cerita dewasa

Antara Melani dan Mbak Rini

Percintaanku dengan Melani pelajar kelas 3 SMP sudah berjalan hampir setahun. Itulah yg tdk habis dalam benakku sampai sekarang. Duh, untung saja tdk sampai hamil dan seandainya hamil pupus sudah citacitaku dan mungkin tdk seperti sekarang ini. Ekonomiku relatif baik, seorang isteri yg bekerja sebagai perawat, satu anak dan aku sendiri seorang karyawan swasta dikotaku Semarang.

Aku memiliki seorang baby siter umurnya baru 19 tahun, dan dia ternyata naksir berat sama aku. Bila istriku dinas malam pasti dialah yg akan menemaniku di ranjang, kami bertempur habishabisan 3 sampai 4 kali. Sempat kasusku ini masuk koran lokal, dimana anakku dilarikan baby siterku karena minta di kawin olehku, ampun deh. Nanti bagian aku ceritakan tersendiri.

Aku sangat akrab dengan temanteman kosku, dapat ditebak aku lebih dekat dengan mbak Rini seorang guru SD, umurnya terbilang jauh denganku yg saat itu berusia 16 tahun dan dia 26 tahun. Mbak Rini berasal dari kota Klaten, berambut sedikit keriting sebatas bahu dengan tinggi sekitar 160an, postur tubuhnya biasa dan warna kulitnya menandakan orang Jawa asli berwarna sawo matang, coklat kekuningan berbeda dengan Lani coklat kehitaman. Apalagi memeknya, setelah aku gosokgosok dengan tanganku dan penisku mungkin membantu mempercepat hormon kewanitaannya, rambut tempiknya semakin lebat haha

Pada suatu malam, aku ingat waktu itu aku habis menyetubuhi Lani aku tdk bisa tidur padahal hujan turun dengan derasnya. Mustahil malammalam begini apalagi hujan deras aku ketok jendela Lani, bisabisa berabe. Lalu aku keluar kamar, hanya bercelana dalam, berkaos oblong dibalut kain sarung iseng aku berjalan di samping rumah.

Jam menunjukkan pukul 10.30 saat aku berada di samping jendela kamar mbak Rini, lampu kamarnya masih menyala. Ada celah di jendela kamarnya, kamar kami semua dari kayu hanya kamar depan yg menghadap kejalan dari nako.

Iseng aku mengintip, ah tertutup kain korden. Mataku jelalatan dalam keremangan lampu samping yg hanya 5 watt, mataku menemukan sapu lidi. Aku ambil sebatang dan pelan aku masukkan dan aku sibak dengan sangat pelan sekali, mogamoga ada sesuatu yg menarik terjadi dalam kamar.

Saat aku berhasil menyibak kain korden tampak mbak Rini dengan tidur terlentang dengan rok tersibak keatas tanpa celana dalam sambil membaca sebuah novel sambil memasukkan sebuah benda kedalam liang tempiknya. Astaga, akutahu benda itu sebuah pisang ambon yg di balut dengan sebuah kondom. Ukuran pisang Ambon itu lumayan besar, lebih besar pisangnya.

Belahan kakinya tepat berada dijendela dimana aku mengintip, dan wajahnya tertutup novel yg dibacanya. Kakinya sesekali menggapai tepian ranjang yg terbuuat dari besi. Hampir setengahnya pisang itu meslesat masuk kedalam memeknya.

Tampak dadanya membusung dan dari balik kaos yg dikenakannya payudaranya naikturun tdk teratur. Mbak Rini terobsesi oleh bacaan novel yg dibacanya. Berkalikali pantatnya naik turun dan dengan cepat tangannya memajumundurkan pisang berlapis kondom ditangannya. Pasti pisang itu akan segera matang, tdk perlu pemanasan lewat pengarbitan dan ditanggung manis alami hehe demikian candaku pada diriku sendiri.

Asyik juga, selama 20 menit hal itu berlangsung. Sprei bagian pantatnya sudah awutawutan dan basah oleh cairan yg keluar dari tempiknya. Aduhmana tahan dong, Mr P sudah berdiri apalagi hanya bercelana dalam, so bebas berkeliaran.

Malam sudah mendekati larut, aku toleh kanan dan kiri sepi, aku dengan bersandar di tembok rumah Lani celana dalam dan sarungku aku lepas. Penisku yg sudah ereksi habis aku pencet pangkalnya dengan tangan kiriku dan tangan kananku mengocok batang dan kepalanya.

Hhhhh.

Aku tdk tahu mbak Rini saat itu sudah mencapai orgasme dan meletakkan bacaannya di sampingnya sambil mengatur napasnya yg memburu melihat kain kordennya bergoyg karena tanpa sadar akibat dorongan birahiku aku lepaskan begitu saja lidi yg aku pegang.

