cerita dewasa

Bersama Suami dan Mantanku

Kata Orang cinta itu buta, begitu lah yang terjadi dalam hidupku atau lebih tepatnya pada suamiku. Sehingga cerita seks bersama suami dan mantanku ini bisa terjadi. Suamiku begitu mencintaiku, tanpa ada sedikitpun keluhan darinya, Ia selalu menurutiku. Bahkan, Ia rela mengijinkanku bercinta dengan mantan pacarku, karena ingin aku meraih kenikmatan seksual sebagai seorang wanita.

Sebelum cerita seks bersama suami dan mantanku ini kulanjutkan, perkenalkan namaku Ririn, wanita keturunan separuh Chinese dan separuh Melayu. Umurku saat ini 26 Tahun. Aku menikah dengan Tommy yang sama latar belakangnya denganku. Umurku lebih muda darinya 3 tahun. Kami sudah menikah selama 4 tahun. Dari pernikahan itu, kami dikaruniai 1 orang anak perempuan. Namun, anak kami tinggal bersama kakek neneknya di Magelang.

Perawakan Tommy sebagai laki -laki sangat menawan, dengan bentuk tubuh yang proporsional, kulit putih, hidung mancung menjadikannya sosok suami idola di komplek tempat tinggal kami. Sosok Tommy sangat cocok berdampingan denganku yang banyak orang bilang cantik bak putri kerajaan. Kulit putih langsat yang mulus tanpa cela kecuali bekas luka operasi cesarku dulu, ditambah tinggi badan 162 cm dan berambut panjang dengan payudara ukuran 34B yang padat membusung, membuatku menjadi idaman para lelaki atau lebih tepatnya khayalan para lelaki. Tak jarang aku mendapat godaan bahkan ajakan untuk bersetubuh oleh teman – teman kantorku atau para laki – laki di komplek tempat tinggalku. Tapi semua kutolak dengan halus karena aku sangat mencintai suamiku yang telah mencintaiku dengan tulus.

Kehidupan kami berjalan bahagia. Namun, karena suatu kecelakaan yang menimpa Tommy, ada satu kekurangan dari hidup kami. Tommy tak mampu bertahan lama ketika melakukan seks denganku. Aku memakluminya, namun selayaknya seorang wanita, aku rindu akan orgasme yang datang padaku, orgasme yang membuat sekujur badanku melemas, orgasme yang memuaskan birahiku.

Tommy tentu paham akan apa yang menjadi ganjalan di hatiku. Untuk itu, Tommy membelikan aku dildo atau penis mainan sebagai alat bantu ketika kami bersetubuh. Setiap kali Tommy sudah berejakulasi, dildo itu dijadikan pengganti penis Tommy. Syukur lah, dengan dildo, kebutuhanku akan orgasme menjadi sedikit terpenuhi, walaupun memang rasanya tak senikmat penis sungguhan. Inilah yang menyebabkan cerita seks bersama suami dan mantanku ini terjadi.

Suatu ketika saat kami berlibur ke kota Bandung, kami bertemu dengan Yudi, mantan pacarku ketika aku kuliah. Tommy dan Yudi juga sudah saling kenal, mereka pernah bertemu pada saat reunian kampusku. Kami menyapa Yudi, begitu pula dengan dirinya. Kami pun menghabiskan waktu dengan mengobrol di salah satu cafe di dekat hotel kami menginap. Banyak hal yang kami obrolkan. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 9 malam. Yudi pun pamit pulang duluan, disusul kami yang kembali ke hotel.

Setibanya di kamar hotel, Tommy meminta jatahnya sebagai suami. Aku yang belum sempat membersihkan diri langsung ditariknya ke ranjang. Tommy memagut bibirku, aku pun meladeninya, lidah kami bergantian merambah rongga bibir kami. Ciuman kami sangat panas, saking panasnya tak ku sadari Tommy sudah membuka seluruh pakaian kami.

Dalam kondisi telanjang, Tommy langsung menyosor payudaraku. Dijilat dan dihisapnya putingku kuat – kuat hingga ku mengaduh kegelian. Ada yang aneh dengan Tommy kali ini, dia begitu bernafsu yang tampak pada setiap perlakuannya padaku. Aku menikmatinya, Tommy lebih agresif kali ini. Sambil menghisap payudaraku, jarinya mulai mengobok – obok vayinaku yang sudah banjir sejak tadi.

