Cerita Dewasa

Aku Dipuaskan Oleh Adik Kandung Suamiku

Sesampainya di rumah, berlalu mandi kukenakan daster tidurku tanpa celana dalam, dan kusemprotkan parfum di tubuhku, siap menanti lelaki yang bakal mengisi keperluan seksku. Kulihat kedua anakku telah tidur pulas. Kemudian kira-kira jam 23:30 kumatikan lampu kamar dan kurebahkan tubuhku di lokasi tidur terpisah dari lokasi tidur anak-anakku.

Sambil tidur-tidur ayam, kunantikan Ary masuk ke kamarku. Sekitar jam 01:00, kulihat pintu kamar yang sengaja tidak kukunci secara perlahan dimulai orang. Kulihat Ary dengan sarung masuk. Setelah ia memblokir kembali pintu kamar dan menguncinya, ia mengarah ke tempat tidurku dan langsung menindih tubuhku dan menciumi wajah serta bibirku.

Sambil menciumiku, tangannya menggerayangi vaginaku. Ary berkata, “Wah telah siap nih ya.. nggak gunakan celana dalam..” Tak berapa lama Ary mengusung dasterku dan mempermainkan klitorisku dan sesekali memasukkan jarinya ke lubang vaginaku, membuatku melayang dan vaginaku cepat banjir. Ternyata Ary pun sudah siap dengan tidak menggunakan celana dalam.

Digesek-gesekannya lontongnya yang telah mengeras di pahaku seraya jari-jari tangannya mempermainkan vaginaku. Kubalas gerakan Ary dengan meremas-remas dan mengocok lontongnya.
Nafsuku semakin naik, begitu pun Ary sebab nafasnya tersiar semakin memburu. Sambil tersengal-sengal, ia melenguh, “Oh.. oh.. Wita.. Ary telah nafsu.. Wita haus kan.. Ary masukkan ya..” Aku pun telah tidak tahan, “Oh Ri.. masukkan cepat lontongnya.. Wita telah nggak tahan.. Ohh Ri..”

Baca Juga: Nikmatnya Sex Di Ruang Tamu

Kemudian, “Slep..” kurasakan lontong Ary yang lebih banyak dan panjang dikomparasikan lontong suamiku tersebut masuk dengan gampang masuk ke dalam lubang vaginaku yang telah benar-benar basah itu. Kurasakan lontongnya hingga menyentuh dinding vaginaku yang terdalam.

“Oh.. Ri.. aduh enaknya Ri.. oh gede Ri..” aku merintih, seraya kupeluk erat tubuh Ary.

Kudengar pula rintihan Ary seraya menurun-naikkan lontongnya di dalam vaginaku. “Oh.. oh.. agh.. Wita, enak sekali apem Wita.. oh.. aagh..” Dari teknik permainannya, aku menikmati Ary belum kawakan dalam urusan seks dan sepertinya baru kesatu kali ia melakukan begini. Mungkin sebab begitu nafsunya kami berdua tidak cukup lebih 10 menit merasakan hujaman lontong Ary, aku telah mau menjangkau orgasme.

.

“Oh.. agh.. aduh Ri.. cepatkan tusukannya Ri.. Wita inginkan keluar.. oh..aagh..”
Kurasakan Ary pun telah mau orgasme. “Oh.. agh.. Mbak, Ary pun mau keluar.. oh.. aaghh..” Tak lama kemudian, berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan semburan sperma yang terbit dari penis Ary yang masih perjaka, keras dan berkali-kali mengisi lubang vaginaku. Kami berdua berdekapan erat merasakan kesenangan yang tiada taranya ini.
Kubisikkan di telinga Ary, “Terima kasih Ri, Mbak puas sekali..” Ary juga berbisik, “Aduh Wita, baru kesatu kali ini Ary rasakan enaknya apem.. Wita puas kan..” tambahnya.

Kemudian, Ary menarik keluar lontongnya dari dalam lubang vaginaku. Aku berjuang menahannya sebab aku hendak nambah lagi. Ary berbisik,

“Besok-besok aja lagi, kini Ary mesti keluar.. fobia ada orang yang bangun..” Setelah mengecup kening dan pipiku, Ary permisi keluar. Kubisikkan di telinganya, “Hati-hati ya Ri.. tidak boleh sampai ketahuan orang lain..” Walaupun belum begitu puas, namun hatiku bahagia bahwa Ary akan memenuhi kesepian dan memenuhi keperluan seksku sekitar suami di luar kota. Dalam hati aku pun menyampaikan terima kasih untuk suamiku atas ijinnya dan pilihannya yang tepat.