Bersamaan mbak Rini membuka jendela kamarnya dengan pelan dan nyaris tanpa suara aku memejamkan mataku membaygkan penglihatanku tadi sambil mengocok penisku tepat berada didepan jendela kamar mbak Rini yg terbuka berlahan.

Mbak Rini menahan napas manakala dilihatnya aku sedang mengocok penisku menghadap kearahnya dengan penis yg ereksi habis, begaian kepalanya bulat berkilatan di terpa cahaya lampu kamarnya dan mengeluarkan cairan bening tanda birahi.

Ssssttttttt.

Aku mendesis dan tdk sadar mbak Rini sudah menikmati pemandangan nikmat dan dengan kedua mata terbelalak tertuju kepada kepala penisku. Apalagi petang tadi sudah diasah di memek Lani so tampak memerah berkilatan. Bak sebuah kepala gada aku mencondongkan pantatku kedepan dengan wajah menengadah keatas dan mata terpejam. Karena dorongan birahi di tambah petang tadi aku sudah orgasme dua kali sehingga mengalami sedikit kesulitan mencapai orgasme aku pelan terdorong kedepan dan saat aku mendekati puncak orgasme aku sudah mendekat kejendela dan itu tdk aku sadarai, suerr

Aahhhhh!

Aku terkejut bukan kepalang saat terasa kepala penisku sperti ada yg melahap, sialnya saat tepat sekali airmaniku mau muncrat, mataku terbelalak.Ya ampun. Mbak Rini sudah melahap penisku dan dengan cepat dia menjulurkan lebih keluar kepalanya dan denga kedua tangannya menarik pantatku, menyedot dengan kuat penisku yg melesat masuk sampi batas kerongkongannya. Airmaniku bercampur dengan airludahnya dan akibatnya aku terdorong semakin maju dan refleks kedua tanganku bertopang pada daun jendela kamarnya.

Hoeeeeeekk.
Ahhh!

Habis semua airmaniku, keterkejutanku, kenikmatanku. Aku terdiam manakala aku mulai tenang, mbak Rini sedikit manarik keluar penisku sehingga hanya bagian kepalanya yg masih berada dalam mulutnya. Lalu penisku terkulai lemas dan mbak Rini bangkit menghadapku.

Hayoooo, tadi ngintip aku ya? Katanya pelan, sementara hujan masih deras mengguyur dan gelegar guntur bersahutsahutan membuat siapapun pada malam itu nyaris keluar rumah kecuali aku, mungkin hehe

Aku hanya meringis mengagguk, tampak airmaniku masih melelh di bibirnya dan sebagian aku muncratkan di kaos yg dipakainya, tampak putingnya menyembul dari kaos tanpa lengan berwarna hijau kesukaannya. Otak lakilakiku bekerja dengan cepat memberikan informasi kepadaku bahwa perempuan itu memerlukan pemuasan birahi walau tadi dia sudah melakukannya sendiri.

Cepat aku raih tengkuknya dan aku lumat bibirnya,

Mmppphhphhh.hhhhhh
Heekkkhhhh

Mbak Rini tdk kuasa menolah, dengan tinggi hanya 155 cm membuatnya terdongak dari balik jendela.

Mmmppphhh
Hhhmmmppp

Kali ini mbak Rini yg berpegangan pada tepian jendela dengan kedua tangannya, asyik buah dadanya yg tdk mengenakan beha tampak bergetargetar dangan putingnya menyembul, mengundang belaian.

Hhhh
Hhmm

Tentunya dengan mudah kedua tanganku menggerayginya dan menyusupkan kebalik kaosnya. Mbak Rini terpejam. Kali ini payudara yg aku pegang berbeda dengan milik Lani, payudara seorang perempuan dewasa sednagkan Lani yg beberapa kali sudah aku setubuhi seorang perempuan remaja yg baru mulai tumbuh dan tumbuhnya hasil karbitan karena belum saatnya sudah merasakan tubuh seorang lakilaki menidurinya.

Payudara mbak Rini memiliki putting panjang dan keras, payudaranya tdk bundar seperti punya Lani tapi lonjong, tentunya duakali lebih besar dari punya Lani. Ah, ternyata payudara perempuan berlainan, aku kira sama. Seperti penis, setiap lakilaki berbeda. Sedangkan aku termasuk yg normal untuk ukuran Asia dengan tinggi badan 170 berat 60 anda bisa membaygkan berapa ukuran penisku semestinya, tdk usah aku sebutkan kebanyakan orang menulis dengan menyebut ukuran yg sangat luar biasa.

