cerita dewasa

Cerita Bokep Di Goyang Tante Sampai Klimaks

Keinginan yang sama, saling membutuhkan, saling memuaskan, dan.saling menyayangi. Apakah ini yang dinamakan cinta ? Ya, apakah kami saling mencintai ? Aku memang tak ingin kehilangan Tante, tapi Tante sendiri bagaimana ? Apakah ia membutuhkanku karena mencintai keponakannya ini ? Atau karena aku baru saja memuaskannya ?

Bagaimana dengan suaminya ? Janganjangan ia tak mendapatkan kepuasan dari Oom Ton ? Aku ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan terakhir ini, tapi mana berani aku menanyakan langsung kepada Tante. Ah, itu tak penting. Yang penting, aku sekarang punya kekasih yang luar biasa, yang bisa membuatku melayanglayang di puncak kenikmatan.

Lelah benar aku malam ini. Bayangkan, malam ini dua kali aku bertempur. Terutama yang terakhir tadi, permainan lama yang betulbetul menguras tenagaku. Aku sekarang ingin istirahat.

Masih agak sempoyongan aku bangkit mengumpulkan pakaianku.

Baca Juga: Pembantuku 17 Tahun

Mau ke mana To ?
Saya ingin tidur, Tante
Sudah tidur sini aja, temanin Tante
Saya senang sekali Tante, tapi besok Oom kan pulang ?
Paling cepat besok siang Aku memperhatikan Tante yang dengan malas bangkit. Tubuh wanita ini memang luar biasa. Aku benarbenar beruntung mendapatkannya. Masih telanjang bulat Tante berjalan menuju kamar mandi. Tak lepas mataku menatapnya.
Kenapa, To Tante merasa aku tatap begitu.
Tante memang indah kataku sambil bergantian menatap dada dan rambut bawahnya.
Kamu memang nakal. Sudahlah, bersihbersih dulu baru kita tidur

Di dalam kamar tidur Tante yang luas ini ada kamar mandi yang luas pula. Ada dua wastafel cermin lebar, bathtube, dan tempat untuk mengguyur (douce) yang berpintu kaca agak buram.

Di bathtube kami saling membersihkan, Tante menyabun tubuhku sementara aku mengguyur tubuhnya, lalu gantian. Ah, mesra sekali.

Lalu berdua kami tidur berpelukan dibawah selimut yang hangat, tanpa pakaian. Tante yang punya ide begini. Enak juga. Jam dinding menunjuk waktu 11.32. Dua ronde permainan makan waktu hampir 3 jam. Pantas saja aku lelah.

Dengan tergagap aku terbangun. Dimana aku in ? Tante masih ada di pelukanku. Kulihat sekeliling, ah aku tidur di kamar pribadi Oom Ton dan Tante Yani!

Ada rasa enak di bawah sana. Ooh, Tante sedang asyik mengeluselus penisku yang tegang. Setiap bangun pagi, tanpa dieluspun penisku memang tegang. Elusan ini yang membuat aku terbangun. Kulihat jam dinding, pukul 05.17. Ah , sudah pagi, aku harus siapsiap. Tapi Tante ini..

Tante memandangku, tersenyum, seperti biasa : manis.

Punyamu udah keras, To Buah dada itu menyembul karena terpepet dadaku. Aku terangsang.

Langsung saja aku raih buah indah itu. Putingnya sudah keras. Kami berpagutan. Aku ingin tahu kesiapan Tante pagi ini, tanganku ke bawah sana. Sudah basah rupanya. Mengingat waktu, aku ingin segera mulai. Tantepun paham.

Kembali aku melakukan pertempuran panjang melawan Tante.

Rasanya jalan ke puncak masih lama.

Aku mempercepat pompaanku

Belum juga.

Aku terus melumat bibir Tante, mencegah kicauannya yang makin keras, khawatir terdengar Mar yang sangat mungkin sudah bangun.

Ganti posisi

Percepat lagi.

Hampir

Ubah posisi

Akhirnya, aku makin yakin seperti yang Tante katakan, bahwa aku lelaki tulen, jantan, hebat.

Pagi yang melelahkan sekaligus menyegarkan!

Tante memberikan bukti, bukan hanya janji. Kami bersetubuh hampir tiap hari, kecuali kalau Tante senam. Waktu yang dipilihnya adalah siang hari, waktu saya baru pulang sekolah, di kamarku. Ini demi keamanan. Siang hari adalah saat yang paling aman. Saat Si Mar sedang sibuk bekerja di belakang, Si Luki bermain dengan pengasuhnya di rumah sebelah, dan saat Oom Ton belum pulang kantor. Siang hari memberikan Tante cukup waktu untuk membersihkan diri, menghilangkan bekas.