Setelah kejadian kesatu ini, hubungan seksku dengan adik suamiku ini terus berlanjut. Sayangnya urusan ini kami berdua kerjakan di rumah, sebab saat tersebut memang tidak pernah terpikir guna main di luar contohnya di Motel. Saking puasnya merasakan permainan seks dari Ary, aku lupa bakal jadwal kalender KB yang sekitar ini kugunakan. Sedangkan masing-masing kali Ary menyetubuhiku, spermanya selalu tercurah di dalam vaginaku.

Aku sendiri memang tidak mengharapkan sperma Ary tercurah di luar, karena malah merasakan semburan dan kehangatan sperma Ary di dalam vaginaku, adalahsuatu kesenangan yang luar biasa. Akibatnya setelah sejumlah kali mengerjakan hubungan, aku sempat terlambat 6 hari datang bulan (mens). Hal ini kuceritakan untuk Ary, ketika kami membual berdua di paviliun. Khawatir benar-benar hamil, kuminta Ary mengantarku ke dokter guna memeriksakannya. Pada awalnya Ary tidak setuju, dan hendak mempertahankan kehamilanku. Aku tidak setuju dan tetap hendak menggugurkannya.

Keesokan paginya dengan diantar Ary, aku memeriksakan diri ke suatu lokasi tinggal sakit unsur kandungan. Ternyata hasil pengecekan tidak dapat keluar hari tersebut juga, dan mesti menantikan tiga hari. Sampai dua hari setelah pengecekan dokter, ternyata mens-ku masih belum datang. Aku tidak sabar dan khawatir andai ternyata aku benar-benar hamil. Hal ini kuutarakan untuk Ary dan kuminta ia menolong membelikan satu botol bir hitam untukku. Keesokan harinya, Ary memberikan bir hitam tersebut kepadaku, dan malamnya kuminum. Tiga hari sesudah minum bir hitam tersebut, mens-ku datang.

Setelah mens-ku berlalu sekitar 7 hari, aku dan Ary melanjutkan lagi hubungan seks laksana biasanya. Praktis sekitar dua bulan terdapat 18 kali aku dan Ary sukses melakukan hubungan seks yang memuaskan dengan aman tanpa ketahuan family di rumah. Keinginan guna melakukannya masing-masing hari susah terlaksana, menilik situasi lokasi tinggal yang tidak memungkinkan.

Dari sekian kali hubungan seksku dengan Ary, seingatku terdapat tiga kali yang benar-benar paling memuaskan diriku. Di samping kejadian yang kesatu kali, hubungan seksku dengan Ary yang paling memuaskan ialah sewaktu kami berdua mengerjakan di sebuah siang hari dan ketika malam takbiran. Kejadian di siang hari itu, yaitu ketika aku berlalu mandi dan bersiap-siap berdandan diri inginkan pergi ke kantor. Saat tersebut kedua mertuaku dan adik-adik iparku yang beda sedang tidak terdapat di rumah. Yang ada melulu Ary, yang kebetulan sudah kembali dari kantornya, sebab hari Jumat. Kedua anakku asyik bermain dengan pengasuhnya.

Tanpa sepengetahuanku, ketika aku menggunakan make-up, tiba-tiba Ary masuk kamarku yang tidak terkunci. Setelah memblokir pintu pulang dan menguncinya, dari belakang ia memelukku, mencungkil handuk yang membalut tubuhku, sampai-sampai aku dalam posisi telanjang bulat. Diciumnya pundak belakangku, seraya tangannya memainkan kedua payudaraku, dan turun mempermainkan vaginaku.

Akibatnya, aku tak tahan dan vaginaku cepat basah. Segera kubalikkan tubuhku dan kupeluk serta kulumat bibir Ary dengan sarat nafsu. Kemudian kubuka reitsleting celananya dan kutanggalkan celana panjang dan celana dalamnya. Kemudian aku jongkok di hadapannya, seraya meremas, menjilati, dan mengulum lontongnya dalam mulutku.

Setelah kurasakan lontongnya semakin keras, kudorong tubuh Ary duduk di ambang tempat tidur. Kemudian aku berdiri membelakanginya, dan separuh jongkok kupegang dan kuarahkan lontongnya masuk ke dalam lubang kewanitaanku yang telah basah itu. Kuturun-naikkan dan kuputar pinggulku untuk menikmati nikmatnya lontong Ary yang sudah masuk seluruhnya dalam lubang vaginaku.

Sambil bergoyang itu, aku mengerang dan berdesah

, “Oooh.. aaghh..” Ary enggan ketinggalan, ia menolong menurun-naikkan pinggulku dan kadang-kadang meremas-remas kedua buah dadaku. Kurang lebih tiga menit dengan posisi ini, terasa aku telah mau orgasme. Kupercepat gerakan turun naik dan goyangan pinggulku, dan saat tersebut Ary merintih, “Oh.. oh.. Wita, Ary inginkan keluar.. oh..”