Masuk yuk, bisiknya lirih dan aku langsung meloncat masuk dan mbak Rini menutup jendela kamarnya sementara hujan masih deras mengguyur.

Aku melepas sarung, celana dalam dan kaos yg aku pakai. Diterangi oleh cahaya lampu 5 watt tampak dari kaca almari tubuhku yg bugil dengan penis yg ereksi habis.

Mbak Rini tersenyum sambil membuka kaosnya, ah sepasang payudaranya menggantung dengan putingnya yg coklat kehitama menjulang keatas. Menarik turun roknya sehingga dia sudah berbugil ria, bagian selangkangangannya ditumbuhi rambut yg hitam pekat. Berjalan pelan menghampiriku, berdiri disamping dimana aku duduk ditepian ranjang.

Mbak Rini terlihat tersenyum didalam cermin, memandang kearahku. Aku tdk melihat soal cantik atau tdk, kenyataannya dia memang tdk cantik tapi dalam keadaan bugil, wow itu urusan lain. Lalu dia ikut duduk disampingku, masih tetap tersenyum memandang ke cermin, kearahku dan meraih batang penisku.

Tuh, panjang, seraya melirikku.
Tadi sudah dicoba, sambil aku melingkarkan tangan kananku kepundaknya.
Ih, kamu nakal, dia menyebut namaku.
Kenyotan mbak Rini hebat deh, sambil tangan kiriku mengusap lembut payudaranya. Tampak di cermin dia tersenyum memandangku.
Pasti, pasti aku kenyot lagi punya kamu, sambil menyebut namaku, sampai kamu puas.
Kalau sekarang punya kamu gantian aku nyot, mau?
Mau sekali, sayang

Lalu mbak Rini naik keatas ranjang dan bersandar menggunakan bantal ketepian ranjang, melipat kedua kakinya, dan membuka lebarlebar. Tersenyum manakala aku beranjak kearah selangkangannya. Tempiknya membuka lebar, hitam kemerahan dan dengan kedua tangannya dia menyibakkan rambut tempiknya yg demikian lebat.

Basah saat aku dekatkan wajahku, aroma khas tempiknya menyergap hidungku beda dengan milik Lani sebagai perempuan dewasa mbak Rini tentunya lebih berpengalaman merawat kelaminya.

Beda dengan punya Lani, tempik Lani masih halus ditumbuhi sedikit rambut baru sedangkan milik mbak Rini di tepiannya sudah lebat ditumbuhi rambut membuat malam itu aku ingin menikmatinya. Aku mulai mencium belahan bagian atasnya, menjilati berlahan klentitnya, setelah beberapa kali aku melakukannya pada Lani membuat lidahku sudah terampil.

Ssstttttt
Hhhhhhh

Mbak Rini mendesah, memandang apa keselangkangannya dan mengusap rambutku dengan kedua tangannya, seolaholah kami sudah lama menjadi sepasang kekasih dia memperlakukan aku dengan lembut. Dengan kedua kaki terpentang lebar, sesekali mbak Rini menggoyggoygkan selangkangannya, mengarahkan sesuai dengan bagian mana aku menjilati tempiknya dan beberapa kali dia mengarahkan dengan menggeser rahangku dimana dia meminta bagian yg perlu dijilati.

Turun sedikit,
Yah, aahhhhhh

Mbak Rini bergetar dengan kedua kaki mengejang saat aku menjepit dengan kedua bibirku klentitnya, menyedotnya dengan kuat dan menggesek menggunakan ujung lidahku.

Aakhhhhhh

Kedua tangan mbak Rini meremas kain sprei dan membusungkan dadanya keatas, menumpangkan kedua kakinya keatas pundakku lalu mengatupkkan sepasang pahanya mengakibatkan kepalaku terbenam dan membuatku sulit bernapas hanya terdengar suara kecepokkecepokkecepok mulutku yg mengenyot tempiknya.

Tibatiba,

Masukkan sayang, aku sudah enggak tahan,

Mbak Rini meraih pundakku, memintaku naik untuk menidurinya. Dengan tangan kirinya dia meraih penisku yg sedari tadi sudah ngaceng, mengarahkan ketempiknya, kelobang memeknya dan tangan kanannya menekan pantatku,

Bleesssss
Aahhh

Aku hanya mengikut seperti kerbau di cucuk moncongnya, hangat, basah dan kenceng saat penisku sampai ke dasarnya. Menekuk kedua kakinya dengan tumit ditarik keatas, mengimbangi sodokokanku ke liang senggamanya, mengelus punggungku dan memandangku penuh senyum. Wajahku tegang dengan bertopang pada kedua tanganku wajahku memerah dengan semua ototnya menyembul keluar, napasku tersengalsengal.

