cerita dewasa

Cerita Dewasa 18 Maya Mahasiswi Yang Centil

Siang itu rasanya gerah sekali, aku menghapus peluh yang menetes hampir seperti hujan (itu sih namanya deres! ) dengan sapu tangan coklat yg selalu kutaruh di saku celana sebelah kanan, setengah celingakcelinguk di depan papan pengumuman jadwal ujian, aku beranjak gontai melangkahkan kaki ke kantin fakultas ekonomi di belakang kampus.

Beberapa anak angkatan di bawahku tersenyum menyapa ke arahku sambil menundukkan kepala, aku kurang seberapa mengenal mereka, tapi kubalas senyuman itu dengan ramah sambil tetap menunjukkan kerepotanku membawa bukubuku akuntansi yang super berat itu.

Singkat cerita, setelah menenggak sebotol kecil sprite dingin dan membayarnya, aku kembali ke gedung X, menanti kuliah siang yang terasa lama, karena waktu itu masih jam sebelas lebih, dan kampus sepi karena hari jumat. Akupun memilih duduk di bangku semen di bawah rindangnya pohonpohon hijau taman gedung X.

Sekitar sepuluh atau lima belas menit melamun, sesosok gadis yang kukenal melangkah tergesagesa sambil membetulkan kacamata, dan tampak sama kerepotannya dengan aku, membawa setumpuk buku yang tampak tak seimbang dengan ukuran tangannya yang mungil.

Gadis berkulit putih bersih itu tampak mengenaliku, lalu setengah berlari menghampiriku sambil mengurai seulas senyum manis,

Haaiii serunya.

Hai juga, sahutkuDia langsung mengibaskan tangannya ke bangku semen tempatku duduk, takut ada debu yang akan mengotori celana jeans putih ketatnya, seketat jeans itu membelit pantat indahnya yang terbungkus CD berenda, yang nampak samar tercetak padat pada lekukan antara paha, selangkangan, dan batas paha belakangnya, aku sedikit menelan ludah

Dia menunduk, tak sengaja memperlihatkan bh krem berendanya yang tampak menggantung ragu, menampakkan belahan dan sedikit puting kemerahan dari dadanya yang bercup B, lalu segera mengambil posisi duduk menyilangkan kaki di sampingku dan memulai obrolan dengan segala keluh kesah kerepotannya di rumah mengerjakan tugas akuntansi manajemen, sampai ribetnya mengurusi manajemen pabrik pakaian milik ayahnya yang sedikit mengalami mismanajemen.

Aku menanggapinya dengan senyum dan komentarkomentar singkat yang membangun, sampai tanpa sadar tangannya mendarat di tengah pahaku, tak sengaja menyenggol kemaluanku yang entah kenapa menegang sejak dia duduk beberapa menit yang lalu, spontan dia nyeletuk bingung (atau berlagak bingung?) :

Eh, lho, kamu kok bangun?
Sejak kapan, hayooomikirin apa? mPasti yang jorokjorok ya?, dan komentar itu semakin panjang seiring makin merahnya mukaku, aku hanya bisa menunduk malu.
Tanpa bisa kutebak dia memberikan sebuah kejutan yang sangatsangat membuat aku surprise setengah mati jantungan
Emmm, mau dibantuin ngga?
:: Penjelasan :: Gadis itu Maya, pacarku selama 1 tahun ini, dan kita udah biasa ehmehm, gitu lho pembaca ::
Wow, pikirku, hemmm, aku setengah bingung juga, bagaimana kita bisa gituan di kampus? Setengah sadar bibirku
mengucap,
Wah, Maydimana?,
Kita ke lantai 3 aja yuk, kan masih sepi?, setengah ragu namun dikalahkan oleh nafsu, aku menurut saja dengan sarannya.

Biar nggak bikin curiga OB nya kampus yang bagian ngepel, Maya pun beranjak duluan ke lantai 3 dan langsung menuju kamar mandi, lalu menguncinya dari dalam, selang 5 menit, aku menyusul naik ke lantai 3 dan setelah memastikan sama sekali tidak ada orang, aku menuju kamar mandi yang letaknya di pojok dan relatif terhalang pembatas ruangan, aku mengetuk pintu kamar mandi yang tertutup

Cklik, terdengar slot dibuka, lalu aku mendorong pelan pintu itu sedikit, menyelinap, lalu cepatcepat menutupnya
seraya menghela nafas panjang karena degdegan sekaligus capek merasakan terjalnya tangga gedung X .

Maya tersenyum sambil langsung menarik pinggangku mendekat, sehingga bibirku yang setengah terbuka langsung dilumat nya. Bukubuku ku hampir jatuh, segera kutaruh di tepi bak kamar mandi dengan setengah terburuburu, dan langsung tanganku teralih membuka kancing kemeja Maya, dan menyelipkan tanagnku ke selasela braputih nya.

Bunyi kecipak ciuman seolah bergema, menyadarkan kami yg larut dalam ciuman untuk mengurangi volume suara yang akan membuat orang penasaran saat mendengarnya itu. Aku yang sangat tak sabar mencumbu Maya dengan ganas, leher dan telinganya tak luput dari sasaran jilatan lidahku, yang membuatnya mendesah manja.