Namun, keanehan Tommy lebih tampak. Puas dengan menghisap payudaraku, Tommy langsung ke hidangan utama. Dibukanya kedua pahaku, penisnya yang sudah menegang langsung ditekannya hingga memasuki vahinaku. Tommy pun memulai penetrasinya. Ya, seperti biasanya, tak lama Tommy pun langsung mendapat orgasmenya, spermanya menyembur di dalam vaginaku, tak begitu banyak dan sialnya encer.

“Hemmmmm”, aku menghela nafas karena kesal dengan permainan Tommy tadi.

“Duh, enak ya Yang”, Kata Tommy yang mengira aku menikmati persetubuhan kami tadi.

“Enak di kamu, ga enak di aku, ga ada rasanya, bentar banget, punyaku ga dijilat dulu”, jawabku.

“Maaf yang, aku udah keburu nafsu tadi”, jawabnya memberi alasan.

“Ah, kok bisa?”, jawabku masih dengan nada ketus.

“Aku kebayang kamu dengn Yudi lagi begituan”, jawabnya lugas.

“Hah? Gila apa kamu? Istri sendiri dibayangin sama orang lain”, responku yang terkejut mendengar yang baru saja Tommy katakan.

“Ga tau lah, tapi aku kebayang aja kamu dulu sama Yudi ngapain aja”, sambungnya.

“Fix, kamu udah gila, Tommy”, Kataku.

“Terserah deh, yang jelas aku tadi nafsu karena itu malah aku pengen lihat sendiri kamu dengan Yudi begituan”, katanya seperti tanpa beban mengeluarkan kata – kata itu dari mulutnya.

Sebagai informasi, ketika aku pacaran dengan Yudi, kami memang pernah melakukannya. Walaupun tidak begitu sering, karena aku di Jakarta, sedangkan Yudi di Bandung. Namun, yang kuingat Penis Yudi begitu memuaskan karena ukurannya yang memang luar biasa. Setiap Yudi datang ke Jakarta, atau aku yang pergi ke Bandung, kami pasti melakukannya setiap ada kesempatan, bahkan kami pernah 2 kali melakukannya waktu nonton di bioskop. Jujur saja, dari semua mantan – mantan pacarku Yudi lah yang paling bisa memuaskanku. Oh ya, sampai saat ini, aku sudah merasakan 5 penis dari mantan dan tentunyamilik Tommy. Duh, aku jadi horny mengingat-ingat saat bercinta dengan Yudi.

“Kok diem, Yang?” Tommy memecah lamunanku tentang Yudi dan penisnya.

“Ga, cuma diem aja”, jawabku.

“Kamu marah?”, Tanyanya lagi.

“Ya, jelas lah. Kamu mau aku dengan Yudi begituan, ya jelas aku marah”, bentakku.

“Hmmmm, ya udah. Maaf, aku cuma berkhayal, kalau kamu tidak suka ya aku akan berhenti”, jawabnya mengiba.

“Emang kalau aku mau begituan dengan laki – laki lain, kamu bolehin gitu?”, tanyaku.

“Duh yang, pasti lah. Kenapa enggak? Yang penting jangan sembunyi-sembunyi dariku”, jawabnya.

“Kenapa? Apa kamu sudah tidak cinta lagi padaku?”, tanyaku lagi

Lalu, Tommy memberikanku jawaban yang membuatku terdiam.

“Sayaang, begini. Seks tak harus berhubungan dengan cinta. Seks adalah kebutuhan. Nah, kebutuhan sudah seharusnya dipenuhi kan. Sekarang begini, semisalnya aku tak bisa kembali normal untuk memuaskanmu, bahkan aku impotensi permanen? Apa kamu harus ikut menderita, tak pernah mendapatkan kepuasan seksualmu. Dan apa kamu akan bisa hanya selalu menggunakan dildo yang kuberikan? Tentu kamu pasti menginginkannya bukan?