Tdk usah tegang dong sayang, santai saja. Biar penis kamu saja yg tetap tegang yah
Habis enak sekali sih, aku tekan pantatku sambil memejamkan mata keenakan tentunya.
Tuh khan, enthotanmu kenceng, menaikkan wajahnya dan mengecup bibirku dengan bergantung pada punggungku,
Ngganjel tuh kepala konthol, kenceng banget.
Enak?
Tentu dong katanya manja.
Kalau begini bagaimana?

Aku tekan pantatku dan aku goyg sambil menyodok.

Auw!
Gimana?
Jangan berhenti, mbak Rini mencengkeram pantatku dan diapula meliukliuk mengimbangi irama samba yg aku peragakan.

Memasuki fase kenikmatan birahi, busyet kenceng banget jepitannya sehingga membuatku sangatsangat sulit bergerak.

Penisku terbelenggu didalam tempiknya, terjepit memek yg berlendir, hangat.

Keceplokkeceplokkeceploksambil menggigit pundakku kuatkuat, mbak Rini histeris dengan mencengkeram pundakku,

Hhhmmmppphhhh.
Mmmppphhh.

Kelamin kami beradu kuat, saling menggesek,s aling mengentot. Derasnya hujan sepanjang malam itu mengimbangi keliaran mbak Rini, ups sangat luar biasa, dia binal bagaikan seekor banteng. Tulangku serasa mau lepas semua, entah berapa kali dia melakukan gigitan buas di dadaku dan cengkramancengkraman.

Plokplokkeceploklalu mbak Rini terlonjak dengan kepala menegadah keatas.

Aaahhh!

Diiringi aku yg dengan sekuat tenaga menggoyg pantatku dalam dekapannya, napasku serasa habis dan jantungku serasa mau meloncat tapi airmaniku minta dikeluarkan alias aku sudah sangat birahi banget.

Heekkk.

Seluruh otot wajahku menyembul keluar dan aku peluk erat lehernya, aku benamkan wajahku di lehernya balas aku gigit leher belakangnya dan dadaku sesak menindih payudaranya. Bersamaan dengan gelegar guntur dilangit aku melepas airmaniku.

Aaahhhhhh!

Crroootcrroootttcrroottttt aku semburkan kuatkuat airmaniku, membasahi semua liang memeknya dan sebagian meleleh keluar.

Ahhhh..!

Kami berdua berguling terlentang, menatap langitlangit dan sesekali guntur menggelegar dan curah hujan sudah tdk sederas tadi. Terimakasih kepada kontholku dimana hari ini dia melakukan kerjasama yg sangat baik padaku, bekerja keras memuaskan nafsu birahiku. Pagi tadi sudah mengentot Lani sebelum berangkat sekolah, petangnya saat orangtua dan adiknya pergi kondangan dia memberiku isyarat agar aku masuk kedalam kamarnya dan aku entot Lani dua kali. Eh, malamnya bagaikan dapat durian runtuh dua kali airmaniku muncrat oleh mbak Rini.

Puas, bisiknya ditelingaku.
Sangat, sangat sekali nih kontholku sampe teler

Diraihnya kontholku yg lemas tak bertenaga, berkilatan diterpa cahaya lampu yg berlumuran airmani bercampur lendir birahinya.

Hikhikhikperkasa banget kamu sayang
Sekarang mbak Rini tdk usah pake pisang di kondomi loh, aku meraih payudaranya yg menggantung di sampingku.
Tapi kamu harus tetap sayang aku dong, dia tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke bibirku.
Heeh
Kamu boleh kok melakukannya sepuasnya, kapanpun kamu mau. Tapi jangan sampai ketahuan tementemen khan entar enggak enak.
Hmm kenapa?
Malu
Asyik khan ditonton seperti lihat film porno.
Ih, kamu nakal ah

Dia merapatkan tubuhnya sehingga putting payudaranya menempel di dekat bibirku dan aku tolehkan wajahku meraup putingnya.

Mau lagi sayang? Masih kuat, tuh penis sudah tdk bergerakgerak, mengusap penisku dengan lembut.

Coba dari pagi sang penis tdk berkerja keras akan aku sambut tantangannya. Tapi apa mau di kata, maksud hati memeluk gunung apa daya penis sudah KO. Aku hendak kembali kekamar tapi mbak Rini mencegahku, memelukku dan akupun tertidur dalam dekapannya dengan telanjang bulat. Menjelang subuh aku mengendapendap kembali kekamarku dengan sebelumnya sudah memberikan jatah pagi pada mbak Rini yg selalu minta di entot lagi sebelum aku pergi, serangan fajar kata orangorang pejuang dahulu.