Aku jauh dari bosan, seperti yang dikhawatirkan Tante. Karena aku memang sangat menikmati hubungan ini. Faktor lain yang membuat aku tak bosan adalah kreativitas Tante. Seperti yang kukemukakan di awal tulisan ini, ada saja ide Tante untuk membuat kejutan untukku setiap berhubungan kelamin. Entah itu posisi berhubungan, atau acara pembukaan, tambahan ronde, dan lainlain yang membuat aku merasa lain.

Pernah sekali waktu ketika aku pulang sekolah, ia sudah siap di dipanku memakai selimutku sebatas dada dan tak memakai apaapa lagi di balik selimut itu. Kejutan yang membuatku terbakar.

Lain kali lagi ia memintaku masuk dari belakang. Bertumpu pada lututnya ia nungging, aku bermain sambil memegangi pantatnya yang bahenol itu.

Saat yang lain lagi, kami bertempur di atas meja belajarku. Ia duduk di pinggiran meja membuka kaki, aku masuk sambil tetap berdiri.

Pernah juga di kursi belajarku. Aku duduk di kursi yang dirapatkan ke dinding, ia duduk di atas pahaku berhadapan. Dengan posisi begini ia bebas memilih posisi tusukan kelaminku di vaginanya. Posisi atau gaya apapun, yang jelas membuat kami berdua menuju puncak bersamaan atau hampir berbarengan.

Kejutan yang susah kulupakan serta merupakan pengalaman baru bagiku adalah seperti yang akan kuceritakan di bawah ini.

Seperti yang sudahsudah, pulang sekolah setelah ganti baju, aku langsung menemui Tante meminta jatah bersetubuh. Aku sebut jatah karena kalau malam hari Tante bukan milikku lagi, tapi jatah suaminya.

Siang itu ruang tengah sepi, Tante mungkin ada di kamarnya, kulihat pintunya sedikit terbuka. Aku ingin masuk ke kamarnya, kali ini aku ingin main di kamarnya, karena sejak semalam 3 ronde itu aku tak pernah lagi making love di kamar itu, selalu di kamarku. Kuperiksa keadaan sekeliling dulu. Aman.

Aku masuk kamarnya. Tante mengenakan kimono sedang mengikat rambutnya. Kukunci pintu, kupeluk Tante dari belakang, menggerayangi. Tak ada apaapa lagi di balik kimono itu.

Hhmmmmm..sebentar ya yang, Tante mau mandi dulu
Engga usah mandi juga Tante tetap wangi kataku terus menjelajahi tubuhnya.
Entar biar segar. Sabar dulu ya.. Aku menghentikan aksiku.
Saya ikut mandi Tante kataku bercanda.
Ayolah, kita mandi bareng Tak kusangka Tante menganggapnya serius. Ayo, kalau begitu.

Aku langsung bertelanjang, menuntun Tante memasuku kamar mandi. Tante membuka kimononya, bertelanjang bulat juga, masuk ke ruang douce. Tak bosanbosannya aku memandangi tubuh indah ini, padahal hampir tiap siang aku menggumulinya.

Ayo, To ajaknya.
Kita main di sini Tante ? nakalku timbul.
Hush, sekarang kita mandi dulu, kapankapan bolehlah

Tanganku yang bersabun menggosoki dadanya. Di bagian putting sengaja kutekantekan. Tante juga menggosok dadaku dengan sabun. Lalu perutnya, dan ke bawah lagi. Tangan Tante juga ke bawah. Diusapnya dengan sabun rambut bawahku, kemudian dipegangnya batang kelaminku, digosok juga. Karuan saja batang itu membesar.

Hiiiiii, bangunnya cepet bener Aku menikmati gosokannya. Tante benarbenar teliti, semua bagian dari alat vitalku itu dibersihkan dengan sabun lalu diguyur. Enak.

Aku ikutikutan. Seluruh bagian kelaminnya aku bersihkan. Kalau aku lagi menggosok pintu kelaminnya, kulihat mata Tante meremmelek keenakan.

Selesai mengeringkan badan aku langsung menubruk Tante.

Heee, jangan disini To, ingat dong Oh ya. Siang begini terkadang si Luki suka masuk ke kamar, tentu diikuti si Tinah. Berbahaya.

Aku berpakaian, hanya pakaian luar saja, pakaian dalam aku bawa, menyingkat waktu.

Hiiiii, lucu. kata Tante mengomentari tonjolan di celanaku. Tantepun hanya memakai daster, tanpa pakaian dalam.

