cerita dewasa

Cerita Dewasa Agen Asuransi

Pulang kantor jalanan masih agak macet. Kantorku berada di daerah Harmoni. Pada jamjam sibuk tentu saja macet total.

Langit agak mendung, tapi dugaanku sore sampai malam ini tidak akan turun hujan.

Dengan langkah sedang aku keluar kantor dan berjalan ke arah Juanda, rencana naik bis dari sana saja. Maklum karyawan baru, jadi masih naik Mercy dengan kapasitas besar.

Sampai di Juanda aku cari bis kota tujuan ke Senen. Sebentar kemudian datang bis kota yang sudah miring ke kiri. Aku naik dan menyelinap ke dalam.

Aroma di dalam bis sungguh rruarr biasa. Segala macam aroma ada di sana. Mulai dari parfum campur keringat sampai bau asap dan lainlainnya.

Tak lama aku sampai di Senen. Turun di Pasar Senen dan masuk ke dalamnya. Ada beberapa barang yang harus kucari. Putar sana putar sini nggak ketemu juga yang kucari.

Malahan digodain sama kapsterkapster di salon lantai 2. Dengan katakata yang menjurus mereka merayuku untuk masuk ke salonnya.

Kubalas saja godaan mereka, toh aku juga lagi nggak ada keperluan ke salon. Sekedar membalas dan menyenangkan mereka yang merayu untuk sekedar gunting, facial atau creambath.

Akhirnya kuputuskan untuk cari di Atrium saja. Aku nyeberang di dekat jembatan layang. Memang budaya tertib sangat kurang di negara ini.

Senangnya potong kompas dengan mengambil resiko.

Baru saja kakiku melangkah masuk ke dalam Atrium, mataku tertuju pada seorang wanita setengah baya, kutaksir umurnya tiga puluh lima tahun.

Ia mengenakan blazer hijau dengan blouse hitam. Pandangannya kesana kemari dan gelisah seolaholah menunggu seseorang.

Aku lewat saja di depannya tanpa ada suatu kesan khusus. Sampai di depannya dia menyapaku.

Maaf Mas mengganggu sebentar. Jam berapa sekarang? tanyanya halus. Dari logatnya kutebak dia orang Jawa Tengah, sekitar Solo.

Aduh, sorry juga Mbak, saya juga tidak pakai jam, sambil kulihatkan pergelangan tanganku.Mbak mau kemana, kok kelihatannya gelisah? tanyaku lagi.

Lagi tunggu teman, janjian jam setengah lima kok sampai sekarang belum muncul juga jawabnya.

Ooo.. komentarku sekedar menunjukkan sedikit perhatian.

Mas mau kemana, baru pulang kantor nih? dia balik bertanya.

Iya, mau beli sesuatu, tadi cari di Proyek nggak ada, kalikali aja ada di Atrium.

Akhirnya meluncurlah dari mulut kami beberapa pertanyaan basabasi standar.

Oh ya dari tadi kita bicara tapi belum tahu namanya, saya Vera, katanya sambil mengulurkan tangan.

Anto, sahutku pendek, OK Vera, saya mau jalan dulu cari barang yang saya perlukan.

Silakan, saya masih tunggu teman di sini, barangkali dia terjebak macet atau ada halangan lainnya.

Kami berpisah, saya masuk ke dalam dan langsung ke Gunung Agung. Kulihat Vera masih menunggu di pintu Atrium.

Setengah jam keliling Gunung Agung ternyata tidak ada barang yang kucari. Kuputuskan pulang saja, besok coba cari di Gramedia atau Maruzen.

Aku keluar dari pintu yang sama waktu masuk, arah ke Proyek. Kulihat Vera masih juga berdiri di sana. Kuhampiri dia dan kutanya.

Masih ada disini, belum pulang?.

Ini mau pulang, besok aja kutelpon dia ke kantor, jawabnya.

Waktu itu, 1994, HP masih menjadi barang mewah yang tidak setiap orang dapat memilikinya.

Mbak naik apa?

Oh, saya bawa mobil sendiri, meskipun butut.

OK, kalau begitu saya pulang, saya naik Mercy besar ke Kampung Melayu.

Dia kelihatan agak berpikir. Baru pada saat ini aku mengamati dia dengan lebih teliti.