Sekarang aku punya jadual kegiatan sangat padat, Melani tentu tdk mau lepas dari entotanku karena dia pacarku walau kami jarang sekali jalan bareng. Aku emoh, sebab dia bukan typeku. Entot yes, jalan no. Berbagai alasan aku utarakan dan dia hehe dasar bego, mau menerima saja. Sedang mbak Rini, ini juga jauh dari seleraku. Tapi soal asah pedang alias entot sih sahsah saja.Selama ini kami kami tdk pernah bilang cinta, palingpaling aku sayang kamu. Berbeda dengan Lani, keseharian mbak Rini sekarang sangat jauh berbeda dengan harihari sebelumnya.

Mbak Rini selalu berusaha tampil fresh dan cantik di hadapanku, kalau dahulu pulang mengajar langsung mengenakan daster dan santai sekarang beda. Pulang langsung mandi, rambut keteknya di cukur habis, memakai parfum wangi, tampil rapi dengan hiasan bedak tipis dan berusaha memancing gairahku dengan hanya mengenakan kaos tanpa lengan. Beha yg dipakainya selalu kontras dengan kaos buntungnya. Mas Prayit sering menggodanya, dia akan berbinarbinar bilamana ada aku disitu.

Jam menunjukkan pukul 4.15 saat aku melompat dari kamar mbak Rini, biasa sebelum aku tinggal mbak Rini minta di entot sebagai hukum wajib. Padahal semalam sudah tiga kali aku ngecrot sedangkan dia sampai lima kali. Dengan gontai aku mengendapendap masuk kedalam kamar dan aku lihat tubuhku telanjang didepan kaca penuh dengan gigitan birahinya.

Penisku serasa ngilu saat aku rebahkan badanku keranjang dan lelap sebentar. Aku biarkan tubuhku terlentang telanjang bulat. Jam 6.15 aku terbangun, mempersiapkan buku pelajaran lalu aku mandi. Segar sekali, badanku yg pegalpegal telah bugar kembali. Rasa ngilu di penisku sudah tdk aku rasakan.

Mbak Rini sudah hendak berangkat ketika dia membuka pintu kamarku, sementara aku tengah telanjang. Menoleh keluar sejenak lalu masuk.

Aku berangkat sayang
Yah, aku tersenyum. Dia kemudian meraih penisku, mengusapnya, kemudian memberikan kecupan di kepalanya.
Luar biasa, aku selalu kangen dengan ini. Membuatku ketagihan, kecupannya berubah menjadi kenyotan, coba seandainya mbak

Rini tdk segera berangkat pasti penisku dibuat ereksi lagi dan akan aku entot apalagi badanku sudah bugar. Mengecup bibirku sambil mengurut penisku yg mulai bereaksi,

Ih, nakal sudah mau bangun lagi, entar sayang yah Lalu beranjak pergi dimana sebelumnya meminta aku menyentuh payudaranya yg kenyal tersembul dari balik seragam gurunya.

Aku melangkah keluar saat ditempat biasa Lani sudah menungguku, dikerimbunan tanaman Mahkotadewa dia tampak rapi dibalut seragam putih birunya. Pekan ini usai ujian semester ganjil, sekolahku mengadakan class meeting dan sekolah Lani mengadakan pentas seni.

Hari ini ada pelajaran?
Ya tdk ada dong.

Lani hanya diam tdk bergerak saat aku merapatkan tubuhku duduk disampingnya.

Iya, ya ada pentas seni dan class meeting yah?
Heeh, dia mengiyakan sambil tangannya balas menggenggam tangan kananku.

Diam dan memutar sedikit wajahnya kekiri saat aku mendekatkan bibirku dan mengecupnya. Meraih pundaknya dengan tangan kiriku, menarik lembut sehingga badannya sedikit memutar kearahku.

Hhhmmmppp.

Desah napas hangat napas kami saling beradu sesaat Lani membuka mulutnya. Aku menjulurkan lidahku, memilin lidahnya dan gemertak gigi kami beradu saat aku tekan tengkuknya merapat kearahku. Lani terdiam pasrah.

Dirumah saja yuk, dia meraih tanganku menarik masuk kedalam rumahnya.
Pintunya di kunci, pinta Lani.

Aku menutup pintu serta menguncinya dan Lani sudah beranjak masuk kedalam kamarnya. Aku mengikutinya dan tampak Lani sudah terlentang diatas ranjang, buah dadanya yg mungil menyembul di balik seragamnya, memandang kearahku dangan mesra dan sorot matanya telah membara. Aku membuka baju seragamku, aku lemparkan keatas meja belajarnya. Lalu celana panjang abuabuku aku buka sekalian dan aku sisakan celana dalam saja. Penisku menonjol dan mulai ereksi, pagi ini dia akan bekerja lagi padahal dari semelam sudah bekerja 5 kali.