“Aku, tentu akan memperbolehkanmu. Bukan berarti aku tak mencintaimu, atau aku memperbolehkanmu karena aku sudah tak mampu memuaskanmu. Tetapi, karena aku sungguh mencintaimu, dan aku ingin kamu bisa menikmati segala hal, termasuk urusan seks. Bahkan dalam keadaan normal pun, aku tetap akan memperbolehkannya.”
“Dan di jaman sekarang, sudah jarang wanita masih dalam keadaan perawan. Sebelumnya pasti sudah pernah melakukan itu, entah dengan pacar yang menjadj suami atau bukan. Lalu kenapa dibedakan antara yang menikah dengan yang belum menikah? Kenapa ketika wanita sudan menikah, lalu wanita tak boleh bermain dengan yang bukan suaminya? Sementara waktu belum menikah, Ia bebas bermain dengan siapa saja. Ketika putus dengan pacar yang satu, lalu punya pacar baru, maka wanita itu juga akan begituan juga dengan pacar barunya. Lalu, apa wanita yang sudah menikah harus cerai dahulu untuk bisa begituan dengan laki – laki yang bukan suaminya? Bukan kah semua orang menginginkan pernikahan itu hanya satu kali saja”

“Pernikahan itu adalah lembaga terkecil. Pernikahan di satukan dengan cinta dan tujuan untuk membangun keluarga, menghasilkan keturunan, mempunyai materi, agar bisa diperoleh kehidupan yang layak. Sementara seks dalam pernikahan hanyalah ibarat bumbu dalam masakan. Sifatnya menyedapkan, memberi rasa dalam pernikahan. Nah, sekarang kamu pikirkan saja, ibarat bumbu, apa bila hany itu – itu saja, apa kamu tidak merasa bosan? Tentu kamu ingin rasa yang bervariasikan. Begitu juga dengan seks dalam pernikahan, apabila seks nya monoton, maka akan terasa bosan. Yang terjadi adalah masing – masing akan mencari variasi sendiri, yaitu dengan selingkuh. Dan akibatnya, banyak pasangan yang harus bercerai karenanya. Coba saja mereka mau bervariasi, semisal memanggil Pijat Pasutri atau dengan bertukar pasangan. Tentunya, seks tidak akan membosankan dan tidak akan ada keinginan untuk berselingkuh.”

“Masalah cinta, itu adalah masalah perasaan. Cinta beda dengan nafsu. Seorang Istri bisa saja begituan dengan beberapa laki – laki, tetapi perasaan cinta dari si Istri itu pasti hanya untuk suaminya. Kenapa? Karena suami dan istri pasti memiliki kecocokan, tujuan yang sama, dan memperoleh anak, sehingga perasaan mereka juga saling bertautan.

“Kemudian, coba kamu pikirkan, kenapa aku membayangkan kamu begituan dengan orang lain? Asal kamu tahu saja, aku sudah lama membayangkan kamu begituan dengan orang lain. Jadi, bukan karena kondisi penisku yang seperti ini. Namun, karena hal lain. Sayang, dalam urusan seks, kemampuan wanita jauh melebihi kemampuan wanita. Wanita butuh cara dan trik trik agar bisa terpuaskan, sementara Pria, hanya perlu penetrasi di vagina saja pasti akan ejakulasi. Kesimpulannya, wanita ditakdirkan untuk dapat mengatasi beberapa pria agar birahinya dapat terpenuhi. Tapi pria, hanya butuh satu wanita saja untuk memuaskannya dan wanita itu adalah istrinya.”

Jawaban dari Tommy tersebut seperti mencekik leherku. Begitu mantapnya dia menjelaskanku. Dan memang apa yang dijelaskan Tommy sangat – sangat benar. Aku terdiam, tak mampu berkata. Pandanganku tentang pernikahan, seks, dan cinta menjadi terbuka. Dan aku mengakui, hanya lah kekolotan dari budaya saja yang mengekang pasangan suami istri untuk bervariasi dalam urusan seks. Akibatnya, karena terlalu memegang kuat budaya, agama, dan harga diri, perselingkuhan, perceraian, terjadi di mana – mana.

“Yang, kok malah makin diem”, Tommy menyelaku yang sedang memikirkan kata-katanya.

“Ga, pusing aja. Kamu tiba – tiba jadi sok bijak begitu”, jawabku.

“Hehee, udah ah, tidur yuk. Besok kita mau ke Dago kan”, katanya.

“Yuk”, jawabku.

Keesokan paginya, sesuai dengan rencana, aku dan Tommy jalan – jalan di sekitar kawasan Dago Bandung. Semua sudut kawasan Dago tak lepas dari sorot kamera yang kami bawa. Memang dengan berlibur, baik aku maupun suamiku benar – benar refreshing. Segala penat sedikit hilang ketika kami berlibur.

