Cerita Dewasa

Bercinta Dengan Karyawan Perkebunan Yang Kuat

Kali ini saya posting tentang tulisan kesatu Daftar Cerita Sex Terbaru, Cerita Dewasa Ngentot, Cerita Mesum Terpanas, Cerita Paling Hot, Cerita Seks ini dibuka sewaktu saya ditugaskan sebagai staff di pabrik pengolahan minyak sawit di di antara perkebunan di Sulawesi. Ini ialah kisah nyataku. Sebut saja namaku Alex, umurku saat tersebut 27 tahun, belum menikah. Sebagai seorang staff yang baru pindah ke wilayah perkebunan, dimana masyarakat yg tinggal paling berjauhan kecuali karyawan dan staff perkebunan yg sengaja diciptakan dalam satu perumahan, mutlak sebagai penyokong utama opersional yg sewaktu-waktu dapat dipanggil dalam masa-masa 24 jam.

Walaupun sebagai staff, sebab sebelumnya kompleks sudah dipenuhi oleh beberapa karyawan yg telah duluan
menempati, saya menduduki rumah kopel kayu (dua lokasi tinggal dempet menjadi satu bangunan) ketiga dari
ujung dan agak kecil yg sebenarnya kemudahan untuk karyawan biasa. Manager pabrik sendiri menganjurkan
agar mengalihkan karyawan yg telah menempati kemudahan rumah (rumah single beton) yang sebenarnya
diperuntukkan untuk staff bujangan maupun keluarga, namun untuk memungut hati semua karyawan yang mana
nantinya pun akan menjadi bawahan saya. Akhirnya sayapun minta supaya diijinkan menduduki rumah kopel
ketiga dari pinggir menghadap ke unsur timur berhadapan dengan lokasi tinggal yang menghadap ke barat diberi batas oleh
jalan besar belum diaspal tapi telah dikerasin.

Rumah tetangga sebelah kiri yang agak berjarak tanah kosong selebar satu lokasi tinggal ditempati oleh karyawan
laki-laki yang telah berkeluarga teapi istrinya masih bermukim di lokasi tinggal orangtuanya , jauh dari lokasi
perkebunan. Biasanya dia kembali sekali sebulan untuk mengirimkan gaji bulanan guna nafkah anak
istrinya.

Rumah sebelah kanan yang adalahpasangan lokasi tinggal kopelku ditempati oleh karyawan laki-laki berumur
35 tahun, sebut saja namanya bareng Nardi bareng istrinya yang berumur 33 tahun, sebut saja namanya
Hartini. Hartini walaupun bukan tergolong wanita kota, tapi paling modis dan mengikuti peradaban jaman
disesuaikan dengan situasi ekonomi. Yang paling menciptakan saya paling kagum ialah bentuk payudara
yang paling mengandung dan body yang ingin montok. Dengan situasi rumah kopel kayu seperti tersebut biasanya
sepelan apapun pembicaran ataupun gerakan dalam lokasi tinggal akan terasa di lokasi tinggal sebelah. Dan ketika itu
kebetulan Nardi masuk dalam shift-1 dibawah pimpinan saya.

Baca Juga: Menjaga Putra Tunggalku

Karena saya masih bujangan dan memang bukan tipe yang rajin ngurus rumah, guna makan seringkali saya
makan di warung yang sedang di luar lingkungan kompleks berjarak selama 500 meter dari perumahan
pabrik dan 50 meter dari pabrik. Bagi cuci pakaian, aku usahakan cuci sendiri walaupun melulu satu kali
seminggu. Seringkali bila udah malam atau hujan, darurat aku tidak santap nasi, melulu mengandalkan mi
instant yang direbus seadanya. Karena barangkali kasihan, pada suatu senja sepulang kerja shift-1 pagi, kami
bertiga, aku, Nardi dan Hartini ngobrol di teras, dan saat tersebut Nardi yang menjadi bawahanku itu
menyarankan supaya makan di rumahnya saja masing-masing hari dengan menunaikan secukupnya untuk istrinya.
Akhirnya terjadi kesepakatan untuk santap setiap hari sekalian cuci pakaian ditanggung jawabi oleh Hartini.
Karena masing-masing hari berdampingan dan makan bareng semakin lama hubungan kamipun semakin akrab dan
tidak sungkan lagi ngobrol berdua tanpa suaminya.