Tingginya kutaksir 158 cm, kulitnya kuning kecoklatan, khas wanita Jawa dengan perawakan seimbang.

Rambutnya berombak sebahu, matanya agak lebar dan dadanya standar, 34.

Kenapa, something wrong? kataku.

Nggak, nggak aku juga mau jalan lagi suntuk. Rumah saya di Cinere, jam segini juga lagi full macet sambil memandangku dengan tatapan yang sulit kutafsirkan.

Boleh saya temani, sahutku asal saja. Jujur aku hanya asal berkata saja tanpa mengharap apapun. Dia menatapku sejenak dan akhirnya..

Boleh saja, kalau nggak mengganggu jawabnya.

Kami menuju basement tempat parkir mobilnya. Dia memberikan kunci mobilnya padaku.

Bisa bawa mobil kan? tanyanya.

Aku terkejut, karena aku memang bisa nyetir mobil tapi masih belum lancar sekali dan tidak punyai SIM.

Aduh, so.. Sorry, jangan aku yang bawa. Aku nggak punya SIM, kataku mengelak.

Baiklah kalau begitu, biar aku sendiri yang bawa, katanya sambil tersenyum.

Vera naik mobil dan membukakan pintu sebelah kiri depan dari dalam. Mobilnya Suzuki Carry warna merah maron. Kulihat di atas jok tengah berserakan map dan kertas.

Kemana kita? katanya.

Terserah ibu sopir saja, asal jangan ke Bogor, jauh sahutku bercanda.

Kita ke Monas saja deh katanya sambil terus tetap menyetir.

Karena dia mengenakan rok span selutut, jadinya waktu duduk menyetir agak ketarik ke atas, pahanya terlihat sedikit. Aku menelan ludah.

Monas terlihat sepi sore ini, jam di dashboard menunjukkan 17.55. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di pelataran parkir.

Vera memarkir mobilnya agak jauh dari mobil lainnya. Ia mematikan kontak dan membuka jendela. Kami tetap duduk di dalam mobil.

Uffh, hari yang melelahkan. Vera menyandarkan tubuh dan kepalanya pada jok mobil. Blazernya tidak dikancingkan sehingga dadanya kelihatan menonjol.

Ngomongngomong Mas Anto ini kerja di mana?

Karyawan swasta, kantornya di Harmoni, Mbak Vera sendiri di mana? balasku.

Saya agen sebuah Asuransi BUMN, rencananya tadi dengan teman saya, Dewi, akan prospek di sebuah kantor di Kramat, makanya janjian di Atrium. Eh, dianya nggak datang. Eh, bagaimana kalau kita masingmasing panggil dengan nama saja tanpa sebutan basabasi supaya lebih akrab. Toh umur kita nggak jauh berbeda. Aku tiga puluh lima, kutaksir kamu palingpaling tiga puluh.

Ternyata taksiranku tepat, taksirannya meleset. Waktu itu umurku sendiri baru dua puluh lima.

Mungkin karena warna kulitku agak gelap dan berkumis maka wajahku kelihatan lebih tua.

Tapi menurut temantemanku baik perempuan ataupun lakilaki, dengan wajah cukup ganteng, tinggi 170 cm, perawakan tegap, berkumis dan dada berbulu aku termasuk idaman wanita.

Vera ternyata seorang janda dengan satu anak. Ketika kutanya kenapa dia bercerai, air mukanya berubah dan ia menghela napas panjang.

Sudahlah, itu kenangan buruk dari masa laluku, tak usah dibicarakan lagi katanya.

Baiklah, maaf kalau sudah menyinggung perasaanmu, kataku.

Senja semakin merambat, lampu jalan sudah mulai dinyalakan mengalahkan temaram senja.

Di bawah lampu merkuri wajah Vera terlihat pucat. Tibatiba saja kami bertatapan. Vera terlihat sangat lelah, tapi bibirnya dipaksakan tersenyum.

Entah bagaimana mulanya tibatiba saja tangan kananku sudah kulingkarkan di lehernya dan kurengkuh ia ke dalam pelukanku.

Kucium bibir tipisnya dan ia membalasnya dengan melumat bibirku lembut. Kami saling memandang dan tersenyum.

Anto, maukah kamu menemaniku ngobrol?

Lho, bukankah sekarang ini kita lagi ngobrol.

Maksudku, kita cari.. Nggh.. Tempat yang tenang.