Akhirnya berbarengan dengan keluarnya spermaku, kurasakan lontong Ary menyemprotkan spermanya dengan keras mengisi lubang vaginaku. Tubuhku terasa terbang menikmati semprotan yang hangat dan nikmat itu. Kemudian kukeluarkan lontong Ary dari lubang vaginaku. Kulihat masih lumayan keras. Dengan sarat nafsu kujilati, kuhisap lontong Ary yang masih basah diselimuti gabungan sperma kami berdua.

Tak berapa lama lantas lontong Ary pulang keras. Kemudian kuminta Ary menyetubuhiku dari belakang. Dengan menopangkan kedua tanganku di atas meja hias dan posisi menungging, kusuruh Ary memasukkan lontongnya ke dalam lubang vaginaku dari belakang. Betapa nikmatnya kurasakan lontong Ary menghunjam masuk ke dalam lubang vaginaku, lantas sambil meremas-remas kedua buah dadaku, Ary mempercepat tusukan lontongnya.

Dari cermin yang sedang di hadapanku, kulihat gerakan dan ekspresi wajah Ary yang sedang mempermainkan lontongnya di dalam lubang vaginaku. Situasi ini meningkatkan naiknya birahiku. Kurang lebih tiga menit menikmati tusukan-tusukan lontongnya, aku tak tahan hendak orgasme lagi. Aku merintih, “Aduh.. oh.. agh.. Ri, tembus Ri.. aagh.. Wita mau terbit lagi, cepatkan Ri.. oh.. aaghh..” Ternyata Ary pun inginkan keluar. Ia juga merintih, “Oh.. augh.. Wita, Ary pun mau keluar.. aduh.. Wita.. bersama ya.. oh..” Beberapa ketika kemudian, secara bersamaan aku dan Ary menjangkau orgasme. Kurasakan pulang semprotan sperma Ary yang hangat dan nikmat lubang vaginaku.

Setelah itu, kami berdua berdekapan dengan mesra. Aku berkata, “Nakal ya..” Ary menghirup pipi dan keningku lantas pamit keluar. Kemudian aku pun terbit ke kamar mandi untuk mencuci vaginaku. Jam 14:00, jemputan mobil dari kantorku datang. Malamnya cocok janji via telepon, pulang Ary masuk ke kamarku dan menyetubuhiku secara terburu-buru, sebab khawatir terdapat yang memergoki. Walau dalam suasana terburu-buru, persetubuhanku dengan Ary yang dilaksanakan setiap pagi-pagi sekali itu, lumayan memuaskan, sebab paling tidak masing-masing bersetubuh tersebut aku dapat orgasme paling tidak satu kali dan menikmati semprotan sperma Ary di dalam vaginaku.

Selanjutnya, persetubuhanku dengan Ary yang benar-benar memuaskan dan mengakibatkan aku lemas tak berdaya ialah saat malam takbiran. Pada malam itu, aku menginap di lokasi tinggal orang tuaku. Sesuai janji via telepon Ary datang menjengukku. Kami berdua duduk membual merayakan takbiran di rumah. Kedua orang tuaku menyuruhku menawarkan bir untuk Ary.

Selesai acara TV, ayahku pergi terbit rumah dan ibuku masuk tidur. Kini di ruang tamu, bermukim aku dan Ary duduk berdua ngobrol sambil merasakan bir sepuas-puasnya. Karena pengaruh bir, kurasakan nafsu seksku mulai naik. Kemudian aku pamit sebentar, menyaksikan kedua anakku sekalian memeriksa Ibuku. Aku mengubah bajuku dengan daster dan kutanggalkan celana dalamku. Setelah kuketahui ibuku telah pulas istirahat dan suasana aman, aku pulang ke ruang tamu, duduk di sebelah Ary.

Tak lama lantas Ary telah memelukku, menciumiku seraya bertanya apa ibuku telah tidur. Mengetahui ibuku telah tidur, Ary mulai menggerayangi vaginaku dengan jari-jari tangannya seraya melumat bibirku. Aku menggelinjang dan merintih, “Oh.. Ri.. enak sekali.. Ri.. oh terus Ri..” Aku enggan kalah dan kuremas-remas lontongnya dari luar celana yang menciptakan lontongnya semakin keras. Kemudian kusuruh Ary berdiri, kubuka reitsleting celana panjangnya dan sekaligus celana dalamnya. Kulihat dan rasakan lontong Ary lebih keras dan besar dari biasanya.

