Cerita dewasa

Berbagi Kenikmatan Dengan Teman

Cerita dewasa – Hmm, kisah ini terjadi di tahun 2014, Usia saya boleh dibilang masih cukup muda untuk mengenal yang namanya sex. Tetapi apa mau dikata, karena sex itu enak maka saya menjadi ketagihan. Anyway, kembali ke cerita saya.

Saya mempunyai seorang temen cewek, sebut saja namanya Venny. Dari postur tubuhnya boleh dijamin semua laki-laki yang melihatnya pasti akan tergiur untuk mencicipinya. Venny mempunyai tinggi kurang lebih 165 cm, 47 kg dan menggunakan bra ukuran 34B (hal itu saya ketahui ketika saya ml sama dia), dan kulitnya kuning langsat. Dengan wajah layaknya cewek kampus, dan tidak terlihat sama sekali kalau dia juga seorang pecinta sex bebas, sama seperti saya.

Beruntung saya memiliki wajah dan badan yang cukup lumayan, sehingga saya tidak mengalami kesulitan dalam mencari teman untuk melepas birahi, apalagi ditambah dengan ukuran saya yang boleh dibilang lebih dari rata-rata. Wajar saja kalau teman cewek saya rajin mengontak saya disaat mereka butuh dan begitupun juga sebaliknya.

Suatu hari, Venny menelpon saya. Dia cerita bahwa dia punya teman kost baru, dan cakep pula. Dia juga bilang kalau temannya itu mirip artis ternama di ibukota, yang namanya sudah terkenal. Dia janji mau mengenalkan saya ke dia. Maka kemudian saya dan Venny membuat suatu janji pertemuan di hari Sabtu.

Baca Juga: Cerita Seks: Ketakutan Pembantu Cantik Berubah Menjadi Erangan Kenikmatan

Pada hari yang telah di janjikan, saya telah membuka sebuah kamar di daerah Juanda, dan seperti yang telah direncanakan, Venny datang membawa seorang temannya yang bernama Miya.

“Tok.. tok.. tok..!” 3 kali saya dengar ketokan pintu, maka secara otomatis saya membukakan pintu.
Begitu pintu terbuka, terlihatlah Venny yang sedang tersenyum kepada saya, dan di belakangnya tampak temannya yang akan dikenalkan ke saya. Dan benar saja, temannya itu menang benar mirip sekali dengan artis ibukota yang Venny ceritakan.

“San, kenalin donk… ini loh temen gue yang gue mau kenalin ke elu.” begitu ucap Venny sambil masuk ke kamar.
“Oh iya, gue Miya… dan elu sapa..?” sapanya ramah.
Saya sempat terdiam sewaktu Miya menjulurkan tangannya, karena saya tidak habis pikir kalau cewek ini begitu cantiknya, dan saya harus dapat mencicipinya hari ini juga.

“Hmm, nama gue A..” begitu saya sadar, langsung saya merespon dengan julurkan tangan.Hmm, kulitnya halus juga, pikir saya. Kalau dari yang saya lihat, Miya ini sedikit lebih pendek dari Venny, tetapi dia mempunyai buah dada yang lebih besar daripada Venny. Kira-kira tingginya 160 cm, 45 kg, dan saya rasa ukuran dadanya 34C, soalnya dadanya besar sekali.

“Eh, loe berdua jangan diem gitu donk, kasih gue minum kek..!” tiba-tiba suara Venny memecahkan kesunyian yang ada.
“Oh iya, sori Venn, tuh loe ambil aja deh di kulkas..!” jawab saya sekenanya.
“Gini..,” kata Venny. “Temen gue Miya ini seorang janda anak satu, tapi loe pikir deh, umurnya baru 23 dan body-nya masih segini, ngga kecewa donk loe gue bawain yang kaya gini.” lanjut Venny lagi.
“Ah elu bisaan aja Ven,” sahut Miya dengan tersipu, sehingga tampaklah wajahnya yang sedikit memerah.
Aduh.., ini membuat saya jadi horny saja.

Tiba-tiba saja Miya menarik Venny ke kamar mandi.
“Ikut gue bentar deh Ven..!” kata Miya.
Lalu Venny dengan terburu buru juga ikut dan sambil bicara kepada saya, “Dah loe tiduran aja dulu di ranjang, temen gue mau bilang sesuatu kali nih ke gue.”