Jam makan siang tiba, kami memilih salah satu restoran. Namun, secara kebetulan, Yudi juga berada di restoran yang sama. Sekali lagi kami bertemu dan berbincang – bincang. Yudi menberikan kami rekomendasi tempat untuk dikunjungi, yaitu bukit bintang. Kami pun setuju dengan usulannya, dan Yudi akan ikut kami sebagai pemandu malam ini.

Bertemu Yudi lagi langsung membawa pikiranku tentang penjelasan Tommy tadi malam dan keinginan Tommy yang melihatku bercinta dengan Yudi. Kemudian, melintas juga di pikiranku, kenangan – kenangan aku dan Yudi sedang asyik bercinta dulu. Saat penis Yudi yang besar menerobos masuk dan mengaduk – aduk vaginaku. Membayangkannya aku menjadi terangsang sendiri, vaginaku terasa lembab di bawah sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 wib, rencana kami pergi ke bukit bintang sepertinya akan gagal karena hujan turun dengan derasnya. Kami sudah berkali – kali menghubungi Yudi, namun tidak dijawabnya. Tiba – tiba, hpku berdering, tertera di layar nama Yudi, segera kuangkat. Yudi ternyata sudah sampai di hotel tempat kami menginap. Ya ampun, hujan – hujan begini kok dipaksain sih, benakku. Tommy segera turun ke depan hotel sambil membawa handuk. Dan tak lama kemudian, Tommy sudah kembali lagi bersama Yudi yang basah kuyup.

“Duh, kok maksa sih, udah tau hujan deras”, pekikku saat melihat Yudi

“Nggak papa kok, ngga tau kalau bakal hujan deras begini”, jawab Yudi.

“Kayanya batal nih rencana kita”, sambung suamiku

“Iya nih, Mas”, jawab Yudi lagi.

“Dah cepetan keringin badanmu, pakai baju Tommy aja dulu”, Kataku yang tak tega melihat Yudi kedinginan.

“Oke Nyonya”, jawabnya sambil bercanda

Yudi pun membuka bajunya, darahku tiba – tiba berdesir menyaksikan tubuhnya yang atletis. Otot – otot nampak menempel kokoh di lengan, dada, dan perutnya. Berbeda sekali dengan Tommy yang buncit. Selanjutnya, celananya dilepaskan di balik handuk. Sedikit nampak tonjolan dari balik handuk itu, ah itu pasti karena penis besarnya itu. Tapi, kenapa sampai menonjol? Apa penisnya dalam keadaan menegang? Hmm, pikiranku lalu membayangkan wujud penis itu, apa masih sama seperti dulu? Ahh, sial. Aku menjadi gelisah sendiri, perlahan vaginaku mulai basah karena pikiranku sendiri.

Selesai Yudi berganti pakaian, kami pun berbincang – bincang. Tommy pergi ke luar untuk mencari cemilan serta minuman di minimarket sebelah hotel tempat kami menginap. Sementara, hanya aku dan Yudi saja yang berada di dalam kamar. Sedikit canggung, namun obrolan kami berjalan seperti biasa.

“Ra, kamu makin cantik aja sekarang”, puji Yudi yang sukses membuat mukaku memerah.

“Gombal kamu ga ilang – ilang, yah”, jawabku meladeninya.

“Ya ampun, bener deh. Ga cuma cantik, badanmu makin seksi.”, Lanjutnya. Apa maksud, Yudi?

“Hei, aku nih istri orang. Ga pantes kamu bilang, seksi”, kataku yang mulai risih dengan perkataannya. Bukan risih, tetapi terangsang akan kata-katanya.

“Oh, maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu.”, jawabnya.

Tommy pun kembali ke kamar dengan cemilan dan minuman hangat yang ia beli. Kami bertiga ngobrol panjang lebar dan sampai ke urusan seks. Hemm, bagi laki – laki mungkin biasa membicarakan seks. Tapi bagi wanita, itu sangat membuat risih karena kalau sampai wanita membicarakan seks, pasti wanita akan terangsang sendiri sehingga vaginanya terasa gatal dan basah. Termasuk aku yang mau tidak mau ikut dalam pembicaraan tentang seks ini. Dan aku tak menyangka, seberapa vulgarnya Tommy dan Yudi membicarakan seks, bahkan aku pun tak luput dari pembicaraannya.