Dilepasnya kacamatanya dan ditaruh di dalam tasnya yang tergantung di pintu, lalu tangannya beraksi dengan lihai melepas kancing celana, memelorotkan celana panjang kainku, dan menyelipkan tangannya untuk meraih, menarik, dan mengurut batang kemaluanku yang menegang dan puncaknya berubah kemerahan karena terangsang.

Aku juga melakukan hal yang sama dengan menarik celana panjang jeans ketat nya sebatas paha, berikut celana dalam putih berendanya yang sexy, lalu meraba kemaluannya dengan gemas, karena bulubulunya tampak selesai dicukur, sehingga belahan pinknya sangat menggoda. Jari telunjuk dan manis tangan kananku mengarah ke bibir kemaluannya dan menariknya ke samping kiri dan kanan, sementara jari tengahku memainkan klitorisnya yang mungil dan mulai menegang.

OOuucchh Rintih Maya di telingaku sambil matanya berkerjapkerjap merasakan nikmat yang menjalari tubuhnya.
SsshhhAhhh, balasku merasakan nikmatnya kocokan tanagn Maya yang dibasahi sedikit air.
Sambil terus meremas dada mungilnya yang mulus, adegan slaing meraba itu berlangsung selama beberapa menit.
Ricardo,bisiknya sambil mendorong tubuhku perlahan menjauh, aku mengerti apa yang dimauinya.

Aku membantunya melepas celana jeans dan celana dalamnya, menggantungnya di dekat tas. Maya lalu duduk di tepian bak kamar mandi, satu kakinya diangkat ke atas kloset duduk, tangannya ke belakang menyangga tubuhnya, dan setengah meliuk menggoda dengan tatapan penuh birahinya, dia menyorongkan vaginanya ke depan, sambil tangannya meraih dadanya sediri, memilin putingnya, dan meremas payudaranya dengan gerakan memutar ke atas.

Aku langsung melepas celanaku, menaruhnya, lalu segera berjongkok di depan selangkangan Maya, lalu menjilati belahan vaginanya yang terbuka lebar, menjejalkan hidungku, menghirup aroma wangi khas vaginanya yang selalu harum karena dia rajin membasuhnya dengan ramuan jawa dan meminum jamujamu yang selalu membuat kondisi vaginanya fresh.

SshhhAhhh desahnya sambil meremas rambutku.

Kuselipkan dua jemariku, kuputar dan kutusukkan perlahan dalamdalam, lalu kutarik dengan cepat, untuk kembali kuhunjamkan ke dalam sambil menjilati ujung klitorisnyaMaya semakin menggelinjang keenakan, bibirnya digigit, dan mulai meracau.
Didorongnya pundakku tibatiba, dan keluar kata singkat dari bibirnya yang berpulas lipstik pink tipis menggoda :

Duduk di kloset gih, senyumnya tersimpulAku segera bangkit, menutup kloset, dan duduk di atasnya, mengangkangkan kaki, sehingga batang kemaluanku mendongak seolah menantang, dengan testis terkerut karena terangsang.

Maya tak berlamalama, langsung berlutut bertumpu pada kedua telapak atas kakiku yang masih bersepatu, memandangku sebentar dengan gemas. Kuelus rambut sebahunya, kuremas gemas, lalu kudorong perlahan ke arahku.

Seolah menngerti, dikerjapkannya dengan jenaka kedua bola matanya, bibirnya menyungkup menyambut kepala penisku yang sudah demikian merona merahcupdikecupnya, lalu dijulurkannya lidahnya tepat pada lubang bagian atas, ditariknya garis ke bawah lewat jalur pada kepala penis, batang bawah, terus ke bawah, dan di lahapnya sebelah bola testisku, dikulum, dipijat digigit kecil, dan diputarnya kembali lidahnya ke atas, membuatku menggelinjang tertahan. Sungguh sensasi yang sangat luar biasa
Aksi nekat kami masih berlangsung sampai saat terdengar suara langkah mendekat yang membuat desah nafas kami samasama tertahan sesaat

Sssttt, instruksiku singkat agar Maya menghentikan aktifitasnya.Kami samasama diam sampai akhirnya
suara langkah yang sempat mendekat itu beranjak terdengar menjauh. Kami saling memandang dengan sedikit rasa tegang dan degdegan yang masih tersisa dalam hatiTapi kemudian berubah menjadi senyum merona pada wajah kami masingmasing.

Batang kemaluanku yang sempat melemas kembali digenggam oleh Maya, sambil kembali dia dengan gemas mengecup dan mengulum penisku, dengan sesekali membuat gerakan deep throat yang membuat nafasku tertahan,seolah akan mencapai klimaks saja.

Ricardoeemmmhhhmasukin sekarang aja ya? Pintanya manja.

Akupun segera berdiri dan membimbing kedua lengannya untuk bangkit. Aku berdiri membelakanginya, sementara dia membalikkan diri untuk berpegang pada tepian bak kamar mandi, mengambil posisi menungging sambil berdiri. Aku segera mengelus pantatnya yang mulus

Post Terkait