Aku masuk kamarku duluan, langsung berbugil. Sejurus kemudian Tante menyusul, juga langsung bertelanjang bulat. Kami langsung bersatu, saling raba dan saling pagut. Kali ini mungkin tak ada kejutan yang dibuat Tante. Atau ya itu tadi, mandi dulu sebelum main. Betul juga kata Tante, lebih segar.

Aku meringkik kegelian ketika Tante menciumi pusarku. Ini mungkin kejutannya, tak biasanya Tante begitu.

Tapi, Tante terus ke bawah menciumi rambutku. Lebih kaget lagi, tangannya menggenggam kelaminku dan mulai menciumi barang yang sudah mengeras itu! Bukan main! Geligeli nikmat. Bahkan..

Aaaaaaaahhhh aku mengerang ketika kepala penisku dimasukkan ke mulutnya!

Luar biasa nikmatnya. Ini rupanya mengapa Tante begitu teliti membersihkan kelaminku waktu mandi tadi.

Tante

Tante seolah tak mendengar panggilanku, terus saja asyik melahap barangku. Tante sanggup memasukkan barang itu hingga separohnya. Sewaktu di dalam, jelas kurasakan lidah Tante ikut bermain menggelitiki penisku. Woooow sedapnya tak terkira .!

Sungguh ini pengalaman baru bagiku. Nikmatnya terasa lain. Entah apa yang dirasakan oleh Tante. Kok maumaunya ia melakukan ini. Aku sih keenakan. Aku perhatikan bagaimana ia sibuk mengeluarkanmemasukkan penisku, kepalanya naikturun berirama.

Aaaahhhhhhhhhmmmmmmmmssssshhhhhhhh..sed ap, .. Tante., Tante..pintar .sekali celotehku menahan nikmat. Bagaimana nanti kalau aku tak mampu menahan diri ? Masa aku menyemprotkan spermaku ke mulut Tante ? Ah, bagaimana nanti saja, yang penting sekarang.sedaaaaaaaaaap.

Tibatiba Tante melepas makanannya, disapunya barangku dengan kain dasternya yang tergeletak di dipan. Aku merasa kehilangan sesuatu. Dikeringkan. Laludikulum lagi! Nikmaaaaat..

Dilepaskannya lagi, barangkali mau dilap lagi. Ternyata tidak, badannya digeser sehingga kaki Tante berpindah ke arah kepalaku.

To, .. ayo cium, To..katanya terengah. Sejenak aku bengong tak mengerti permintaannya.

Kamu cium ini katanya kemudian sambil menunjuk ke selangkangannya. Okey, Tante, toh aku sudah sering mencium rambutrambut halusmu itu. Aku mulai mencium.

Ke bawah lagi, dong To.. Ke bawah ? berarti disitunya ? Hal baru, kenapa tidak ?

Kucium tonjolan kecil yang sudah keras itu. Asin rasanya.

Aaaaaaaahhhhhhhh, sedap To, terus

Kini lidahku yang menyapunyapu pintu dan tonjolan tadi

Yaaaahhh. yaaaaaabegitu enak katanya sambil mulutnya menyergap lagi batang kelaminku.

Ada cairan yang asin rasanya.

Di kemudian hari aku baru tahu bahwa yang sedang aku dan Tante lakukan sekarang ini namanya posisi 69?

Dalam mengulum ini Tante pintar sekali, banyak variasinya. Keluarmasuk, kadang menyedotnyedot, bermain lidah, sesekali menggigit (aku langsung teriak).

Akupun diajarinya bermain. Menggelitik lubang dengan lidahku, menggigit kelentitnya (pelan, tentu saja), menyapu bibirku ke bibirnya.

Asyik juga bermain seperti ini. Masingmasing sibuk, masingmasing merasakan nikmatnya.

Entah sudah berapa lama kami bermain begini. Untung saja aku berhasil menahan diri untuk tidak keluar. Aku sekarang memiliki ketrampilan baru untuk mengontrol diri, mengatur diri kapan saatnya keluar. Kalau tidak, masa aku menyiram mulut Tante dengan maniku.

Sampai akhirnya.

Ayo, To.sekarang.To.

Aku memutar tubuhku, sementara Tante rebah terlentang membuka kakinya, siap menerima tusukanku.

Aku masuk dengan gemas.

Tante menerima dengan antusias.

Untuk kesekian kalinya kami saling menggenjot.

Bersama menuju puncak.

Berbarengan menggelepar.

Sudah itu

Samasama lemas

Samasama puas.

Oh, betapa bahagianya aku.

Kebutuhan lahir dan batin terpenuhi.

Kurang apa lagi ?