Tidak lama mereka keluar dari kamar mandi.
“Eh sori yach tadi sempet bikin loe kaget.” kata Miya.
“Eh, ngga apa-apa kok.” jawab saya masih bingung.
“Emangnya kenapa sih tadi..?” saya masih bingung.
“Udah deh loe ngga usah tau, urusan perempuan kok barusan, yang penting sekarang loe santai aja di ranjang loe dan ikutin permainan gue.” timpalnya lagi.

“Wah-wah-wah, permainan apa lagi nih..?” pikir saya dalam hati.
Tapi saya sudah senang sekali, apalagi saya melihat Venny tersenyum nakal ke arah saya. Duh, saya jadi tambah horny saja deh.
“Sebelum gue kasih loe ijin, jangan sekali kali loe sentuh gue, ok..?” kata Miya.
“Ok-ok deh..,” jawab saya meskipun saya masih agak bingung dengan arah permainannya.

Tiba-tiba saja Miya langsung mendekati ke ranjang dan segera menciumi saya di bibir. Yach sudah otomatis saya akan merespon juga donk. Lidah kami saling ‘bergerilya’, sedangkan saya hanya boleh telentang saja di ranjang. Kemudian ciuman Miya turun ke leher saya, hm.. enaknya pikirku. Dijilatinnya leher saya, terus dia juga menjilati kuping saya.
Tanpa sadar saya mendesah, “Ahh, enak, Miya, terusin dong..!”

“Sekarang gue bukain baju loe, tapi inget..! Tangan loe tetep diam aja yach, jangan sentuh gue sebelum gue kasih ijin..!” sahutnya lagi.
“Aduh sengsara banget nih..! Masa mau ml tapi tangan gue ngga boleh megang-megang sih..!” pikir saya dalam hati.

Dengan cepet Miya membuka baju saya dan langsung dilempar. Dengan sigapnya Miya langsung bergerilya di dada saya, bagaikan seseorang yang lama tidak mendapatkan tubuh laki-laki. Digigitnya kedua puting saya.
“Ahhh, enak gigitan loe,” saya mendesah pelan.
Samar-samar saya melihat Venny duduk di samping saya sambil memperhatikan wajah saya dan dia tersenyum.

Tanpa sadar tangan saya mencoba mencari buah dada Miya untuk saya remas-remas. Eh tanpa saya duga, tiba-tiba saja tangan saya ditepis oleh Miya dan Venny.
“Gue kan udah bilang, kalo belum gue kasih ijin jangan sentuh gue..!” kata Miya.
“Iya, loe tuh gimana sih..?” kata Venny, “Ikutin donk permainannnya Miya..!” lanjut Venny.
“Yach habis gimana donk..? Namanya juga reflek..!” timpal saya sambil mendesah dan agak kecewa.

“Pokoknya loe sabar deh..!” kata Miya sambil membuka celana saya.
“Hmm.., cd model low cut dengan warna hitam nih..!” ujar Miya sambil bergumam sendiri.
“Loe tau aja kesukaan gue..!” kata Miya, “Dan loe seksi banget dengan cd warna gini, bikin gue horny juga tau..!” kalimat Miya yang terakhir sebelum dia mulai ber-’karaoke’.
“Oohh, enak, sedot lagi donk yang kuat Miya..!” kata saya sambil mendesah.

Kurang lebih 5 menit Miya telah ber-’karaoke’ terhadap penis saya. Kemudian Miya dengan sigapnya melepas seluruh baju, celana dan pakaian dalamnya.
“Nah, sekarang loe baru boleh sentuh gue..!” kata Miya.
Maka karena dari tadi saya sudah menahan mau nyentuh dia tapi tidak boleh, maka kesempatan ini tidak saya sia-sia kan. Langsung saja saya rebahkan Miya di ranjang dan gantian saya ciumi bibirnya, dan Miya juga membalasya dengan tidak kalah ganasnya. Kemudian saya turuni ciuman saya ke daerah lehernya. Hmm, lehernya yang bersih itu saya ciumi dan saya jilati. Samar-samar saya mendengar Miya mulai mendesah.

Kali ini saya turun ke buah dadanya, saya menjilati dulu pinggirnya secara bergantian, dari kanan ke kiri. Tetapi saya tidak menyentuh sedikit pun putingnya Miya.
Dan Miya kemudian bicara, “Ayo donk isepin puting gue, please..!”
“Wah ini saatnya balas dendam nih..!” pikir saya dalam hati.
“Hah..? Loe minta diisepin puting loe, sabar yach sebelum gue mood, gue ngga bakal isep puting loe..!” jawab saya sambil tersenyum.
Saya lihat Venny juga ikut tersenyum melihat temannya terkapar pasrah.