Awal kejadian pada suatu senja sepulang kerja selama jam 16.00, dan Nardi masih lembur di pabrik untuk
mencari ekstra aku dan Hartini duduk ngobrol di teras. Saat tersebut aku menanyakan mengapa mereka yang
sudah menikah 9 tahun belum punya anak. Dia dengan malu-malu bercerita bahwa mereka telah sangat
menginginkan anak dan sampai ketika ini Hartini sudah cek ke dokter dan ditetapkan tidak terdapat masalah,
dan suaminya sendiri katanya tidak inginkan periksa sebab merasa tidak terdapat kelainan dalam urusan fisik, dan
kebutuhan batin istrinya mampu terpenuhi. Dari situ, semakin lama percakapan kami semakin bebas
sampai saya bercerita bahwa aku pernah memiliki bekas pacar yang fisiknya agak montok seperti
Hartini, dan iseng-iseng aku menuliskan bahwa seringkali wanita yang ingin gendut mempunyai
payudara yang lembek dan turun dan rambut vagina tidak banyak dan jarang-jarang. Hartini menyangkal bahwa
tidak semuanya begitu, dan dia sendiri mengatakan format kepunyaan dia sangat berbeda dengan
yang saya katakana. Karena saya penasaran saya katakana bahwa Hartini tentu bohong, namun dia menyangkal,

akhirnya dengan jantung berdebar keras takut bila Hartini marah saya mohon tolong bilamana bersedia ingin
melihatnya. Tapi barangkali demi menjaga supaya dia tidak dirasakan murahan, dia menampik keras, lama
kelamaan saya memohon dengan muka pura-pura diciptakan kasihan ditambah dalil bahwa telah kangen
banget sama pacar yang saat tersebut berada di Jakarta yang seringkali sekali seminggu bertemu, kesudahannya dia
mengatakan dengan pipi merah bahwa saya boleh menyaksikan dia namun dari jauh dan jangan menyentuhnya.
Saya pasti saja dengan cepat menyetujuinya. Dengan gerak malas-malasan atau diciptakan pura-pura berat hati,
dia berjalan mengarah ke kamar belakang yang bersebelahan dengan kamar depan dan tak lupa memblokir jendela
belakang yang berhadapan dengan lahan perkebunan masyarakat guna menjaga bilamana secara kebetulan
ada orang yang bekerja di lahan tersebut. Kemudian dia berdiri seraya tersenyum malu-malu untuk saya
yang enggan melepasakan pemandangan estetis tersebut dari jendela depan yang sengaja saya atur posisi
saya masih di teras namun kepala saya melongok ke dalam lokasi tinggal seakan-akan bila orang menyaksikan dari
halaman ataupun lewat dari jalanan kami sedang berkata dengan orang yang sedang di dalam rumah. Jarak
antara posisi duduk saya (diperbatasan teras lokasi tinggal saya dengan lokasi tinggal dia) melulu berjarak selama empat
meter saja keposisi dia berdiri di kamar belakang.

Dengan lagak seorang model dia bergerak pelan-pelan membuka kaos birunya seraya jalan ke kiri dan
kanan secara perlahan hingga ke balik pintu kamar hingga mata saya kadang tidak dapat melihat
pemandangan yang mengasyikkan, tetapi masing-masing mau ke arah balik pintu saya perlahan teriak
“Tin, tidak boleh sampai kesitu dong, gua nggak dapat lihat nih.”.