***

Tak ada yang kurang pada diri Tante. Cantik, putih, tubuh bagus, permainan di tempat tidur luar biasa, dan kreatif. Kreativitas Tante tercermin dari cara bersetubuh. Ada saja yang dilakukannya yang membuatku merasa bersetubuh dengan orang baru. Selalu ada hal baru dalam setiap permainannya. Sejak Tante memperkenalkan posisi 69?, aku selalu minta dikulum penisku sebagai acara pembukaan. Tante juga amat menikmati permainan lidahku di vaginannya.

Seperti biasa sepulang sekolah aku mendekati Tante untuk melaksanakan tugas rutin, bersetubuh.

Aku sudah membuka resleting celanaku, mengeluarkan penisku yang tegang di dekat Tante yang sedang duduk di tepi ranjang, masih berpakaian lengkap, di kamar Tante yang sudah kukunci. Yah, semacam pemberitahuan bahwa aku sudah siap. Tapi tante menyambut dengan dingin, tak seperti biasanya. Ia hanya mengeluselus. Ketika dengan kurang ajar aku mendekatkan kelaminku ke mulutnya, ia hanya mengecup lembut kepalanya, tidak dikulum seperti biasanya, palingpaling hanya menggenggam.

Tante engga bisa sekarang, To
Kenapa Tante ?
Tante lagi itu..
Lagi apa, Tante ?
Lagi mens.
Mens ? Apa itu Tante ?
Kamu engga tahu ?
Bener, Tante. Saya sungguh engga tahu Memang aku tidak tahu.
Begini, setiap bulan wanita yang sudah dewasa mengalami masa menstruasi. Wanita yang normal pasti mengalami

Lalu Tante memberiku kuliah tentang menstruasi itu. Bahkan ditunjukkannya kepadaku celana dalamnya yang berbalut itu.

Kalau begitu, besok saja ya, Tante pertanyaan bodoh memang.

Engga bisa To. Masa mens biasanya sekitar seminggu. Tapi kalau Tante sekitar 4 5 hari.

Wah, menunggu 4 5 hari, mana tahan ?

Tapi Tante, saya ingin
Engga, To. Sabar aja ya, yang

Aduh, pusing juga aku, keinginan sudah sampai ke kepala.

Bagaimana kalau begini saja Tante.. Kataku sambil menempelkan penisku ke bibir Tante, minta dikulum.
Engga bisa juga, To. Itu namanya kamu egois. Kamu bisa puas, tapi kalau Tante terangsang, gimana ? Benar juga kata Tante.
Maafkan saya, Tante. Saya sungguhsungguh belum tahu kataku sambil memeluknya dengan mesra.
Engga apaapa, To. Tante maklum

Dimasukkannya penisku, celana dalamku dibetulkan letaknya, lalu ditutupnya resleting celanaku. Mesra sekali.

Awas, ya. Jangan cari sasaran lain katanya.

Kucium kedua belah pipi Tante, dengan mesra juga.

Engga dong, Tante. Emangnya apaan.

Ternyata ada yang belum aku ketahui tentang wanita

Sekarang masalahku, mana bisa aku menunggu 4 5 hari tanpa bersetubuh, setelah hampir tiap hari menikmati.

Pulang sekolah agak kaget aku mendapati Tante duduk di sofa, membaca. Kucium pipinya.

Engga senam, yang ?
Engga, lagi banyakbanyaknya
Apanya yang banyak ?
Ah, kamu. Ya mensnya Aku mengerti. Tapi berarti hilang juga kesempatanku siang ini menyatroni mBak Mar. Paling tidak aku harus menunggu 2 hari lagi, jadwal senam Tante berikutnya, atau menunggu sampai Tante bersih.

Malamnya, terkantukkantuk aku menunggu Oom Ton dan Tante masuk kamar. Pukul 10.15 mereka masih asyik menonton TV. Aku masuk kamar duluan, gelisah. Setengah jam berikutnya kudengar TV dimatikan, lampu tengah juga, lalu kudengar suara pintu ditutup dan dikunci.