Tidak lama setelah saya memainkan buah dadanya, saya turun ke vaginanya. Tampaklah bulu-bulu vagina Miya yang begitu halus dan dicukur rapih. Dengan sigap saya langsung menghisap vagina Miya.
“Ohh.., ohh.., enakk..! Terusin donk Sayang..!” sahut Miya sambil mendesah.
Kalimat itu membuat saya tambah semangat, maka saya tambah liar untuk menghisap vaginanya.

“Sayang, aku mau keluar,” lirih Miya.
Dan tiba-tiba saja cairan vagina Miya keluar diiringin teriakan dari Miya yang kemudian saya telan semua cairan vagina Miya.
“Duh Say, kamu kok hebat sih maenin memekku..?” tanya Miya.
Yang saya lakukan hanya tersenyum saja.
“Please donk, masukin punya kamu sekarang..!” pinta Miya dengan memelas.
“Nanti dulu, puting kamu belum gue hisap..!” jawab saya.
Maka dengan cepat langsung puting yang berwarna coklat muda itu saya hisap dengan kencanganya secara bergantian, kiri dan kanan.

“Ahhh, enakk Sayang, terusin..! Tambah kenceng donk..!” teriak Miya.
Hmm, mendengar suara cewek lagi terangsang begitu membuat saya tambah horny lagi, apalagi si ‘adik’ sudah dari tadi menunggu giliran ‘masuk’. Maka langsung saja saya memasukkan penis saya ke vaginanya.
“Shit..! Sempit banget nih memek..!” pikir saya dalam hati.
Setelah sedikit bersusah payah, akhirnya masuk juga barang saya ke vaginanya.
“Gila bener Miya, barang loe enak dan sempit banget sih..?” jawab saya dengan napas yang mulai tidak teratur.
Dan kalimat saya dibalas dengan senyum oleh Miya yang sedang merem melek.

Begitu masuk, langsung saya goyangkan. Yang ada hanya suara Miya yang terus mendesah dan teriak.
“Ahhh terus Sayang, tambah cepet donk..!”
Dan sekilas di samping saya tampak Venny sedang meremas-remas buah dadanya sendiri.

“Sabar Ven, akan tiba giliran loe, sekarang gue beresin dulu temen loe ini..!” jawab saya sambil sambil menggoyangkan Miya.
Venny hanya dapat menganggukan kepala, soalnya dia tahu ini bagian dalam permainan yang mereka buat, jadi Venny juga tidak boleh ikut sedikit pun dalam permainan saya dan Miya.

Tidak lama kemudian Miya minta gantian posisi, kali ini dia mau di atas.
“Gue cepet keluar kalo di atas..!” katanya santai.
Kami pun berganti posisi. Berhubung Miya tadi sudah keluar, maka kali ini ketika kami ‘main’ vagina Miya sudah becek.
“Ahh.., enakk.., barang lo berasa banget sih..!” jawab Miya sambil merem melek.

5 menit kemudian Miya teriak, “Ahh.., gue keluar lagi..!” dan dia langsung jatuh ke pelukan saya.
Tetapi saya kan belum keluar, wah tidak begini caranya nih. Ya sudah akhirnya saya gantian dengan gaya dogy.
Kali ini kembali Miya menjerit, “Terusiin Sayang..!”
Tidak lama kemudian saya merasa kalau saya sudah mau keluar.
“San, mau keluarin dimana..?” tanya saya.
“Di muka gue aja.” jawabnya cepat.

Kemudian, “Croott.., crott..!” sperma saya saya keluarkan di wajah Miya.
Kemudian Miya dengan cepat membersihkan penis saya, bahkan saya saja sampai ngilu dengan hisapannya. Tidak lama saya pun jatuh lemas di sampingnya. Dan saya tetep melihat Venny tetap meremas dadanya dan dia pun melihat saya dengan tatapan ingin mendapat perlakuaan yang sama seperti temannya.

“Ven, ke kamar mandi dulu yuk, gue mau bersih-bersih nih..!” jawab saya sambil mengajak Venny.
Kemudian Venny dengan cepat menarik saya ke kamar mandi. Di kamar mandi kami saling membersihkan satu sama lain.
“Ven, gue istirahat dulu yach, gue cape banget soalnya,” timpal saya dengan suara lemas tapi penuh dengan kebahagiaan.
“Ok deh, tapi jangan lama-lama yach, gue udah ngga tahan nih..!” jawab Venny sambil membersihkan penis saya.

