu kotor terus. Ini namanya mandi besar. terang Elsha.

Mandi besar? tanya Salim, lagilagi tidak mengerti.

Ah, iya. Kamu kan belum pernah melakukannya. Ya udah, ayo Umi ajarin. Elsha mengajak Salim untuk beranjak ke kamar mandi.

Di ruang tengah, dilihatnya mas Ezaq kembali tidur setelah menunaikan sholat subuh. Sudah kebiasaan lakilaki itu, malam melek untuk sholat tahajud, habis subuh tidur lagi sampai waktu sarapan tiba. Dengan bebas Elsha membimbing Salim masuk ke kamar mandi.

Lepas bajumu, katanya memerintahkan.

Salim dengan patuh melakukannya. Ia tidak risih melakukannya karena sudah biasa telanjang di depan ibu angkatnya. Tak berkedip Elsha memperhatikan penis Salim yang kini sudah mengkerut dan kembali ke ukuran semula.

Pertamatama, baca Bismillah, lalu niat untuk menghilangkan hadast besar. kata Elsha.

Emang Salim baru dapat hadast besar ya? tanya Salim pada ibu angkatnya yang cantik itu.

Elsha dengan sabar menjawab,

Iya, kamu tadi mimpi enak kan? tanyanya. Salim mengangguk,

Iya sih, tapi Salim sudah lupa ngimpiin apa.

Nggak masalah, itu namanya kamu mimpi basah. Itu tanda kedewasaan seorang lakilaki. Dan sehabis dapat mimpi itu, kamu harus mandi besar biar badanmu suci lagi. sahut Elsha.Salim mengangguk mengerti.

Terus, selanjutnya apaan, Mi?

Selanjutnya basuh kemaluanmu seperti ini, Elsha meraih penis Salim dan mengguyurnya dengan air. Ajaib, bukannya mengkeret karena terkena air dingin, benda itu malah mendongak keras dan perlahan kaku dan menegang karena usapan tangan Elsha.

Mi, enak Salim merintih. Elsha jadi serba salah, cepat ia menarik tangannya.

Eh, Tapi Salim dengan kuat menahan,

Lagi, Mi enak, pintanya.

Melihat pandangan mata yang sayu dan memelas itu, Elsha jadi tidak tega untuk menolak. Tapi sebelumnya, ia harus memastikan segalanya aman dulu. Dikuncinya pintu kamar mandi, lalu ia berbisik pada sang putra.

Jangan berisik, nanti Abimu bangun. sambil tangan kanannya mulai mengocok pelan batang penis Salim. Salim mengangguk. Yang kurang ajar, untuk meredam teriakannya, ia meminta nenen pada Elsha.

Plis, Mi. Salim pengen.

Menghela nafas karena merasa dipecundangi Elsha pun memberikan bongkahan susunya. Jadilah, di kamar mandi yang sempit itu, ibu serta anak yang seharusnya saling menghormati itu, melakukan hal buruk yang sangat dilarang agama. Salim menggelayut di tubuh montok ibu angkatnya, sambil mulutnya menyusup ke bulatan susu Elsha.

Bibirnya menjilat liar disana. Sementara istri Ezaq, dengan nafas memburu menahan kenikmatan, terus mengocok penis besar sang putra hingga menyemburkan sperma yang dikandung di dalamnya tak lama kemudian.

Banyak dan kental sekali cairan itu, meski tidak seputih yang pertama, tapi pemandangan itu sudah cukup membuat Elsha jadi horny. Wanita itu merasakan celana dalamnya jadi basah. Tapi tentu saja ia tidak mungkin menunjukkannya pada Salim, bocah itu tidak akan mengerti. Jadi cepatcepat ia bersihkan semuanya, takut mas Ezaq yang sedang tertidur di ruang tengah tibatiba bangun dan memergoki ulah mereka.

Didengarnya Salim menarik nafas panjang sambil mendesah puas,

Terima kasih, Mi. Nikmat banget. Badan Salim jadi enteng. Elsha mengangguk mengiyakan.

Sudah, sekarang mandi sana. Ulangi semuanya dari awal.

Salim tersenyum, dan dengan bimbingan dari ibu angkatnya yang cantik, iapun melakukan mandi wajib pertamanya.

Sejak saat itu, level permainan mereka jadi sedikit meningkat. Elsha tidak cuma memberikan susunya, tapi kini juga harus memuaskan Salim dengan tangannya. Dan si bocah, tampak senangsenang saja menerimanya. Siapa juga yang bakal menolak kenikmatan seperti itu.

Post Terkait