***

Sengaja aku datang ke sekolah lebih pagi. Hari in ada ulangan Fisika dan aku merasa belum siap. Di rumah aku tak bisa konsentrasi belajar, ingatanku ke Tante melulu. Apalagi sekarang udah beberapa hari aku tak bersetubuh, pusing aku, mana bisa belajar di rumah. Pagi ini kesempatan terakhirku untuk belajar Fisika menghadapi ulangan nanti. Belum banyak kawan yang datang, cuma ada Tono, Edi dan Rika yang lagi ngrumpi. Dito belum nongol. Aku ambil bangku paling belakang, mojok, lalu mencoba berkonsentrasi. Lumayanlah dalam setengah jam aku bisa memecahkan soalsoal yang kuperkirakan akan keluar nanti. Juga beberapa rumus sempat masuk ke otakku, sampai seseorang datang menghampiriku dengan senyuman yang amat manis. Yuli memang manis, apalagi kalau senyum. Masih ingat dengan Yuli, pembaca ? Yuli teman sekelasku yang kugambarkan badannya biasabiasa saja, dadanya menonjol wajar dan wajahnya manis. Akhirakhir ini kami makin akrab, sebatas dalam pelajaran lho! Sering saling meminjam buku catatan, diskusi soalsoal PR, atau cuma ngomongin guruguru. Makin dekat kurasakan Yuli makin menarik, dadanya makin menonjol aja. Aku sudah berada di pelukan Tante sih, jadi aku kurang memperhatikan Yuli. Entah ini hanya geer saja, kulihat Yuli begitu ceria kalau berdekatan denganku.

Rajin bener. belajar Fisika ya..? tegurnya sambil duduk di sebelah kananku.
Ah engga. Justru karena aku males, baru sempet belajar sekarang sahutku
Pinjam catatan Matematiknya dong Tar
Matematik ? Kan entar ulangan Fisika
Iyyaa. Tapi kemarin gua engga sempet nyatet jawaban soal kemarin

Aku ulurkan buku Matematik, sambil memgang tangannya. Yuli membiarkan tanganku meremas tangannya, meskipun kemudian dia tarik tangannya, without any words. Tanda penerimaan. Tangannya halus bener .. Lalu dia dengan serius memelototi catatanku itu. Anak ini memang serius banget kalau belajar. Mataku tak lepas memperhatikannya. Dia mungkin tahu aku melihatnya, tapi purapura tidak tahu. Ah .. Ini dia. Di selasela kancing bajunya, aku sempat mencuri keindahan sebelah buah yang tumbuh di dadanya. Hanya sedikit sih, tapi cukup membuatku berdiri. Apalagi daging itu terlihat sedikit naikturun seirama tarikan nafasnya. Ah seandainya ..khayalanku melayang tinggi. Kuperiksa keadaan sekeliling. Masih sepi, memang masih pagi sih. Hanya ada 2 kawan yang tadi, lagi asyik menulis. Sekaranglah waktunya! Toh 2 teman tadi menghadap ke depan kelas, tak akan melihat bila aku menggarap Yuli.

Segera saja tangan kananku merangkul bahu Yuli. Tak ada reaksi. Aksi kuteruskan dengan memegang dagu dan menariknya. Mata Yuli sedikit membelalak, agak kaget mungkin, tapi tak ada tandatanda penolakan. Ah. bibir merah membasah yang menggairahkan. Kucium bibirnya. Dan Yuli membalas ganas ciumanku..!

Tanganku mulai membuka kancing baju putih itu, lalu empat jariku menyusup ke balik BHnya. Halus, padat, dan lumayan besar. Aku meremas. Yuli melenguh. Jariku mencaricari putingnya. Mengeras. Tangannya kepangkuanku. Meremas juga. Sambil masih berciuman, aku melirik dua temanku tadi, mereka masih tak acuh sibuk sendiri. Aman!

Bibirku menelusuri lehernya yang licin, terus kebawah. Kancing bajunya sudah terbuka semuanya. Kulepas baju seragamnya, lalu kudorong Yuli hingga rebah di bangku sekolah!

Aku menindihnya hingga tubuh kami lenyap dari pandangan temanteman tadi kalau mereka menengok ke belakang. Kuciumi habishabisan kedua bukit perawan itu. Aku yakin bukit kembar ini belum tersentuh oleh pendaki manapun. Keras, dan padat. Aku tak sanggup menahan lagi. Walaupun pakaianku masih lengkap nempel di badan, tapi meriamku sudah nongol tegak dari rits celana, siap. Kusingkap rok abuabu itu jauhjauh ke atas. Kupelorotkan celana dalam kremnya

Amboi bulubulu halus, merata di seluruh permukaan kewanitaanya.. Luar biasa.. Masa aku kerjain di sini, di kelas ? Biar saja. Kalau nanti ketangkap basah gimana ? Peduli amat. Kalau sudah begini, mana bisa delay, apalagi cancel. Lagi pula Yuli sudah merintihrintih sambil membuka pahanya agak lebar. We got the point no return!

Mulai sekarang ? Ya, tunggu apa lagi. BHnya masih nempel. Biar saja, tak ada waktu lagi. Kutempatkan penisku ke tempat yang layak. Menyapunyapu sebentar di seputar pintubasahnya, lalu mulai menusuk.

