Cerita Dewasa

Buku Diary Vally

Sesaat penampilan Lukman menyita perhatianku karena dia sangat modis aku yakin dia juga masih muda malah umurnya dibawhku 3 tahun dia berumur 24 tahun sedangkan aku 27 tahun, tubuhnya yang tinggi dan kekar membuat aku tergoda melihatnya, pasti dia suka olahraga karena tubuhnya yang atletis.

3 hari setelah itu, Mama minta tolong aku ke rumah tante Ve utk antarkan sebuah berkas. Kebetulan aku jg harus keluar, ada urusan, jadi sekalian lah aku antarkan berkas itu dulu ke rumah tante Ve di bilangan Kemang.

Rumah tante Ve etnis sekali, tidak terlalu besar tapi landscapenya dibuat sedemikian rupa hingga terlihat luas. Bangunannya dibuat dng bata expose tanpa dikapurin lagi sedangkan interiornya mayoritas menggunakan bahan kayu.

Perfect, just like a house I dream on. Cukup sekali aku mengebel pintu rumahnya kemudian seseorang membukakan pintu. Lukman tiba2 sudah berdiri di hadapan ku sambil tersenyum.

Hey. Pasti mau cari Nyokap deh. katanya

Iya. Ada? tanya ku sambil membalas senyumnya,

Lagi keluar. Masuk dulu deh, Val. pintanya dan aku mengikutinya untuk sekedar berbincang sebentar.

Sekali lagi dia menarik perhatian ku, siang itu dia pakai celana basket dan baju buntung warna putih. Makin bening aja, pikir ku.

Dari obrolan singkat kami, aku akhirnya tau umurnya 24th., anak pertama dari 3 bersaudara, kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jakarta dan sedang menyusun tugas akhirnya di bidang Hukum.

Dari cara bicaranya, Lukman keliatan punya pendirian kuat walaupun pembawaannya santai dan justru kehangatannya itulah yg membuatnya menarik.

Hanya sekitar ½ jam aku bertamu di rumahnya krn kemudian aku harus pergi mengurus urusan ku lainnya so goodbye Andi nice talking with you, pikir ku sambil melajukan kendaraan ku menjauh dari rumahnya.

Entah ada proyek apa antara tante Ve dan Mama, mereka sering terlihat bersama, saling mengunjungi sambil membicarakan segala hal sehubungan dengan pekerjaan.

Dengan seringnya pertemuan para ibu2 itu, aku pun jadi sering bertemu dengan Lukman yg juga sering mengantar Mamanya ke sanasini. Makin seringnya kami bertemu dan ngobrol, sedikit banyaknya membuat kami bisa lebih akrab satu sama lain, tentunya dalam batasan2 yg wajar.

Hingga pada suatu malam di akhir pekan, tepatnya malam Minggu, aku dijemput Gerry (cowok yg sedang dekat dengan aku) utk pergi bersama ke salah satu café

Post Terkait