Sepertinya Hartini memang sengaja menciptakan saya penasaran. Kaos yang ditarik ke atas lalu diapit olejh
ketiaknya dan kelihatan BH berwarna merah menyala seolah-olah tidak dapat menutupi seluruh payudara
montok putih yang menyembul terbit dari unsur atas BH nya seolah-olah protes kenapa dia dijepit
terlalu keras. Setelah didiamkan selama 30 detik, seraya tersenyum mengedipkan mata sebelah untuk saya,
dia juga mulai membuka kancing depan BH dan tidak mempedulikan cup BH nya menjuntai kebawah.

(Akhirnya saya ketahui bahwa Hartini mempnyai ukuran 36 dan cupnya saya tidak cukup tau, yang jelas satu telapak tangan saya masih belum dapat menutupi sebelah payudaranya dan dia memiliki BH yang tidak memiliki kancing di belakang). Mata saya seolah-olah mau terbit melihat pemandangan tersebut, sementara dia sendiri seolah-olah bangga menatap bagaimana saya paling terpesona dengan payudaranya dengan puting sebesar puntung cerutu Sampoerna Mild dan berwarna coklat kemerahan . Dalam 30 detik seolah-olah saya

tidak bernafas tidak mau mencungkil pandangan saya hingga akhirnya dia berseru pelan “Udah ya, ntar lagi suamiku pulang” Saya tidak dapat berbicara apapun saat tersebut dan sesudah membereskan pakaiannya, Hartini pulang ke teras seolah-olah tidak terjadi apa-apa kecuali membisu dan duduk diteras rumahnya sementara saya telah pindah duduknya pulang ke teras lokasi tinggal saya. Setelah sejumlah lama, perlahan berkata, “Jangan bilangin sama siapa-siapa ya?” sepertinya Hartini paling ketakutan bilamana diketahui orang lain.
“Jelas dong, masak gua bilangin sama orang, kan gua pun menanggung resiko” Sesaat lantas dari jauh telah kelihatan bahwa Nardi telah pulang bareng teman-temannya yang ikut lembur. Kami juga berusaha berkata normal tidak perlahan lagi tetapi merundingkan yang lain.

Setelah menaiki tangga, Nardi langsung memberikan tas bekalnya untuk Hartini dan Hartini langsung
membawa masuk seraya memberesi lokasi bekal suaminya. Saya dan Nardi ngobrol sebagaimana layaknya
bertetangga walaupun dia tetap membubuhkan hormat sebab bagaimanapun bila di pabrik dia menjadi bawahan
saya.

Malamnya saya terus memikirkan persitiwa tadi sore, mengapa dia mau menunjukkan sesuatu yang
harusnya melulu boleh disaksikan oleh suaminya, sebenarnya dia menuliskan dalam urusan kepuasan batin dia
mengakuinya. Dalam hati saya berniat guna lebih jauh., lagi menilik bahwa Hartini tidak marah.
Besoknya kira-kira dalam kondisi yang sama sepulang kerja kami ngobrol kembali, dan saya beranikan untuk
memancing lagi.
“Kemarin memang benar ya, punya anda memang bagus sekali bukan sebab BH”.
Dia tersenyum manis tidak banyak malu barangkali merasa bangga dengan pujian yang terbit dari mulut saya.
“Tapi saya nggak yakin bahwa rambut bawah anda bukan laksana yang saya lihat punya bekas pacarku
dulu”

Dengan masih tertawa kecil dia membetulkan rambutnya dengan kedua tangannya.
“Kan kemarin aku bilang apa, sekarang mohon itu, kini ini, kelak minta yang beda lagi dong Awas lho
nanti ketahuan pacarmu yang kini di Jakarta, tau rasa deh.”
“Nggak barangkali dia tahu, kecuali anda yang bilanginnya”

Walaupun saya menjawab menuliskan tidak butuh khawatir, namun dalam hati saya bertanya mengapa justru
pacar saya yang dia khawatirin bukannya diri sendiri atau suaminya. Berkat rayuan dan bujukan seorang
laki-laki walaupun bukan seorang ahli, dia berbicara perlahan