Uuuuhhhhhh .. Yuli melenguh.

Mentok. Padahal baru kepalaku yang tenggelam. Tusuk lagi dengan menambah tekanan.

Aaaahhhhh .pelan ..pelan ..sakiiit Desahnya pelan dan terbatabata.

Buset! Susah bener. Vagina yang satu ini sempit benar. Apa betul, Yuli masih perawan .? Mungkin juga. Sebab biasanya kalau sama Tante Yani tusukan begini sudah mampu mencapai dasar.

Aku tusuk lagi lebih kuat, bahkan sekuat tenagaku. Dan ..

Heh! ngelamun aja!kudengar suara agak membentak. Suara Yuli!

Aku tersadar.

Aku kembali ke alam nyata.

Kembali dari lamunan nakal.

Lamunan bersetubuh dengan gadis yang duduk di sebelahku ini.

Gadis yang baru saja mengagetanku!

Ah.sialan. Kenapa aku begini ?

Garagara mengintip sedikit buah Yuli, aku jadi melayang..

***

Hari berikutnya aku kurang beruntung. Tante ada di rumah mengajakku ngobrol. Hanya ngobrol. Sayang sekali tubuh molek ini belum bisa dipakai. Sembulan dada bagian atas Tante dan sedikit belahannya cukup membuatku kepingin.

Tante panggilku dengan suara serak
Hmm ?
Saya pengin, Tante
Kamu itu, engga sabaran, engga pernah puas
Bukan begitu, Tante. Saya puas, puas sekali. Cuma ketagihan, habis enak sih. Udah biasa setiap hari
Sabar, dong katanya sambil menggenggam selangkanganku.
Eh, udah keras.. katanya lagi.
Iya, Tante. Saya siap setiap saat kataku meniru iklan
Dasar.! Dua hari lagi
Lama bener..

Besok siangnya lagi, ada kejutan baru untukku. Tidak bersetubuh sih, tapi menyenangkan.

Tante sedang duduk di sofa menyulam. Begitu datang aku langsung menyingkirkan kain sulamannya, lalu kucium pipi dan kemudian bibirnya. Aku langsung tahu bahwa dibalik gaun merah jambu, warna kesukaannya, Tante tak memakai BH.

Mandi dulu sana, To
Udah bisa, Tante ? tanyaku cerah.
Ih, kesitu aja pikiranmu. Belum, belum bersih jawabnya sambil menuntun tanganku ke bawah perutnya. Masih ada pembalut di sana.
Jadi, gimana dong Tante kuremas dadanya yang tak berkutang.
Pokoknya kamu mandi dulu

Aku mandi dan mengganti baju dengan penuh harap, barangkali ada kreativitas baru dari Tante.

Aku keluar kamar. Ini dia kejutannya. Tante masih duduk di situ, hanya kancing gaunnya telah dibuka sampai perut, mempertontonkan sepasang buah dada yang mengagumkan. Luar biasa. Berani benar Tante ini, bertelanjang dada di ruang tengah. Jelas belum bisa bersetubuh, tapi kelakuan Tante ini menandakan ada permainan apa lagi nih.

Langsung saja kuserbu buah dada itu.

Eeeeehhhhmmmmmm Dengan gemasnya aku mengacakacak buah indah itu dengan mulut dan tanganku.

Belum puas aku bermain dengan dada, Tante mendorongku sampai aku berdiri di depannya. Lalu.Tante membuka kancing jeansku!

Tante Si Mar nanti..
Engga ada, lagi pergi

Dibukanya resleting celanaku, diturunkannya celana dalamku, lalu dikeluarkannya penisku yang langsung tegang, digenggam pangkalnya, terus diciumi kepalanya, lalu masuk mulutnya!

Ooooohhh, nikmat sekali permainan baru ini. Suasana baru. Bayangkan. Di ruang tengah, berdua masih berpakaian, aku hanya mengeluarkan kelaminku, Tante mengulumnya dengan bertelanjang dada! Oh, indahnya dunia ini.

Ooohhhhhhhhh, Tante, sedaaaaappp.

Kepala Tante bergerak majumundur, sangat perlahan. Terasa sekali bibirnya menjepit dan bergerak menelusuri permukaan penisku.

Tante..Tanteenaaaaaaaak, Tante..

Tante terus saja. Tanganku dituntun ke buah dadanya. Aku sampai lupa diri tak berbuat apaapa pada Tante. Habis sedap sekali sih!

Kedua tanganku meremasi sepasang buah kenyal itu. Tante terus bekerja. Geli, Tante!