Kucium bibirnya lagi dan ia membalas lebih panas dari ciuman yang pertama tadi. Tanpa kujawab mestinya ia sudah tahu.

Ayo kita berangkat, ajaknya sambil menghidupkan mesin mobil.

Baiklah kita ke arah Tanah Abang saja yuk, jawabku.

Dari Monas kami menuju ke Tanah Abang. Kami sempat terjebak kemacetan di sekitar Stasiun Tanah Abang.

Akhirnya kuarahkan dia ke Petamburan. Kulihat dia raguragu untuk masuk ke halaman sebuah hotel.

Ayolah masuk saja, nggak apaapa kok. Hotelnya cukup bersih dan murah kataku meyakinkannya.

Bukan apaapa. Aku hanya tidak ingin mobilku terlihat secara mencolok di halaman hotel sahutnya.

Akhirnya kami mendapatkan tempat parkir yang cukup terlindung dari jalan umum.

Setelah membereskan urusan di front office, kami masuk ke dalam kamar. Kuamati sejenak keadaan di dalam kamar.

Di dinding sejajar dengan arah ranjang dipasang cermin selebar 80 cm memanjang sepanjang dinding.

Aku tersenyum dan membatin rupanya hotel ini memang dipersiapkan khusus untuk pasangan yang mau kencan.

Kamu sering masuk ke sini, To? Kelihatannya sudah familiar sekali tanyanya.

Nggak juga. Namanya nginap di hotel kan tahapannya standar aja. Lapor ke front office, serahkan ID, bayar bill untuk semalam lalu ambil kunci kamar. Beres kan?

Kalau lagi prospek, bagaimana pengalamanmu. Sering dijahili klien nggak tanyaku memancing.

Yahh, ada juga yang iseng. Tapi kalau orangnya oke, boleh juga sih. Sudah dapat komisi plus tip plus enak gila.

Ternyata beginilah salah satu sisi dunia asuransi. Saya nggak menghakimi, tetapi semua itu kembali tergantung pada orangnya.

Aduh, kalau begitu saya nggak bisa kasih tip. Kita pulang saja yuk kataku purapura serius.

Huussh.. Kamu kok nganggap saya begitu sih.

Kami berbaring berjejer di ranjang yang empuk. Vera tengkurap di sebelahku dan menatapku sejenak, lalu ia mendekatkan mukanya ke mukaku dan mencium bibirku.

Aku membalas dengan perlahan. Vera terus menciumiku sambil melepas blazernya. Kaki kirinya membelit kakiku.

Tangannya merayap di atas kemejaku dan mulai melepas kancing serta menariknya sehingga dadaku terbuka.

Vera semakin terangsang melihat dadaku yang berbulu. Ia membelaibelai dadaku dan sekalisekali menarik perlahan bulu dadaku.

Simbarmu iku lho To, bikin aku.. Serr bisiknya. Simbar adalah sebutan bulu dada dalam bahasa Jawa.

Mandi dulu yuk kataku.

Nggak usah, nanti aja. Bau tubuhmu lebih merangsang daripada bau sabun bahkan parfum katanya.

Bibirnya bergeser ke bawah dan kini ia menciumi leherku. Aku menggelinjang kegelian sekaligus nikmat. Napas kami mulai berat dan memburu.

Sambil terus menciumi dadaku, Vera melepaskan blousenya. Kulihat buah dadanya yang masih kenyal dan padat terbungkus bra warna merah jambu.

Seksi sekali. Tangannya bergerak ke bawah, membuka kepala ikat pinggangku, melepas kancing celana dan menarik ritsluitingku dan langsung menariknya ke bawah.

Aku sedikit mengangkat pantatku membantu gerakan tangannya membuka celanaku.

Kini tangannya bergerak ke belakangnya, tidak lama kemudian roknya sudah merosot dan hanya dengan gerakan kakinya rok tersebut sudah terlepas dan terlempar ke lantai.

Tangan kananku bergerak ke punggungnya dan terdengar suara tikk kancing pengait branya sudah terlepas.

Aku melepas branya dengan sangat perlahan sambil mengusapusap bahu dan lengannya.

Vera mengangkat tangannya dari tubuhku dan akhirnya terlepaslah bra merah jambu yang dipakainya. Buah dadanya berukuran sedang, taksiranku 34 saja, terlihat kenyal dan padat.