“Tapi ingat ya, melulu sebentar dan sekali ini saja ya. Aku fobia nanti ketahuan sama suamiku, dapat dibunuh
aku nanti. Sekalian awasi orang beda mana tau terdapat yang inginkan kesini”
Saya melulu mengangguk cepat, tak sabar menyaksikan pemandangan yang bakal saya lihat.
Perlahan Hartini berjalan mengarah ke kamar belakang seraya saya merasakan pantatnya laksana pantat bebek
sedang berjalan. Pemandangan dari belakang menciptakan penis saya telah mulai naik dan saya langsung
membereskan posisi kontol saya supaya tidak sakit. Sesampai di kamar dia pun kelihatannya agak gugup
mengintip sekeliling luar lokasi tinggal dari celah papan. Sebentar lantas dia mendongkrak rok katun berwarna
hitam setinggi lutut hingga celana dalam merahnya kelihatan. Mata saya seakan tidak inginkan berkedip takut
melewatkan pertunjukan cuma-cuma tersebut. Dia menatap saya dengan mata gugup, sepertinya hendak pertunjukan
tersebut.

“Lex, udah lihat kan” teriaknya perlahan laksana berbisik.
“Kan belum dibuka, tadi udah janji boleh lihat dari jauh. Kalau nggak aku aja deh yang buka ke situ ya”
sahutku dengan perlahan seraya mata memantau sekeliling, namun saya yakin masih terdengar kepada dia.
“Jangan …jangan kesini, disitu aja.”dia membalas sepertinya ketakutan. Saya juga menganggukkan kepala .
Kemudian dia mencungkil lagi rok yang sebelumnya diusung sampai jatuh laksana posisi biasa, dan kedua
tangannya masuk dari bawahnya menurunkan CD hingga lepas, dengan sebelah tangan masih memegangi
CD lantas Hartini mengusung roknya pulang ke atas. Ya ampun……

Vaginanya kelihatannya tertutupi oleh pegunungan hitam. Dia menatap saya dan mengangguk dengan ekspresi
meminta persetujuan supaya selesai. Saya sendiri berusaha supaya lebih lama lagi menonton, namun 15 detik
kemudian dia langsung menunduk dan menggunakan kembali CD nya. Kemudian dia membuka pintu kamar
belakang guna menghilangkan ketidakpercayaan suaminya bilamana pulang nantinya dan langsung mengarah ke dapur
untuk memberesi santap malam kami nantinya dan tidak bertemu lagi hingga kami santap malam. Dalam
hati saya mulai yakin bahwa saya tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini bilamana saya merasa sudah
horny, sayang melampiaskan dengan onani di kamar seraya tiduran ataupun di kamar mandi.

Semenjak kejadian itu saya mulai berani memeluk, menghirup maupun meraba sekalian menciumi buah
dadanya sewaktu giliran Hartini mau mengirimkan pakaian bersih dan merangkai di lemari pakaianku yang
saya tempatkan di kamar tidurku. Biasanya sewaktu dia inginkan ngantar pakaian di depan pintu kamar biasanya
dia telah kasih kode jari di mulut, memberi info tidak aman. Apabila aman dia hanya senyum kecil, saya
mengartikan isyarat aman. Disaat laksana itulah seringkali saya dapat menikmati bibir maupun teteknya.
Kadang saking gemasnya saya tak sadar mengisap puting buah dadanya hingga dia kesakitan dan berbisik
“Lex…. Jangan keras-keras. Emang nggak sakit.”