Ya, geli. Aku hampir ke puncak. Entah mengapa kali ini aku cepat mendaki. Mungkin karena pintarnya bibir dan lidah Tante merayapi permukaan kulit kelaminku, atau karena suasana yang aneh ini.

Aku tak mampu menahan lebih lama lagi.

Tante rupanya tahu kalau aku hampir sampai, ia mempercepat gerakannya. Bagaimana kalau keluar, aku tak tega kalau sampai menumpahi mulut Tante dengan spermaku.

Segera..ya..segera sampai.

Dilepasnya kulumannya, tangannya yang memegang sapu tangan secepat kilat menutupi kelaminku dan digenggam.

Aaaaaaaaaahhhhhh sambil berteriak aku muncrat. Sedaaaaaaap.

Tante meremas.

Muncrat lagi, enak, meremas lagi, muncrat, nikmat, remas, sedap, muncrat, remas.

Beberapa detik aku terbang, kakiku goyah, lalu mendarat ditubuh Tante. Kucium mulutnya. Masih ada muncratan lagi, tertampung di saputangan. Ada lagi, makin sedikit..

Beberapa saat aku masih menubruk Tante, ia masih menggenggam dengan saputangan.

Terima kasih, Tante

Enak, To ?

Sedaaaaaaap, Tante. Tapi lebih nikmat ke sini jawabku sambil memegang benda yang masih berpembalut itu.

Masih pusing ?

Hilang, Tante. Lepas sudah Keteganganku memang lepas.

Tante sendiri, gimana dong, Tante ?

Engga apaapa. Ini kan cuma membantu kamu

Kupeluk lagi Tante lebih erat. Aku makin sayang saja sama Tanteku ini.

Terima kasih, Tante. Tarto makin sayang sama Tante kataku jujur.

Sudah, cuci dulu sana. Ih, banyaknya.

Iya, habis sudah tiga hari engga keluar..

***

Sejak peristiwa penguluman di ruang tengah kemarin itu aku jadi makin berani kurang ajar kepada Tante. Seperti siang ini. Waktu Tante sedang duduk membaca di ruang tengah, aku mendekatinya dari belakang dengan kelaminku sudah kukeluarkan, terjulur kutempelkan di pipi Tante.

He, ngawur kamu.! Tante kaget. Ditariknya punyaku.
Aauuu aku teriak.
Masukkin, engga aman!
Iya Tante, saya tahu. Cuma bercanda

Di hari berikutnya Tante membalas.

Sewaktu aku sedang makan siang sendiri, Tante mendekatiku, sangat dekat sehingga perutnya hanya berjarak beberapa senti dari pipiku. Kucium bawah perutnya. Lalu Tante meraih tanganku, dimasukkan ke balik gaunnya, langsung vaginanya terpegang. Tak ada celana dalam di balik gaun Tante.

Sudah bersih, Tante ?
Sudah..

Kuangkat gaun itu sehingga rambut yang menggemaskan itu nampak. Aku langsung tegang, berarti siang ini bisa. Aku langsung berdiri meninggalkan makanku, memeluknya.

Tunggu dulu kata Tante sambil mendorongku terduduk kembali.
Kali ini Oommu dulu, ya.. Katanya sambil meninggalkanku masuk ke kamarnya. Kurang ajar! Oom Ton ada di kamar. Seharusnya aku tahu, mobilnya ada di garasi. Tante masih sempat melihatku sambil tersenyum, sebelum ia mengunci kamar.

Aku makin tegang ketika setengah jam kemudian lamatlamat mendengar suara erangan Tante dari kamar..

Aku masuk kamar, tak tahan di situ.

Tante sudah selesai mensnya, seharusnya siang ini ia milikku. Tapi Oom Ton merebutnya. Merebut ? Memang Oom Ton pemilik sah.

Aku gagal mencoba berkonsentrasi membaca Fisika, besok ulangan. Bayangan Tante disetubuhi suaminya yang muncul. Ah, sialan..

Setelah mencoba menyadari posisiku, aku jadi agak tenang. Aku kan hanya kemenakannya yang dibantu, lahir dan batin, kenapa musti sewot ? Kelaminku mulai surut.

Tapi itu tak lama.

Tibatiba Tante masuk, langsung mengunci pintu kamarku. Disodorkan buah dadanya ke mulutku. Buah itu masih berkeringat, juga wajahnya. Tak peduli. Aku serbu dada itu, masih duduk di kursi belajarku. Kelaminku langsung membesar lagi. Tante dengan tergopohgopoh membuka resleting celanaku, mengeluarkan isinya yang sudah keras menjulang. Ia melangkah naik ke pahaku. Mengarahkan kelaminku ke vaginanya, dan.blessss aku langsung masuk! Gila! Tanpa pemanasan dulu Tante langsung main. Di kursi lagi. Untung aku cepat siap. Jadilah kami berkudaan di kursi. Tante semangat sekali nampaknya. Dengan posisi berpangku berhadapan ia di atas, Tante leluasa mengeksplorasi penisku. Aku lebih pasif. Hanya kadangkadang saja menusuk, soalnya berat, harus mengangkat tubuhnya dengan pinggulku.