Uraturatnya yang membiru di bawah kulit terlihat sangat menarik seperti alur sungai di pegunungan.

Putingnya yang merah kecoklatan menantangku untuk segera mengulumnya.

Payudara sebelah kanan kuisap dan kukulum, sementara sebelah kirinya kuremas dengan tangan kananku, demikian bergantiganti. Tangan kiriku mengusapusap punggungnya dengan lembut.

Vera mengerang dan merintih ketika putingnya kugigit kecil dan kujilatjilat.

Ououououhh.. Nghgghh, Anto teruskan.. Ouuhh.. Anto

Payudaranya kukulum habis sampai ke pangkalnya. Vera menghentakkan kepalanya dan menjilati telingaku.

Akupun sudah merangsang hebat. Senjataku sudah mengeras dan kepalanya sudah nongol di balik celana dalamku.

Vera melepaskan diri dari pelukanku dan kini ia yang aktif menjilati dan menciumi tubuhku bagian atas. Dari leher bibirnya menyusuri dadaku, menjilati bulu dadaku dan..

Oukhh, Vera.. Yachh. aku mengerang ketika mulutnya menjilati puting kiriku. Kini bibirnya pindah ke puting kananku.

Aku mendorong tubuhnya, tak tahan dengan rangsangan pada puting kananku.

Vera semakin ke bawah, ke perut dan terus ke bawah. Digigitnya meriamku yang masih terbungkus celana dalam.

Tangannya juga bergerak ke bawah, menarik celanaku sampai ke lutut dan akhirnya menariknya ke bawah dengan kakinya.

Aku tinggal memakai kemeja saja yang kancingnya juga terbuka semua.

Vera memandangku dan mengangguk ketika kepalanya ada di atas selangkanganku. Aku juga mengangguk.

Aku memang tidak pernah meminta wanita yang kutiduri untuk melakukan oral sex. Aku sendiri tidak terlalu suka melakukan oral sex pada setiap wanita.

Ada typetype wanita tertentu yang kuberikan service khusus ini. Jika mereka mau melakukannya biarlah mereka yang berinisiatif.

Kepalanya kemudian bergerak ke bawah. Ia mengisapisap buah zakarku dan menjilatinya sampai ke titik 2 cm di dekat anusku.

Aku baca titik itu adalah titik Kundalini. Aku tidak tahan dengan perlakuannya. Kututup mukaku dengan bantal. Kugigit bibir bawahku sampai terasa sakit.

Tibatiba meriamku seperti kena setrum yang besar ketika lidah Vera menjilat kepalanya.

Secara refleks kukencangkan otot perutku sehingga meriamku juga ikut bergerakgerak. Punyaku memang tidak terlalu besar.

Ratarata saja untuk ukuran umum, namun ternyata beberapa wanita yang pernah merasakannya sangat puas.

Kulepas bantal yang menutup mukaku dan kubuka mataku. Kulihat Vera dengan asyiknya menjilat, menghisap dan mengulum meriamku.

Kadangkadang ia melihat ke arahku dan tersenyum kecil. Aku terpekik kecil setiap lidahnya yang runcing menjilat lubang kencingku. Syarafsyarafku di sana terasa mau putus.

Vera melepaskan kepalanya dari selangkanganku dan tangannya melepas celana dalamnya sendiri dengan cepat.

Kembali bibirnya menyambar bibirku. Kubalas dengan ganas dan kudorong lidahku menggelitik rongga mulutnya.

Lidahku kemudian diisapnya dengan kuat. Aku hampir tersedak. Tangannya mengembara ke selangkanganku dan kemudian meremas dan mengocok meriamku.

Meriamku semakin tegang dan keras.

Ouououhhkk.. Puaskan aku. Berikan aku kenikmatan ia memekik tertahan.

Tidak lama kemudian tangannya memegang erat meriamku dan kurasakan pantat dan pinggul Vera bergerakgerak menggesek meriamku.

Dan kemudian.. Blesshh. Kepala meriamku masuk ke dalam gua kenikmatannya. Terasa lembab namun masih kering dan sempit.

Kurasakan dinding guanya berdenyutdenyut meremas kemaluanku.

Akhh.. Oukkhh Vera mendongakkan kepalanya dan kujilati lehernya yang berada di depan wajahku.