Aku menghampiri Lani yg telah berani memandang kearah penisku yg menyembul tersembunyi di balik celana dalamku, sambil membuka satu persatu kancing baju seragamnya aku mengecupnya dengan lembut. Lani kembali membuka mulutnya. Aku dapatkan payudaranya dengan beha membusung, setengahnya milik mbak Rini. Ah, biarlah bukan hal mutlak. Dengan kait beha di bagian depan memudahkan aku membukanya, aku sibak dan aku rasakan kemulusan dan kehangatan Lani.

Hhh!

Lani menggeliat pelan saat bibirku beralih kepayudaranya, mengusap, memilin dengan bibirku. Sementara tangan kananku mengusapusap lembut dan bagian depan selangkanganku yg memuat penisku menekan bagian bawah perutnya.

Lepas sayang, nanti kusut, dia beranjak dan melepas seragamnya. Aku membantunya melepas dan ketika sudah semua terlepas dan Lani telanjang bulat dia meraih celana dalamku.
Dilepas juga dong, curang ah!

Lalu merebahkan dirinya, aku melepas celana dalamku dan penisku sudah ereksi diraih oleh tangan Lani. Padahal tubuhku banyak membekas merah bercampur biru, mana yg hasil perbuatan mbak Rini dan mana hasil perbuatan Lani aku tdk tahu. Aku pertama kali mengajari Lani membuat cupangan saat aku paksa dia mencoba melakukan oral seks.

Ceritanya waktu belajar privat buat cupangan itu hari minggu, orangtua dan adiknya ke luar kota, aku samperi dia dirumah. Singkat cerita aku sudah telanjang bulat, diatas sofa ruang belakang, aku minta dia mencoba menggigit kulitku dengan pelan, menyedotnya, memutarmutar lidahnya. Awalnya sih perih bercampur geli. Satudua kali dia mencoba dan lamalama enak, kalau aku hitung waktu itu ada 15 cupangan.

Sungguh, hampir setiap hari badanku penuh cupangan dari Lani maupun mbak Rini tapi ada keuntungannya yakni mereka berdua tdk tahu bahwa itu adalah hasil perbuatan dua orang, jadi aku nikmati saja. Dan pelajaran kedua yakni mencoba mengenyot kontholku, ini juga luar biasa. Kaku, jengah saat dia pertama kali memasukkan kontholku ke dalam mulutnya. Lucu katanya. Aneh, besar dan berkedutkedut demikian dia mengistilahkannya. Sambil menyeringai penisku digenggam dengan kedua tangannya sehingga bagian kepalanya menyembul besar kemerahan seperti jamur. Bagian ujungnya mengeluarkan lendir birahi lalu Lani menempelkan ujung lidahnya kebagian yg berlendir dan menjilatinya memutar.

Ouww, geli bercampur nikmat. Kelak saat kami berentot session inilah yg paling dinikmati oleh Lani sebelum kami melakukan persetubuhan yg sebenarnya. Dia amat menyukai penisku berkedutkedut dalam genggamannya saat aku kegelian sampai penisku memerah. Dia menikmati saat uraturat tubuhku menyembul, mukaku memerah menahan nikmat, urat penisku menyembul dengan kepala penis merah mengeras. Itulah saat kali pertama dia belajar variasi sex dan untuk pelajaran ini Lani menunjukkan kelasnya sebagai gadis yg cerdas entah kalau Mas Phytagoras memberikan teorinya pastilah Lani otaknya bebel.

Aku merayap turun keselangkangannya, rambutnya sudah mulai banyak dan tdk beraturan. Lembab dan basah, aroma sabun mandi masih segar terasa. Wangi dan berbau khas, kali ini belum pesing soalnya baru selesai mandi dan tampaknya memakai celana dalam baru.

Lani menggeliat dan mulutnya lirih dengan tangan tergenggam saat klentitnya langsung aku kenyot. Aku sibak pelan kedua kakinya dengan menekuk keatas. Lobang memeknya sudak mengalir lendir dan tdk aku sentuh untuk membiarkan semakin basah.

Aku lirik keatas, dadanya naik turun, kepalanya menggeleng kekanan dan kekiri. Tangannya tetap tergenggam dan kedua kakinya bergetargetar dan sesekali menjepit kepalaku seandainya tdk aku tahan dengan kedua tanganku.

Sini dong pintanya lirih dengan mata sayu.