“Yudi, bagaimana dulu kamu dengan Ririn? Apa Ririn begitu seksi dan memuaskan?”, Tanya Tommy kepada Yudi. Aku hanya terdiam mendengarnya dan penasaran dengan jawaban Yudi.

“Ooh, siapa pun pasti akan mengatakan Ririn itu cantik dan seksi, dan siapa pun pasti akan puas dengannya. Dia dulu begitu liar, kami bahkan pernah begituan di bioskop”, jawabnya.

“Wah sayang, ga nyangka kamu seliar itu”, Kata Tommy.

“Ya, dan yang ku suka dulu dari Ririn adalah layanan dari mulutnya. Ia tak jijik menjilati seluruh tubuhku.Juga dengan susunya, sangat padat berisi dan kencang. Dan bila ku lihat sekarang, Mas Tommy adalah yang paling beruntung. Tubuh Ririn dari luar saja sudah bisa ku tebak, susunya pasti lebih besar dari yang dulu”, sambung Yudi.

Aku sebenarnya risih, dijadikan objek obrolan seks oleh suamiku dan Yudi. Namun, mendengar jawaban dari Yudi aku pun menjadi sangat terangsang. Apa mungkin penisnya tadi menegang karena memperhatikan dan membayangkan tubuhku? Ahh, sial kau Yudi.

“Oh ya. Apa kau penasaran dengan tubuhnya sekarang?”, tanya Tommy lagi.

“Hahahahaha, pasti, pasti aku sangat penasaran”, jawab Yudi

“Sayang, Yudi penasaran dengan tubuhmu, bagaimana? Apa kamu akan membiarkannya penasaran?” Kata Tommy kepadaku.

“Tentu saja, biar saja dia penasaran, dan biar dia cepat menikah.” Jawabku.

“Ah, kamu tak boleh seperti itu. Sayang. Kasihan Yudi, lagipula dia kedinginan. Aku pikir, kita bisa menghangatkannya malam ini”. Jawab Tommy, Yudi seperti kebingungan dengan perkataanya.

“Oh, aku mengerti. Tadi malam kan”, jawabku yang mengerti apa yang dimaksud Tommy.

Tommy memang sudah tak bisa dikendalikan. Ia sepertinya sangat terobsesi melihatku bersetubuh dengan Yudi malam ini. Aku sendiri juga sudah sangat terangsang dari tadi. Oke, Tommy. Aku akan berikan apa yang kamu mau, semoga kamu tak menyesalinya, karena kamu pasti akan minder melihat begitu liarnya aku menikmati Penis Yudi yang membuatku terangsang karena membayangkannya sejak tadi.

“Yudi, apa kamu benar penasaran dengan Tubuhku sekarang? Aku yakin kamu masih ingat tubuhku yang dulu sering kau sentuh, kan”, kataku

“Hah?” Jawab Yudi, kaget mendengar pertanyaanku.

Tak butuh jawabannya, aku langsung membuka kancing kemeja ku satu persatu hingga habis. Lalu kulepaskan kemejaku dari badanku dan menyisakan bra ku saja. Ku lihat mata Yudi tercengang tak berkedip melihatku. Di bawah, ku lihat tonjolan penisnya tercetak jelas karena ia tak memakai celana dalam saat berganti pakaiannya yang basah karena hujan tadi.

“Yudi, kau kuberi nilai 100. Payudaraku memang lebih besar dari yang pernah kau sentuh dulu”, kataku kemudian.

“Oh, Ririn. Betul apa yang kuduga. Sejak bertemu kemarin, aku tak dapat menahan khayalanku tentang tubuhmu yang indah ini. Pulang ke rumahku, aku langsung onani membayangkanmu. Tommy, terima kasih telah mengijinkanku menyaksikan istrimu ini.”, jawab Yudi.

“Oh, bukan hanya menyaksikan, tapi kau juga akan merasakan lagi tubuhku ini. Betul begitu, Tommy?” Jawabku. Ah, aku sudah gila karena sangat terangsang, tubuhku dilihat oleh Yudi di depan suamiku sendiri.

“Ya, lakukan lah Yudi. Aku sangat penasaran bagaimana kau dan Ririn bersetubuh”, kata Taufan.

Yudi tak menjawab, sepertinya ia tak percaya dengan yang sedang terjadi. Matanya semakin melotot saat ku turunkan rokku. Yudi menelan liurnya sendiri menatapku yang kini hanya ditutupi oleh sepasang bra dan celana dalam.