Ia terus menggoyangkan pantatnya sehingga sedikit demi sedikit makin masuk dan akhirnya semua batang meriamku sudah terbenam dalam guanya.

Vera menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di sampingku. Pantatnya bergerak maju mundur untuk menangguk kenikmatan.

Kadang gerakannya berubah kadang menjadi ke kanan ke kiri dan kadang berputarputar.

Sesekali gerakannya menjadi pelan dan pantatnya naik agak tinggi sehingga hanya kepala meriamku berada di bibir guanya dan bibir guanya kemudian berkontraksi mengurut kepala meriamku.

Kemudian ia hanya pelan menggesekgesekkan bibir guanya pada kepala meriamku sampai beberapa kali dan kemudian dengan cepat ia menurunkan pantatnya hingga seluruh batang meriamku tenggelam seluruhnya.

Ketika batang meriamku terbenam seluruhnya badannya bergetar dan kepalanya bergoyang ke kanan dan kekiri. Napasnya mulai tersengalsengal dan memburu.

Kunaikkan punggungku dengan bertopang pada siku. Kuisap puting buah dadanya yang sudah membatu.

Gerakannya semakin liar dan berat. Tanganku kini memeluk punggungnya seolaholah seperti menggantung pada badannya.

Kulengkungkan bagian atas tubuhku mendekat ke tubuhnya. Berat badanku kutumpukan pada punggungku.

Tangannya yang menahan berat badanya kemudian dilepaskan dan memeluk diriku rapatrapat. Kini gerakannya pelan namun sangat terasa.

Pantatnya naik ke atas kadang sampai meriamku lepas, namun kemudian ia menurunkan lagi dengan pelan dan kusambut dengan gerakan pantatnku ke atas.

Kembali meriamku menembus guanya, guanya berdenyut sehingga seluruh batang meriamku mulai dari pangkal hingga ke ujung seperti diurut.

Baru kali ini aku merasakan denyutan dinding vagina yang begitu kuat. Ada beberapa wanita yang bisa melakukannya namun kali ini benarbenar luar biasa.

Melebihi wanita Madura yang pernah kurasakan. Aku sendiri belum mengerahkan otot kemaluanku untuk berkontraksi, kubiarkan saja sampai ia mencapai puncak terlebih dahulu.

Tangannya meremas dan menjambak rambutku, punggungnya melengkung menahan kenikmatan. Mulutnya merintih dan mengerang keras.

Kupikir mungkin terdengar sampai keluar kamar. Emangnya gua pikirin! Paling yang dengar jadi kepengin.

Anto.. Ouhh Anto, aku mau nyampai, aku mau kelu.. ar

Sshh.. Shh

Anto sekarang ouhh.. Sekarang ia memekik.

Tubuhnya mengejang rapat diatasku dan kakinya membelit kakiku. Mulutnya mencaricari bibirku dan kusambar agar ia tidak merintih terlalu keras lagi.

Vaginanya berdenyut kuat sekali dan pantatnya menekan ke bawah dengan keras hingga meriamku terasa sakit.

Vaginanya terasa becek, namun tidak menyembur seperti yang banyak diceritakan orang.

Kupikir mereka itu pembohong kalau menceritakan orgasme wanita yang sampai memancar seperti air mani.

Kupeluk punggungnya dan kuurut dengan kuat mulai dari belakang leher sampai ke pinggangnya.

Tubuh Vera mulai melemas di atas badanku. Keringatnya menitik di sekujur poriporinya.

Kemaluanku yang masih menegang keras di dalam vaginanya. Vera sepertinya sengaja membiarkannya dalam posisi seperti itu.

Terima kasih Anto. Kau sungguh hebat sekali. Aku nggak tahan lagi ia berbisik di telingaku.

Aku diam saja sambil mengeluselus punggungnya. Kuciumi rambutnya. Kupikir akan kupuaskan dia sampai tak bertenaga.

Akhirnya Vera bangun setelah napasnya teratur menghela napas dalamdalam. Ia masuk ke dalam kamar mandi dan kudengar suara shower.

Namun kedengarannya ia tidak mandi, hanya membasuh vaginanya saja. Sementara aku mencoba memejamkan mata sebentar untuk berkonsentrasi dan mengumpulkan tenaga.