Tidak lama kemudian Miya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, saya dan Venny kemudian keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di ranjang, tiba-tiba saja Venny mencium saya dengan ganasnya. Secara otomatis pula saya membalasnya. Kemudian ciuman Venny mulai turun ke leher saya dan dada saya. Saya hanya pasrah diperlakukan seperti itu. Dada saya diremas-remas oleh Venny dan sapuan lidahnya mulai turun ke daerah bawah.

“Hmm.., barang loe bakal gue paksa berdiri lagi nih..!” kata Venny dengan suara menggoda.
Kemudian tanpa diperintah Venny segera mencium dan mengulum penis saya dengan lahapnya seperti orang yang kelaparan.
“Ahh.. ahh.. ahh.., enak Ven..!” timpal saya.
Sekilas saya melihat Miya baru keluar dari kamar mandi dan sedang memakai bajunya.
“Loe ngga mau ikutan lagi Miya..?” tanya saya.
“Ngga ah, gue lemes banget, gantian loe urus temen gue aja deh, gue mau istirahat dulu,” jawabnya santai.

Kemudian saya tidak mau kalah, segera saya raih buah dada Venny dan segera saya hisap. Saya mulai dari putingnya yang kanan, kemudian beralih ke yang kiri, saya remas-remas juga dadanya.
“Ahh, yang kenceng Sayang..!” jawab Venny lirih.
Kurang lebih 5 menit saya memainkan dadanya, kemudian saya turun ke vaginanya. Tampaklah vagina Venny ditumbuhi bulu-bulu halus yang rapih itu sudah tampak basah.

 

“Hmm.., udah basah loe Ven, dah ngga tahan yach..?” kata saya sambil tersenyum.
Venny hanya menangguk saja tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Kemudian saya mendekatkan mulut saya ke depan vagina Venny, dan langsung saya hisap dan saya jilat vaginanya.
“Ohh.., ohh.., teruss..! Enak..!” itulah suara yang terdengar dari mulut Venny.

Setelah 10 menit saya memainkan vaginanya, saya ingin melakukan gerakan lebih jauh. Dan dengan segera saya memasukkan penis saya ke dalam vagina Venny.
“Hmm, pelan-pelan yach..!” jawab Venny.
Saya hanya tersenyum dan segera mencium Venny, dan dia pun membalasnya dengan penuh semangat.

Blesss, seluruh penis saya kini berada di dalam vagina Venny. Dan tanpa dikomando lagi saya segera bergerak diikuti goyangan pinggul Venny. Tanpa sadar Venny memeluk saya begitu eratnya dan saya memperhatikan wajah Venny yang sedang merem melek seakan-akan tidak ingin berhenti memperoleh kenikmatan.

5 menit kemudian Venny ingin berganti posisi.
“Eh, gantian dogy yuk..!” pinta Venny.
Ya sudah, saya turuti saja kemauan Venny.
“Bless, bless.., bless..!” sedikit terdengar suara penis dan vagina yang sedang berlomba, karena vagina Venny sudah basah dan menurut saya Venny tidak lama lagi akan keluar.

Dan benar saja dugaan saya, tiba-tiba saja Venny teriak, “Ah.., ahh.., ahh.., gue keluar..!”
Kemudian Venny langsung jatuh lemas dengan posisi telungkup, sementara penis saya masih tertancap dalam vagina Venny. Maka saya segera menggerakkan penis saya supaya saya juga dapat keluar. Tidak lama saya terasa bahwa saya ingin keluar.
“Keluarin di mana Ven..?” tanya saya.
“Di dalam ajalah, biar loe enak..!” jawabnya dengan suara yang terbata-bata.

Lalu, “Crott, crott..!” penis saya segera mengeluarkan semburan spermanya.
“Ahh..!” saya bersuara dengan keras, “Enak banget..!” lanjut saya.
Kemudian saya langsung rebah di sebelah kanan Venny, sementara Miya sedang tersenyum memperhatikan kami berdua.
“Wah-wah-wah, cape loe yach berdua..?” kata Miya.
Saya yang sudah lemas hanya dapat tersenyum dan tiduran di samping Venny.

Setelah istirahat beberapa menit, kemudian saya dan Venny ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu kami bertiga pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kenangan indah bersama. Nah, nantikan cerita saya di periode berikutnya, mohon para pembaca memberi saran dan komentar terhadap cerita saya.