Yudi kemudian bereaksi, mungkin dirinya juga sudah sangat terangsang melihat ku seperti ini. Yudi bangkit dari kursinya dan menghampiriku ke rangjang, disentuhnya lenganku sambil tersenyum. “Akhirnya, aku bisa menikmati tubuh bidadari sepertimu sekali lagi” Begitu katanya merayuku yang sebenarnya sudah tak perlu dirayu lagi.

Aku dan Yudi kemudian melihat suamiku yang masih duduk di kursinya, meminta ijin untuk melakukannya. Suamiku hanya mengangguk sambil tersenyum tanda ijin darinya diberikan. Kami pun memulai percintaan kami.

Yudi dengan nafsunya langsung menciumi bibirku, aku pun tak kuasa untuk tak meladeninya dengan nafsu. Bibir dan lidah kami bergantian mengulum. Tangan Yudi mulai menjelajahi tubuhku. Dielusnya punggungku dan merambat ke bawah ketiakku, kemudian kembali ke punggungku untuk membuka kaitan bra ku. Braku pun disingkirkan oleh Yudi yang menghentikan ciuaman kami demi menatap kedua payudaraku.

Tanpa basa – basi, Yudi langsung beralih ke Payudaraku. Dihisapnya payudara ku yang seksi itu bergantian sambil tangannya meremas yang satunya lagi. Aku mendesah pelan karena kegelian menikmati cumbuan Yudi di payudaraku.

“Ahh, Isap , Isap payudaraku”, kataku menyemangati Yudi

“Ahh, ini bukan payudara, ini susu. ingat ini susu”, katanya mengajariku menggunakan kata susu untuk payudaraku.

“ahhh iyaah, isap susuku, Yudi”, ku benarkan kata – kataku sesuai keinginannya.

Yudi pun makin semangat menyiksaku dengan kenikmatan dari mulut dan lidahnya yang sedang mengerjai kedua susuku. Tangannya yang satu juga mulai aktif merangsang bagian bawahku. Pahaku dielus – elus sampai pangkal pahaku. Namun dasar Yudi yang nakal, aku hanya mengaduh dengan mendesah lembut saat tangannya dihentikan ketika akan mencapai vaginaku yang masih tertutup celana dalam.

Aku tak mau kalah bermain, tanganku pun menghampiri penis Yudi yang masih berada di balik celana pendek suamiku yang ia kenakan. Ku genggam dan ku rasakan Penis Yudi begitu besar, lebih besar dari yang dulu. Aku penasaran dengan Penisnya, seperti apa wujudnya sekarang.

“Ahhh, Yudiii”. Pikiranku tentang Penis Yudi tiba – tiba buyar, ketika Yudi makin ganas menghisap susuku. Tak hanya dihisap, Yudi juga menggigit putingku dan mengelitiknya dengan lidah. Aku setengah teriak, mendesah atas kenikmatan yang diberikannya.

Kembali aku fokus pada penisnya, dengan satu tangan ku coba untuk melepaskan celananya itu. Dan Yudi yang mengerti pun akhirnya membuka celananya sendiri. Dan saat dirinya sudah tanpa sehelai pakaian. Akhirnya terpampanglah penis miliknya itu dihadapanku. Besar, Panjang, dan Berurat. Di kepalanya ada cairan bening yang menandakan pemiliknya sudah terangsang berat. Ku genggam lagi Penis itu dan ku kocok perlahan.

Yudi menyudahi permainannya di susuku, aku kemudian memanfaatkan kesempatan ini. Aku yang sudah terangsang berat pun langsung menciumi kepala penis milik Yudi dan mulai menjilatinya. Ku sapu batang penisnya dari kepala sampai ke pangkalnya.

“Gelii.. lidahmu”, Yudi yang keenakan mengaduh kepadaku.

“Penismu besar yah, besar dari yang dulu”, kataku di sela – sela jilatanku di penisnya

“Apa penis? ini penis. ingat, penis”, sekali lagi Yudi ingin mengganti sebutan yang biasaku pakai dengan suamiku.

“Iya, penis. penisnya besar”, kataku menuruti kemauan Yudi.