Ia keluar sambil menenteng gayung, sabun dan handuk. Dengan perlahan ia membasuh dan membersihkan kemaluanku yang masih agak tegang karena belum mencapai puncaknya.

Karena terkena air, maka kemaluanku kontan saja mengkeret dan mengecil ke ukuran normal. Vera kembali ke dalam kamar mandi mengembalikan gayung dan sebentar keluar lagi.

Aku duduk menyelonjorkan kaki di atas ranjang dan merapikan kemeja yang tetap kupakai selama bercinta babak pertama tadi. Vera memelukku dari belakang dan menciumi tengkukku.

Aku merinding oleh ciumannya. Tangannya mempermainkan bulu dadaku. Kelihatannya ia sangat suka.

Vera menarik kemeja yang kukenakan dan akhirnya sekarang aku bugil 100%. Dadanya yang keras menekan punggungku.

Kuputar tubuhnya sedemikian sehingga kami berhadapan. Kucium bibirnya dan kuremas buah dadanya. Ia merintih, nafsunya mulai bangkit.

Kubalikkan lagi tubuhnya sehingga membelakangiku. Kuciumi tengkuk, cuping telinga dan leher belakangnya.

Ouhh jangan kau siksa aku.. Ayo kita lanjutkan lagi say..

Kami kembali berbaring miring ke kiri dalam posisi Vera tetap membelakangiku. Kuremas dadanya dengan kuat, kupilin putingnya.

Kemaluanku yang belum menembakkan pelurunya dengan cepat mengeras kembali. Mulutnya mencari bibirku ketika bibirku menjilati lehernya pada bagian samping.

Kami berciuman dalam posisi miring.

Kuangkat kaki kanannya dan kucoba memasukkan kemaluanku ke dalam vaginanya dari belakang. Beberapa kali kucoba dan gagal.

Akhirnya Vera mencondongkan pantatnya dan menjauhkan tubuh bagian atasnya dari tubuhku.

Dalam posisi demikian aku bisa menembus guanya meskipun dengan berjuang keras.

Kudorong pantatku maju mundur dengan pelan tapi bertenaga. Meskipun tanpa kontraksi dalam posisi demikian terasa sempit sekali vaginanya.

Kuputar tubuhnya hingga ia berada di atasku. Dari bawah kugenjot vaginanya. Kupikir tadinya akan mudah, ternyata sangat sulit.

Tubuhku tidak bisa bergerak dengan leluasa. Vera mengerti kesulitanku. Ia melepaskan pelukanku dan berjongkok tetap membelakangiku.

Tak berapa lama kembali ia memainkan kontraksi otot vaginanya. Aku tetap membiarkannya ia kontraksi sendirian.

Vera menaikturunkan pantatnya dan rasa nikmat menjalari tubuh kami berdua. Kadang pantatnya menggantung dan giliranku untuk memompa dari bawah.

Demikian dalam posisi ini kami bertahan beberapa saat sampai akhirnya.

Gila kamu To, aku keluar lagi.. Oukhh

Ia berteriak dan melengkungkan badannya, lalu merebahkan badannya telentang dan menekan kemaluanku sampai amblas.

Tangannya mencengkeram sprei. Sunyi sejenak tanpa ada suara apapun kecuali napas Vera yang terengahengah.

Vera memutarkan tubuhnya tanpa melepaskan kemaluanku, sehingga ia dapat berada dalam posisi berhadapan di atasku.

Luar biasa kamu Anto, aku puas sekali malam ini

Aku yang belum puas, kini giliranku mendapatkan kepuasan.

Kugulingkan badannya sehingga kini aku yang berada di atas mengendalikan permainan.

Kusodokkan kemaluanku ke dalam kemaluannya dengan satu hentakan keras sehingga ia melenguh.

Uuuhh.. Tahan dulu To, aku masih lelah katanya.

Aku tak pedulikan permintaannya, tetap kusodokkan kemaluanku dengan pelan dan mantap sampai akhirnya kemaluanku menjadi sangat keras.

Vera akhirnya kembali terangsang setelah beberapa saat kugerakkan kemaluanku.

Kucabut kemaluanku, kutahan dan kukeraskan ototnya kemudian pelanpelan kugesekkan dan kemudian kumasukkan kepalanya saja ke bibir guanya yang lembab dan merah.

Vera terpejam menikmati kontraksi kemaluanku pada bibir kemaluannya.