Biasanya saya langsung mohon maaf dan mengelus-elus buah dadanya dengan mesra. Ada kalanya Hartini
tidak mau dihirup karena sedang pake pewarna bibir, katanya nanti bila dicium dapat hilang, suaminya bisa
curiga, Sampai hingga sewaktu menyerahkan uang santap dan cuci pakaianku pun tidak jarang kali saya menaruhnya
sendiri ditengah buah dadanya baru saya tutup sendiri BH nya dan diselesaikan dengan senyum dan cium.
Puncak perselingkuhan kami ialah saat saya inginkan masuk shift sore, masuk jam empat senja dan biasanya
pulang jam 12 malam, bila buah sawit sedang panen raya dan menumpuk seringkali diteruskan hingga pagi.
Setiap shift sore seringkali saya akan kembali sekitar jam 7 atau 8 malam guna malam, sedangkan bisa
bergantian dengan asistenku, seringkali jatah satu jam. Dan suami Hartini yakni Nardi seringkali karena tidak
punya kendaraan, malas kembali dan sudah membawa bekal dari lokasi tinggal sore harinya. Sore tersebut sekitar jam 2
siang saya telah mandi dan bersiap-siap inginkan berangkat, sebab sebagai kepala shift mesti koordinasi dulu
dengan kepala shift pagi, dan saya masih menggunakan handuk bertelanjang dada di kamar, Hartini datang ke
kamar sambil membubuhkan jari diatas bibir, pertanda tidak aman. Saya berbisik,
“Emang dimana suamimu”

“Itu masih lagi istirahat di kamar” jawabnya perlahan. Hartini juga berjalan mengarah ke lemari pakaianku sambil
tangan kirinya mencubit puting tetekku. Saya merasa geli, dan mau menjawab mencubit teteknya. Dia
mengelak seraya berbisik,
“Jangan sekarang, ntar malam aja, waktu kembali makan”
“Dimana”

“Ntar ke kamar saja langsung, pintu belakang tidak kukunci, melulu ditutupkan saja”
“Tapi nanti tidak boleh pake apa-apa ya.“ godaku pelan seraya main mata
Saya diam memikirkan kata-katanya, Sambil berlangsung ke teras saya masih sempatkan meraba pantatnya
sampai dia menepiskannya. Saya kaget memikirkan terdapat apa Hartini justeru mengundang saya malam-malam
ke kamarnya.

Sampai di pabrik saya tidak fokus dalam memantau karyawan mengerjakan tugas setiap dan
masih memikirkan apa maunya Hartini. Saya sengaja agak lebih lama pulang santap malamnya selama jam
8.30 malam, dan suasana kompleks sudah agak sepi sebab gerimis dari sore. Saya langsung menempat
motor dinas ke belakang rumah supaya tidak menyolok dari luar. Saya masuk lokasi tinggal dan mengobarkan lampu
sebentar lantas dari celah papan, saya mengintip lokasi tinggal sebelah dan kelihatan lokasi tinggal sangat gelap,
karena seringkali pada ketika tidur memang kelaziman lampu dimatikan. Pandangan orang dari luar bila lampu
sudah dimatikan seringkali enggan bertamu sangat tidak bila tidak benar-benar urgen sekali.
“Tin…..udah istirahat ya, kesini dong?” teriakku pelan, hingga dua kali saya berteriak pelan, Hartinipun
mendekat diberi batas oleh papan pembatas berbisik

“Pintu belakang tidak dikunci, Alex aja yang kesini”
Sayapun berjalan mengarah ke kebelakang lokasi tinggal sambil mematikan lampu ruang tengah, sampai-sampai dari luar
kelihatan saya telah pergi pulang ke pabrik. Karena paling gelap saya membudayakan mata dulu, baru
mengawasi sekeliling. Mengingat kaos kerja yang saya gunakan berwarna putih, saya membuka dan
menyangkutkan di pintu belakang sebelah dalam. Lalu berjingkat-jingkat perlahan saya mengarah ke pintu
belakang lokasi tinggal Hartini. Dengan paling hati-hati saya mendorong pintu, takut menerbitkan suara dan
berjalan pelan sekali sambil menyangga nafas, fobia getaran kaki saya di lantai papan terdengar sama orang
lain. Memasuki kamar depan, Hartini kelihatan istirahat dengan menggunakan kain sarung sekedar dada dan kaos
you can see berwarna pink yang dapat saya lihat dari cahaya lampu jalan di depan lokasi tinggal masuk dari celah
papan kayu. Hartini berpura-pura memejamkan mata. Saya langsung jongkok di sampingnya dan meraba
bua dadanya tanpa membuka kain sarungnya. Dia melirik seraya tangannya mencubit pipi saya. Saya
teruskan dengan menghirup bibirnya. Tak lama lantas dia pun menjawab dan tangan saya mulai
menurunkan kain sarungnya dan manaikkan kaos hingga buah dadanya kelihatan penuh. Saat tersebut Hartini
tidak menggunakan BH lagi laksana godaan saya siang harinya. Agak lama kami berciuman seraya tangan
kananku meremas-remas kedua buah dadanya. Saya merasa sudah paling horny begitu pun penglihatan saya