Lani beranjak bangun dan menarik pantatku kearahnya, aku arahkan penisku dan menyambutnya langsung tanpa variasi mengenyot seperti anak kecil mengenyot es lilin tapi lumayan sudah belajar privat soal sex, ini dia kelasnya sebagai anak gadis yg cerdas.

Kami berposisi 69, kontan aku melenguh kegelian, digenggamnya penisku dengan tangannya, mengenyot kepala penisku. Rentang waktu hampir setahun membuat perasaan sungkan dan malu lambat laun mulai mengikis. Sementara mbak Rini mulai masuk pula dalam pelukanku. Inilah namanya nasib baik berpihak kepadaku.

Kenikmatan Lani saat lidahku bermainmain di klentitnya tampak bila dia mengenyot kuatkuat penisku. Sudah menjadi kebiasaannya membuka kedua belah kakinya lebarlebar dan tdk menjepitnya ketika pertama kali aku menjilat klentitnya.

Nyoot, nyroot, mppppah Suara serotan dari kenyotan Lani dengan kedua kakiku terpentang lebar dan aku semakin ikut mengenyot lobang memeknya.

Lani mengusapusap rambut selangkanganku, merayap turun ke pelirnya. Berbeda dengan mbak Rini yg wow, mahir dan penuh perasaan. Membuat penisku berkedutkedut menahan hentakan birahi, sedangkan Lani walau masih terasa kaku toh aku menyukainya, jam terbangnya belum banyak perlu praktek terus menerus, toh dia anak yg cerdas.

Yg terutama, aku memperoleh keperawanan Lani sedangkan dari mbak Rini aku merupakan lakilaki yg ketiga setelah lakilaki yg pertama anak bapak kosku menodainya, lakilaki kedua juga melakukan hal yg sama dan aku yg ketiga sedang dalam pelukannya, lumayan gratisan dengan bermodal rayuan gombal. Duh, jahat banget yah akuTempik Lani sudah membanjir, tampak kelaminya berkilatan. Membengkak tanda semakin birahi.

Aahhh.
Srrrppphhh

Lalu aku berbalik, Lani tersenyum dengan tangannya mengusap bibirku yg bercelemotan airliur bercampur lendir tempiknya. Bleeessspenisku langsung masuk ke memeknya tanpa perlu bimbingan tanganku. Seluruh selangkangannya sudah berlumuran lendir apalagi penisku sudah basah akibat klomotan mulut Lani.

Hhhhh

Lani berani memandang dan membelai rambutku saat pantatku aku tekan dan dadaku mulai merapat menindih payudaranya. Aku lihat pancaran cinta dan birahi di mata Lani. Bersemu merah rona wajahnya saat mata kami saling beradu pandang. Mengangkat kedua tumitnya keatas, lalu kakinya menumpang di atas pinggulku.

Aku suka, aku mau sayang ujarnya lirih tanpa sungkan dan malu, sambil memejamkan matanya dia mendongak, memperlihatkan lehernya untuk mempersilahkan aku mencumbunya.

Aku langsung menerkamnya, kedua tangannya terentang keatas, di bagian bawah ketiaknya mulutku bermainmain sambil pelan aku mulai menaikturunkan pantatku sementara kedua tanganku menopang dadaku yg sesekali bersentuhan dengan kekenyalan dari kelembutan payudaranya yg putingnya mulai tumbuh dan mengeras. Kepala Lani menengadah dengan mata terpejam dan mulut menganga dan deru napas yg menandakan dia pasrah untuk diapaapakan.

Ahahahhhh aku menggenjot pantatku dimana penisku sudah leluasa keluarmasuk dan bergesekan dengan memeknya yg sudah berlendir, basah luar biasa.
Hhhhhhhh
Hhhmmmppp

Ciumanku bergerilya dibagian ketiaknya yg tampak berbulu halus sekali dan naik berputarputar di sekitar payudaranya. Puas kemudian merambat ke bagian belakang telinganya. Aku terus mengusapusap belakang lehernya dengan hidung dan mulutku, memberikan gigitan mesra berupa cupangan. Membekas merah, toh nanti tertutup rambu sehingga tdk kelihatan.

Sssttthhh

Lani merintih lirih sekali, tubuhnya menggigil, bulu kuduknya meremang, mulutnya semakin menganga dan deru napasnya sudah tdk karukaruan. Dia mau, sungguh dia sangat mau, rasa malu sudah sirna sama sekali. Kini tdk ada batasan diantara kami. Buktinya, Lani membuka lebar kakinya. Mengangkat keatas dan mengambang, tumitnya kini menempel pada kedua pundakku.

Ceplikceplikceplik, demikian suara kelamin kami beradu.