Edan! Setengah jam yang lalu aku mendengar Tante mengerang di kamarnya bersama Oom Ton, sekarang ia berkudaan denganku, sementara suaminya (mungkin) sedang pulas di kamar sebelah!

Seakan ia tak ada puasnya. Atau janganjangan ia belum puas dengan suaminya lantas melanjutkan di sini ? Hanya Tante yang tahu. Betapa trampilnya ia menggenjot. Vaginanya begitu menjepit dan mengurut penisku, berulangulang. Begitu rupa ia menstimulasi kelaminku, membuat aku cepat naik. Geli sekali. Makin cepat dia, makin geli aku. Tibatiba tangannya mencekram kepalaku kuat sekali. Tubuhnya bergetar hebat, mengejang. Di dalam sana berdenyutdenyut. Bahuku digigitnya. Getaran tubuhnya makin hebat, lalu mendadak berhenti menggenjot. Mengerang. Tante sedang melayang di puncak..

Akupun hampir sampai. Aku sekarang yang menggenjot. Tante teriak. Vaginanya menjepitku teratur menandakan Tante telah orgasme. Aku tak peduli, sebab aku belum, cuma hampir sampai, terus menggenjot. Tante masih mencekeram erat, secara pasif mengikuti gerakan tusukanku yang naikturun, laluakupun mengejang, melepas. Heran, Tante mengerang lagi, seharusnya aku yang teriak. Tante ikut menikmati ejakulasiku.

Sejurus kemudian kami diam, masih berpelukan, Tante belum mencabut. Hanya nafas kami berdua yang masih berkejaran.

Tante hebat aku membuka percakapan
Apanya yang hebat, justru kamu yang hebat. Tante tadi kan duluan
Ah, kita hampir bersamaan kok tadi
Jadi apa maksudmu hebat
Tante bisa dua kali berturutan
Ooh itu, engga juga sih..
Tadi saya mendengar, waktu Tante sama Oom
Ah, masa.?
Iya, Tante mengerang, saya jadi ngiri.
Kan kamu dapat juga
Itulah makanya Tante bisa dua kali
Kamu juga bisa dua kali, waktu malam itu.
Iya, tapi kan ada jarak waktu
Sebenarnya Tante tadi cuma sekali
Yang benar, Tante. Barusan Tante kan sampai puncak..
Iya. Cuma itu. Sama kamu
Tadi sama Oom.. aku mulai menyelidik tentan hubungan Oom dan Tanteku ini.

Tante diam saja.

Kok diam, Tante aku benarbenar ingin tahu.
Ini kan masalah Tante dengan Oommu, rahasia dong
Please, Tante, cerita dong. Tante kan isteri ku juga buah dadanya kucium, putingnya masih keras.
Kamu engga usah tahu
Ayolah, Tante

Tante diam lagi agak lama. Lalu.

Sama Oommu Tante belum sampai .. Kaget juga aku. Jadi, tak berhasil orgasme dengan suaminya lalu melanjutkan denganku.
Ah masa, Tante
Itulah kenyataannya, To. Oommu engga bisa memuaskan Tante

Mungkin inilah sebabnya, Tante tiap siang tak menolak aku setubuhi, bahkan menikmati.

Pantesan
Pantesan apa ? tanya Tante
Tadi Tante langsung masuk, engga pemanasan dulu
Tante tadi senewen, To. Ada rasa menggantung, ada yang harus dituntaskan
Untung saya tadi udah siap
Sory ya To
Engga apaapa, Tante. Saya tadi juga puas. Cuma lebih nikmat kalau pemanasan dulu
Kamu harus mulai terbiasa begini, To. Seperti yang Tante bilang dulu, Tante butuh kamu. Jangan kaget kalau tibatiba Tante lagi pingin. Tante harus mencapai orgasme. Kalau tidak Tante bisa gila..

Saya siap Tante, Kapanpun Tante butuh saya, silakan saja Tante. Saya juga menikmatinya Tante. Tanpa pemanasanpun saya engga apaapa. Tadi saya bilang begitu, itu hanya akan lebih nikmat kalau dengan pemanasan. Kalau tidakpun engga apaapa

Post Terkait