kepada .Hartini.
“Tin, inginkan nggak anda masukin, ntar gua buang diluar deh.” Bisikku
“Lex, jangan dilemparkan diluar” jawabnya pelan seraya memelukku lebih keras sambil menghirup pipi kiriku .
“Ntar bila hamil gimana dong, dapat bahaya kita” sahutku.
Tanganku masih terus memutar-mutar putting kirinya. Tangan kiriku memangku lehernya seraya menahan
berat tubuhku, sebab saat tersebut saya masih jongkok.
“Biar aja. Aku kan punya suami. Kalau aku hamil kan wajar”
“ Tapi bila nantinya anaknya lahir serupa gua gimana dong, suamimu dapat curiga loh”
Dia menatap saya memelas, laksana meminta pertolongan, saya merasa kasihan menyaksikan wajahnya.
“Tolongin aku ya Lex, pokoknya dikeluarin didalam aja. Saya tanggung anda tidak bakal apa-apa. Aku
pengen hamil Lex. Aku hendak buktikan untuk keluarga suamiku bahwa aku tidak mandul.”
Sepertinya dia memohon. Saya ingat bahwa Hartini pernah kisah bahwa sejumlah keluarga suaminya diamdiam

sudah menganjurkan supaya suaminya menggali istri lagi kalau hendak punya anak.
“Kamu telah yakin” Saya hendak menegaskan lagi bahwa dia memang meninginkannya.
“Iya Lex, tolongin aku ya” bisiknya langsung menghirup bibirku. Saya pun menjawab ciumannya setelah
yakin dia memang paling menginginkannya. Sambil tetap berciuman tanganku mulai unik turun kain
sarungnya hingga lepas melalui kaki. Saya mencungkil bibirku turun ke puting buah dadanya sambil
tangan kananku meraba pangkal paha. Sepertinya CD Hartini telah agak basah. Hartini mendesah pelan
sambil tangannya masih mendekap kepalaku, sekali-kali berjuang menekan kearah teteknya yang sedang
saya putar-putar gunakan lidah, seraya tanganku unik CD nya turun lepas dari kakinya ditolong dengan
gerak pantat Hartini yang terangkat. Mataku sekali-sekali melirik ke arah vagina yang ditumbuhi rambut
yang lebat dan tanganku meraba-raba menyisihkan rambut yang lebat supaya tanganku dapat masuk ke lobang
vaginanya. Refleks tangan kiri Hartini menciduk tangan kananku dan menariknya ke atas tanpa
melepaskannya lagi. Saat tersebut mulutku mulai turun ke arah perut, namun sesampai pusar Hartini menampik dan
menahan kepalaku supaya jangan hingga ke memeknya. Saya berjuang pelan-pelan unik kepalaku sampai
mulutku nyaris mencium vaginanya. Tiba-tiba Hartini bangun duduk. Saya kaget dan fobia dia marah.
Sambil menatapku dia melingkarkan tangannya ke leherku, berbisik.