Penisku yg berbandul besar mengosekngosek, membuat Lani semakin tdk sadar seolaholah terbang sangat tinggi dan tinggi sekali. Tibatiba, membuka kedua matanya dan mencaricari mulutku. Mencengkeram tengkukku dan menarik kemulutnya lalu membekap mulutku dengan mulutnya.

Hhhmmmppphhh!

Napasnya terasa sangat memburu menerpa hidungku dengan aku melesatkan majumundur penisku yg semakin terasa licin di memeknya. Clikclokclikclokclik, kreetkreetkreet kolaborasi antara gesekan kelamin dan derit ranjang, sungguh lucu suara yg ditimbulkan kalau disimak dengan seksama.

Aaahhhh!!!
Hekhekhekheeekkkkkkkkhhh..hh!
Crootcrootcrootcroot
Ahhhhhhhh!

Aku ambruk keatas tubuh Lani yg menyambutku dengan pelukan walau kami bersimpah keringat. Mengapitkan kembali kedua kakinya keatas pinggulku, membiarkan penisku terus menghujam didalam. Airmani meleleh keluar dari liang memeknya, membasahi kain sprei berwarna biru laut yg sudah acakacakan.

Kami saling berpagutan, berciuman hangat, saling memilin lidah kami, aku meremas payudaranya dengan tangan kananku. Jarum jam terus merangkak naik, tapi sepertinya kami tdk lagi perduli. Toh, kami sudah menyelesaikan ujian semester kami, kesibukan belajar mengurangi gairah kami. Dan sekarang, Lani ingin menumpahkan semua kekangenannya yg terpendam. Melupakan harkat kewanitaannya, kehormatannya sebagai wanita, semuanya terpupus habis.

Kami saling berciuman lama sekali, penisku masih keras tertancap di memeknya. Kami saling memandang, bertatapan dalam jarak yg sangat dekat sekali. Masih ada bara api birahi didalam matanya, itu aku ketahui dengan dia tdk melepaskan dekapannya. Tdk melepaskan mulutku yg memagutnya, justru membalas memagut. Sementara dengan pelan aku naikturunkan pantatku, penisku berlahanlahan keluar masuk secara berlahan.

Lani menatapku tegang, semakin kencang dia memelukku tapi tdk sekuat yg pertama. Desah panas napasnya terasa betul diujung hidungku. Lalu mulutnya diam tapi desah napasnya mulai memburu, semakin lama semakin cepat. Goyganku tetap konstan, berlahan, naikturun.Liang memeknya yg sudah penuh dengan airmani menimbulkan suara yg makin keras, ceplokceplokceplok sudah tdk aku pedulikan toh penisku masih menghujam didalamnya walau terasa ngilunglu enak.

Ahhh!

Ternyata dia orgasme untuk yg kedua kalinya.

Jangan pintaku saat dia hendak merenggangkan pelukannya. Dia tetap menatapku dan aku menatapnya penuh ketegangan.

Penisku menyiratkan akan mengeluarkan hentakan airmani yg kedua. Lani sudah mulai paham sampai pada level ini, gadis cerdas.

Aku susupkan wajahku ke lehernya, memeluknya erat, menindih payudaranya yg kenyal dan aku tekan dalamdalam selangkanganku sehingga selangkangan kami merapat dan penisku yg tdk sekencang ereksi tadi berdenyut pelan.

Serrrserrrserrrserrr
Hhh!

Jantungku serasa mau copot saat aku sampai kepuncak, semburan airmaniku juga tdk sekuat tadi, aku tetap menggoyg naikturun pelan supaya penisku jangan sampai terlepas karena sudah lemah tapi masih mampu menancap. Lani sedikit mengrenyitkan dahinya, tempiknya ternyata sudah merasa perih dan panas. Peniskupun demikian, langsung terkulai dan PLOP terlepas sendiri dari memeknya.

Capai?, Kataku saat aku membantunya membersihkan ceceran airmaniku di selangkangannya.
Sedikit, katanya sambil membantuku juga membersihkan lelehan airmani di batang penisku.

Penisku tampak berkilatkilat dan aku duduk terlentang sementara Lani dengan lemah lembut membersihkan dengan saputangan miliknya.

Menggenggamnya saat sudah bersih dan memberikan kecupan dikepala penisku. Lalu kami berbenah dan jam menunjukkan angka 9 pagi saat Lani beranjak pergi dengan sepedanya, mengayuhnya dengan pelan dan lunglai tapi matanya terpancar sorot kebahagiaan sedang aku kongkokongko di emperan sebuah toko kacamata diujung gang rumah kosku menunggu angkutan.

Post Terkait