Kenapa dari tadi nggak kau mainkan.. Hggk.

Dia menjerit tertahan ketika tibatiba kusodokkan kemaluanku sampai mentok ke rahimnya.

Kumaju mundurkan dengan pelan setengah batang sampai beberapa hitungan kemudian kusodokkan dengan kuat sampai semua batangku amblas.

Vera menggerakkan pinggulnya memutar dan naik turun sehingga kenikmatan yang luar biasa samasama kami rasakan.

Kusedot payudaranya sampai ke pangkalnya dan kumainkan putingnya dengan lidahku.

Dalam posisi kemaluanku terbenam seluruhnya aku diam di atas tubuhnya, menciumi bibir, leher dan payudaranya serta menggerakkan otot kemaluan.

Hasilnya luar biasa.

Vera seperti orang yang mau menangis menahan kenikmatan hubungan ini.

Vera mengimbanginya dengan kontraksi pada dinding vaginanya. Ia meringis dan memukulmukul dadaku seperti histeris.

Auuhkhh.. Terus.. Teruskan.. Anto.. Nikmat.. Ooh

Kini kakiku berada di luar kedua kakinya sehingga kedua kakiku menjepit kakinya.

Masih tetap dalam posisi diam, hanya otot kemaluan yang bekerja. Ternyata vaginanya memang luar biasa, meskipun sudah becek namun cengkeramannya masih sangat ketat.

Aku menghentikan kontraksiku dan mulai menggenjot lagi. Vera seperti seekor kuda betina yang melonjaklonjak tubuhnya dan sukar dikendalikan.

Akhirnya tidak ada suara apapun di dalam kamar itu selain desah napas kami yang memburu beradu dengan suara paha bertemu dan derit ranjang.

Keringat sudah membanjir di tubuh kami. Kupacu kuda binalku mendaki lereng terjal yang penuh kenikmatan. Kami saling memagut, mencium dan menjilat bagian tubuh lawan bergumul.

Kubuka lagi kedua kakinya, kini kakinya yang membelit pinggangku. Matanya kadang terpejam kadang terbeliak.

Badannya seperti menggantung di tubuhku. Kini aku siap untuk menembakkan peluruku.

Vera, sebentar lagi Ver.. Aku mau keluar.

Tungu sayang, kita samasama, tunggu…

.. Beberapa saat kemudian..

Sekarang Ver sekarang.. Ouuhh Aku mengejang ketika lahar kepuasan membersit dari kepundan kejantananku.

Anto.. Agghh kakinya menjepit kakiku dan mengejang sehingga kejantananku seperti tertarik mau keluar.

Aku tetap menahan agar kemaluanku tetap berada dalam vaginanya. Matanya terpejam, tangannya meremas rambutku, mulutnya menggigit dadaku.

Kemaluan kami saling berdenyut sehingga kenikmatan puncak ini terasa sampai beberapa detik. Setelah beberapa saat kemudian keadaan menjadi tenang.

Luar biasa kamu To, Aku bisa tiga kali orgasme

Kamu juga hebat, empot ayammu membuat ketagihan

Akhirnya kami membersihkan diri dan check out. Sebelum keluar kamar kami saling bertukar nomor telepon.

Aku menumpang mobilnya sampai di Gatot Subroto dekat Hilton. Vera ke arah Blok M dan aku ke kawasan Jakarta Timur.

Beberapa hari kemudian di kantor aku dikejutkan suara operator yang nongol di ruanganku.

Pak Anto ada telepon dari asuransi, line 2, katanya.

Thanks.

Kuambil gagang telepon, Hallo, siang kataku.

Hai Anto ingat aku? terdengar suara dari seberang.

Oh tentu, kuda binalku. Ada apa?

Kemarin habis nurunin kamu, ban mobilku kempes, untung ada yang nolongin

Habis kamu nyetirnya terlalu bernafsu, injak gas nggak kirakira kataku. Apa hubungannya gas dengan ban kempes ya?

Nanti sore ketemu lagi ya. Aku sudah nggak sabar menanti hasil kerjamu

Nanti sore kupikir boleh juga. Hari ini nggak banyak pekerjaan kok. Cerita kejadian nanti sore pikir dan bayangkan saja sendiri.

Untuk kisah pengalamanku dengan wanita lain juga bisa dibaca di: Kisahkisah Anto.

Post Terkait