“Jangan cium, bau. Aku nggak mau dihirup itu.”
“Nggak bau kok Tin, justeru harum. Sebentar aja ya” jawabku membujuk sambil cium lehernya. Hartini
menggelinjing dan seraya mendesah pelan
“Pokoknya tidak boleh ya Lex, anda masukin aja punya kamu”
Tangannya meraba ke arah penisku, yang telah menegang namun tidak maksimum sebab kurang konsentrasi,
setiap ketika harus memantau suara di sekeliling rumah. Saat tersebut saya justeru masih menggunakan celana kerja
telanjang dada. Hartini berjuang membuka gesper, namun agak kesulitan. Saya bangun dan membuka sendiri
sampai benar-benar telanjang. Lalu saya tunjukkan penisku untuk Hartini, dia melemparkan muka. Saya
memegang kepalanya bermaksud supaya dia inginkan mengoral penisku, namun dia bertahan tidak mau. Akhirnya
kami pulang berbaring di lokasi tidur menetralkan suasana seraya kembali mengawali cumbuan. Akhirnya
saya dan Hartini kelihatannya sudah pulang sama-sama horny, dan saya putuskan mengusung kaki kananku
merenggangkan kedua kakinya. Sedikit demi tidak banyak kakinya mulai ngangkang hingga kedua kakiku bisa
masuk, siap untuk menginjak lubang surga. Tapi Hartini memelukku dengan erat hingga mulutnya
menyumpal mulutku dan membisiki,

“Kita di lantai aja ya. Jangan disini. Soalnya lokasi tidurnya berisik nanti”
Tanpa membalas saya langsung bangun turun dari lokasi tidur dan Hartini ikut bangun seraya bawa sebuah
bantal dan berbaring merenggangkan kakinya di lantai. Saya yang telah nggak sabaran langsung
mengambil posisi. Tak tak sempat kaos pinknya saya buka hingga lepas melalui kepala. Tangan kanan saya
memegang penisku menunjukkan ke vagina yang sudah tidak sedikit mengeluarkan cairan. Sesaat sesudah
menyentuh bibir vaginanya, kami berdua saling memandang, seolah-olah meminta persetujuan, dan
mulutku menghirup mulut Hartini dan langsung dijawab sambil mendekap erat.
“Tin, gua masukin ya. Nggak nyesal kan?” Bisikku pulang meyakinkan.
Hartini tidak menjawab, melulu menganggukkan kepala pelan, namun terasa bahwa dia telah merespon, pelanpelan

saya masukin penisku yang berukuran diameter 4 cm dan panjang 12 cm. Saya menyangga nafas
begitupun Hartini merasakan saat estetis tersebut. Walaupun vagina Hartini sudah menerbitkan banyak
cairan, kelihatannya masih dapat gua rasakan alangkah saat menginjak memeknya terasa nikmat hingga sesudah
masuk semua, saya diamkan sambil memandang muka Hartini yang memejamkan matanya. Sesaat
kemudian dia membuka matanya dan langsung buang muka merapatkan pelukannya seraya mencium
leherku. Dengan bertumpukan kedua siku di lantai saya mulai menaikturunkan pantatku, hingga kedengaran
bunyi suara dari lobang vagina Hartini laksana suara tepukan tangan di air.
“plok…plok….plok……”

Beberapa lama saya menggenjot penisku, tiba-tiba kedua kaki Hartini mengapit keras kedua kakiku sampai
saya kesusahan mengusung pantatku, sampai ketika pantatku kuangkat terasa berat sebab pantat Hartini juga
ikut terangkat dan kurasakan leherku digigit. Saya beranggapan mungkin dia telah orgasme, namun kurasakan juga
ada yang mendesak dari penisku.
“ Kamu udah terbit duluan ya” tanyaku sebab jepitan kakinya terasa semakin lama semakin lemah sampai
kini telapak kakinya telah menapaki lantai kayu lagi laksana semula. Dia tidak menjawab melulu mencaricari
mulutku dengan mulutnya dan melumat lidahku.
“Gua udah mau terbit nih, keluarin diluar aja ya?” bisikku sesaat setelah dapat melepaskan lidahku dari
mulutnya, meyakinkan sebab saya masih fobia resikonya di lantas hari.
“Tolongin aku Lex..aku hendak sekali hamil.” Suaranya laksana mau nangis meminta. Tapi tangan kanannya
sudah diletakkan diatas pantatku kelihatannya menjaga supaya nantinya saya tidak mencungkil penisku dari
vaginanya.