Aku pun kemudian memasukkan penis Yudi ke dalam mulutku. Luar biasa besarnya, hampir – hampir tak muat mulutku dimasuki penis Yudi. Dengan pelan tanganku urut penis Yudi sambil ku maju mundurkan kepalaku. Mataku menatap wajah Yudi yang tersenyum menggambarkan kenikmatan yang menjalar di penisnya saat ini.

Tanpa ku sadari, tiba – tiba Taufan suamiku sudah berada disampingku tanpa sehelai pakaianpun. penisnya yang sangat kecil bila dibandingkan milik Yudi sudah berdiri tegak. Aku paham, Ia menginginkan diriku melayaninya juga. Segera kugenggam penisnya dan ku kocok perlahan sambil tetap menghisap penis Yudi. Kemudian bergantian, penis Yudi dan Taufan ku hisap. Baik Yudi atau Taufan, sama – sama memiliki ekspresi kepuasan. Aku sangat bersemangat sekali. Nampaknya, aku akan dipakai habis – habisan oleh kedua laki – laki di depanku malam ini.

“Croottss croootsss”, penis Taufan menyemburkan maninya saat sedang berada di mulutku. Mau tak mau aku harus menelannya. Ini adalah pengalaman pertama ku menelan sperma, entah mengapa aku menjadi sangat bergairah setelah menelan mani suamiku. Sementara, penis Yudi yang masih tegak berdiri langsung ku lahap.

“Hmmm ehmm achhsss” Desahku tiba – tiba karena merasa ada sesuatu yang menggelitik vaginaku. Ternyata Taufan sekarang sedang menjilati vaginaku dari luar celana dalamnya. Aneh, Taufan yang biasa ketika mengeluarkan maninya langsung lemas tak berdaya, kali ini masih mampu mencumbuku lagi. Apa??? ku perhatikan ternyata penisnya masih berdiri? Apa yang sedang terjadi? Taufan bukan lah tipe orang yang senang mengkonsumsi obat – obatan, sehingga ku yakin penisnya masih berdiri bukan karena pengaruh obat kuat. Hemm, bagus lah. Setidaknya aku akan merasakan kenikmatan yang luar biasa malam ini dengan 2 penis mengaduk isi vaginaku.

Taufan kemudian meloloskan celana dalam ku, dan langsung melahap vaginaku. Lidah dan bibirnya memainkan klitorisku dan lubang vaginaku. Aku tak leluasa mendesah karena di mulutku masih ada penis Yudi yang harus ku puaskan.

“Mhhhsssmm Mhhhss mhhh” desahku yang tertahan penis Yudi.

“Achhh achhh achhsss ouuhhh sayaangghhhh” Tak kuasa aku melepas penis Yudi di mulutku saat Taufan tak hanya menjilati klitorisku,tetapi juga mengocok vaginaku dengan 2 jarinya dengan cepat. Aku mendesah teriak menikmati kenikmatan di vaginaku yang menjalar ke seluruh tubuh.

Yudi yang sangat bernafsu kemudian kembali mengerjai kedua susuku. Kenikmatan – kenikmatan begitu terus menjalar di sekujur tubuhku. vagina dan susuku yang merupakan titik paling sensitif sekarang sedang dirangsang bersamaan, dan tak lama kemudian aku rasakan seperti ingin kencing namun bukan kencing yang keluar, cairan cintaku yang kental lah yang menyemprot – nyemprot dari dalam vaginaku. Ya, aku telah mendapat orgasme pertamaku malam itu. Seluruh badanku terasa sangat lemas.

Setelah diberikan istirahat sebentar oleh kedua laki – laki ku, pahaku langsung dibuka oleh Taufan. penisnya diposisikan tepat di depan vaginaku, digeseknya terlebih dahulu di klitorisku baru secara perlahan penis Taufan memasuki tubuhku. Dengan tempo yang sedang Taufan mengocok penisnya di vaginaku. Yudi tak mau kalah memberikan kenikmatan kepadaku, dengan mulutnya ia merangsang susuku. Putingku yang berdiri tegak ia emut dan sesekali di gigit.

“Achhsss achhsss enakhhh ehmmm”

“ahcchss ngentottt ohhh aku mauuhh ngentottt ajahhh malam iniihh”

“Ohh Taufanss, penis muuu ga bolehh cepat kluarrhhh”

“ohhhsss ohhss achhh Yudiii, makaaannn ajaa susukuuu achhh ngentot ngentottt enaakkkkhhh”

Aku mendesah sejadi – jadinya diperlakukan seperti ini. Kenikmatan menjalar di seluruh tubuhku. Badanku terasa ringan, vaginaku terasa sangat gatal seperti ingin digaruk kedua penis yang ada didekatku. Putingku terasa sangat gatal, ingin rasanya ku gigit sendiri putingku.