“Aduh.. wow.. kok lebih keras dan besar Ri lontongnya?” Ary berterus cerah bahwa sorenya ia minum jamu powerful laki-laki sebagai persiapan guna memuaskan diriku. Kuhisap, kujilati dan kukulum lontongnya dengan sarat nafsu. Karena tak tahan lagi, kudorong tubuh Ary duduk di sofa. Aku duduk di atas pangkuannya. Kemudian kupegang dan arahkan lontongnya ke dalam vaginaku. “Wow.. aduh Ri.. gede banget dan enak Ri, lontongnya.. aduh.. oohh..” aku mengerang. Sambil kulumat bibirnya, kunaik-turunkan pinggulku supaya dapat menikmati gerakan, tusukan dan denyutan lontong Ary.

Sekitar dua menit kugoyang, kesudahannya aku menjangkau orgasme sebab tak tahan menikmati lontong Ary yang lebih keras dan besar dari biasanya. Kemudian kami berdua merubah posisi dengan doggy style. Kurang lebih tiga menit, lagi-lagi aku tidak tahan dan orgasme guna yang kedua kalinya. Setelah beristirahat sebentar, kami berdua merubah posisi dengan berdiri. Lontong Ary masih keras dan ia belum terbit sama sekali. Lagi-lagi, mungkin sebab pengaruh bir dan nafsu yang menggebu, aku menjangkau orgasme yang ketiga kalinya.

Dengan masih menjaga lontongnya yang keras dan panjang di dalam vaginaku, Ary menggendongku masuk ke kamar tidurku. Direbahkan tubuhku di kasur di atas lantai yang telah kusiapkan. Masih kurasakan nikmatnyan dan orgasmeku yang keempat kalinya ketika Ary menyetubuhiku dengan posisi di atas. Setelah tersebut aku tak ingat lagi dan menyerah pasrah menerima tusukan-tusukan lontong Ary.

Mungkin lebih dari 10 kali aku menjangkau orgasme, dan aku tak tahu berapa kali Ary keluar. Saat terbangun kira-kira jam 5 pagi, terasa kepuasan yang amat paling pada diriku meski kakiku rasanya gontai dan lemas. Kurasakan pun kehangatan sperma Ary yang masih terdapat di dalam vaginaku. Tak disangka selingkuhku di malam takbiran dengan Ary adik suamiku ialah yang terakhir, karena sejumlah hari kemudian, suamiku telah kembali ke rumah.

Sekembalinya suami di rumah, malam harinya suami mengajakku bersetubuh. Sambil bersetubuh, suami bertanya apakah jadi selingkuh dengan Ary. Karena memang telah diijinkannya, aku berterus cerah mengaku. Pada awalnya suamiku agak marah, barangkali tersinggung, tapi kesudahannya ia memaafkanku. Sejak saat tersebut hubunganku dengan Ary praktis terputus.

Namun, Ary masih mengupayakan mendekatiku dan berjuang mengajakku untuk bersangkutan lagi. Hal tersebut ia lakukan sejumlah kali via telepon ketika suamiku ke kantor. Walau sebetulnya aku sendiri masih menginginkannya, namun anjuran Ary tersebut darurat kutolak. Di samping suasana lokasi tinggal memang tidak memungkinkan, aku pun khawatir andai suamiku bakal marah sebab ia belum mengijinkan lagi.

Peristiwa perselingkuhanku dengan adik ipar atas saran dan ijin suami menjadi empiris yang manis sampai ketika ini. Lebih dari itu, andai suami mengungkit-ungkit lagi masalah ini dan mohon aku menceritakannya kembali, bukannya marah yang kudapat darinya, justeru sebaliknya kasih sayang yang kian besar.

Setiap kali bakal meniduriku, untuk memicu dirinya, suamiku tidak jarang kali meminta aku untuk mengisahkan kembali empiris selingkuhku dengan adiknya itu. Ia sering bertanya posisi apa saja yang aku dan Ary kerjakan saat bersangkutan seks, berapa kali aku klimaks, bagaimana rasanya vaginaku menerima semburan sperma Ary dlsb. Bagi membahagiakannya, kuceritakan semuanya secara jujur.

Setiap kali mendengar ceritaku itu, nafsu seks suamiku semakin bertambah dan ia meminta aku mempraktekannya pulang dengan memandang dirinya sebagai Ary. Terus terang, gairah seksku juga semakin meningkat ketika harus menginginkan dan mempraktekan pulang cara-cara hubungan seksku dengan Ary.Ternyata perselingkuhan tidak tidak jarang kali merusak keharmonisan lokasi tinggal tangga. Mungkin terdapat benarnya andai orang menerjemahkan makna kata ‘selingkuh’ sebagai ‘selingan estetis keluarga utuh’.

Post Terkait