“Ya udah, tapi anda harus jaga rahasia ini baik-baik ya?” jawabku
“Iya…iya…nggak usah khawatir, namun janji jangan dilemparkan di luar ya” bisiknya.
Saya nggak jawab lagi namun mulai menggenjot memeknya lagi yang kelihatannya semakin tidak cukup menjepit
karena telah orgasme sambil mulutku mengulum lidahnya. Beberapa saat lantas aku membisiki
telinganya,

“Gua udah inginkan keluar” seraya genjotanku semakin cepat dan tangan kanannya mengurangi pantatku semakin
keras diperbanyak kedua kakinya mengurangi belakang pahaku dari atas seraya tangan kirinya mendekap leherku
dengan ketat, hingga akhirnya
“ouchhhhhh……” mulutku mengulum mulut Hartini seakan mau menguras saat itu. Dan terasa ada
yang terbit dari kontolku mengairi memek Hartini.

“Crooot….crooot…croooooot…”
Sampai rasanya tidak terdapat lagi yang dikeluarkan baru saya menghentikan genjotanku dan diam bertumpukan
kedua siku tangan dan penisku sengaja saya tumpukan ke vagina Hartini. Saya terdiam tidak bergerak,
sambil memandangi mukanya yang terpejam. Kukecup bibirnya dan berbisik.
“Tin, aku balik ya, kelamaan ntar orang lain dapat curiga”
“Makasih ya Lex, santap malamnya telah aku taruh dirumahmu tadi sebelum anda dating.” Jawabnya
pelan.

Tetapi saat saya mau mencungkil penisku dari vaginanya, dia meraih leherku dan sesaat menghirup bibirku
dengan mesra. Ketika sudah dicungkil aku langsung bangkit berdiri dan menggali celanaku yang saya lupa
taruh dimana. Hartini masih tiduran dan merapatkan kakinya memandang saya dan mengarahkan
telunjuknya ke lokasi tidur, namun yang saya lihat justeru CD nya, dan memungut dengan tangan kiri untuk
diserahkan untuk Hartini , namun dia justeru menarik tangan kananku dan tangan kanannya menyambut CD
seraya menyuruhku pelan supaya jongkok Saya mengekor saja tanpa tahu kemauannya. Hartini melap
kontolku yang masih basah dengan cairanku yang bercampur dengan cairannya sendiri dengan CD putihnya,
saya tersenyum dan meremas buah dadanya dengan tangan kiri. Kemudian telunjuknya menunjukkan
dimana tadi celana saya lepaskan. Sesaat setelah saya menggunakan celana, saya jongkok untuk menghirup dia
dan pamit sekalian berterima kasih atas bonus cuci pakaian bisa cuci penis, dia tersenyum seraya mencubit
pelan pipi kiriku.

Begitulah hingga sekitar 6 bulan lantas kami sering mengerjakan hubungan suami istri masing-masing ada
kesempatan, walaupun tidak setiap bersangkutan Hartini mendapat orgasme sebab kadang saya merayu
dengan dalil biar lebih cepat hamil walaupun dia sedang tidak menginginkannya atau fobia ketahuan orang
lain yang urgen birahiku terpuasakan. Enam bulan lantas saya menikah dan istriku menjadi seorang
ibu lokasi tinggal tangga yang bermukim bertetangga dengan Hartini, dan herannya empat bulan setelah menikah istri
saya hamil. Saya merasa kasihan untuk Hartini, walaupun kami bersangkutan sekitar enam bulan seperti
suami istri belum hamil-hamil pun bahkan hingga saya mutasi ke Jakarta kembali. Dia melulu sedih menatap
kepergian kami sewaktu inginkan meninggalkan kompleks tanpa ucapan-ucapan perpisahan.

Post Terkait