5 menit dalam posisi missionaris, kami berganti posisi menjadi doggy style. Taufan langsung mengocok penisnya dengan cepat Yudi lalu memposisikan penisnya dihadapan mulutku, tanpa diminta ku raih penis Yudi untuk ku hisap. Aku tak perlu banyak bergerak, goyangan dari Taufan yang membuat badanku maju mundur otomatis mengocok penis Yudi di dalam mulutku.

“Achhhss mhhhmmhhhhmmm ourghhh akuuhh nyampeehhhh”, Teriakku saat ku rasakan orgasme keduaku datang.

AKu langsung ambruk ke ranjang. Taufan lalu melepas penisnya, dan langsung digantikan dengan penis Yudi. Perlahan Yudi mencoba memasukkan penisnya ke vaginaku. Agak sedikit susah karena ukurannya yang besar, namun karena dulunya pernah masuk ke vaginaku, maka dengan perlahan penis itu menyeruak masuk ke dalam vaginaku.

Yudi pun mulai memompaku dalam posisi menyamping. Sementara tangannya meremas – remas susuku dari belakang. Taufan memintaku untuk menghisap penisnya yang langsung ku turuti. Siksaan birahi ini sangat – sangat nikmat bagiku.

Aku tak pernah membayangkan begitu nikmatnya ngentot dengan 2 pria, ternyata rasanya jauh lebih nikmat bila hanya dengan 1 penis saja. Malah, Taufan yang penisnya hanya mampu bertahan paling lama 3 menit, kali ini masih berdiri tegak, padahal sudah setengah jam kami bercumbu.

“Achhsss achhhsss achss”

“iyaahh trusss anjingghhh enakkkhh”

“Siaaallhhh ahhhhh vaginakuu gateelll, garukin pake penisll yang cepethhhh”

Setiap penis Taufan terlepas dari mulutku selalu ku manfaatkan untuk teriak dan mendesah, ekspresi dari kenikmatan yang ku terima saat ini.

Aku kini berada di atas Yudi, sedangkan Taufan berdiri di sampingku dan penisnya sedang ku hisap. Pinggulku naik turun sehingga penis besar milik Yudi keluar masuk di vaginaku. Susuku diremas oleh Yudi, terkadang dipencetnya putingku. AKu hanya bisa mendesah tertahan karena penis Taufan ada di mulutku saat ini.

Entah sudah berapa kali aku orgasme. Namun, belum ada tanda – tanda kalau penis Yudi maupun Taufan akan menyemprotkan maninya. Diburu dengan kemauan menikmati mani Yudi dan Taufan, aku pun mempercepat goyanganku. Benar saja, 5 menit kemudian, Taufan mengaduh dan menekan kepalaku ke selangkangannya. Dari penisnya keluar air mani yang cukup banyak dan langsung kutelan.

Yudi masih terus menikmati goyangan pinggulku. Lelah di posisi ini, kami berganti posisi kembali. Aku yang di bawah, sedangkan Yudi memompaku dari atas. Taufan walaupun sudah keluar, masih terus mencumbuku. Kali ini susu ku dimainkannya. penis Yudi keluar – masuk dengan cepat di vaginaku.

“Achhss terusshhh ayoohh terusss”

“Aku mauuuhh akuu mauuhhhh keluarhhh lagiih”

“ahh trussss sayaaang ahhh Yudii terussss”

“achhhhhh akuuuh nyampeee lagii ahh achhhsss”

Aku menerima orgasmeku lagi. Yudi kemudian berkata juga akan keluar, dipercepatnya sodokan di vaginaku dan dengan satu hentakan Yudi menarik penisnya dari vaginaku dan berpindah ke depan mukaku. Sambil dikocoknya, penis Yudi menyemprotkan air mani yang sangat banyak. Wajahku jadi blepotan karenanya, dan sebagian air maninya yang masuk ke dalam mulutku langsung kutelan. Kami bertiga pun ambruk, terbaring di ranjang sambil meresapi kenikmatan yang baru saja kami peroleh.

Post Terkait